Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Diabaikan


__ADS_3

Bab155


Vira bersemu merah saat dicolek hidungnya oleh Bizar, dia menyentuhnya dengan tersenyum, tapi saat ditatap oleh Bizar dia pura-pura marah. Vira cemberut karena Bizar sembarangan menyentuh hidungnya.


"Kenapa cemberut gitu?" kata Bizar.


"Nggak sopan nyolek-colek hidung orang."


"Baru idung. Belum yang lain," kata Bizar makin membuat Vira kesal.


"Apa!" seru Vira yang kemudian memukul tangan Bizar yang berada di atas meja.


Itu tak akan membuat Bizar sakit, hanya dipukul oleh tangan perempuan tidak seberapa. Bizar mengusap-usap tangannya, kemudian bersikap biasa saja. Dia malah membuka ponselnya, membaca berita dari media sosialnya.


Bizar jarang menggunakan hiburan di ponselnya, karena dia harus up to date tentang informasi, baik itu tentang bisnis ataupun keadaan yang terjadi di sekitarnya.


***


“Makasih ya,” ucap Purba saat sudah selesai.


Pengantin baru ini masih bermalasan di dalam satu selimut. Rara menikmati kenyamanan berada di dalam pelukan Purba. Senyumnya merekah, ini adalah momen paling bahagia selama hidupnya.


“Pengen lagi nggak?” tanya Purba.


“Ini udah malam, Mas.”


“Aku nginep sini aja,” ucap Purba enteng. 


Rara kemudian bangun, dia meraih pakaian. Kemudian mengenakan masih dalam selimut. Masih canggung jika seluruh tubuhnya dilihat oleh Purba. Namun, Purba jauh, dia bergerak menaruh kepalanya di pangkuan Rara.


Rara menegur karena ini sudah malam sekali, pukul sepuluh. Namun, Purba malah bermain di sana.


Untungnya Rara bisa mengendalikan, “Ayo, bangun. Kasihan yang nungguin di rumah.”


Rada menggeser kepala Purba. Dia biarkan saja, mungkin sebentar lagi juga Purba bangun. Rara menyelesaikan kegiatan mengenakan pakaian yang tinggal bawahan, kemudian ke kamar mandi sebentar.


Saat, keluar kamar mandi melihat Purba sudah segar wajahnya dan mengenakan pakaian lengkap. Rupanya Purba cuci muka di wastafel.


Mereka berdua kemudian turun ke lantai satu. Namin, saat di tangga Rara baru ingat. Dia membicarakan tentang mencair Azkia.


Rara yakin, dia pasti bisa mencari Azkia dengan mencari alamat Gandi. Bukankah Purba bisa menggunakan jasa bodyguard atau mata-mata?


“Iya sayang, kau benar. Besok kita cari waktu ke kantor polisi. Sambil mengetahui perkembangan kasusnya dan menanyakan tentang mencari anak hilang.”


“Loh, kok anak hilang?”


“Itu hanya istilahnya saja, masa iya kita bilang anak yang dicuri ayahnya. Nanti bagaimana – bagaimananya kita ceritakan jelas saat di kantor polisi.”


Rara mengerti. Dia cukup lega Purba merespons baik untuk mencari Azkia.

__ADS_1


“Bizar!” Purba memanggil Bizar saat sudah di lantai satu, tapi dia tidak ada.


Kemudian Vira pun tak ada. Rara heran, ke mana kedua orang tersebut. Toko pun terkunci.


“Huft... ke mana tuh anak. Tau gitu, kita lanjutkan tadi sayang,” ucap Purba, iseng tapi serius juga. Dia malas pulang sebenarnya.


“Telepon saja Mas,” saran Rara.


Purba kemudian menelepon Bizar, ponselnya aktif, memang selalu aktif dalam keadaan apa pun. Namun, Bizar belum menerima panggilan.


Saat Purba masih berusaha menghubungi Bizar, terlihat panggilan dari Mona. Dia menoleh pada Rara.


“Siapa Masa?” tanya Rara, heran dengan pandangan Purba..


Purba tidak menjawab, dia hanya menunjukkan layar ponselnya. Rara memberikan izin untuk Purba menerima panggilan dari istrinya.


“Ya Ma, maaf aku pulang telat banget.” Purba hanya mengatakan maaf, tidak dengan alasan.


“Papa masih di cafe tadi?” tanya Mona.


“Tidak, sudah ke tempat lain yang tadi kami bicarakan.”


“Memang tidak bisa besok lagi ya, Pa. Ini udah mau hampir tengah malam.”


Purna mencoba membujuk Mona untuk lebih bersabar lagi. Meski nada bicara Mona sudah terdengar kesal.


Meski akhirnya bisa dibujuk, dengan membawakan sate kambing setengah matang. Purba mengerti kalau Mona sudah meminta sate sateing, berarti dia sedang ingin.


“Dapat bonus, kan?” tanya Rara dengan tatapan mata bercanda tapi tersirat cemburu di sana.


“Bonus” Purba tak mengerti apa kata Rara.


“Iya, tadi mas mitna nambh, api kan ini udah malam banget. Eh... di rumah akan disambut dengan suguhan kesukaan lagi,” ucap Rara, nada bicaranya memang terdengar sesak seperti itu.


“Apa sih, sayang.” Purba menaruh ponselnya di sakit dan kini berada di hadapan Rara dengan memegang pinggangnya serta di dekatkan erata pada satu tubuh Purba.


“Cemburu ya? Nanti kalau aku bilang, aku lebih nyaman bermain denganmu, lebih seru dan nikmat, nanti dipikirnya itu kata-kata buaya. Ke Mona juga bilangnya gitu. Hem ... susah deh jadi cowok yang dicurigai terus,” jelas Purba. Mencoba meredam panas dalam dada Rara.


Purba menarik kepala rada pada dadanya. Terus Diusapnya dengan lembut dan beberapa kata-kata penenang untuk Rara jangan terlalu khawatir tentang Mona.


Entah mengapa Purba merasa bahwa Mona nanti akan kembali ke jalan hitamnya. Jarang sekali bertahan selamanya untuk orang yang berubah saat usia sudah matang. Walau pun ada, itu jarang sekali berubah total.


Purba mengecup kening Rara, “Jangan berpikiran aneh lagi ya, jangan melihat bagaimana Mona bermanja padaku. Tapi kamu lihat cara aku bersikap padanya. Dan itu tentunya berbeda sikapku pada kamu”.


Rara mengangguk, dia memang merasakan cara Purba bersikap padanya lebih hangat dan lembut, dari pada Mona yang sering dijawab sedikit ketus dan terkadang tak peduli.


“Tuh, Bizar datang,” ucap Purba melihat pada sosok pria yang baru turun dari mobil. Rupanya Vira juga turun dari mobil. Namun beda pintu.


Bizar turun dari bagian tempat sopir. Sedang Vira turun dari pintu belakang. Baru melakukan apa mereka?

__ADS_1


Purba melepaskan pelukannya dari Rara.


“Maaf tuan, saya ketiduran.”


“Lalu, kamu dan Vira?” tanya Purba menyelidiki. 


Bizar menjelaskan bahwa dia dan Vira tidak melakukan apa-apa di mobil, hanya saja tadi dia mengantuk dan tak tahan ingin memejamkan matanya terlebih dahulu.


Namun, jika tidur di toko tidak ada meja panjang, untuk sekedar merebahkan badan. Kalau hanya menunduk di meja buat merebah, tengkuk Purba akan sakit karena meja itu tidak seimbang dengan tubuhnya yang besar.


Kenapa Vira ikut, dia takut di toko sendirian jadi dia juga ikut, tidur di dalam mobil. Awalnya memang dia ragu. Sudah tadi merasa malu saat hidungnya disentil Bizar dan sekarang harus satu mobil bersamanya, berdua lagi. Namun, apa daya daripada di toko ketakutan sendiri akhirnya Vira ikut.


"Oh... begitu. Ya udah, ayo kita pulang.


Tanpa menunggu lama mereka pun pulangz tak lupa Bizar berpamitan terutama kepada Vira. Reflek dia tersenyum dan mengatakan sampai jumpa lagi.


Saat purba dan Bizar menghilang, Rara menyenggol Vira dengan tangannya dan lirikan mata penuh arti.


"Apa sih mbak?" tanya Vira, dia langsung ngeloyor mau ke lantai dua.


"Eh tunggu. Kalian ada apa-apa ya?" tanya Rara, sengaja ingin membuat Vira tersipu.


"Ada apa-apa, apa? Udah ah, aku ngantuk. Mbak sih kelamaan, nggak ingat kita-kita yang masih jomblo."


"Eh. Apa hubungannya?" seru Rara.


"Au ah." Vira sudah benar-benar ingin tidur, dia tak mau merespon dan bercandaan lagi.


Sedangkan Rara tidak langsung ke atas, dia belum menutup tokonya dengan rolling door. Karena kalau tokonya hanya berbentuk kaca seperti itu, akan bahaya dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab untuk berbuat jahat pada tokohnya.


***


Sesampainya di rumah Purba memberikan pesanan Mona, rupanya Mona sedang ada di dapur.


"Kamu memang mau makan? Malam seperti ini?" tanya Purba.


"Iya Mas, abisnya aku laper."


"Ya udah, aku langsung ke kamar, ya. Capek."


"Eh, tunggu dulu!" cegah Mona


Tanpa basa-basi dia menyantap bibir Purba, ini adalah pencapaian terbesarnya seorang hiper belum menemukan selama satu minggu.


Kegiatan itu hanya dilakukan sesaat, karena purba melepaskan pagutan Mona padanya.


"Aku capek, besok harus ke kantor lagi," ucap Purba.


Mona tidak menjawab, dia hanya mengangguk dan pergi ke rak piring mengambil piring untuk makan sate pesanannya.

__ADS_1


Saat Purba naik, Mona membuka sate kambing setengah matang tersebut. Aromanya menggugah selera. Namun, setelah makan sate itu, apakah dia akan bisa melampiaskan efek dari sate kambing setengah matang pada Purba?


 Bersambung....


__ADS_2