
"Ya, benar. Saat ini Bram di penjara untuk kedua kalinya, dalam kasus Mona. Namun, untuk yang pertama dia cepat keluar karena kasusnya ringan dan cwok brengsek itu menunjukkan bukti lain, bahwa yang dilakukannya bukan pelecehan. Namun, pertengkaran sepasan kekasih biasa. Dibantu dengan pengacara," papar Yosef menjelaskan kepada Purba.
Purba mencoba memahami apa yang diucapkan oleh kakak iparnya, jika Bram bisa membuktikan bahwa tindakan asusila kepada Mona bukanlah sebuah pelecehan, berarti seringkali Mona melakukan hal itu dengan Bram di belakang Purba. Namun, mengapa Mona merasa kesal saat dirinya ada main dengan Rara. Meskipun saat itu Purba belum ketahuan benar bahwa dirinya memiliki hubungan dengan terarah.
"Lalu mengapa yang sekarang bisa lama di penjara?" tanya Purba.
Tidak disangka, Nyonya Hartanto tersedu. Saat Purba menanyakan hal itu, Nyonya Hartanto jadi teringat bagaimana kondisi Monas saat itu. Kondisi yang sangat mengenaskan, menurutnya itu sangat parah. Tidak ada seorang ibu yang dapat biasa-biasa saja, melihat anaknya diperlakukan tidak layak.
"Tenang Bu, jangan diingat lagi." Tuan Hartanto memeluk istrinya. Memberikan dukungan agar tidak terlalu terbawa perasaan.
"E, maafkan saya Ma, segawat itu kah kasusnya? Apa boleh aku tahu?" Purba yang tidak tega melihat ibu mertuanya seakan terukir luka lama.
Namun, Purba tetap penasaran, makanya dia meminta izin untuk tetap menceritakan apa yang terjadi pada Mona saat itu, sehingga bisa membuat Bram benar-benar dipenjara saat ini.
Yosef melihat dulu kepada papanya. Seakan meminta persetujuan karena dia juga tidak tega melihat mamanya yang tiba-tiba merasa sedih kembali. Tuan Hartanto mengangguk, dia sudah pasrah dengan keadaan. Perkara istrinya Tuan Hartanto bisa mengendalikan agar tetap tenang.
Yosep Kemudian menceritakan kembali saat kejadian, yang benar-benar berhubungan dengan adanya peneror saat ini.
Kejadian saat di sebuah apartemen, ketika bra menjebak Mona dengan minuman dan membuat Mona tak berdaya. Semuanya diceritakan tanpa terkecuali.
"Kalau begitu video yang dalam foto Ini adalah sebuah jebakan? Jadi kita tidak harus takut dengan teror ini?" tanya Purba.
Tuan Hartanto kini membuka suara. Memang untuk teror itu mereka tidak takut dan tidak akan terpengaruh sama sekali. Namun, jika dilaporkan kepada polisi pun percuma. Karena Bram sudah ada dipenjara. Berarti hanya tinggal mencari krocok-krocoknya.
Dan meskipun mereka sama tertangkap video itu tetap tidak akan bisa murni berada di tangan keluarga Hartanto. Video itu barang mudah yang bisa di duplikat berapapun. Suatu saat video itu akan menyebar, bahkan bisa menjadi komersil.
Jadi sebenarnya menghadapi paneror ini serius tidak serius. Kita tidak usah terlalu memedulikan, tapi tetap harus waspada juga.
__ADS_1
"Jadi gimana? Apa yang akan Papa lakukan? Bukankah kalau video ini tersebar akan ngaruh pada bisnis papa?" tanya Purba.
Tuan Hartanto membenarkan apa yang menjadi ketakutan Purba, tapi jika resikonya seperti itu biarlah dirinya akan menanggung. Karena tuan Hartanto yakin semuanya bisa pulih dengan waktu. Jika relasi bisnis atau rekan-rekannya tulus bekerjasama dengan dirinya, maka kerugian tidak akan begitu besar. Karena masalah pencarian nama baik yang dilakukan oleh keluarga sendiri itu hal biasa dalam dunia bisnis.
"Yang penting kita bekerja sama dengan rekan kita profesional. Selagi masalah pribadi tidak ada hubungannya dengan bisnis, rekan atau klien kita tidak merasa dirugikan, menurut Papa santai saja. Daripada kita mengeluarkan uang sebanyak itu secara cuma-cuma dan tidak ada jaminan video itu sudah hilang tanpa copy-an.
Purba manggut-manggut mendengar penjelasan dari besannya. Yah, benar apa yang dikatakan oleh Tuan Hartanto. Saling menjatuhkan di dunia bisnis itu biasa, masalah nama baik, pencemaran, fitnah, itu sudah tidak asing lagi. Kenapa hanya masalah kelakuan anaknya, si pemilik perusahaan merasa khawatir.
Meskipun ada sebagian pebisnis yang menjaga sekali image-nya di mata publik, bahkan seringkali membuat sandiwara yang ditontonkan di media hanya adalah yang baik-baik saja. Padahal di belakang layar mereka penuh konflik dan gimik.
Sambil mendengar beberapa penjelasan lagi dari Tuan Hartanto, Purba mencoba berpikir untuk meminta haknya. Yaitu dia akan mundur dari pernikahan tersebut, jika Mona terbukti main di belakangnya. Namun, Purba masih memperhitungkan waktu yang tepat untuk bicara. Terlebih melihat Nyonya Hartanto yang belum berhenti mengusap air matanya agar tak sampai menetes.
Takutnya apa yang Purba sampaikan akan membuat Nyonya Hartanto semakin pilu. Karena nasib anaknya yang tidak beruntung baik dalam percintaan ataupun hubungannya dengan relasi pertemanan.
"Baik, Pah. Aku mengerti, kalau begitu kita abaikan peneror itu. Karena Papa sudah siap akan krisikonys. Tapi ... ada satu hal lagi yang perlua aku sampaikan," ucap Purba dengan hati-hati saat mengatakan kalimat terakhir.
"Ekhem ...." Purba berdebam terlebih dahulu, untuk menetralkan suasana.
"Em ... sesuai kesepakatan dahku. Aku akan mundur dari pernikahan ini. Maaf, Pah, Mah, jangan salah paham. Mungkin kasus seperti ini untuk Mama dan Papa bisa menerimanya Karena sudah risiko. Namun, untuk saya sebagai suami dari Mona tidak bisa membiarkan kehormatan keluarga jatuh seperti ini.
Maaf, bukan maksud saya menyepelekan kesiapan Papa yang sudah sanggup menerima risikonya, membiarkan itu saja tentang nama baik keluarga. Namun, kesiapan saya sebagai suami dan Papa selaku orang tua tentu saja berbeda.
Mungkin jika Papa, Mama dan Bang Yosef ingat, bagaimana pernikahan ini terjadi, maka atas dasar itu, saya akan mundur. Dengan kata lain menceraikan Mona."
Pemaparan purba dapat diterima baik oleh Yosef dan Tuan Hartanto, tapi tidak bagi Nyonya Hartanto. Dia masih merasa berat hati jika melihat rumah tangga anaknya hancur. Betapa tidak beruntungnya Mona terlahir ke dunia Jika seperti itu.
"Nak ... Mama harapa, bersabarlah sebentar lagi. Kamu tahu bukan? Mona sudah berubah. Tolong hargai perubahannya, bukan Mama memaksakan hubungan kalian yang sudah tidak sehat, akan tetapi Mama hanya berusaha menjali ikatan yang sudah hampir putus. Bukankah jika di pengadilan juga Hakim tidak akan memutuskan sebuah hubungan begitu saja?
__ADS_1
Maka dari itu Nak, Purba. Mama mohon, beri kesempatan bagi Mona."
Nyonya Hartanto memohon pada menantunya dengan sangat. Deraian air mata serta kedua tangannya yang menyangkup di depan dada, menandakan ketulusan permintaan.
Purba sebenarnya sama sekali tidak terenyuh dengan permintaan Mama mertuanya. Sejak awal pernikahan dia sudah tidak merasa menjadi suami semestinya. Meskipun Purba akui akhir-akhir ini Mona berubah, namun dengan tahu kisah yang sebenarnya, harga diri Purba yang merasa direndahkan kembali melukai dirinya sebagai suami.
Seakan Purba merasa bodoh jika menerima Mona kembali, yang sudah jelas-jelas tidak menghargai pernikahannya. Bahkan Mona tidak merasa bersalah saat itu, sudah memperlakukan Purba seperti kacungnya, dia juga masih memiliki hubungan gelap di belakang.
Banyak alasan bagi Purba untuk tidak menerima Mona kembali.
"Nak, Purba. Papa tidak bisa memutuskan. Karena itu kalian yang menjalani. Meski awalnya adalah memang keinginan Papa. Dengan harapan Mona bisa berubah menjadi lebih baik, tapi kalau kejadiannya seperti ini, Papa juga tak bisa berbuat apa-apa. Mungkin waktu itu Papa pernah memberi ultimatum padamu, untuk bisa menjaga Mona dengan baik. Tapi kali Papa, melepaskan semua ikatan itu. Tinggal kamu selesaikan saja bersama Mona. Di sini Papa sudah tidak akan ikut campur lagi."
Tuan Hartanto sudah melepaskan ketegasan pada Purba. Begitu pun dengan diamnya Yosef. Dia tidak akan melakukan ketegasan pada Purba. Yosef sadar, semua kesalahan Karen Mona sendiri yang sudah meretakkan ikatan rumah tangganya.
"Kalau begitu, aku menunggu kepulangan Mona. Baru aku ceraikan secara sah. Yang terpenting, sebagai suami yang bertanggung jawab, perihal aku sudah tidak sanggup mendidik Mona, sudah tersampaikan pada Mama, Papa dan Bang Yosef sebagai keluarnya.
Dengan itu, aku tidak menelantarkan Mona di saat terakhirnya berstatus istri denganku. Aku ucapkan sekali lagi, Ma, Pa, Bang Yosef, aku aku kembalikan Mona, pada kalian. Aku minta maaf atas segala kekuranganku sebagai suami selama menjalani rumah tangga bersama Mona.
Perihal posisiku di perusahaan, aku siap meski sampai harus keluar dari perusahaan itu sekali pun."
Ucapan Purba disimak baik-baik oleh Keluarga Hartanto. Namun, perihal posisi Purba di perusahaan, Tuan Hartanto belum memikirkannya sampai ke situ. Dia awalnya tidak terpikirkan justru.
Apakah Purba akan tetap menjabat sebagai direktur pusat? Dipindahkan posisi jabatan? Atau resign?
Bersambung....
Untuk yang suka kisah cinta Romantis tanpa Konflik berat, jangan lupa mampir' pada novel author yang satunya ya ... "Aku Pawangmu Direktur."
__ADS_1
Terima kasih sudah Mampir dan menjadi pembaca setia. 🎉