
Bab 141
Waktu entah menunjukkan pukul berapa, yang pasti ini sangat malam. Baik keadaan di kampung atau pun di kota. Suara jangkrik terdengar menandakan malam sungguh sunyi. Hanya terdengar deru nafas dari insan yang baru saja lelah melepas.
Jika Mona, dia terlentang lunglai karena permainannya sendiri, berfantasi menyalurkan rindunya pada sang suami. Meskipun hanya sendiri, permainannya tetap merasakan sensasi.
Sedangkan Purba meskipun tak berhasil melakukan malam pertama dengan pujaan hatinya, yang sekarang sudah sah menjadi istrinya dia lunglai sendirian. Tak menyangka bulan madunya akan penuh perjuangan.
Namun, tak jadi masalah untuk Purba, karena dia suka tantangan. Walaupun hari ini dia akan langsung bertolak ke Jakarta, tapi dia akan bisa membalas dendam tentang hasratnya yang tertunda, kepada Rara.
Entah mengapa sudut mata Mona mengeluarkan air, bibirnya tersenyum, nafasnya terengah, tubuhnya yang polos tertutup selimut. Dia bergumam di sela tawa lirihnya.
'Beginilah rasanya menjadi orang baik serba berkorban walau sakit, yang pasti ini menipu diri berusaha kuat untuk seseorang yang dinanti, hahaha lucu sekali dunia ini,' Batin Mona
Tawa Mona terasa getir, dia merasakan puas dengan permainannya sendiri yang penting lega bisa lepas perihal birahi. Namun, hatinya masih sesak entah kenapa. Seakan ada kecemburuan namun pada siapa?
Apakah cemburu pada takdir? Kenapa di saat suaminya sudah bersikap manis lalu terhalang oleh keadaan yang mengharuskan pergi. Dan kini Mona sendiri.
Apakah Mona cemburu pada waktu? Saat hatinya gelisah tak menentu memikirkan sang suami tak ada kabar, hingga hati Mona merasa harus menggerutu.
Entahlah, malam ini memang kacau. Tertawanya mungkin untuk mencemooh diri sendiri. Bahwa Mona seorang istri yang malang.
__ADS_1
Perlahan senyuman itu memudar air mata yang masih menetes, namun Mona tertidur perlahan. Dia lelah membawa harapan dalam mimpinya.
***
Sugih Ayu
Pagi yang cerah walau sedikit mendung, menambah suasana dinginnya pedesaan yang jauh dari keramaian.
Secangkir kopi dan jajanan pasar sudah dihidangkan oleh Rara, untuk menemani Purba bercengkrama bersama Azka. Kedua pria berbeda generasi tersebut sudah cukup akrab, terlebih Azka yang merindukan sosok ayah dan juga Purba yang sempat kehilangan buah hatinya, kini terasa keluarganya lengkap.
"Bu, Mas Purba mau bicara," pinta Rara saat masih sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan.
Masakan memang tinggal sedikit lagi, sehingga Lena juga takkan kerepotan untuk menyelesaikannya, walau tanpa dibantu Bu Sugeti atau pun Rara. Karena Rara juga akan ikut mengobrol untuk merencanakan perpindahan ke kota.
Azka diminta untuk bermain dulu bersama temannya, sebab apa pun yang anak kecil itu dengar pasti akan ditanyakannya. Apalagi ini rencana perpindahan ke kota yang memang diinginkan Azka, karena dia senang akan lebih dekat dengan ibunya.
Diskusi pun dimulai antara Rara yang memang sudah rencana akan pindah rumah, bukan di perumahan cafe lagi. Karena untuk lebih dekat ke toko kue yang akan segera dibukanya.
Kemudian tentang Azka yang belum bisa dibawa, karena sebentar lagi akan ada penilaian akhir di TK nya, yang biasanya akan ada acara wisuda taman kanak-kanak.
Perundingan yang cukup lancar itu memutuskan Purba dan Rara tetap pulang seperti biasa ke Jakarta. Nanti Azka akan diantar oleh Bu Sugeti dan Lena, itung-itung mereka ingin tahu juga tempat tinggal Rara dan toko kuenya.
__ADS_1
"Baik kalau gitu sepakat ya, siang ini saya sama Rara mau pulang lagi ke Jakarta, Bu. Doakan kami semoga rencana usaha kami dan rumah tangga kami selalu tentram, lancar dan selalu dalam lindungan Allah," ucap Purba memohon Restu sebelum berangkat.
"Ibu selalu mendoakan tanpa diminta pun, itu yang selalu Ibu panjatkan di setiap sujud Ibu. Karena kebahagiaan ibu yang melihat anak-anaknya bahagia. Hati-hati di jalan ya kalian." Bu Sugeti mendoakan kembali dengan tak hentinya mengusap punggung tangan Rara, yang duduk di sebelahnya.
Meskipun hari masih pagi, tetapi untuk berbasa-basi pamitan sekalian saja setelah diskusi barusan. Agar nanti Saat beres-beres bisa langsung berangkat tanpa ada drama-drama lagi. Terutama dengan si kecil. Takutnya kalau nanti lama lagi untuk berangkatnya Azka akan merasa terharu dan ingin ikut.
Setelah sarapan, jalan-jalan sebentar bersama Azka, kemudian Purba, Rara Bizar dan Pak Kukuh juga berasal untuk bertolak ke Jakarta.
Kini gantian yang membawa motornya adalah Bizar, karena Purba Masih cukup kelelahan jika pulang dengan motor. Tidak mungkin juga Rara mau satu mobil dengan mertuanya, tanpa ada Purba. Dia akan canggung.
Rara duduk di depan Pak Kukuh di belakang. Nanti saat perjalanan sudah cukup lama, Purba akan bergantian menyetir dengan ayahnya. Sebab ayahnya dulu juga mantan sopir Pak Hartanto. Sehingga jika Purba lelah, ada yang menggantikan.
***
"Kurang ajar!"
Sebuah teriakan beriringan dengan tembok yang bergetar, menghasilkan sebuah tangan sedikit lebam. Karena telah menghantam.
Bersambung....
🎉 Info pemenang give away, bab berikutnya ya... ;)
__ADS_1