
Bab 165
“Anda hebat, senang bekerja sama dengan wanita semangat seperti anda. Saya yakin projects ini akan sukses di tangan anda.”
Seorang pria bertubuh gempal, bermata sipit, memuji kepiawaian Mona dalam bernegosiasi projects mereka. Namanya, Mr.San, keturunan Tionghoa yang ingin memadu padankan style kimono dengan kain Nusantara.
Awalnya Mr.San sulit sekali mendapatkan angka yang sesuai. Namun, Mona memberikan penawaran bisa menjadi guide kunjungan wisata, akhirnya Mr.San setuju dengan angka yang diberikan Mona.
Kenapa Mona bisa tahu bahwa Mr.San tertarik dengan pariwisata Indonesia?
Sebelum Mona menyetujui pertemuannya dengan Mr.San, dia telah mencari tahu profil Mr.San. Rupanya pengusaha keturunan Tionghoa ini ingin sekali mengunjungi beberapa destinasi wisata Indonesia.
Mr.San bisa saja menyewa guide dan memercayakan orang suruhannya untuk mencari informasi agar mudah mengunjungi berbagai tempat wisa di Indonesia, akan tetapi Mr.San yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia, dia tak ingin dimanfaatkan orang-orang, diperas dengan serba diuangkan atau harga jasa dan lainnya jadi mahal.
Bukan Mr.San pelit atau pengusaha kere, tapi ini perihal prinsip. Bagi pebisnis, angka satu rupiah pun diperhitungkan, itu namanya menghargai usaha. Kecuali tujuannya buat berbagi, membantu rakyat kecil, itu beda lagi.
Akan tetapi, kalau untuk melancarkan orang-orang yang melakukan penipuan, Mr.San tidak akan memberikan ruang. Dia peka dan selektif terhadap orang yang terlihat gelagat tidak tidak profesional dalam bekerja.
Rencananya, selama projects belum selesai, Mr.San dan Mona akan meeting di beberapa tempat wisata. Sambil menyelam minum air, akhirnya. Mona dapat keuntungan bisa terus berkomunikasi tentang projectnya dengan big bos, dia juga sekalian langsung sambil liburan.
Begitu pun, Mr.San. Projectnya berjalan lancar, sambil dia mendapatkan guide gratis pula.
Mona pulang, tapi dia mengantar sekretarisnya terlebih dahulu. Kebetulan wanita juga.
“Bu, boleh mampir dulu ke tokok kue? Saya dititipin ibu,” ucap sang sekretaris.
“Pak, mampir ke toko kue dulu ya.” Mona memerintah supirnya, agar nanti turun di toko kue yang ditunjukkan sekretaris.
***
“Bagaimana istri saya Dok? Bayi saya?” tanya Purba saat melihat Dokter keluar dari ruang bersalin.
“Puji syukur, Pak. Ibu dan bayinya selamat dan dalam keadaan sehat, proses kelahiran lancar semua. Nanti, Bapak bisa menemui ibu setelah dipindahkan ke ruang perawatan ya,” ucap sang Dokter. Kemudian masuk lagi untuk mempersiapkan pemindahan pasien ke ruangan lain.
Azkia tersenyum senang. “Ayah, Ade bayinya cantik apa ganteng?”
“Belum tahu sayang. Nanti kita lihat bareng ya. Kalau ibu sudah di ruangan.”
***
Gandi pulang pukul sembilan malam, dia melihat Azkia masih menonton pada ponselnya.
"Kenapa belum tidur?" tanya Gandi, walaupun dia terlihat perhatian, tapi nadanya tidak bisa lembut, pertanyaannya datar.
"Sebentar lagi, Yah," ucap Azkia.
Kini Gandi tidak terlalu mempersoalkan apa yang diperbuat oleh anaknya, mungkin karena merasa anaknya sudah satu paham dengan dirinya. Yang penting Azkia sudah membenci Rara, itulah yang dipikirkan oleh Gandi.
__ADS_1
"Setelah filmnya selesai, cepetan tidur," ucap Gandi lagi dan dirinya juga sudah merebahkan diri di kasur lantai.
Azkia sudah diberikan kuota oleh Gandi, karena sudah dipercaya bahwa Azkia tidak akan ada niat untuk mencari ibunya lagi. Namun, perkiraan Gandi salah. Namanya anak kecil, pemikirannya masih mudah goyah walaupun kebencian di tanam sejak dini.
Akan tetapi anak kecil masih labil, itu yang tidak dipahami oleh Gandi. Sebesar apa pun bencinya saat kecil, dia akan menemukan nilai-nilai baik dari lingkungannya sehingga pola pikirnya juga akan ikut berubah.
Azkia mencoba mencari media sosial ibunya meski sulit, karena dia hanya tahu nama Ibunya 'Rara' banyak sekali yang menggunakan akun bernama Rara.
Cara berpikir yang terbiasa hidup mandiri, tingkat kecerdasannya beda dengan anak yang berada di lingkungan serba nyaman. Maksudnya, Azkia cerdik, dia masih tetap cari akal saat tidak menemukan akun media sosial Ibunya.
Dia mencari akun media sosial toko tempat kerja tantenya waktu di kampung, lalu mencari beberapa akun yang diikuti oleh tokoh tersebut. Siapa tahu ada nama tantenya, Lena.
"Yah... nggak ada. Memangnya tante nggak pakai IG apa ya?" Azkia gumam sendiri.
Tapi Azkia tidak kehabisan akal, dia dengan rajin melihat postingan toko tersebut. Toko yang dimaksud adalah seperti minimarket, jadi banyak sekali postingan promosi di berandanya.
$Semoga saja ada," kembali bocah kelas satu SD itu bergumam.
Sebenarnya Azkia mudah saja tinggal kirim pesan pada akun toko tersebut, untuk mencari tahu nama akun tantenya. Akan tetapi bukan ingin berkomunikasi dengan sang tante tujuan Azkia. Lagi pula pasti admin toko tersebut bilang ke tantenya bahwa ada yang nyari.
Tidak mungkin juga dikasih tahu kalau identitas yang nyari tidak jelas, lalu kalau disebutkan yang nyari keponakannya Nanti ketahuan bahwa Azkia selama ini diam diam mencari kabar keluarga.
Sebenarnya Azkia hanya ingin melihat aktivitas mereka saja. Apa benar yang dikatakan ayahnya mereka itu selalu senang-senang tanpa Azkia?
Askia scroll sampai bawah dan menemukan postingan yang ia kenal, seorang karyawan berseragam identitas toko tersebut sedang mempromosikan sebuah produk.
"Iya benar, ini Tante Lena," gumam Azkia, dia mencari apakah postingannya ada menyebutkan tantenya atau tidak. Yang sering disebut tag.
Bersyukur postingannya membuat tag pada akun Lena, ternyata nama tantenya diawali angka di depannya sehingga sulit dicari tadi.
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam, Azkia menyudahi aktivitasnya pada ponselnya. Dia tidak ingin kepercayaan ayahnya hilang, kalau sampai ayahnya tahu tengah malam dirinya masih menggunakan ponsel. Azkia tidur dulu, pencarian dilanjutkan besok lagi.
***
"Kenapa Mas Purba belum pulang?" gumam Mona, saat dirinya sudah hendak terlelap di atas tempat tidur.
Baru saja Mona mau mengirim pesan pada Purba, pintu kamar dibuka. Ternyata Purba baru pulang.
"Kok malam sekali Mas? Dari mana?" tanya Mona.
"Habis kumpul-kumpul, Ma."
"Aku pikir Mas nggak bakal keluar, kalau tau gitu ikut aku meeting saja tadi."
"Aku tidak mau ikut campur pekerjaan kamu, Ma. Bukannya kita sepakat kita akan membawa nama masing-masing? Itu juga tidak baik untuk Mama. Jangan sampai nanti ada yang bilang keberhasilan Mama itu karena aku juga."
Purba meladeni pembicaraan Mona sambil hilir mudik, bersiap tidur. Melepas jaket, ke kamar mandi, minum dan kegiatan lainnya sebelum benar-benar merebahkan diri.
"Iya juga sih, tapi aku hanya menawarkan saja. Kita udah lama tidak pergi bareng loh, Mas."
__ADS_1
"Ya, itu karena kita sibuk masing-masing. Mama kan sudah tahu resikonya."
"Tapi akhir-akhir ini kayaknya mas kurang semangat deh. Aku rasa beda kalau kita sedang ..." Mona tidak melanjutkan kalimatnya, Purba pasti tahu apa yang sedang dibahas.
"Kita sama-sama lelah, Ma. Sekarang juga aku mau tidur, biar besok bisa bekerja dengan fresh."
"Tapi Papa masih sempat nongkrong."
"Tadinya aku nggak bakal keluar, tapi dipikir-pikir buat refreshing aja. Mumpung ada yang ngajak."
Mona diam, dia terserah Purba saja. Yang penting sudah meluapkan isi hatinya. Mona juga sepertinya tidak bergairah. Padahal dia ingin sekali bermain malam.
Namun, benar kata Purba, memang berbeda saat memimpin sebuah perusahaan tanggung jawabnya besar. Saat ingin beristirahat sejenak saja pikirannya tetap ke perusahaan.
***
Keesokan harinya Azka masih di rumah sakit, tidak ingin sekolah. Dia ingin menunggu adik bayi. Namun, saat siang sudah pukul sembilan, Azka meminta izin kepada ibunya untuk jalan-jalan.
"Jalan-jalan ke mana? Katanya senang punya adik bayi. Kok malah jalan-jalan?"
"Ada yang harus aku lakukan Bu. Kemarin ketemu teman baru di sekolah yang aku kunjungi."
"Sesuka itu ya sama teman baru? Sampai sengaja mau ke sana. Kan bisa nanti kalau hari Minggu."
"Iya. Orangnya asik diajak ngobrol. Jadi Azka pengen punya temen, klop."
Mungkin maksud Azka adalah pengen punya teman satu frekuensi.
"Ajak saja ke sini kalau orang tuanya mengizinkan," saran Rara.
'Azka pasti ajak dia Bu, tapi nanti kalau dia sudah tahu bahwa ibu selalu merindukannya. Untuk saat ini Azka hanya bisa melakukan pendekatan dulu,' batin Azka
"Loh kok diam?"
"Iya, nanti Azka aja ke sini. Azka pamit ya Bu."
"Iya, jangan lama-lama. Soalnya takut ada apa-apa, lagi pula nenek juga mau jagain adik bayi, ibu harus banyak istirahat."
"Nenek nggak ikut kok Bu. Azka aja sama Pak sopir."
"Loh, kok?"
"Udah ya Bu, Azka berangkat. Dadah!"
Aska pamit sambil berlari meninggalkan ruangan, biar tidak diajak ngobrol terus sama Ibunya dan takut malah dilarang Kalau kelamaan izin.
"Azka!" Rara berteriak memanggil putranya, dia merasa cemas kenapa berani pergi sendiri?
Bersambung....
__ADS_1