Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Tentang Momongan


__ADS_3

Bab169


Pak sopir melajukan mobilnya langsung ke rumah sakit, dia terharu melihat hubungan saudara kembar yang hidup di tengah masalah. Meskipun menurut pandangan Pak sopir tidak ada yang bermasalah dari sisi Azka.


Mungkin memang Azkia masih bingung terhadap ayahnya. Bagaimanapun juga Gandi adalah Ayah kandungnya dan Azkiya tidak berani berbuat seenaknya. Tidak tahu kalau nanti ayahnya kembali jahat, sedangkan Azkia sudah beranjak dewasa. Mungkin dia juga berani untuk bertindak tegas meskipun pada ayahnya. Namun saat ini Azkia melihat ayahnya sendiri kasihan juga. Hingga pikir-pikir lagi untuk ikut bersama Azka.


Azka juga sebenarnya sudah ada merasa malu, berkali-kali Ibunya datang dia menghindar dengan cara yang buruk. Ada rasa bersalah juga meskipun masih dibayang-bayangi rasa sakit hatinya. Kenapa Ibunya menikah terlebih dahulu? Azkia ingin ada di tengah kebahagiaan sang ibu saat pernikahan itu.


***


"Saya antar kembali ke kantor Nona," ucap Mr. San saat mereka sudah selesai makan siang.


Mr. San memang lebih nyaman memanggil Mona dan sapaan Nona. Hanya Nona, tidak memanggil nama.


"Tidak perlu Mr. saya akan ke kantor suami saya dulu."


"Tapi anda tidak membawa sopir anda?"


"Sudah saya hubungi Mr. Dia sudah ada di depan."


Tadinya Mr. San menawarkan diri untuk mengantar Mona, agar sekalian mengetahui sosok Purba sebagai pemimpin perusahaan Pusat.


Namun, rupanya Mona sudah persiapan terlebih dahulu, saat dirinya berangkat ke cafe untuk makan siang bersama Mr. San, Mereka satu mobil. Maka setelah beberapa saat makan siang akan selesai, Mona langsung menghubungi sopirnya.


Di parkiran cafe, Mr. San mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Mona, tanda dia sangat suka sekali bekerja sama dengan perusahaan Bonafit Tekstil. Terutama yang dipimpin oleh Mona.


Namun dengan refleks Mr.San menarik tangan Mona hingga mereka cukup dekat dan mister sun mencium pipi kanan dan kiri Mona. Meskipun hanya antara pipi, bukan cium pipi dengan bibir si Mr.


Mona sempat kaget. Apa yang dilakukan Mr. San? Apalagi ini di depan umum. Namun, lagi-lagi Mona berusaha berpikir positif. Bahwa hal seperti itu untuk orang asing sudah biasa dilakukan sebagai tanda keakraban.


Setelah kepergian Mr. San, Mona langsung meluncur ke kantor Purba. Kebetulan saat Mona sampai di depan kantor, Purba juga baru sampai, terlihat dia turun dari mobilnya dan Mona menanti di depan pintu masuk.


"Dari mana Mas? Kok nyetir sendiri?" tanya Mona.


Mereka sempat cipika-cipiki, sebagai sapaan suami istri yang bertemu.


"Habis makan siang," ucap Purba, tak ada gairah jawabannya.


Mereka berbincang sambil berjalan, menuju ruangan Purba tentunya.


"Kau menyetir sendiri? Ke mana Bizar?"


Siang itu mulai lagi banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh Mona. Purba malas rasanya, selama ini mereka sudah seperti berjalan masing-masing, menikmati kesibukan dengan baik-baik saja, tapi sekarang banyak pertanyaan lagi dari Mona.


Padahal suasana yang sama-sama sibuk itu lebih aman. Tidak ada kecurigaan dan buruk sangka.


"Kan wajar Mas aku nanya?"

__ADS_1


"Ya, wajar, tapi selama ini kita tak ada masalah dengan kesibukan masing-masing kan? Jadi jangan cari masalah sepele yang berbuntut panjang."


Mona menelaah apa kata Purba, kemudian berpikir. Benar juga, andai Mona tidak ke kantor Purba saat ini, dia tidak akan tahu apakah Purba telah pulang terlambat dari makan siangnya atau tidak Sehingga tidak perlu ada pertanyaan di benak Mona dan Mona masih tetap bisa melanjutkan pekerjaannya di kantor sendiri.


Memang untuk beberapa hal Lebih baik tidak tahu, dari pada mengetahui, tapi menimbulkan penyakit hingga masalah ke mana-mana.


"Aku hanya sedang rindu aja Mas," ucap Mona, bergelayut manja di lengan Purba, mereka kini sudah berada di ruangan Purba.


"Oh, ya. Aku mau menanyakan sesuatu. Kebetulan kamu ke sini," ucap Purba. Dia melepaskan tangan Mona yang memeluk lengannya.


"Apa itu Mas?"


Mona sudah senang terlebih dahulu, sudah lama sekali dia dan suaminya tidak berbicara banyak. Apakah ada suatu hal yang akan dibahas siang ini? Sebuah kejutan romantis, Kah?


Mumpung Purba ingat, dia menanyakan perihal teror yang masuk melalui pesan akhir-akhir ini. Termasuk tadi pagi.


Purba menunjukkan teror itu pada Mona, dengan tujuan apakah tahu nomor tersebut dan Purba juga sekaligus menunjukkan isi dari pesan itu.


Apakah Purba tidak berpikir jika ancaman itu dari musuh Mona kemudian merasa tahu itu untuknya dan juga tahu dari siapa. Apakah Mona akan berkata jujur pada Purba?


Namun, pemikiran lelah Purba tidak sampai ke sana, dia sebenarnya tidak begitu peduli jika ancaman itu tentang Mona. Karena sebenarnya Purba sedang mencari celah juga, bagaimana bisa lepas dari rumah tangga yang dibinanya sudah hampir empat tahun ini.


Apalagi saat ini tidak ada keturunan di tengah mereka, sepertinya tak guna lagi jika dipertahankan.


Namun, bukan karena tidak ada momongan di antara mereka, sebenarnya. Purba hanya melihat fungsi keluarga itu sendiri untuk apa? Ada ikatan antara Purba dan Mona, jika tidak mendapatkan kebaikan dari hubungan itu, untuk apa dilanjutkan.


Siapa tahu ada orang yang akan menyakiti istrinya atau membuat rumah tangga mereka hancur dengan fitnah-fitnah yang belum tentu benar.


"Aku tidak tahu Mas ini nomor siapa dan tentang ancaman ini, aku tidak memiliki perasaan apa-apa. Maksudnya apakah aku punya musuh, bermasalah dengan temanku, sepertinya semua baik-baik aja."


Mona telah memberikan jawaban, dia sudah mengingat baik-baik tentang lingkungannya baik dari teman atau pekerjaan. Sejauh ini, aman saja.


“Ya sudah, biar nanti juga terbukti sendiri. Selagi keluarga aman-aman saja. Kita abaikan."


Purba kembali pada layar komputernya.


Sedangkan di sisi lain, Mona sedang berkutat dengan pemikirannya. Terbayang dugaan pada Bram. Apakah dia mengirimkan teror itu? Bukankah dia masih di penjara?


***


“Ibu... Ade bayi....” Tiba-tiba Azka masuk ke ruang perawatan Ibunya dengan suara lantang. Dia merasa gembira baru bertemu lagi dengan saudara kembarnya. Sehingga kegembiraan itu terbawa sampai pulang.


Namun, tiba-tiba langkah Azka berhenti saat melihat ada dua orang tua yang tidak ia kenal. Seperti neneknya sudah tua sekali m, tidak seperti ibu dan ayahnya.


"Nak, kenalin ini orang tuanya ayah," ucap Bu Sugeti.


Azka langsung menyodorkan tangannya untuk salim dan mencium punggung tangan kedua orang tua Purba.

__ADS_1


Pak Kukuh dan Bu Purwanti pun menyambut dengan hangat cucu angkatnya itu. Mereka juga mencium kedua pipi Azka, tidak ada yang merasa aneh atau pun tidak harus pilih kasih. Mereka senang melihat Azka meskipun bukan cucu kandungnya.


Rara menanyakan pada Azka Kenapa pulangnya siang sekali. Azka juga memberikan alasan bahwa mereka memang bermain sangat seru, jadi lupa waktu. Azka juga sempat meminta maaf kepada Rara.


"Iya, untuk sekarang tak apa. Lain kali jangan diulangi, ya. Harus ada batasan kalau kita sudah bermain," nasihat Rara pada sang Azka.


Azka merespon dengan senyuman manisnya dan berjanji tidak akan diulangi.


Sore itu mereka akan pulang ke rumah dan saat itu Bu sugeti yang sedang membereskan administrasi rumah sakit. Sedangkan kedua orang tua Purba membantu beres-beres perlengkapan yang akan dibawa pulang.


"Ayah masih di kantor ya Bu? Nggak ikut pulang bareng kita?" tanya Azka


"Iya. Nanti ayah menyusul," ucap Rara.


Mereka pun pulang bersama menggunakan dua mobil. Dari kamar perawatan Rara didorong oleh Bu sugetti, menggunakan kursi roda. Sedangkan bayinya digendong Bu Purwanti, sedangkan Pak Kukuh menggandeng tangan Azka sambil membawa tas. Kemudian Pak sopir juga membawa barang lainnya yang tidak bisa dibawa oleh yang lain, karena sudah mendapat tugas masing-masing


"Bu, Pak. Nanti kalau mau mampir ke toko mampir aja. Saya sama Ibu langsung ke rumah. Mumpung ke sini, bisa mencicipi kue buatan toko saya. Ibu sama Bapak, bebas ambil yang mana aja, yang suka."


"Baiklah, Nak. Nanti kami mampir." Bu Purwanti merespons.


"Nanti sama Azka temenin kakek sama nenek ya," perintah Rara.


Azka mengangguk semangat, dia suka mendapat kakek nenek baru. Sepertinya mereka sayang juga. Jadi Azka senang menambah anggota keluarga baru, jadi banyak saudara, deh. Sedangkan dulu saat di kampung, Azka hanya tahunya Nenek Sugeti dan tante Lena.


Kemudian bayi yang digendong oleh Bu Purwanti kini digendong oleh Bu Sugeti dan satu mobil dengan Rara. Sedangkan Azka satu mobil dengan orang tua Purba.


***


Kembali ke Kantor Purba.


"Ya udah, Mas. Aku mau kembali lagi ke kantor." Mona beranjak dari duduknya dan sempat mencium kedua pipi Purba. Kemudian melangkah pergi.


"Iya, hati-hati ya."


Mona hanya menoleh, dia tidak merespon lagi sikap perhatian Purba. Sepertinya hanya basi-basi saja saat Purba bilang hati-hati, sedangkan tatapannya fokus ke layar komputer. Saat Mona mencium Purba juga dia diam saja. Seakan tak merasakan apa pun pada ciuman istrinya.


Sesampainya di mobil, Mona menanyakan pada Dea melalui sambungan telepon, tentang pemesanan kuenya sudah dilakukan atau belum.


"Untuk pemesanan sudah Bu, tadinya setelah pulang kantor saya akan ke tokonya. Sebelumnya saya sudah menghubungi kontak admin, hanya saja mau saya kroscek nanti. Soalnya kalau sekarang tanggung sore, Bu. Tadinya sekalian pulang mau saya pastikan ke sana."


"Ya udah biar aku yang ke sana, sekalian untuk uang dp dan kwitansinya."


"Baik Bu. Maaf ya Bu, malah jadi merepotkan."


"Nggak apa, sekalian aku di luar ini juga."


Dalam perjalanan, Mona terus berpikir akan dibawa kemana rumah tangganya? Dahulu dia pernah hamil diluar nikah, tapi sekarang untuk menambahkan seorang anak saja susah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2