Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Kelakuan Menjijikan


__ADS_3

‘Aku tidak boleh terpancing, pertahankan suami. Istri sah tidak akan pernah kalah,' batin Mona.


Mona tersenyum, terus melangkah menuju tempat Purba duduk. Mona berdiri di sebelah kanan Purba, karena Rara berada di sebelah kiri Purba.


“Sayang ... aku bawa makanan untukmu. Kamu belum sarapan, kan?” ucap Mona, sambil menyimpan makanan yang ia bawa. Tentu saja isinya roti tawar oles.


“Aku baru saja makan, Ma. Ini baru selesai,” jawab Purba jujur.


“Oh, pantas saja kamu tidak bisa minum sendiri, rupanya tangan kamu kotor ya? Sini lihat, biar aku bersihkan.” Mona menarik tangan Purba dan akan membersihkan dengan tisu yang dibawanya dari tas.


“Rara, tolong ini,” ucap Purba meminta Rara mengambil piring yang ada di hadapannya.


Rara mengangguk, mengikuti perintah Purba dengan senang hati.


Sekalian punya Bizar juga sudah selesai, Rara ke luar ruangan menuju ruang konsumsi.


“Sayang ... aku suapin ya,” Mona mencomot secuil roti tawar lalu menyodorkan ke depan mulut Purba. Sayangnya Purba menepisnya.


“Ma... aku sudah kenyang. Nanti isi perutku keluar lagi kalau kekenyangan,” jelas Purba, menolak bujukan Mona. Karena memang dia sangat kenyang.


Mona mengentakkan kakinya, “Oh ... jadi gitu. Kalau bikinan dia saja, kamu makan Mas. Padahal bikinanku lebih sehat. Kamu lebih memilih bunga lain daripada bunga di halaman sendiri?” rengek Mona, tak terima Purba selalu saja lebih dulu memprioritaskan sekretarisnya.


“Apaan sih, Ma..., mulai lagi deh. Apa yang dimaksud bunga lain? Tidak ada siapapun yang menjadi prioritasku. Kecuali pekerjaan,” jawab Purba tegas.


“Aku juga bukan prioritas?” tanya Mona tak rela.


“Jujur, bukan! Karena uang lebih penting untukmu, maka aku memprioritaskan bekerja agar uangnya bisa kamu nikmati,” jawaban Purba membuat Mona tak bisa menjawab lagi.


Krek ...!

__ADS_1


Rara membuka pintu, dia masuk tapi agak ragu, karena tepat saat Rara masuk, Mona pergi ke pangkuan Purba, tangan Purba ia lingkarkan di pinggangnya. Padahal Mona juga sengaja melakukan itu, karena tahu Rara masuk.


“Masuk aja Non,” ucap Bizar, dia tahu Rara serba salah.


Rara pura – pura tak melihat adegan itu meski sebenarnya dirinya yang malu, ada orang bermesraan di depannya, jadi kikuk sendiri.


Bizar berdiri di dekat pintu, selayaknya bodyguard, sedangkan Rara melanjutkan perjalanan. Sedikit gak fokus dengan rengekan – rengekan Mona yang berlebihan. Namun, berusaha Rara abaikan.


“Sayang ... Mmh ...,” suara Mona yang menjijikkan sukses membuat Rara berasa ingin mengeluarkan isi perutnya.


Prak ...!


“Eh, maaf,” ucap Rara, karena tempat pena yang ada di samping tangannya tersenggol hingga jatuh.


Mona hanya melirik tidak suka pada Rara. Dia melanjutkan lagi bermanja-manja dengan Purba.


“Tapi Ma, aku masih banyak kerjaan,” respons Purba.


Dengan gemas Mona mencium bibir Purba, seakan suaminya itu adalah mainannya. Mona tidak peduli Purba menikmati permainan itu atau tidak, yang penting Mona puas.


“Sayang, buat apa sekretarismu jika kau tidak punya banyak waktu buat istrimu,” ucap Mona, sesaat setelah melepaskan pautannya.


Purba hendak menolak kembali dengan alasan kesibukan lain, terapi tak sempat. Karena bibir Purba telah dikuasai Mona kembali. Sungguh Purba tidak bisa lepas dari kukungan istrinya itu. Terlebih Purba sedang ada dalam masa hukuman Pak Hartanto. Purba jangan dulu membuat Mona sakit hati lagi.


Kepala Bizar semakin menunduk, saat melihat tangan Mona mulai bergerilya. Sungguh pemandangan yang membuat Bizar risi. Bukannya membuat Bizar jadi tergugah kelelakiannya, malah mual. Perilaku Hyper Nyonya besarnya, menjadi hal menjijikkan buat Bizar.


Bizar kemudian mengeluarkan ponsel, dia ingin pemandangan di depannya segera berakhir


Purba yang sudah cukup lusuh, karena seluruh kancing bajunya terbuka, wajahnya yang memerah menahan karena sebuah paksaan, meraih ponselnya dari atas meja. Mona pun menghentikan aktivitasnya karena mendengar dering ponsel milik suaminya.

__ADS_1


Mona cukup menghargai Purba sebenarnya, jika itu tentang pekerjaan. Jika Purba menerima panggilan telepon, pasti itu dari orang penting. Sehingga Mona mengalah untuk menghargai suaminya, lebih tepatnya ingat pesan sang Papa.


Papanya Mona pernah memberikan nasihat, agar tidak terlalu mengekang Purba. Karena tanggung jawab perusahaan sepenuhnya ada di pundak Purba.


Jika perusahaan mengalami kerugian karena terlalu membuang waktu, berleha-leha, maka akan kalah melesat perkembangannya dari perusahaan lain.


“Ma, aku ada panggilan dari klien. Mereka memintaku bertemu sekarang juga,” ucap Purba dengan sibuk merapikan pakaiannya.


“Aku ikut,” rengek Mona, manja.


“Tidak, kau akan bosan nanti.”


“Tidak sayang, aku juga harus belajar memegang perusahaan Papa. Janji, aku tidak akan bete.”


“Tapi, bukannya kamu akan ke salon? Aku bisa antar kamu dulu ke sana. Lalu aku ketemu klien.” Purba yang masih berusaha memberikan alasan. Karena ketemunya dengan klien adalah bohong.


Padahal saat Mona sedang sibuk menikmati suaminya tadi, Bizar mengirimkan pesan pada Purba. Pesan yang hanya bertuliskan, “Bos ....”


Otomatis nada dering Purba aktif, dan itu selalu mempan untuk membuat Mona berhenti jika sedang mengganggu Purba.


“Oh ya, penampilanku kusut gini. Kamu gak malu nantinya kalau aku temenin meeting dalam keadaan kaya gini?” tanya Mona setelah melihat ke seluruh badannya. Dia paling tidak suka dalam keadaan buruk jika ketemu orang. Gengsi rasanya.


“Iya, makanya lebih baik kamu ke salon saja. Biar segera cantik kembali, paripurna,” respons Purba sengaja sedikit dilebihkan. Mona pasti akan sangat suka jika Purba memujinya. Walau menurut Purba, itu hanya ucapan biasa saja.


“Ya udah, yuk kita berangkat bareng,” ajak Mona dengan melingkarkan tangannya pada lengan Purba.


Purba dengan senyum manisnya mengiyakan ajakan Mona, dengan melangkah segera meninggalkan ruangan itu. Tak lupa, selalu diikuti oleh Bizar, bodyguard sekaligus assisten pribadinya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2