Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Menguntit


__ADS_3

Kini kebiasaan Mona pun selalu sering mengikuti Purba, hingga ke ruang kerja Purba pun diikutinya, yang biasanya tidak pernah.


Saat Purba masih kerja di ruangannya, di rumah, Mona membawakan teh hangat. Mona juga menemani Purba di sana, duduk di samping Purba dengan alasan ingin belajar mengurus perusahaan seperti papanya.


“Mas, nanti aku sesekali coba mengerjakan itu ya,” pinta Mona, yang dengan sabar duduk di samping Purba sambil melihat layar laptop, fokus.


“Hem ...,” jawab Purba singkat.


“Kenapa sih Mas, kalau aku yang tanya, jawabannya ham hem ham hem, kalau sekretarismu yang tanya, pasti dijawab dengan baik,” gerutu Mona, mulai rewel.


“Mulai deh, mulai deh... udah deh Ma... coba berpikir dewasa. Di mana-mana kalau terhadap orang lain itu kita memang harus lebih menghargai. Bukan bermaksud orang dekat tidak kita hargai.


Akan tetapi karena dengan orang dekat kita sudah ngerti kekurangan masing-masing, sudah saling maklum, perasaannya sudah dekat. Ya, tidak harus seformal itu. Yang penting kan apa yang dilakukan. Coba Mama lihat sendiri, kebanyakan orang bisa lebih ramah ke orang lain, kan? Daripada ke kerabatnya sendiri?


Coba aja simak, biasanya orang tua lebih bisa memarahi anaknya kalau melakukan kesalahan, tetapi orang tua tidak bisa memarahi anak orang lain, malah cenderung sering memaafkan dan memaklumi, begitu kan? Udah deh Ma, kan, katanya mau mulai berubah.”


“Hehehe, nah... gitu dong, aku suka kalau kamu banyak bicara, nggak papa, aku suka diceramahin tiap hari.” Mona malah cengengesan.


“Tapi nggak gitu juga... nanti kamu nggak dewasa-dewasa. Udah deh, yang tadi aku omongin paham nggak?Jangan malah jadi ngajak bicara kayak gini. Aku masih sibuk.”


“Iya, iya Mas. Maaf, aku paham kok.”


“Ya udah, berarti kalau paham, apa pun reaksi aku nantinya, tidak ada maksud apa pun yang buruk.”


Mona pun mengangguk dengan tersenyum, dia memeluk erat pada Purba saking gemasnya dan rasa cintanya setiap hari selalu tumbuh.


 Apalagi sekarang berubah, Purba mulai perhatian dan tidak lagi ketus seperti sebelum-sebelumnya.


Mona, mana tahu semua yang dilakukan Purba itu hanya karena terpaksa. Purba rela menahan semua rasa tidak nyaman itu, demi menunggu waktu yang tepat untuk pergi dari kehidupan Mona.

__ADS_1


Mona mengantuk, cukup lama juga menemani purba yang kerja, dari pukul tuju hingga pukul sembilan malam, apalagi Mona juga hampir seharian di kantor tadi. Dia sama sekali belum komunikasi dengan temannya. Mau lewat panggilan telepon ataupun melalui chat.


Bahkan dari semenjak kepulangannya dari Gedong Jengger, dia belum bertemu sama teman-temannya atau teman-temannya ke rumah pun tidak. Benar-benar Mona ingin memperbaiki dirinya. Apakah Mona akan bertahan dengan situasi seperti itu? Atau nanti kembali ke kehidupan bebasnya?


 Mona akhirnya tidur di kursi dan malamnya dipindahkan tidur di kamar, oleh Purba.


Purba juga konsisten kepada janjinya, dia tidak ingin terlalu sengaja untuk mengabaikan Mona. Maka, malam ini dia pun tidak meninggalkan Mona sendirian di ruang kerja, bisa-bisa besok akan ada masalah lagi, menghambat lagi pekerjaannya ke kantor.


**#


Beberapa waktu dilalui lancar-lancar saja oleh Purba, Mona, begitu pun Rara.


Mona yang selalu menguntit Purba kerja. Baik di ruang kerja, di kantor atau ke mana pun. Rara yang tidak gentar menahan kesalnya menyimak Mona yang selalu manja pada Purba.


 Begitu pun Purba, yang sangat hati-hati menjaga perasaan Mona sebelum keuangan dia stabil. Apalagi sekarang selama dua semester penuh, dirinya membiayai  full. Otomatis keuangannya terkuras banyak.


Satu minggu telah sampai pada hari yang dijanjikan oleh Purba, untuk menemani Mona ke acara kegiatan sosialita dirinya.


Ternyata Mona membutuhkan tenaga bantuan, seseorang untuk membawa barang-barang. Mona meminta pada Purba, agar Rara yang menemaninya.


Padahal, tujuan Mona sebenarnya, tentu saja hanya ingin mengerjai Rara. Mona akan membuat Rara serepot mungkin dan kelelahan.


Awalnya Purba tidak setuju. Kenapa harus Rara? Dalam hatinya dia takut kedekatannya dengan Rara terendus oleh Mona. Untuk sekarang Purba bukan takut diceraikan Mona, tetapi belum siap untuk mandiri, karena tanggungan keluarganya besar pada dirinya sebagai tulang punggung.


“Rara, Ma? Memangnya Mama tidak ada pilihan karyawan lain? Karyawan pria mungkin. Itu kan, tenaganya lebih bisa diandalkan.”


“Sebenarnya bisa-bisa aja sih, Pah. Tapi kan, apakah Papa tidak mau mama itu lebih dekat dengan sekretaris Papa? Kan selama ini Mama merasa sekretaris Papa itu ingin mengambil Papa dari Mama.  


Ya ... jujur sih, Mama ketakutan. makanya Mama ingin dekat sama sekretaris Papa itu.”

__ADS_1


Mulai hari ini Mona, membiasakan memanggil Purba dengan sebutan Papa. Biar lebih terlihat keren, apalagi nanti akan berkumpul dengan nyonya-nyonya sosialita.


“Tapi dia juga ada acara untuk mempersiapkan event fashion show nanti Ma. Seminggu setelah acara Mama besok.”


“Sehari... aja Pah, memangnya nggak bisa? Lagian Mama juga udah cukup akrab sama Rara, daripada yang lain.  Nanti kan, Rara bawain barang-barang yang cukup berharga, harus hati-hati.


Kalau orang lain, Mama kayaknya nggak percaya deh. Mungkin nanti Rara pegangin tas Mama atau barang-barang privasi lainnya, seperti ponsel, kalau Mama lagi tanggung.


Kemudian tas make up atau tas pribadi Mama. Kan, nggak mungkin Mama banyak di lapangan, terus Mama repot nenteng-nenteng tas.  Otomatis harus ada asisten juga dong? Mama nggak percaya deh kayaknya, kalau ke karyawan Papa yang lain. Sepertinya cuman Rara aja deh.”


Mona juga beralasan agar dia tidak selalu curiga kepada Purba, makanya Purba harus mengizinkan Rara untuk jadi asisten Mona sementara, siapa tahu mereka malah bisa akrab.


“Ya, ya udah. Terserah Mama. Aku sih nurut aja gimana baiknya buat Mama.  Terus yang mau bilang sama Rara siapa? Aku atau Mama?”


“Aku aja deh,” sahut Mona.


“Iya, itu lebih baik biar jelas ngasih taunya. Papa kan, nggak ngerti alasan yang pastinya apa. Nanti salah ngomong lagi.”


“Ya udah, kalau gitu tunggu aku Pah. Aku mau mandi, bentar kok. Biar sekalian aku nemenin Papa ke kantor dan aku juga bisa ketemu Rara. Iya kan?” ucap Mona semringah, langsung berlari ke kamarnya untuk bersiap.


“Huft ... kenapa jadi seperti ini, sih? Malah ikut segala, dari pagi lagi. Terpenjara ...,” gumam Purba yang masih mengunyah suapan terakhirnya.


 


**#


Hari ini penampilan Rara menggunakan hem warna dasar putih, berkancing tiga dengan corak polkadot, terdapat ornamen syal juga di bagian kerahnya. Kemudian rok  span selutut, berwarna kuning tua. Tinggi rok yang di atas lutut, membuat Rara terlihat lebih tinggi, karena kakinya lebih terlihat panjang.


Rara sampai terlebih dahulu di kantor, sebelum Purba dan Mona. Rara juga menyiapkan dahulu teh hangat untuk bosnya. Dia tidak tahu bahwa Mona akan ikut ke kantor pagi ini.

__ADS_1


 Bersambung...


__ADS_2