
Tok ...!
Tok ...!
“Ma ... Buka! Aku kesiangan nih ke kantor!" teriak Purba. Sudah dari pukul enam pagi, pintu kamar tak kunjung dibuka.
Tumben, baru kali ini Mona mengunci pintu kamar. Purba gelisah, karena hari ini ada meeting dan tidak bisa batal. Karen meeting kali ini penentuan untuk acara fashion show musim akhir tahun ini.
Jika sampai gagal, para penyelenggara tidak akan percaya lagi dengan kinerja perusahaan BT. Meski kain-kain di perusahaan BT selalu kualitas bagus. Tapi kalau pelayanan buruk, mereka pasti akan tidak nyaman dan memilih pindah ke perusahaan lain.
“Argh... aku lagi, aku lagi yang mengalah,” gerutu Purba. Dia pergi ke kamar mandi yang ada di lantai bawah, memakai handuk yang baru. Lalu dikenakannya baju piama kembali.
“Mbak Idah, bajuku sudah ada ada yang rapi? “ tanya Purba pada ARTnya.
“Cucian kemarin sudah bersih, rapi, Pak, tapi sudah masuk lemari semua,” sahut Mbak Idah.
Sedangkan lemari pakaian Purba ada di kamar yang sekarang Mona kunci.
“Hem. Aku berangkat Bi,” pamit Purba dengan menggunakan piyama ke kantor.
“Tuan, pakainya?” tanya Bizar yang sudah stay di mobil.
“Nanti aku ganti di kantor.”
‘Untung tas kerjaku selalu ada di ruang kerja dan ponsel juga selalu aku bawa. Terserah apa yang mau dia lakukan, maunya apa sih?’ batin Purba.
Cape sebenarnya mengikuti manjanya wanita yang diamanatkan majikan orang tuanya. Pak Hartanto meminta agar Purba bisa mendidik Mona menjadi lebih baik, tapi percuma saja, kalau setiap Mona tertekan, kena masalah, ujung-ujungnya Purba yang harus kena tanggung jawab seluruhnya.
Tert ...!
Tert ...!
Tert ...!
Saat Purba mengaktifkan ponselnya, pesan WhatsApp dari Mona muncul begitu banyak, belum lagi beberapa panggilan tak terjawab.
Rupanya semalam Mona berusaha menghubungi Purba, tapi ponsel Purba sengaja dimatikan agar dapat beristirahat dengan tenang.
Purba fokus membaca pesan dari Mona, beberapa kali kening dan tengkuknya diurut.
‘Mas ... udah tidur?.’
‘Mas, sini. Aku lagi males ke situ,' isi pesan Mona, awal-awal masih tenang.
Sekitar jarak lima menit, Mona kirim pesan lagi. ‘ceklis satu sih? Masih sibuk ya, sayang?’ isi pesan Mona masih positif. Mungkin Purba mematikan data, agar bisa bekerja dengan tenang.
Namun, saat sudah tiga puluh menit dari pesan terakhir, otomatis sekitar satu jam lebih dari awal dia mengirim pesan, tanda pesan Purba masih ceklis satu.
__ADS_1
Kekesalan Mona mulai muncul. Namun, dia masih mau berusaha untuk tidak membuat asumsi yang tidak-tidak. Mungkin saja memang masih sibuk dan data internetnya belum aktif.
Mona mencoba telepon seluler, biar Purba tahu bahwa dirinya sedang menginginkannya.
'Ah ... tidak aktif juga,' kesal Mona, tapi dia tetep mencoba lagi. Sudah sekitar 7 kali panggilan tidak terjawab.
Berarti bukan data Purba yang tidak aktif, tapi memang ponsel Purba mati. Mona melempar bantal ke arah pintu. Dia kesal sendiri, sempat berteriak, tapi mungkin tidak begitu keras. Karena semalam Purba tidak mendengar apa pun dari arah kamarnya.
‘Mas ...! Kamu tega ya! Kan aku udah bilang, aku lagi pengen. Sekarang malah mati hp nya.’
‘Aku sudah mengalah loh, Mas. Sudah berubah.’
‘Kamu tidak menghargai perubahanku.’
‘Jadi bukan aku yang bermasalah, kalau pernikahan kita gak pernah tenang.’
‘Kamu yang bermasalah, tidak bisa menerima kekuranganku.’
‘Lagian, aku menerima kekurangan kamu. Lelaki lemah!’
‘ Kamu pikir, Aku puas saat bermain dengenmu?’
‘Tidak Mas. TIDAK ...!!!’
Pesan dari Mona yang begitu banyak, hanya dibaca separuh oleh Purba. Hingga Mona merendahkan kelelakianya. Purba emosi, tapi dia tak peduli dan tak ingin membalas pesan itu. Percuma!
Selalu kata percuma yang Purba ingat jika sedang berselisih, berdebat dengan istrinya.
Dalam pikiran Purba, jika pun dirinya meladeni ucapan Mona, kemudian keadaan membaik, Mona sudah tidak lagi ngoceh. Apa yang didapat? Rumah tangga rukun? Harmonis? Tidak ... sama saja.
Berantem atau tidak, ada perdebatan atau tidak, Mona sedang baik-baik saja atau tidak, rumah tangga itu tidak akan pernah berarti untuk Purba.
Purba langsung menghapus history chat dari istrinya. Tanpa membalas sedikit pun.
Padahal ada yang terlewat oleh Purba, saat Mona membahas balas budi yang harusnya dilakukan keluarga Purba. Ada kata-kata tidak bisa berterima kasih. Andai Purba membaca pesan yang itu, mungkin dia lebih baik mengurungkan berangkat ke kantor, lebih memilih gagal meeting daripada harga dirinya direndahkan.
Ini kesempatan bagus Purba untuk menceraikan Mona yang tidak bisa berperilaku sebagai istri yang baik.
Namun, karena Purba sudah terlalu kesal, dongkol sejak bangun pagi, dia tidak ingin membaca pesan Mona sampai selesai, yang jelas-jelas isinya tidak ada pesan yang baik.
**#
Mobila yang dikendarai Purba sampai di kantor. Biasanya mobil itu berhenti di depan kantor dan Purba turun, sedangkan Bizar pergi ke basement parkir untuk memarkirkan mobil.
Akan tetapi kali ini, mobil melaju langsung ke basement, tanpa Purba turun. Purba meminta Bizar membawakan pakaiannya dulu di ruangannya, yang sengaja buat cadangan.
**#
__ADS_1
Saat Bizar masuk ruangan Purba, kebetulan Rara sedang mempersiapkan berkas-berkas buat bahan persentasi meeting.
“Mas Bizar, Pak Purba belum datang?” tanya Rara.
“Udah, Non. Tapi dia masih di basement,” jawab Bizar sambil berlalu menuju ruangan yang seperti kamar di dalam ruang kerja Purba.
“Loh, kok? Tidak langsung ke sini?” tanya Rara kembali.
“Ada masalah urgent. Nanti aku cerita.” Purba langsung ke luar lagi.
Sedangkan Rara bersiap ke ruang meeting dan mempersiapkan hidangan yang sudah diperintahkan Purba sebagai testi untuk event fashion show dua Minggu mendatang.
Rara juga sebenarnya agak terlambat mempersiapkan, karena niatnya mau menunggu Purba terlebih dahulu, malah Purba juga kesiangan datang.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan, para klien sudah datang, tapi Purba belum juga masuk ruang meeting.
Rara menyuguhkan dulu beberapa hidangan dan sepatah dua patah kata sambutan untuk membuka pertemuan, menggantikan Purba yang terlambat datang.
Ada dua jenis minuman, wedang jahe dari Jawa tengah dan bajigur dari Jawa barat. Sedangkan makanan ada, getuk, mendoan, lupis, lumpia, wajik, carabikan, papais, putri noong, serabi dan gemblong.
“Maaf, Bapak, Ibu, silakan dinikmati dulu hidangannya, sekaligus makanan ini untuk memperkenalkan rasa. Apakah untuk acara akbar yang akan kita selenggarakan, cocok tidak, jika makanan daerah seperti ini menjadi pelengkap untu acara.” Rara berusaha mengulur waktu saat Purba belum juga datang.
Kemudian saat para tamu undangan sedang menikmati sajian, Purba datang. Dan saat Purba masuk, dia tercengang, suguhan yang ada di meja rapat, tidak biasanya. Makanan yang sama sekali tidak menggugah selera, Purba panik, merasa malu.
Bayangannya tentang makanan tradisional tidak sesuai ekspektasinya. Bentukan dan warnanya tidak menarik sama sekali.
Purba terus melanjutkan melangkah sampai ke mejanya, dia pura-pura tak melihat saja sajian yang ada di tengah meja, terserah nanti saja Purba akan berbasa-basi jika sajiannya tidak berkenan bagi para undangan rapat. Purba mungkin bisa beralasan bahwa semuanya karena karyawan baru, belum mengetahui dengan baik cara kerjanya.
“Selamat Pagi, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, Maaf ...,” pembukaan meeting yang akan dibuka oleh Puraba, terhenti, saat Rara ingin mengatakan sesuatu.
“Pak, saya permisi. Mau membantu sari merapikan sisa perkerjaan.” Rara berbisik pada Purba.
Purba hanya mengangguk. Kemudian dia memanggil Fira melalui pesan WhatsApp. Fira akan menemani Purba untuk meeting.
Purba hanya menggeleng, kemudian mengurut kening. Mengapa Rara izin saat dirinya sudah mulai bicara. Sungguh tidak profesional sekali, mentang-mentang sekretaris baru.
Wajah Purba terlihat memerah menahan malu. Namun, untuk mengurangi rasa malu, Purba menutupinya dengan mempersilahkan peserta rapat untuk menikmati hidangan tersebut. Padahal, biasanya hidangan dimakan saat meeting selesai atau sedang pembahasan santai.
Namun, Purba paham, mungkin tadi Rara juga sudah mempersialakan, jadi saat Purba masuk, para tamu undangan rapat sudah mulai ada yang mencicipi hidangannya.
Rara pamit dengan meninggalkan senyuman yang manis. Seluruh peserta rapat khususnya laki-laki, tak ada yang tak menyaksikan senyum Rada. Malah, dengan spontan mereka merepsons senyum rada dengan kepala sedikit menunduk, mengikuti cara Rara pamit.
‘Awas saja, nanti kalau meeting selesai.’ Purba bergumam dalam hatinya. Menahan kesal dan malu.
“Baiklah, bisa kita lanjutkan meetingnya?” Purba bersiap kembali ke papan yang sudah tertera gambaran dari proyektor. Namun ....
“Minuman apa ini?” ucap salah satu peserta rapat.
Bersambung....
__ADS_1