
Kisah Rara dan Gandi, saat mereka masih berumah tangga, saling sibuk masing-masing. Jika mereka bertemu, hanya Rara saat menyiapkan makan, berbincang hal-hal yang bukan tentang mereka, pokoknya tak ada romantisnya sama sekali.
Bahkan saat sebelum menikah, Rara sering diantar jemput oleh Gandhi, tapi tak pernah sekalipun saling sentuh tangan begitu mesra, seperti sekarang Rara dengan Purba.
Kalau kebetulan mereka saling sentuhan mungkin bukan dalam suasana yang romantis.
Singkatnya sentuhan tangan Purba kali ini seakan baru pertama kali Rara rasakan. Sentuhan penuh kasih, kelembutan dan perlindungan dari seorang pria, meskipun bukan yang pertama dalam hidup Rara mengenal pria.
Kemudian Purba mengunci pintu ruangannya. Karena Fira sudah pulang, kunci pintunya Rara yang bawa. Purba selalu lupa membuat kunci cadangan untuk pintu tersebut, biar nanti Fira yang memegang dan Rara juga.
“Mas duluan ke bawah, nanti dilihat ibu,” ucap Rara.
“Kita bisa satu lift bareng,” jawab Purba.
“Mas... berbahaya, nanti kalau tiba-tiba Ibu di depan lift, bagaimana?”
“Tidak akan, dia sudah naik ke dalam mobil.”
“Mas ... aku ini seorang perempuan, peka loh, takut suaminya gimana-gimana di belakang. Udah, Mas duluan.”
“Baiklah, terima kasih atas pengertiannya,” ucap Purba, sebelum dia masuk lift, menyentuh pipi Rara dengan dielusnya sesaat.
Lalu, saat Purba sudah masuk ke dalam lift, Rara tersenyum melihat Purba yang sudah menghadap pada dirinya di dalam lift, sebagai senyum perpisahan untuk sore itu.
**#
Purba sudah sampai di halaman depan gedung kantornya. Mona sudah stay di dalam mobil, dia tersenyum melihat Purba sudah datang dan menggeser sedikit duduknya ke arah dalam, karena Purba yang akan duduk di dekat pintu.
“Sayang..., kok kamu lama sih? Habis perpisahan dulu sama sekretarismu?” ketus Mona.
Purba lumayan terkejut dalam hatinya, benar kata Rara kalau wanita itu memang peka apalagi ini seorang istri.
“Apa sih, Ma ... jangan mulai deh,” elak Purba.
Mona hanya merengut, dia berusaha tidak cemburu berkepanjangan, meski dalam hatinya tetap berpikiran macam-macam kepada suaminya.
__ADS_1
Mona menggeser duduknya lebih dekat kepada Purba, seperti biasa dia mengalengkan tangannya di lengan Purba dan kepalanya bersandar di pundak suaminya itu.
Purba juga sudah menemukan senjata ampuh, sebagai alat pembungkam untuk tidak memperpanjang perdebatan dengan Mona. Yaitu dengan kata ‘jangan mulai lagi’, jika Purba sudah berkata seperti itu, Mona selalu langsung diam.
**#
Saat sampai rumah, Mona dan Purba tidak saling bicara, tapi mereka bukan marah. Sebab mereka langsung membersihkan diri masing-masing, makan malam, lalu Mona mengajak Purba untuk tetap di kamar.
Mona menarik tangan Purba saat Purba sudah bersiap akan membuka pintu untuk menuju ke ruang kerjanya.
Mona merayu Purba dengan melingkarkan tangannya ke leher Purba, dengan gayanya seperti penari erotis. Melenggak-lenggokan tubuhnya di depan Purba dengan kata-kata dan suara mendayu, seperti seorang wanita penghibur.
“Tidak harus setiap malam, kan Ma....” Purba mencoba menolak secara halus.
“Pa... apa Papa gak tahu? Para suami di luar sana, malah selalu ingin istrinya meminta setiap malam. Bahkan sehari juga berkali-kali, siang, pagi, malam sore. Kenapa Papa kayak gini sih? Masih belum ada rasa ke Mama?” gerutu Mona, merajuk.
Purba hanya menarik nafas. Namun, ada fantasi yang menyangkut di kepalanya. Dia membayangkan wajah Rara, bibirnya tersenyum penuh tanya. Tidak ada salahnya untuk melampiaskan pada Mona, akan fantasi kotor yang ada dalam pikirannya.
Purba tiba-tiba menggendong tubuh Mona ala bridal style. Mona menjerit suka, dia tertawa kegirangan, karena Purba melemparkan tubuh Mona di atas ranjang. Mona suka ini.
“Sayang ... ayo! Kok malah diam?” ucap Mona. Saat Purba hanya berdiri tegak di samping ranjang tersebut, setelah melempar tubuh Mona.
“Mama, tunggu di sini sebentar, ya! Sebentar... saja. Jika mama melanggar perintahku, maka malam ini tidak ada permainan antara kita,” bujuk Purba.
“Papa mau ke mana?” rengek Mona manja, tangannya sudah bergerilya di dada Purba.
“Aku kan, kalau habis bermain tidak bisa langsung tidur. Nah, sekarang mau mempersiapkan dulu ruang kerja, biar nanti setelah main aku bisa membereskan pekerjaanku secara cepat. Jadi ... membahagiakan Mama bisa, menyelesaikan tugas kantor pun bisa.”
“Jadi Papa mau ke ruang kerja?”
Purba hanya mengangguk, terlihat mana akan membalas lagi. Namun, bibirnya langsung dikecup oleh Purba Mona seketika diam dan tersenyum manis. Dia suka sekali, malam ini Purba lebih agresif dan berani.
“Tunggu sebentar, 10 menit!” ucap Purba mengakhiri percakapan tersebut.
Purba ke luar kamar, dibawanya tas kerja, tidak lupa ponselnya.
**#
__ADS_1
Semenjak Purba ada keberanian untuk menjalankan perselingkuhannya dengan Rara, dia semakin menjadi sosok pria yang licik dan penuh strategi. Mungkin alasannya memang untuk kebahagiaan dirinya sendiri, karena belum bisa menentang keluarga Hartanto.
Purba belum siap jika nanti ada pertikaian, yang membuat dirinya melepas semua kepercayaan memegang perusahaan. Kasihan adik dan kedua orang tuanya, terlebih istrinya kelak, yaitu Rara, yang sudah diniatkan Purba alam maju ke jenjang yang lebih serius.
Purba mengunci pintu ruangan kerjanya, dia menaruh tas kemudian duduk membuka ponselnya dan menghubungi Rara dengan video call.
Lama sekali Purba menunggu, beberapa panggilan belum juga tidak diangkat. Lalu Purba mengirim pesan.
“Sayang... angkat cepat! Ngga sabar, nih...,” isi pesan yang Purba tulus.
Sebenarnya saat itu Rara baru mandi. Karena tadi sore habis membantu tetangga rumah Retno ikut arisan. Meskipun di sana adalah perumahan, tetapi orang-orangnya sangat akur dan kompak.
Sehingga Rara ikut merapikan perkakas-perkakas bekas makanan bareng para ibu-ibu kompleks.
Rara juga sempat makan bersama, karena kebetulan arisannya dimulai pukul 04.00 sore. Jadi, tadi masih sempat Rara dan Retno ikutan gabung bersama ibu-ibu kompleks di sana.
Saat Rara masuk kamar masih dengan menggunakan handuk, dia melihat panggilan dari Purba. Rada buru-buru mengenakan piyamanya dengan masih berbalut handuk di dalam baju tidur tersebut.
Rara terburu-buru, belum sempat mencopot handuk, bahkan rambutnya masih diikat oleh handuk lagu, karena dia baru keramas.
Tadinya Rara mau mengabaikan panggilan tersebut sampai selesai mengenakan baju. Namun, melihat bar notif dari ponselnya, Purba meminta segaeta untuk mengangkat panggilan itu.
“Iya mas, iya .... Gak sabar banget sih?” ucap Rara dengan menyorot wajahnya hanya setengah yang terlihat dari hidung sampai ke atas kepalanya saja.
“Pantesan lama. Kok jam segini baru mandi?” tanya Purba.
Kemudian Rara menjelaskan dirinya baru saja ada kegiatan dengan ibu-ibu kompleks.
“Oh pantes ... aktif juga nih udah bisa bergaul, nih... ceritanya?” tawa Purba meledek Rara.
Rara pun hanya tertawa merespons jawaban Purba.
“Eh, kok, hanya separuh sih? Ngga seru ah video call-nya. Aku sengaja menghubungi kamu, aku kangen tau. Eh malah separuh aja melihat wajah cantikmu,” goda Purba sambil sedikit bernada manja.
“Mas... aku baru mandi, malu,” ucap Rara.
“Tapi, udah pakai pakaian kan? Karena udah berani menerima panggilan videoku atau ... em ...,” ucapan Purba menggantung, matanya melebar dengan senyum sulit diartikan. Purba menarik turunkan alisnya, berkedip genit pada Rara.
__ADS_1
Bersambung...