Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Semakin Dekat Azkia


__ADS_3

bab 156


Keesokan harinya, kegiatan menyenangkan di toko kue miliki Rara. Dia bangun menyediakan sarapan untuk Vira berangkat kerja.


Seperti adik-kakak yang indekos, merantau jauh dari kampung halaman. Pagi hari yang sibuk untuk sang adik. Sedangkan Vira juga senang, merasa lebih bebas dan istirahat dengan tenang, jauh dari teriakan sang adik.


Ya, Vira masih memiliki adik balita dan batita. Hingga kalau pulang kerja, dia tetap direpotkan dengan menjaga adiknya, walau hanya sekedar menunggu agar adiknya tidak melakukan hal berbahaya, tetap aja bisa. Apalagi kalau sampai kedua adiknya rebutan mainan. Tambah pusing di rumah.


“Vira, kamu mau bawa bekal nggak?” tanya Rara sambil mencuci piring.


“Boleh Mbak, hihi. Pengen tahu rasanya dimasakin tiap hari,” gumam Vira.


“Ekhem, aku denger loh.” Rara berdeham, dia bisa tahu celotehan adik ktemu gedenya.


“Hehe, iya, mangap. Namanya juga terlalu senang karena menikmati kebebasan.”


“Nanti kamu juga punya anak, harusnya terbiasa dengan berisiknya anak kecil,” nasihat Rara.


“Kalau anak, itumah beda lagi Mbak. Masa anak sendiri mau dibenci sih, nggak dong.”


Drt!


Drt!


Rara melihat ponselnya ada panggilan dari Polisi yang kemarin bertukar nomor, untuk memberikan kabar jika ada perkembangan kasus tentang pelecehan kemarin.


Rara menerima panggilan tersebut, setelah Pak Polisi menjabarkan keterangan yang akan disampaikan, Rara terperanjat.


“Jadi dalangnya Gandi, Pak?” ucap Rara dengan nada masih tidak percaya.


“Benar, Bu. Ibu mengenal saudara Gandi?”


Rara menjelaskan siapa Gandi, sampai detail. Polisi semakin menemukan titik terang, sudah jelas motifnya apa jika begitu. Ditelusuri dari cerita Rara tentang Gandi.


Kemudian Rara sekaligus menyampaikan untuk minta bantu mencari alamat Gandi karena ingin menyelamatkan anaknya yang bernama Azkia.


Rara diminta untuk ke kantor polisi saja membicarakan keperluannya dan kasus yang sedang berjalan.

__ADS_1


Panggilan pun selesai Vira ingin tahu apa yang sedang dihadapi oleh Rara kemudian Rara menceritakan dan viral setuju atas rencana itu ikut prihatin atas segala musibah yang dialami Rara. Wajar dia merasa menemukan pelindung saat bertemu Purba.


“Aku brangkat ya Mbak, semoga urusannya lancar dan anak Mbak kembali bisa kumpul bareng.


“Iya, makasih ya Vira.”


Vira pun berangkat ke kantor, kemudian Rara langsung menghubungi Bizar menceritakan bahwa ada kabar baik dari kantor polisi. Rara meminta dibantu untuk diantar ke sana dan didampingi.


Tak masalah akan didampingi oleh Purba atau Bizar. Yang penting urusannya selesai.  Akhirnya diputuskan nanti Purba akan menemani Rara waktu jam istirahat. Karena Bizar langsung mengkonfirmasi pada Purba, saat kebetulan di ruang tidak ada Mona.


Rara kembali aktivitas untuk menyiapkan pematangan konsep toko kue, dari posisi meja kasir, etalase, dapur beserta laptop untuk pembukuan.


Beberapa banner menarik, ia cari di internet untuk membuat daftar menu dan nama toko yang akan di pajang di depan bangunan.


***


Gandi sudah berada di tahanan, itu diputuskan karena belum ada pengacara yang menjaminnya untuk nanti dibela saat persidangan. Sejak awal masuk sel, Gandi uring-uringan terus. Menyalahkan Agung yang tidak bisa menutup mulutnya.


"Kenapa kamu harus buka mulut?" tegur Gandi marah kepada Agung. Walaupun nada suaranya berbisik karena mereka satu tahanan, takut terdengar oleh petugas.


Agung hanya bisa diam, dia masih takut kepada Gandi karena dia juga sudah menerima uang buat anak dan istrinya, sehingga membela pun percuma. Dia pasrah saja, yang penting anak istrinya tidak terganggu.


Tentu saja Gandi akan dibantu oleh Daryanto untuk mencari pengacara atau dia meminta bantuan kepada sugar Mona. Tidak sulit buat Gandi mendapatkan pengacara, karena pada Tante yang memeliharanya adalah orang-orang kaya yang memiliki akses untuk berhubungan dengan orang-orang hukum.


***


Sementara itu di kontrakan Gandi, Daryanto berniat menemui Azkia. Namun tidak menemukan di kamarnya. rupanya saat Daryanto akan ke kamarnya, dia melihat Azkia berada di kontrakan Bu Heti.


"Azkia. Kamu di sini? Aku cariin," tanya Daryanto.


"Iya Pak. Ada apa?" tanya Azkia menghampiri Daryanto yang berdiri di depan pintu.


Daryanto menyampaikan bahwa ayahnya Azkia sedang ada urusan, untuk beberapa hari tidak pulang. Bagaimana pun juga Daryanto seorang ayah, dia tidak tega meninggalkan anak kecil sendirian. Maka pesan itu harus disampaikan walau bukan perintah dari Gandi.


"Ke mana Pak?" tanya Azkia ingin tahu ayahnya sedang ada urusan apa.


"Pokoknya sedang ada urusan penting. Kamu berani sendiri di kamar?"

__ADS_1


Azkia sempat menoleh kepada Bu Heti, kemudian mendapat kode dari Bu Heti. Azkia mengangguk pada Daryanto, bahwa dia berani untuk sendiri di kamar.


Daryanto pergi, kemudian Bu Heti diskusi bersama Azkia, kalau sampai dia takut di kamar sendiri, maka boleh tidur di kontrakan Bu Heti. Dan Azkia mau, karena sudah seperti orang tuanya sendiri pada Bu Heti, dia orangnya baik, begitu pula suaminya.


***


Waktu istirahat kantor pun tiba, Purba lagi-lagi membuat alasan ada meeting di luar. Mona sudah lelah untuk menghadapi Purba yang sangat sibuk akhir-akhir ini. Mona sedang tidak ingin merespon apa pun. Dia membiarkan Purba kemanapun pergi dengan alasan apapun tanpa niat untuk mengikuti, arah mengorek informasi.


Purba ke toko terlebih dahulu menjemput Rara.


"Apa benar polisi mengatakan itu?" tanya Purba pada Rara yang kini sudah sampai di mobilnya, untuk melaju ke kantor polisi.


"Bener Mas, aku harap hari ini juga bisa mendapatkan alamat Mas Gandi."


Bizar mengemudi mobil cukup lancar, karena jalanan tidak macet seperti saat pagi atau pun sore. Tak lama mereka sampai di kantor polisi.


Purba menyampaikan tujuannya kepada petugas dan langsung dibawa kepada petugas yang mengurus kasusnya kemarin. Tanpa basa-basi lagi mereka langsung ingin dihadapkan dengan Gandi. Dengan didampingi dua petugas, Purba dan Rara pergi ke ruangan khusus yang nanti Gandi akan datang ke sana.


Rara memegang lengan Purba dengan erat, dia masih trauma atas kekerasan yang Gandi lakukan dulu.


Purba dan Rara tidak bicara, yang menginterogasi Gandi hanya petugas. Gandi sangat geram saat melihat Rara terus menempel pada Gandi.


'Lihat saja nanti, setelah aku bebas'. batin Gandi, dengan tatapan dendam.


Awalnya Gandi cukup alot untuk ditanya. Namun, dengan beberapa gertakan akhirnya dia memberikan alamat tersebut, karena jika Gandi tidak bisa kooperatif hukumannya akan semakin berat. Karena kasusnya sekarang bukan satu, tapi dua. Yaitu perbuatan tidak menyenangkan atau otak pelaku kejahatan dan menjauhkan anak kecil dari ibu kandungnya bisa terkena dugaan penelantaran anak.


"Terima kasih Pak atas bantuannya, untuk menuntaskan kasusnya nanti saya serahkan pada pengacara saya," ucap Purba setelah selesai urusannya dan akan pamit bersama Rara.


Pak polisi menerima dengan baik dan tentu akan selalu memberikan informasi dengan akurat dan secepatnya.


***


"Bagaimana Mas? Kita ke alamat ini sekarang?" tanya Rara saat sudah di dalam mobil.


"Boleh. Tapi ... apa tidak terburu-buru?"


"Lebih cepat lebih baik Mas, aku tidak sabar ingin bertemu dengan Azkia. Bagaimana keadaannya, kasihan dia sendiri. Kan Gandi di penjara."

__ADS_1


Rara terlihat sangat gelisah.


Bersambung...


__ADS_2