
CEO 191
Rara yang mengetahui bahwa Asia sudah pulang Dia hendak beranjak dari duduknya namun sulit karena Aska tertidur di pangkuannya. Lara sangat senang sekali dia ingin segera memeluk anak itu. Rara hanya sanggup menunggu askia masuk tatapannya berbinar melihat pada Bu Hetty yang sedang mengajak Azkia untuk masuk.
"Assalamualaikum," ucap-bocah itu saat memasuki rumah.
"Waalaikumsalam," ucap Bu Heti dan Rara bersamaan.
"Salim pada ibumu, Nak." Bu Heti meminta Azkia untuk bertindak santun kepada ibunya.
Saat Azkia menyodorkan tangannya pada Rara, wanita yang telah lama menanti kepulangan putranya langsung memeluk Azkia. Tangan Azkia yang sudah menempel dengan tangan Rara ditariknya dan langsung berada dalam pelukan sang Ibu.
Azkia yang berdiri membungkuk tak bisa apa-apa, dia mengikuti tarikan tangan ibunya. Meskipun sebenarnya masih canggung. Sebab sekitar dua tahun lebih dia tidak bertemu ibunya, seakan asing kembali untuk bermanja atau bersikap seperti biasa.
Rara menangis sesenggukan, berkali-kali dikecupnya kening Azkia, pipi, lalu diusapnya kepala, rambut bocah itu yang hanya bisa diam. Bingung mau bereaksi seperti apa.
"Ibu ..." Azka terbangun karena merasakan goncangan dari tubuh ibunya yang tidak stabil duduk.
"Azka, ini Azkia sudah pulang," ucap Rara menoleh pada putranya yang baru bangun tidur.
Azka hanya mengerjapkan matanya, dia pun hanya bereaksi layaknya seorang bocah, yang tidak mengerti urusan orang dewasa.
Merasa ikut terharu melihat akhirnya Rara bisa memeluk putranya yang selama ini dirindukan. Bu Heti memberikan segelas minum pada Rara sedikit lega.
Azkia yang hendak beranjak ditahannya oleh Rara. Tas yang digendongnya dilepaskan oleh Rara serta kopiah agar Azkia lebih leluasa.
Rara menempatkan Asia duduk dengan benar di sampingnya tangannya tak lepas dari memeluk putranya itu.
Sedangkan Azka duduk di sampingnya bersila. Rara lupa dengan perubahan Azka yang sepertinya muncul rasa iri saat kembali Rara ingin mencari Azkia. Rara sedang fokus dengan rasa gembira dan harunya, harusnya dia sama-sama memeluk Azka yang ada di samping kirinya. Namun, begitulah sulit sekali bersikap adil.
Masalah memang akan datang silih berganti, begitupun dengan bahagia. Menjadi orang tua memang tidak mudah, dituntut adil oleh anaknya padahal orang tua sudah sekuat tenaga untuk bersikap adil sesuai kemampuan.
"Kamu sudah makan Nak?" tanya Rara pada Azkia.
Anak itu mengangguk, terlihat seperti ragu atau mungkin masih canggung.
"Jangan berbohong, kalau lapar makan saja, bukankah kamu memang belum makan? Biasanya sepulang sekolah madrasah, kamu makan. Karena terakhir makan kan tadi pukul 11.00 setelah pulang sekolah. Sekarang sudah pukul empat," Bu Heti memperingatkan Azkia.
Cara mengerti dengan jawaban Azkia yang berbohong, yah dia mungkin memang masih canggung berada di samping ibu kandungnya.
Rara memberikan makanan yang tadi dibelinya saat hendak ke sana. Lalu dibuka kemasan itu agar Azkia mau menyentuhnya.
__ADS_1
Bu Hetty langsung mengambil air di dalam sebuah wadah untuk Azkia cuci tangan. Agar Azkia mau menyentuh makanan itu.
Makanan yang sering disukai oleh banyak anak. Yaitu ayam goreng crispy beserta burger. Jadi terserah Azkia mau makan yang mana mau ayam gorengnya atau burgernya. Rara juga tidak membeli hanya dua untuk anaknya saja, tapi dia membeli beberapa, sisanya biar disimpan di rumah buah hati saja.
Dengan malu-malu Azkia mencoba makanan yang ada di depannya, sedikit demi sedikit.
"Kamu mau makan lagi, Nak?" tanya Rara pada Azka.
Namun, Azka menggeleng.
Kemudian Rara menawarkan burgernya saja. Azka tetap menggeleng.
"Duduk di sanak, temani Azkia makan. Kamu sambil makan lagi juga boleh. Biar seru." Rara berusaha membujuk Azka, agar Azkia juga mulai membiasakan diri membaur dengan keluarganya.
Azka akhirnya menurut, sekeras apapun hatinya dia tetap ingin memiliki teman. Ya begitulah anak kecil, emosinya tidak stabil.
***
Sebuah mobil memasuki pekarangan rumah Rara, dia adalah purba yang baru pulang dari kantor. Tidak ada yang menyambutnya, baik itu istri ataupun anak sambungnya. Purba pikir apakah Rara masih marah? Purba tidak tahu Rara pergi untuk menjemput Azkia.
"Assalamualaikum!" Seru Purba saat memasuki rumah.
Bu Purwanti dari belakang menyambut anaknya yang pulang kerja, dengan disodorkan air hangat.
Tadi Az-Zahro menangis saat setelah makan sore, entah mungkin karena sudah mengantuk. Biasanya bayi menangis Itu kalau tidak lapar, dia ingin tidur.
Bu Purwanti menceritakan bahwa Rara sedang menjemput Azkia. Purba jadi tertarik ingin mendengar cerita selengkapnya. Karena yang dia dengar akhir-akhir ini, istrinya sudah tidak membahas lagi tentang Azkia ataupun berkunjung ke rumah yang katanya keluarga yang sering membantu Azkia.
Sambil duduk di ruang tengah, Purba melonggarkan dasi dan melepaskan sepatunya. Sambil mendengar informasi yang diberikan oleh Bu Purwanti. Termasuk kedatangan Lena, yang menceritakan keadaan Gandi dan Azkia tidak ikut pulang kampung. Sehingga dari itu Rara begitu semangat ingin menjemput Azkia. Karena membayangkan anak itu pasti sendiri di kota Jakarta.
"Syukurlah kalau begitu. Aku mau mandi dulu Bu, semoga Rara cepat pulang," ucap Purba.
"Iya, Nak. Mungkin sebentar lagi istrimu pulang. Soalnya sudah dari tadi, waktu jadwal Azka pulang sekolah perginya "
Purba mengangguk dia menuju kamarnya. Di sana Bu Sugeti masih menidurkan sang cucu.
Keert!
Purba membuka pintu. Membuat Bu Sugeti menoleh.
"Eh, Nak Purba sudah pulang. Maaf ya, sebentar lagi, Zahro terlelap," lirih Bu Sugeti canggung, menantunya masuk kamar, pasti dia butuh privasi.
__ADS_1
Biasanya Bu Sugeti menidurkan Zahro di kamarnya, tapi tadi bayi itu tidak tertidur juga. Mungkin karena di kamar Bu Sugeti tidak ada AC, Zahra merasa kepanasan. Terlebih kamar Bu Sugeti terletak di dekat ruang tengah, hanya ada ventilasi jendela kecil yang menghadap ke taman belakang.
Meskipun di kamar Rara menggunakan AC, namun suhunya disesuaikan yang penting tidak terlalu panas di ruangan itu.
"Iya, Bu. Tenang saja," baca Purba menjawab dengan lirih pula. Karena takut membangunkan si bayi.
Rara memang tidak ingin bayinya tidur pada sebuah box atau memiliki kamar sendiri. Rara ingin memanfaatkan waktu saat dia benar-benar bisa memeluk anak-anaknya. Karena mungkin nanti saat dewasa moment itu tidak akan bisa diulangi lagi.
***
Bu Hetty sedang mengambil beberapa pakaian Azkia, lalu dimasukkannya pada sebuah kantong kresek. Karena tidak ada tas pakaian memang. Tas sekolah milik Azkia digunakan untuk buku-bukunya.
Bersyukur hari ini Azkia mau dibujuk untuk ikut dengan Rara. Walaupun tadi proses pembujukan sangat sulit. Azkia yang tidak bisa diajak bicara dengan lancar. Malah sempat menolak ikut, dia ingin tepat bersama Bu Heti saja, hanya karena alasan malu, tidak biasa, takut sama ayah baru. Banyak alasan yang Azkia lontarkan dan itu cukup melukai hati Rara.
Namun, Rara memaklumi reaksi Azkia. Perasaan polos apa adanya, tidak bisa disalahkan.
Azkia terus saja menunduk, saat itulah Rara berbisik pada Azka untuk membujuk saudara kembarnya ikut. Meskipun terkadang Azka ada rasa iri pada Azkia, dia sebenarnya sayang sama saudaranya. Bukan rasa iri karena sifat aslinya. Hanya itu kewajaran karena merasa semua terfokus pada Azkia.
Setelah Azkia membujuk dan mengatakan dia tidak teman kalau di rumah, Azkia mulai luluh, terlebih saat tahu bahwa dua hari lagi akan ada acara aqiqah adik mereka. Azkia jadi merasa penasaran melihat adiknya yang pasti lucu menggemaskan karena masih bayi.
Akhirnya askia mengangguk meskipun tidak begitu tegas, Rara dan Bu Hetty tidak menunda waktu lagi, meskipun anggukan Azkia tidak begitu mantap, itu sudah cukup sebagai tanda kesediaan Azkia ikut.
Mungkin nanti kalau sudah sampai di rumah, Azkia bisa merasakan betapa senangnya berkumpul bersama keluarga.
"Baiklah Bu Heti, saya sangat berterima kasih sekali. Entah saya harus membalas kebaikan Bu Hetti seperti apa. Pokoknya, rasa terima kasih saya sangat dalam dari hati, tidak bisa lagi saya berkata - kata untuk menunjukkan betapa saya merasa terbantu oleh kebaikan Bu Heti."
Rara berpamitan pada Bu Heti sebelum pulang, dengan menyampaikan beberapa patah kata untuk mewakili rasa syukurnya.
Bu Heti menyambut dengan sungkan juga, ucapan terima kasih yang berlebihan dari Rara. Karena dia benar-benar tulus. Saat pertama kali bertemu Azkia, merasa tergerak hatinya untuk lebih dekat dengan anak itu.
"Jangan lupa kalau ada waktu main ke sini ya, Nak," ucap Bu Hetty setelah merespon sepatah dua patah kata dari Rara.
Azkia hanya mengangguk tak lupa dia juga mencium punggung tangan buah hati serta memeluknya untuk yang terakhir kali.
Namun, ada yang Bu Hetty lupakan. ternyata uang tabungan Azkia belum diambilnya. Selagi Bu Heti sibuk membuka sebuah kotak, Rara dengan segera memasukkan sejumlah uang ke dalam amplop.
Rara memang sudah menyiapkan uang tersebut, untuk jaga-jaga jika terjadi sesuatu di jalan. meskipun tidak banyak hanya sejumlah 2 juta. Karena memang itu hanya uang cadangan kalau dia keluar, tidak tahu bakal bertemu kejadian seperti ini dengan Bu Heti.
"Ini nak uang hasil kamu bantuin Ibu," ucap Bu Hetty akan menyerahkan uang itu kepada Azkia.
Namun, Rara melarangnya dan menahan tangan Bu Heti.
__ADS_1
Bu Hetty terkejut karena Rara menahan tangannya untuk memberikan amplop tersebut kepada Azkia. Bu Hetty merasa tidak enak hati.
Bersambung...