
Keesokan harinya Mona bangun pagi-pagi sekali, dia sudah sibuk di dapur membuat sarapan untuk Purba. Dia semakin semangat untuk menjadi istri yang baik, apalagi semalam Purba sangat memuaskan dirinya, tak ada alasan lagi untuk Mona bermain di luar, dengan teman-teman clubingnya juga sudah tidak penting lagi untuk dirinya.
Saat Mona menyiapkan makanan di meja, ponselnya berdering. Dia selalu membawa ponsel ke mana pun karena jejak teman-temannya belum bersih menghilang dari cirklenya.
Mona takut saat ponselnya tergletak begitu saja, kemudian Bram atau temannya yang lain menelepon atau mengirim pesan yang isinya sesat. Ya, bagaimanapun juga Mona termasuk penganut **** bebas soalnya.
Mona mengabaikan panggilan dari Bram. Namun, setelahnya terlihat pesan masuk. Mona hanya membuka dari notifikasi saja.
“Sayang, hari ini bisa nggak ke apartemenku? Aku lagi pengen banget, suer ...,” isi pesan Bram
Mona menahan nafas menggelengkan kepalanya, jadi risi dengan cowok yang hanya bisa manfaatin orang saja kerjanya. Lalu mematikan ponselnya, dia melanjutkan lagi pekerjaannya sebagai istri yang baik, menyiapkan makanan untuk suaminya.
Setelah semuanya siap Mona pergi ke kamarnya membangunkan Purba, ternyata Purba sudah bangun. Dia sudah mengenakan pakaian, kemudian Mona membantunya mengenakan dasi.
“Sayang, ayo sarapan dulu, aku udah siapin, tenang... bukan roti kok,” ajak Mona.
“Nanti aja, di kantor Ma,” jawab Purba.
“Tapi kan, ini tidak kesiangan, masih sempat kita sarapan, masih lama sekali ke jam kerja. Lagian Jika kamu kesiangan sedikit juga tak jadi masalah, itu kan kantor kamu.”
“Iya, nanti aku nyusul,” ucap Purba.
“Ya udah, aku ganti pakaian dulu, kita berangkat bareng.” Mona beranjak menuju lemari untuk ganti pakaian. Karena dia sudah mandi tadi pagi-pagi sekali.
“Ma, bukannya kamu harus di rumah dulu? Jangan kecapean tiap hari ke kantor. Itu pasti menguras energimu.”
“Papa, Aku kan cuma nemenin, nggak ada capek-capeknya, kok,” balas Mona
“Apa kamu nggak suntuk cuma nemenin aja? Udah ... sekali-kali di rumah aja. Katanya mau belajar jadi istri yang baik, belajar masak kek sama mbak Idah, belajar bikin kue atau beres-beres rumah apa aja. Banyak kerjaan seorang istri kan? Mau ubah dekorasi rumah juga terserah kamu. Yang penting tidak buat kamu bosan.”
“Kenapa sih Pa? Sepertinya kamu nggak mau diikutin aku, deh. Ada apa, sih?”
“Bukan gak mau diikutin, terserah Mama sih, mau ikut tiap hari juga silakan, tapi kalau capek, Papa nggak tanggung jawab. Sekarang Mama belum ngerasain capek, karena baru sehari,” papar Purba
“Itu terserah aku, capek tinggal istirahat. Udah ah, aku mau siap-siap.”
“Ok deh, tapi kalau mama lama bersiapnya, aku tinggal ya. Nanti bisa nyusul kok, langsung aja ke kantor jangan nunggu siang. Nanti dikira ada apa-apa dengan aku. Males Ma, jangan banyak curiga terus.”
“Oke nggak apa, sana sarapan dulu. Aku mau bersiap. Apa mau sarapan bareng atau mau ditemenin?”
“Terserah Mama aja, nanti curiga lagi. Kalau nggak ditemenin salah, ditemenin nanti makin nggak bisa berangkat bareng, salah lagi.”
“Hehe iya... iya Pa. Ya udah, maaf ya nggak ditemenin. Soalnya Mama mau siap-siap, siapa tahu bisa berangkat bareng.”
Purba hanya menggangguk membawa tasnya, kemudian keluar kamar. Jadinya Purba sarapan, tapi hanya sedikit. Cukup untuk sekedar tidak berbohong kepada Mona, bahwa dia memang benar sarapan.
__ADS_1
“Mba Idah, tolong masukkan ke kotak makan, ya Mbak. Bekalnya mau aku bawa ke kantor, tapi jangan bilang Ibu.” Purba memperingati ARTnya.
“Baik Pak,” singkat Mbak Idah.
Mbak Idah tahu kelakuan Mona, sehingga dia pun akan mendukung Purba. Jika ada rahasia tidak mungkin berani diucapkan pada siapa pun.
Purba segera berangkat setelah menerima sarapan yang sudah dimasukkan ke tempat makan.
**#
Sesampainya di kantor dia sudah melihat Rara. Saat Purba masuk, Rara langsung berdiri dan akan menyapa Purba, tapi Purba langsung memintanya untuk biasa saja.
“Stop! Tidak perlu formal dan diam di situ,” ucap Purba saat Rara akan duduk kembali.
Rara heran, mau apa Purba memintanya untuk tetap diam.
Purba melangkah mendekati Rara, kemudian tak disangka merengkuh pinggang Rara dan Bizar melihat itu, dia langsung menutup pintu. Menghindari bosnya yang sedang dimabuk cinta.
Purba mengecut kening Rara.
“Morning kiss,” ucap Purba setelah melepas kecupannya.
“Eh, kok?” Rara merasa kaget karena ada morning kiss segala.
Rara masih terbengong. Apakah morning kiss akan dilakukannya setiap hari? batin Rara
“Hei, kenapa bengong! Ayo sarapan. Apa ... mau ditambah lagi. Hem?” ucap Purba dengan memajukan bibirnya tanda kiss.
“E-eh, enggak Pak. I-iya baiklah. Aku makan.” Rara langsung menurut, daripada harus mendapatkan tambahan kiss, nanti dia makin gak sadarkan diri.
Kemudian Rara duduk berhadapan dengan Purba.
“Jadi, sesuatu yang Mas maksud itu, ini?” tanya Rara menunjuk kepada makanan yang ada di depannya.
“Hahaha kamu gimana sih, sayang. Bukanlah, tapi yang tadi,” jawab Purba yang sengaja tidak diperjelas.
“Yang tadi maksudnya?” tanya Rara kembali.
Purba memberi kode, dia mengetuk bibirnya dengan jari
“Oh ...maksudnya Mas sesuatu itu, morning kiss? Dan itu maksudnya apa?”
“Hah? Kok bertanya gitu sih? Kamu nggak merasa spesial diberi morning kiss?”
“Bukan gitu Mas, apa tidak terlalu berlebihan? Kita kan belum ...,” ragu Rara.
__ADS_1
Walau Rara menggantung ucapannya, Purba pasti paham.
“Ya nggak apa-apa lah, hanya di kening juga. Anggap aja bentuk perhatian dariku, mumpung Mona nggak ada. Makanya aku minta kamu berangkat pagi.”
“Oh ... oke baiklah Mas,” ucap Rara dengan tawa lirih diiringi senyumnya.
Setelah sarapan bersama, Mereka pun langsung kembali pada aktivitasnya masing-masing, tidak lupa Rara sudah menyajikan teh melati favorit Purba setiap pagi.
Mona ke kantor datang sekitar pukul sepuluh, dia melihat situasi ruangan kerja suaminya aman, tidak terlihat gelagat yang mencurigakan. Kalau perkara gelas teh yang disajikan di meja Purba, itu bisa dimaklum. Karena tidak mungkin suaminya tidak minum.
Namun, tetap saja. Saat Mona datang, sisa air yang ada dalam gelas, dibuang oleh Mona. Kemudian dia ganti oleh minuman yang baru buatannya.
Aktivitas hari ini cukup aman, hingga setelah makan siang pun, suasana kerja tetap baik.
**#
Tiba waktu pulang, sebelum mereka meninggalkan kantor, Mona mendekati Rara.
“Jangan lupa, besok kamu pagi-pagi sekali harus sudah ada di rumah. Biar Bizar nanti yang jemput, Oke?” ucap Mona pada Rara, diakhiri perintah kepada Bizar. “Zar, besok jemput Rara, jangan lupa!”
“Baik nyonya,” ucap Bizar mengangguk.
“Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu,” ucap Rara, dia meninggalkan ruangan.
Purba tahu ke mana Rara pergi, sudut matanya mengekor langkah Rara.
Kini giliran Purba, Bizar dan Mona, meninggalkan ruangan. Namun, sesaat setelah di depan ruangan, Purba meminta izin ke toilet. Tak menyangka Mona pun mengikutinya.
“Mah ... ini ke toilet cowok, loh,” ucap Purba, risi dikuntit Mona sampai segitunya.
“Ya nggak apa-apa, Pa... aku kan nunggu di luar, nggak mungkin masuk.”
“Ok baiklah, nanti sampai ke lubang semut pun kayaknya kamu akan ikut. Ya nggak? Capek Ma ... curigaan terus,” balas Purba.
“Nggak Pah, Mama juga tau batasan. Tapi kalau untuk mempertahankan suamiku takut digoda cewek-cewek lain, kenapa nggak? Di sini banyak karyawan cewek yang suka Papa, pastinya,” gerutu Mona.
“Iya baiklah, terserah Mama.” Purba masuk ke toilet.
Namun sebelum itu, Purba sempat memberi kode kepada Bizar, melalui tangan di samping pahanya, seolah melambai-lambai seperti mengusir. Itu pertanda Bizar harus menyibukkan Mona, agar tidak fokus mengintai Purba.
“Nyonya Maaf sebentar,” ucap Bizar saat sudah sampai di depan lorong toilet.
Bersambung...
__ADS_1