
Happy Reading. Bantu support dengan like, komen dan favorit ya. Terima Kasih.
“Kamu menolaknya hanya sekali mungkin, atau kamu senang ternyata dapat kenalan baru masih muda lagi dibandingkan aku,” ucap Purba, sengaja menunjukkan cemburunya.
“Apaan sih Mas, kok jadi gitu? Saat aku masuk ke ruang make up itu, terus mendengar Bu Caroline menelepon Bu Mona, ternyata Bu Caroline itu sepertinya ketuanya atau orang-orang yang sangat hormati, dituakan oleh ibu-ibu sosialita itu.
Entahlah, aku juga nggak tahu. Cuman gimana ya ..., mereka langsung nurut aja gitu. Aku mana tahu akan dipasangkan sama seseorang,” papar Rara.
“Siapa nama laki-laki itu?” tanya Purba penasaran.
“Kenzo,” jawab Rara singkat.
“Kamu bida tahu namanya? Hebat. Berbincang apa saja?”
“Nggak berbincang apa-apa, Mas. Kenal aja baru sehari.”
“Oh.... jadi ada rencana mau kenal ke hari-hari berikutnya? Biar bisa berbincang banyak biar bisa saling mengenal lebih dekat. Begitu?”
“Ih, apaan sih Mas? Pikirannya picik sekali. Ya maksud aku baru kenal sehari, mana mungkin berbincang seakrab itu. Udah deh Mas, capek aku tuh,” keluh Rara. Dia nggak suka di interogasi gtu.
Beberapa saat mereka hening. Kecemburuan Purba membuat Rara capek dan ilfil. Rara paling nggak suka dicurigai perihal apa yang tidak dilakukannya.
Hampir sampai di perumahan Retno. Purba membuka suara.
“Oke, oke. Aku minta maaf, aku yang dalah. Karena aku takut kehilanganmu. Wajar dong, apalagi aku sadar diri udah tua dan kamu masih pantas-pantas aja jika bersanding dengan brondong kayak gitu.”
Purba memeluk Rara yang masih diam, bersedekap. Kedua tangan Purba melingkar di pinggang Rara dan Purba menarik kepala Rara di dadanya, agar Rara merebah..
Kemudian tangan Purba meraih tangan Rara dan menggenggamnya dengan erat, menikmati perjalanan yang tinggal beberapa saat lagi.
Sampai di rumah Retno, awalnya Retno akan bersikap sewajarnya pada Purba. Sebenarnya dia masih kurang jika temannya memaksakan hubungan dengan suami orang. Ya, meskipun dia tahu bagaimana latar belakang rumah tangga purba dengan Mona.
Akan tetapi tidak ada alasan untuk merebut cinta orang lain, itu tetap salah. Namun, lambat laun saat Retno berbincang dengan purba ternyata asik juga dan Retno memberanikan diri untuk mengetahui asal muasal Purba menikah dengan Mona. Itu dilakukan saat Rara sedang ke kamar mandi.
“Padahal, Bapak bisa menolak dan hidup sederhana di kampung, kan?” tanya Retno.
__ADS_1
“Tidak semudah, itu. Di kampung saya, mata pencahariannya kebanyakan dari hasil alam. Seperti berkebun, sawah dan kolam ikan. Dan sebagian besar lahan itu milik, Papanya Mona. Kebanyakan dari kamu, menyewa atau bagi hasil.”
Retno mangut-mangut, dia juga sadar, tidak semuda itu menggampangkan urusan orang lain. Yang terlihat mudah oleh kita, belum tentu sama yang menanjalani.
Terkadang, cara berpikir dan kesiapan kita yang tidak mengalami dan yang sedang mengalami, akan beda penerimaan mentalnya.
“Mas, maaf ya lama,” ucap Rara yang kini sudah berganti dengan pakaian biasa.
Purba dan Bizar duduk satu sofa panjang, sedangkan Retno di seberangnya dengan sofa kecil. Begitu pun Rara yang duduk di kursi sebelah Retno.
“Tak apa, asyik juga diinterogasi sahabatmu. Hehe,” kelakar Purba. Karena memang benar, dari tadi Retno banyak tanya.
“Eh, bukan gitu maksudnya. Rara itu udah kaya sodaraku sendiri. Aku gak mau sodaraku masuk ke kandang buaya. Apalagi buaya darat, karena yang setia hanya buaya air, haha,” balas Retno yang membuat Purba cukup tertampar.
Memang benar, orang sering memberi istilah buaya darat adalah pria-pria brengsek meski sebenarnya buaya sesungguhnya malah hewan yang setia.
“Mas, harap maklum, Retno ini orangnya kadang rada-rada, hihi,” ucap Rara sambil agak mengedipkan matanya.
“Rada-rada juga, kamu betah kan sahabat denganku?” ucap Retno dengan menggembungkan pipinya.
Mereka tertawa menikmati sore yang mungkin hampir menuju malam itu.
Purba tidak tahu bahwa Mona sedang uring-uringan di kamar, dia menelepon Purba tidak diangkat. Pesan wa-nya belum dibalas, begitu pun kepada Bizar, tidak ada informasi apa pun.
Mona juga sempat menghubungi fira, Apakah ada jadwal meeting di luar, tapi jawaban dari Fira membuat Mona semakin kesal.
Karena yang hanya tahu jadwal kegiatan Purba adalah sekretarisnya, yaitu Rara. Meski pun fira orang lama, tapi dia tidak ditempatkan untuk mengetahui kegiatan Purba.
Lagi-lagi insting seorang istri bermain, tadi saat pulang, Mona juga tidak melihat Rara, jadi kemana-mana.
“Apa Mas purba pulang sama wanita gatal itu? Ah, nanti aku salah lagi. Aku harus tetap berpikir positif, aku harus yakin bahwa Mas purba tidak bermain di belakang. Aku harus yakin jika pun ada wanita lain di sisi Mas Purba, wanita sah tetap lebih unggul.
Wanita sah adalah pemenangnya, asalkan aku juga harus kuat, harus bisa mempertahankan rumah tanggaku,” Gumam Mona, yang sebenarnya dihantui gelisah.
__ADS_1
Pikiran Mona berkecamuk antara berpikiran buruk dan menyadari bahwa berpikir positif itu lebih baik.
**#
“Oh ya, Pak Purba. Sebulan lagi aku nikah, tapi acaranya di kampung. Kira-kira bisa hadir nggak? Ya, mungkin sekalian mengunjungi tempat tinggal Rara atau ngelamar sekalian?” ucap Retno, dengan melirik ke arah Rara.
“Wah, ide bagus tuh. Gimana? Setuju?” ucap Purba bertanya pada Rara.
“Maksudnya setuju yang mana? Menghadiri acara pernikahan Retno atau melamar? Pertanyaannya jangan menjebak deh, Mas,” ucap Rara.
“Bila perlu dua-duanya. Ngga jadi masalah kan?”
“Jangan sekarang-sekarang deh, Mas. Kita kan baru saja memulai, bahkan urusanku dengan Mas Gandi saja, belum selesai.”
“Ya, udah. Mulai dari sekarang aku harus lebih serius membantu segala urusan kamu untuk menyelesaikan dengan mantan suamimu. Dan kamu juga jangan menolak-nolak lagi, besok saat pernikahan Retno kita berangkat bareng. Ok.” Jari Purba membentuk huruf O.
Rara bingung dengan keputusan Purba seperti itu, ini sudah jauh melangkah. Rara juga harus memikirkan kesiapan dirinya lebih baik untuk tidak berada satu pekerjaan dengan Purba.
Dia harus memilih salah satu. Tetap bekerja di sana dengan hubungannya terancam selesai, karena suatu saat Mona mungkin akan menuntut. Karena bagaimanapun Mona adalah istri sahnya yang berhak mempertahankan status pernikahannya.
Atau Rara tidak lagi bekerja di perusahaan itu dan bisa lebih leluasa mempertahankan hubungannya, dengan Purba. Jadi singkatnya pilihan adalah tetap bekerja di Bonafit tekstil atau fokus menjadi pendamping?
Pukul 08.00 malam Purba berpamitan.
“Oh ya, lain kali jangan manggil Bapak, berada tua,hehe,” ucap Purba pada Retno, saat sudah berada di dalam mobil.
Retno yang juga ikut mengantar kepergian Purba dan Bizar ke teras, baru sadar. Selama ini dirinya memanggil Purba dengan sebutan Pak.
“Hehehe, Ok, Ok. Habisnya kebiasaan kalau ketemu bos, manggilnya Pak.” Retno menjawab sambil cengengesan.
“Sebentar lagi kita sodaraan, ya kanan?” ucap Purba.
Rara menyudahi obrolan itu, “Udah, gak usah diperpanjang. Nanti gak pulang – pulang loh,”
Akhirnya Purba berpamitan, mobilnya melaju menembus cahaya remang jalanan.
__ADS_1
Jangan lupa bantu support author ya ... dengan like dan komen. terima kasih.
Bersambung...