
Sore hari saat Mona dan Purba sudah pulang dari kantor, tapi mereka melakukan aktivitasnya masing-masing. Purba bersantai di ruang keluarga sambil menonton televisi. Tidak lupa tangannya juga tetap sibuk pada keyboard laptopnya.
Sementara Mona sedang berada di dapur menyiapkan makan malam untuk Purba, kebetulan memang hari itu mereka pulang masih sore yang biasanya paling cepat pukul lima atau menjelang magrib.
Dalam benak Mona merasa bingung besok menemui Bram. Bagaimana caranya supaya tidak diketahui Purba?
Mungkin Purba tidak akan menguntit Mona atau bertanya macam-macam saat dirinya akan pergi, tapi takut suatu saat menjadi kecurigaan Purba.
Ke mana Mona, pukul sepuluh pagi itu? Sedangkan akhir-akhir ini sudah tak pernah lagi berkumpul dengan teman-teman klubnya. Pastinya tetap terbersit tanya.
Mona terus memutar otak. ‘Apa aku tidak usah berangkat kantor besok ya? Jadi Mas Purba tidak tahu aku pergi. Dia taunya aku di rumah. Lagian aku juga tidak harus bingung kasih alasan,' ucap Mona dalam hatinya.
Sementara Mona di dapur sedang gelisah, Purba di ruang tamu sedang video call bersama Rara.
Dua orang yang sedang berusaha memperjuangkan cintanya ini rela hanya saling melihat gerak-gerik pada layar ponsel karena mereka tidak bisa bersuara demi rindu yang harus tetap mereka jaga.
Purba belum ada waktu untuk menemui Rara begitupun Rara tidak bisa sembarangan bertemu purba hanya saja Rara memberikan beberapa informasi bahwa dia lusa sudah mulai belajar di rumah cake itu adalah tempat belajarnya.
Sementara purba menyiapkan untuk lokasi dan menghubungi arsitek untuk mendiskusikan bangunan toko kue yang bisa menarik untuk pelanggan
"Mas, ayo makan udah siap," ucap Mona.
Purba glagapan saat Mona tiba-tiba ada di belakangnya, tapi buruan merasa heran kenapa Mona tidak bereaksi? Padahal dia masih melakukan video call dengan Rara. Meskipun kadang Purba bolak-balik ke pekerjaannya, matanya tidak terus tertuju pada Rara terus.
Ternyata saat Purba melihat pada layar laptop, panggilan sudah terhenti. Apakah Mona sempat melihat Rara di layar laptopnya?
"Kenapa Mas? Sudah ayo, makan dulu. Jangan pedulikan pekerjaan sampai segugup itu," ajak Mona supaya Purba meninggalkan pekerjaannya. Mona meminta agar laptopnya disimpan di meja dan Purba segera makan dulu.
Padahal Purba bukan gugup karena berat meninggalkan pekerjaannya. Tadi saat Purba menoleh pada laptop kemudian kembali memalingkan wajahnya pada Mona, dia panik benar-benar mengecek kembali apakah layar laptopnya masih tersambung ke video call Rara atau tidak.
Maka dari itu Mona menyangkanya gugup karena pekerjaan, padahal Purba memastikan takutnya Mona melihat Rara di sana.
"Iya Ma, Papa cek dulu hasil kerjaan. Mama duluan aja."
"Baiklah, jangan lama ya," ucap Mona memeluk suaminya kemudian mencium pipinya.
Padahal Purba bukan mau menyimpan hasil pekerjaannya, dia mau membersihkan history panggilannya dengan Rara. Takutnya nanti saat Mona mengetahui, bisa panas lagi prahara rumah tangganya.
Seakan berada pada dua dunia yang sedang mempertahankan kehidupannya masing-masing, dengan sebuah rencana. Meskipun jarang terjadi pertemuan antara Rara dan Purba tapi, mereka sama-sama sibuk untuk merencanakan masa depan.
Purba dengan kegiatan kantornya sebagai menantu tuan Hartanto. Kemudian Rara sibuk dengan belajar membuat kuenya dan Mona sibuk dengan mengubah dirinya menjadi istri yang baik.
***
Malam ini seperti biasa Mona selalu meminta jatah dan Purba sudah mulai bisa menerimanya. Bahwa seorang lelaki pasti diuntungkan seharusnya, memiliki wanita yang agresif. Karena jarang sekali wanita meminta duluan malah cenderung susah diajak bercinta dan itu membuat si pria terkadang kesal, tapi Purba sungguh beruntung mendapatkan Mona.
***
Keesokan harinya seperti biasa Purba sudah siap dengan pakaian kantornya.
"Ma, kok belum siap?" tanya Purba saat turun ke dapur untuk sarapan, melihat Mona masih menggunakan daster. Biasanya sudah mandi jam segini.
__ADS_1
"Sepertinya Mama tidak ke kantor dulu Pa."
"Kenapa?"
Mona malah ketawa-ketiwi lirih seperti yang merasa malu.
"Ada apa ...? Tumben, apa Mama menginginkan sesuatu?" tanya Purba.
Mona kemudian duduk di sebelah Purba, dia membisikkan sesuatu.
"Pa, kita sepertinya harus bermain setiap malam. Bila perlu saat Papa libur kerja, kita seharian bermain biar cepat jadi adik bayi.
Makanya hari ini Mama tidak ke kantor, kan semalam kita habis bermain, hehe. Mama ingin benih Papa di dalam rahim Mama ini, tidak terganggu," jelas Mona sambil mengusap perutnya seakan sudah ada kehidupan di sana.
Mona sebagai mantan wanita yang pernah berada di pergaulan bebas, dia memiliki segudang rencana dan alasan. Padahal Mona tidak ikut ke kantor, sebenarnya dia libur kerja karena akan menemui Bram.
"Baiklah, terserah mama aja," ucap Purba.
Kemudian Purba menyantap sarapannya, setelah itu pamit pada Mona.
Tidak lupa Mona juga mengantarkan suaminya sampai teras, mengecup pungguk tangan Purba dan Purba mengecup kening Mona.
Meski saat ini masih cukup pagi, tapi Mona harus mandi dan bersiap sekarang jug. Supaya segera selesai dan bertemu dengan Bram.
"Kak, Hari ini aku ketemuan sama Bram," tulis Rara pada sebuah aplikasi pesan DJ ponselnya
Mona mengirim pesan kepada Yosef kakaknya
Kemudian Mona menceritakan tentang kemarin saat Bram menemui dirinya dan Purba saat makan siang.
"Ya udah gue ikut."
"Tapi Kak. Kalau dia tuh gimana?"
"Biarin aja. Kalau didiemin terus makin keenakan!"
"Ya udah terserah Kakak, deh. Tapi diem-diem dulu. Aku harap masih bisa selesai dengan baik."
Mona kemudian mandi dan nanti saat berangkat janjian dengan Yosef, dirinya akan berangkat dibuntuti oleh mobil Yosef itu rencananya.
***
"Zar, lurus ke perumahan cafe," ucap Purba saat di mobil.
"Ke rumah Non Rara?" tanya Bizar.
"Iya," jawab Purba singkat.
Purba sudah sangat rindu sekali pada Rara. Baru saja sehari tidak bertemu dengannya.
Purba rasa, Rara belum berangkat karena ini masih cukup pagi. Purba juga sengaja tidak memberitahu Rara akan ke sana.
__ADS_1
Mobil yang dikendarai Bizar akhirnya sampai di depan rumah Rara. Saat ini Purba lebih leluasa untuk berkunjung. Karena Rara sudah tidak tinggal dengan Retno.
"Kamu tunggu di mobil sebentar," ucap Purba pada Bizar.
Bizar hanya menurut saja sedangkan yang turun hanya Purba.
Purba masuk membuka gerbang, tapi saat mau membuka pintu kebetulan bersamaan dengan Rara mau keluar, untuk bekerja. Dia sudah rapi menggunakan pakaian sekretarisnya.
"Mas? Kok kemari?" Rara cukup terkejut melihat Purba datang sepagi ini.
Purba tidak menjawab pertanyaan Rara. Dia mendorong Rara untuk masuk kembali, Rara tidak bisa menolak bahkan dia hampir terjerembab. Karena Purba memaksanya masuk.
"Mas, pelan. Nanti aku jatuh." Rara mencoba menahan Purba, tapi sia-sia.
Ditutupnya pintu oleh kaki Purba, tiba-tiba purba memeluk Rara.
"Aku kangen banget,"ucap Purba.
Rara hanya bisa mengangguk, dia tidak bisa berkata-kata. Pelukan Purba membuatnya terasa sesak.
Sesaat kemudian rasa terkejut itu bukan hanya sekedar pelukan Purba yang memeluknya dengan erat. Namun, tangan Purba kemudian mengusap punggung Rara secara kasat, seperti orang gemas. Bahkan nafas Purba sudah terdengar ngos-ngosan.
Deru nafas yang jelas terdengar di telinga Rara, seperti seseorang yang habis lari. Usapan Purba begitu agresif pada punggung Rara, bahkan tubuh wanita kecil ini seakan termakan habis oleh badan Purba. tangan Purba mencengkram lengan Rara seperti dengan erat.
"Mas, kenapa seperti ini?" lirih Rara. Dia hampir tidak bisa mengendalikan dirinya juga.
"Aku rindu," ucap Purba. Hanya itu yang keluar dari mulutnya sejak tadi.
Perlahan tangan Purba pindah ke daerah lain sesuai nalurinya yang sedang dilanda rasa ingin pada kekasihnya. Kemudian menjalar jarinya menyentuh bibir Rara, seakan menyapu untuk siap dimakan.
Suara nafas Purba membuat pertahanan Rara hampir runtuh. Darahnya sudah terpancing memanas.
Perlahan Purba mendekat pada wajah Rara, matanya fokus pada bibir mungil berwarna merah muda dengan polesan lipstik.
Rara seakan terhipnotis, dia memejamkan mata, dadanya naik turun. Kini deru napas Rara seakan berlomba dengan napas Purba yang belum stabil sedari tadi.
Akhirnya Purba berhasil mendaratkan bibirnya pada tempat yang tadi ditujunya.
Perlahan mereka bermain. Namun lama-kelamaan Purba semakin mengganas. Rara tersadar saat sesuatu hal yang lebih dari itu akan terjadi.
Rara sedikit mendorong Purba.
"Mas, sadar. Bersabarlah, kita belum sah," ucap Rara. Kemudian merapikan rambut dan bagian kerahnya yang terbuka cukup lebar, tidak lagi menutup lehernya.
"Minggu depan kita nikah kita," ucap Purba dengan tatapan sayu ke memandang Rara. Bulir membanjiri kening Purba.
"Tidak semudah itu, Mas. Aku saja belum menerima akta cerai."
"Bisa, kita nikah siri."
Rara menatap Purba sangat dalam, dia tak percaya Purba akan memiliki ide senekat itu.
__ADS_1
...Bersambung... ...