Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Ratapan Azkia


__ADS_3

Bab112


Hari kedua Azkia tinggal di kontrakan tidak ada kendala apa pun, dia langsung akrab dengan Bu Heti yang baik hati.


Untungnya Azkia sudah bisa memahami kehidupan sulitnya saat dari awal dia diambil oleh ayahnya, lepas dari keluarga ibunya. Maka saat ini pun Azkia sudah kuat mental, pemikirannya sudah seperti orang dewasa. Apa yang menjadi kesulitannya langsung bisa mendapat jalan keluar dengan caranya.


Seperti halnya hari ini, Kia mendapatkan uang 10.000 dari Bu Heti karena sudah membantu membuat bulatan pentol, ditambah dengan makan kenyang dan dapat hiburan, karena ada teman mengobrol juga.


Uang itu Azkia simpan baik-baik pada sebuah baju yang memiliki saku dengan resleting, Azkia simpan di sana, lalu bajunya ditaruh paling bawah.


Ruangan pun sudah rapi, bersih, baju jemuran sudah dilipat. Azkia tidur meskipun masih pukul tujuh malam. Tenaga anak kecil tidak bisa disamakan dengan orang dewasa l, tentu saja Azkia kelelahan. Apalagi dengan batin yang sesungguhnya tersiksa.


Bugh! Bugh! Bugh!


Terdengar suara pintu digedor.


"Woi! Bukaaa!"


Bugh! Bugh!


Pintu masih juga tidak dibuka.


"Bang-sat, anak kurang ajar, tidur kayak kebo," gerutu Gandi.


Dia bersandar pada dinding, tubuhnya lunglai karena sedikit mabok. Sesaat menunggu, mungkin anaknya persiapan dari bangun tidur, kemudian membuka pintunya. Namun, tidak terdengar pergerakan orang sama sekali dari dalam.


Digedor lagi pintunya hingga beberapa tetangga melongok keluar. Ada suara berisik apa?


Tidak kira-kira Gandi membuat kebisingan di malam hari.


Waktu masih menunjukkan pukul 08.30, masih siang untuk seseorang terlelap tidur .


Akantetapi beda dengan Azkia yang sudah tidur sejak pukul tujuh, otomatis pukul delapan sudah terlelap. Sedang dalam kepuasan maksimal. Terlebih kemarin malam juga kurang tidur. Hingga kantuk berat tak bisa ditahannya lagi.


Sekali lagi Gandi menggedor pintu dan berteriak.


"Azkia buka!"


Azkia mendengar seseorang yang memanggilnya, matanya perlahan dibuka. Sayup-sayup dia menajamkan telinganya.


Apakah ia bermimpi? Ada seseorang yang memanggilnya atau emang kenyataan?


Diedarkan pandangan ke sekitar ruangan, didengar kembali apakah ada yang memanggil atau halusinasi saja. Dilihat kaca jendela dari balik tirai. Apakah ada bayangan seseorang?


Askia tidak merasakan seseorang ada di luar, dia berusaha untuk tidur lagi. Namun tak lama dia seperti mendengar seseorang ngobrol di dekat kamarnya.

__ADS_1


"Heh, ngapain sih lo berisik banget? Lihat orang-orang pada ngeliatin ke sini," ucap Daryanto yang baru sampai.


Gandi bersama Daryanto memang pulang bersama. Namun, Daryanto pergi ke warung sebelah dulu untuk membeli rokok. Saat dia pulang menuju kontrakan, melihat gandi sedang menggedor pintu dan sebenarnya dari kejauhan juga sudah terdengar teriakan Gandi.


Para tetangga tidak berani protes karena melihat Daryanto sebagai seseorang yang ditakuti di kompleks kontrakan itu.


Daryanto memang tidak jahat kepada tetangga, hanya saja pernah ada permasalahan saat tetangga yang melakukan kejahatan. Daryanto maju untuk membereskannya, bahkan sampai Adu fisik.


Tubuh Daryanto yang tinggi besar dan dia sudah terbiasa hidup di jalanan, tentu saja menang dari orang yang bermasalah tersebut.


Para tetangga merasa tertolong, tapi dengan itu para tetangga juga takut pada Daryanto. Karena ternyata dia tidak akan segan-segan melukai orang lain, walau pada saat itu kejadiannya, sudah lama.


Orang jahat yang dimaksud, sekarang sudah tidak ngontrak di sana lagi, dia salah karena mencabuli anak tetangga. Dan sudah diurus pihak berwajib.


Daryanto jarang sekali menyapa tetangga, bahkan ketika lewat di depan mereka sekali pun. Hal itu yang membuat para tetangga lebih baik cari aman, meskipun belum terbukti apakah Daryanto merugikan tetangga atau tidak.


Semua hanya karena karakter Daryanto dan tragedi saat itu yang membuat tetangga tidak berani berbasa-basi atau melawannya.


"Habis anak gue lama banget," ucap Gandi.


Daryanto mencoba menggedor pintu, tentunya hanya menggedor, tidak dengan teriakan.


Azkia yang sudah terjaga sangat yakin bahwa ada seseorang yang mengetuk pintunya dan tentu itu pasti ayahnya, pikir Azkia. Dia langsung berdiri, menghampiri pintu dan membukanya.


"Aku mau langsung ke kamar. Capek," ucap Dariyanto setelah melihat Azkia membuka pintu.


Anak kecil yang tingginya kurang lebih satu meter itu keningnya terpentok pada handle pintu, seketika ia meringis kesakitan.


"Makanya kalau tidur, jangan kayak ******," tegur Gandi. Bukannya memeriksa Azkia, apakah ada yang terluka saat anaknya terjerembab.


Azkia tidak bisa menjelaskan kenapa dia bisa tidur begitu lelap.


"Jangan bikin Ayah emosi deh. Pulang-pulang, Ayah pengen langsung istirahat. Jam segini kamu udah tidur. Bukannya tadi siang kenyang tidur? Kegiatan apa lagi? Main? Banyak culik di kota. Jangan keluyuran," oceh Gandi sebelum benar-benar merebahkan dirinya di atas tikar.


Sambil melepas sepatunya yang kemudian dilempar ke pojokan. Gandi masih melampiaskan rasa kesal pada putranya. Karena membuka pintu sangat lama. Membuat hati Gandi sangat dongkol.


Gandi tak menyadari jika anaknya tidak ada teman di sana, tidak ada hiburan dan sendirian di kontrakan. Pasti suasananya bosan. Bahkan makanan pun tidak ada.


Gandi mengaitkan bajunya di gantungan belakang pintu dan melemparkan bungkusan makanan pada Azkia yang masih duduk di lantai, belum bangun saat jatuh tadi.


"Makan tuh yang kenyang, biar bisa tidur lagi," ketus Gandi.


Azkia meneteskan air matanya. Dia sudah terbiasa menerima perlakuan dari ayahnya, tapi kenapa tetap sedih rasanya. Ingin lari tidak bisa, ke mana minta perlindungan?


Sama Bu Heti? Itu akan merepotkan.

__ADS_1


Azkia, meskipun masih kecil sadar. Orang lain pasti tidak ingin kena masalah besar, dia juga sadar tidak boleh manja, harus bertahan dan terus sabar.


Gandi yang sudah berbaring di atas tikar, dengan bantal masih beralaskan tasnya, merasa terganggu dengan isakan Azkia.


"Woi! Cengeng amat sih lo? Gus mau tidur, habis kerja. Capek!" teriak Gandi melemparkan sarung yang ada di sampingnya pada Azkia.


Azkia otomatis semakin takut, duduknya semakin beringsut mepet pada dinding tembok.


"Dah, makan tuh, nggak bersyukur banget sih lo. Udah merasa mampu? Bisa puasa seharian? Kalau gitu besok gue nggak usah beli makanan. Lo, kan hebat. Nggak makan juga masih hidup," ucap Gandi dengan mata memejam tapi masih mengomel.


Azkia perlahan membuka karet pembungkus makanan tersebut.


"Ya ampun...! Anak kecil nggak tahu diri. Azkia...! A-yah ma-u ti-dur ngerti nggak?" teriak Gandi dengan penuh penekanan saat mengatakan dirinya mau tidur.


Azkia langsung menghentikan pergerakkan tangannya. Dia tahu, Ayahnya merasa terganggu dengan suara kresek dan karet pembuka bungkus tersebut.


"Nah, gitu. Anteng. Kan bisa makan nggak usah berisik," lanjut Gandi.


Azkia sangat perlahan menyendok nasi sedikit demi sedikit.


Bahkan lendir yang keluar dari hidungnya dia tahan dengan baju, ingin menangis terisak, tidak bisa. Dalam bayangannya, Azkia ngin menangis sejadinya, sambil memeluk seseorang, tapi tidak bisa. Pada siapa? Keinginan itu hanya melintas di pikiran saja.


Tidak lama terdengar dengkuran dari Gandi. Azkia melirik sebentar pada ayahnya, lalu disentuhnya kantong kresek perlahan. Ternyata ayahnya sudah tidak terganggu dengan suara-suara, tidurnya mungkin sudah lelap.


Azkia langsung mempercepat makannya lalu membuang sampah bekas bungkus makanan di sebuah kresek, yang memang disediakan untuk sampah. Setelah minum, Azkia duduk sebentar, karena ingat dulu kata neneknya jika makan jangan langsung tidur atau rebahan.


Azkia membuka pintu secara perlahan, dia ingin keluar menuntaskan sesuatu yang menyedak di ulu hatinya.


Pintu ditutup rapat dia pergi ke belakang MCK. Area kontrakan itu di depannya masih tanah luas, ditumbuhi dengan beberapa pohon dan tanaman liar. Di sebelah kirinya terdapat beberapa petak sawah, sehingga leluasa untuk Azkia menenangkan diri sesaat dengan menangis.


Azkia duduk pada sebuah batu yang menempel di tembok MCK tersebut, mungkin batu batas tanah atau ... entahlah.


Walau Azkia sudah sendiri dia tidak bisa menangis meraung, takut mengundang perhatian tetangga. Namun, Azkia perlu mengeluarkan sesak di dadanya.


...'Ya Allah, Ibu bilang Engkau maha segalanya, Engkau maha pemberi, Azkia mau minta tolong, pertemukan Azkia dengan ibu. Kata nenek, ibu di Jakarta. Tolong beritahu pada ibu, Azkia ada di sini. Jemput Azkia ya Allah.......


...Azkia juga kasihan pada ayah, biar ayah nggak marah-marah terus, gak cape, gak pusing ngurus Azkia, jadi Kia harus pergi....


...Tapi Kia ingin pergi ke ibu, Azkia tidak berani pergi ke mana-mana kalau nggak ada ya Azkia tau. Azkia takut ya Allah, Azkia pengen dipeluk, Azkia sendirian... Hikz...'...


Di tengah tangis dan suara hatinya kepada sang pencipta, Azkia langsung membekap mulutnya sendiri dengan baju yang sudah basah oleh sekaan air mata dan lendir dari hidungnya. Dia melihat seseorang melintas, tidak ingin sampai orang itu mengetahui ada dirinya yang menangis dalam .


 


Bersambung....

__ADS_1


 


__ADS_2