
Bab 115
Purba tidak jadi mengambil air minum dia langsung kembali ke kamar lalu menyiapkan kejutan yang sudah disediakan untuk Mona.
Purba menyimpannya di tengah tempat tidur, lalu dia keluar lagi pura-pura masih berada di tempat kerja. Purba juga sudah menyiapkan alasan jika sampai Mona menanyakan tentang kalung permata singa itu.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Mona kembali ke kamar. Dia merasa heran kenapa kamarnya gelap, perasaan tadi tidak dimatikan saat akan ke dapur. Setelah Mona menyalakan lampu, lalu melangkah menuju tempat tidur, dia melihat sesuatu di atas ranjang, sebuah kotak dengan pita biru.
Bibirnya tersungging lalu diambil bingkisan tersebut.
"Apakah ini kejutan dari Mas Purba? Kok bentuknya lain?" gumam Mona.
Namun dia tetap membukanya, akan tetapi saat kotak itu dibuka, diurungkan untuk melihat isinya. Rasanya gak seru, biar nanti dibuka bareng Purba saja.
Kalau membuka hadiah hanya sendiri ekspresi bahagianya hanya dinikmati sendiri juga, itu pikiran Mona. Seperti mendapat kejutan dari seseorang yang jauh.
Mona kemudian beranjak tidur saja, sambil menggenggam hadiah dari Purba.
Tak lama Purba masuk, dia melihat Mona sepertinya sudah tidur.
Karena Mona tidur miring membelakangi arah pintu kamar, sehingga tak terlihat oleh Purba apakah Mona beneran tidur atau tidak.
"Mah...?" sapa Purba, tapi Mona tidak ada jawaban. Maka Purba mengambil guci tempat air lalu keluar, pergi ke dapur untuk mengisi guci tersebut. Karena malam hari suka ingin minum atau untuk pagi hari, saat bangun.
Tak lama Purba kembali, lalu membaringkan tubuhnya di samping Mona. Dia menengok sebentar melihat apakah Mona benar-benar tidur?
"Loh kok belum tidur? Aku pikir sudah terlelap dari tadi," ucap Purba saat melihat wajah Mona, malah tersenyum.
Mona bangun dari tidurnya kemudian mereka sama-sama duduk.
"Ini apa Mas?" tanya Mona.
"Kok belum dibuka?" tanya Purba.
"Nggak enak kalau dibuka sendiri," manja Mona.
"Kenapa? Namanya juga kejutan kan? Nah ... ini kejutan yang kemarin aku janjikan," ucap Purba.
Mona menceritakan kalau kejutan itu enaknya dibuka bareng. Biasanya seorang Istri ditutup matanya, lalu hadiahnya dibuka di hadapan suaminya saat hadiah itu sudah ada di depan mata.
Ketika istri berekspresi bahagia akan memeluk suaminya dengan senang, bahkan sampai menciumnya, tapi apa yang Mona dapat? Di kamar sendiri seolah hadiah itu dari pacar yang jelas-jelas tidak tinggal satu rumah. Ini kan suami istri? Masa hadiah kejutan dibuka sendiri.
"Ya udah, maaf. Aku bukan pria romantis. Nggak tahu cara kasih kejutan gimana," elak Purba.
"Hah?" Mona malah terbengong. Tapi ada binar bahagia di wajahnya.
"Kenapa?" Purba tak mengerti kenapa Mona seakan terkejut setelah Purba merespon seperti itu.
"Coba ulangi?"
"Ulangi apa?" Purba tak mengerti.
__ADS_1
"Tadi, yang mas katakan saat aku bilang kalau kejutan itu harusnya suami ada di dekat si istri, bukan malah pergi kayak orang pacaran aja."
"Oh ...iya, aku bukan pria yang romantis. Jadi maklumin aja."
"Bukan yang itu, tapi kata-kata awal."
"Yang mana sih, ma?" Purba bingung kata-kata mana yang dimaksud oleh Mona.
Karena jika orang berbicara merespon secara spontan, kadang lupa secara detail apa yang sudah diucapkan semuanya.
"Ah, ya udah deh, tapi tadi aku senang loh dengernya, senang banget malah. Mungkin itu lebih dari kejutan," ucap Mona tak lepas dari senyum bahagianya.
"Yang mana sih Ma?" Purba jadi penasaran.
"Tadi Papa bilang Maaf, selama ini kan Papa nggak pernah. Ya kan?"
"Masa? Perasaan Mama aja kali. Kita sering berantem loh, masa iya aku nggak pernah bilang maaf," bela Purba.
"Ah, udah ah. Udah, aku mau ngebuka ini, gak sabar."
Kemudian Mona membuka kotak itu secara perlahan, matanya sudah berbinar, bibirnya sudah mengembang menyiratkan sebuah kebahagiaan yang beberapa hari ini dinantikan oleh Mona.
Namun, saat dibuka. Benar saja seperti dugaannya, dari luar saja kemasannya sudah berubah. Mona pikir Purba sengaja merubah kemasan agar tidak tertebak oleh Mona, tapi dalamnya sebuah kotak perhiasan.
Namun, yang Mona lihat dalamnya sebuah benda berbentuk persegi panjang, lebih tipis dari sekedar kotak perhiasan. Itu sebuah kertas.
"Ini apa Mas? Kok gini?" tanya Mona.
"Kemarin waktu Mas baru pulang, waktu aku ngeberesin koper...?" ucap Mona terhenti, dia ingin menanyakan lebih jelas, tapi masih ragu. Takut Purba salah paham.
Pikiran Mona jadi terbayang ke mana-mana. Buat siapa liontin itu? Selama ini Mona terlalu lama tidak berangkat ke kantor. Apakah ada wanita lain selain dulu dia mencurigai Rara?
"Kenapa? Kok diam?" tanya Purba. "Apakah ada yang aneh? Ada yang salah?" tanya Purba kembali.
Mona menggeleng, dia berpikir bagaimana cara menanyakan pada Purba, tapi kalau tidak ditanyakan penasaran. Lagi pula kecurigaan adalah hak Mona, takut kalau suaminya tidak menghargai usahanya yang sudah berubah menjadi seorang istri sewajarnya.
"Mas, aku mau tanya, boleh?" ucap Mona, akhirnya.
"Tanya aja. Kenapa harus nggak boleh?"
Sebelumnya Mona menanyakan, dalam benak purba sudah bisa menebak pasti akan membahas liontin itu.
"Loh kok malah diam?" tanya Purba karena menunggu Mona berbicara.
Dengan hati-hati Mona menanyakan tentang liontin kemarin, dia juga beralasan tidak sengaja menemukan benda tersebut di kantong kopernya.
"Sebelum aku kasih jawaban, mending buka dulu deh," perintah Purba.
Purba meminta Mona untuk membuka hadiah darinya, agar Mona tidak terlalu kecewa dan menyangka macam-macam, saat tahu bahwa benda tersebut memang bukan untuk dirinya.
Dibantu oleh Purba mengambil kertas tersebut, lalu Mona diminta untuk memejamkan matanya dan Purba mengacungkan kedua lembar kertas di hadapan Mona. Setelah itu Mona diminta untuk membuka matanya.
__ADS_1
"Wah! Tiket bulan madu?" Mona sangat senang sekali. Ini juga benar-benar kejutan buatnya.
Karena semenjak mereka menikah tidak ada bulan madu sama sekali. Namanya juga pernikahan yang tidak diinginkan oleh salah satu pengantin, yaitu Purba.
Kenapa Purba sekarang malah mengajukan untuk berbulan madu? Hal itu sebagai bentuk penghargaan kepada Mona yang sudah mau berubah.
Jika kembali membahas Rara, Purba sudah merubah pikirannya bahwa lelaki memiliki lebih dari satu istri itu sah saja. Dan bukan rahasia umum lagi, jika seorang suami berpoligami.
Maka, daripada Purba mengecewakan keduanya, lebih baik dia merawat keduanya yang penting bisa membagi waktu.
Itulah alasan mengapa Purba tetap mempertahankan keduanya, walaupun masih tetap ada kehati-hatian saat Mona kembali tidak berperilaku baik padanya, maka perceraian akan tetap Purba lakukan.
"Gimana? Suka?" tanya Purba.
"Iya aku suka suka banget," ucap Mona, dengan terus memandangi tiket itu, wajahnya tak henti berbinar.
"Coba kamu baca apa yang spesial di sana," perintah Purba.
Mona membaca tiket bulan madu itu, sepertinya tidak ada yang spesial. Dia menggelengkan kepalanya.
Lalu purba menunjukkan salah satu sudut pada kertas itu.
"Undangan spesial? Apa maksudnya?" tanya Mona.
"Iya itu adalah tiket bulan madu dengan fasilitas undangan spesial. Kita bisa datang kapan saja, mengingat kondisi kantor kita tidak bisa ditentukan kapan ada waktu luang atau tidak. Maka aku sengaja mengambil fasilitas itu."
"Serius Mas, aku senang sekali kamu mempersiapkannya dengan baik."
"Jadi? Kapan kita berangkat?" tanya Mona kembali.
"Kamu nggak mau ke kantor dulu?" tanya Purba.
"Memang ada apa?"
"Kan selama ini posisi sekretaris tidak ada, nanti dikiranya aku banyak alasan terlalu sibuk di kantor. Kalau kamu yang cek, kamu bisa tahu sendiri," papar Purba.
"Oh iya, aku lupa. Pasti kerjaan numpuk ya Mas? Ya udah, besok aku ke kantor, deh."
"Udah agak baikan?" tanya Purba.
Mona mengangguk karena sebenarnya dia juga tidak sakit.
"Lalu tentang liontin itu?" tanya Mona.
Bersambung..
Catatan: untuk pengumuman give away, akhir September ya...
Yang baru tahu, masih bisa terus berpartisipasi, jangan lupa, like, komen, fav dan giftnya. Terima kasih. ;)
Info selengkapnya di GC ya ...
__ADS_1