Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Purba Sensitif


__ADS_3

Wajah Purba terlihat tegang, saat salah satu kliennya mengomentari rasa dari minuman yang ia cicipi. Kemudian yang lainnya ikutan mencicipi juga. Mereka memunculkan reaksi yang sama, terdiam dan saling tatap. Seakan mencari jawaban pada wajah masing-masing yang dilihatnya.


“Fira ...,” bisik Purba pada sekretarisnya. Entah apa lagi yang harus Purba lakukan, bahkan mengeluarkan sepatah kata pun tak sanggup.


Sedangkan Fira yang disebut namanya bingung, harus apa dia? Purba kemudian berdeham, dia berinisiatif untuk meminta maaf terlebih dahulu, sebelum mereka mengeluhkan suguhan yang memang tidak menarik di pandang mata, apalagi rasanya.


“Maaf rekan-rekan semua, jika jamuannya kurang berkenan. Tadi adalah karyawan saya yang baru, mungkin dia belum begitu mengerti akan cara kerjanya.” Purba mencoba menutupi agar suasananya tidak tegang.


“Tapi, minuman apa ini? Terus ini makanan apa?” tanya klien dengan logat Batak.


“Saya kurang tahu, biar nanti karyawan saya, Rara yang jelaskan,” ucap Purba dengan nada hati-hati, takut kliennya tersinggung.


“Fira, panggil Rara ke sini,” perintah Purba pada Fira yang ada di sampingnya dengan nada lirih.


Fira pun tak banyak merespons, dia ikut tegang juga dengan suasana ruang rapat seperti ini.


“Fira! Biar aku saja,” panggil Purba yang seketika sudah ada di dekat Fira, padahal Fira sudah hampir sampai di pintu. Fira pun ikut apa kata bosnya. Dia kembali ke tempat semula.


Purba dengan segera pergi ke ruang konsumsi. Dalam hatinya sangat dongkol pada Rara. Tidak menyangka rapatnya kali ini dikacaukan oleh karyawan baru dan hanya gara-gara makanan.


Purba memutuskan untuk dirinya saja yang memanggil Rara, sebab dia tak tahan melihat para kliennya yang berbincang-bincang gak jelas, mereka pasti bahasa makanan.


Terlebih melihat mimik muka klien yang berlogat Batak barusan. Bapak tersebut sambil muka fokus seperti orang melamun, tangan masih memegang cangkir minumannya. Sekaan berpikir, rasa apa yang aneh dalam minumannya itu. Jangan-jangan racun?


Pikiran Purba sudah berlebihan, hanya karena melihat mimik para klien.


“Eh, Bapak!” Rara terkejut melihat Purba tiba-tiba muncul ke sana. Terlebih suara pintu yang dibuka secara paksa, Rara benar-benar tak bjsa menghindari keterkejutan itu.


Sari pun sama, mereka berdua tak menyangka Purba akan datang tiba-tiba, bukankan sedang meeting.


Purba langsung menghampiri Rara yang sedang berada di area tempat masak. Rara otomatis mundur, berniat menghindar tapi ruang di sekitar dia sangat minim. Alhasil Rara hanya terpojok pada dinding tembok yang ada di sampingnya.


Sari yang melihat itu kebingungan, mau melihat saja, tidak mungkin. Tapi mau menolong Rara takut kenapa-kenapa, gak berani. Itu kan bos? Wajah Purba membuat Sari ketakutan, dia ke liar mencari bantuan harus bagaimana.


Rara sudah menutup mukanya dengan lap meja yang ia pegang, baru kali ini melihat wajah Purba seperti orang kesurupan. Sorot mata tajam, dengan muka sedikit merah, langkah yang tegas dengan cepat seakan ingin menerkam wanita yang ada di hadapannya.

__ADS_1


“Mengapa kau begitu bodoh? Setidaknya kalau tidak tahu apa-apa, tanya dulu! Jangan seenaknya membuat keputusan. Bedakan kebiasaan di kampung dan di kota! Mengerti tidak?! Argh ...!” Purba ingin melampiaskan amarahnya, akan tetapi sadar bahwa yang di hadapannya adalah wanita. Sehingga dia hanya berteriak.


Tangan Purba sudah mengepal, bergetar, alhasil hanya tembok yang berasa di belakang Rara yang jadi santapan bogem Purba.


Awalnya Rara tidak begitu takut, dia bisa sabar saat Purba memarahi dirinya. Bahkan wajah Purba sangat dekat dengan wajah Rara, karena Rara terimpit ke tepok.


Namun, saat Purba berteriak, Rara langsung gemetar, air matanya menetes. Dia teringat kembali akan mantan suaminya yang pernah melampiaskan amarah habis-habisan pada dirinya.


Kalau hanya dibentak, Rara kebal. Karena saat suaminya sudah tak pernah lagi kembali, Rara sering mendapatkan hujatan dan hinaan dari warga kampung bahkan dari majikan tempatnys bekerja.


Namun, tidak pernah mendapat teriakan seperti Purba, bahkan sedekat ini. Seakan jantungnya di pukul, bertalu-talu, gendang telinganya ditusuk tusuk, sangat sakit dan terasa lemas.


Purba berpaling dari Rara, dia menjauh, tak ingin luluh melihat Rara yang terlihat gemetar. Bisa saja itu hanya pura-pura, untuk menghindari amarah dari Purba, itulah pikiran Rara.


“Seharusnya sebelum kamu menyajikan, tunggu aku mencicipi dulu. Bukan sok-sokan asal kasih. Baru jadi sekretaris sebentar saja, sok bisa ngambil keputusan seenaknya,” ucapan Purba masih membelakangi Rara.


Namun, lama-lama terdengar Isak tangis, purba menoleh ke arah Rara, ‘Dia sungguh-sungguh? Ketakutan?’ batin Purba.


Purba hendak melangkah mendekati Rara kembali, tapi ...


Purba menoleh ke sumber suara, “Huft, apa lagi?” tanya Purba, dengan napas berat dan nada tinggi.


“Bapak di tunggu di ruang meeting,” ucap Fira, yang menyusul ke ruang konsumsi itu.


“Buat apa? Jika hanya meeting menjadi kacau dan mereka membatalkan semua proyek dengan perusahaan ini, silakan pergi. Batalkan semua! Tanpa perlu basa-basi lagi denganku,” amuk Purba, kemarahan campur malu yang tak terhingga.


“Tapi Pak, bukan itu. Bahkan mereka meminta Rara untuk ke sana,” ucap Fira kembali.


“Benar, kan, kataku?! Mereka pasti ingin meminta pertanggungjawaban. Memang wan ....” Purba menunjukkan jari telunjuknya pada Rara tapi diurungkannya, bahkan ucapan terputus. Dia melihat Rara terduduk lemas di lantai, sambil masih terisak.


“Argh ... nangis saja bisanya. Urus dia,” ucap Purba pada Fira, kemudian pergi.


“Tapi Pak, mereka menunggu Bapak,” teriak Fira, karena Purba sudah agak jauh darinya.


“Kamu urus saja semua. Aku tidak peduli!” teriak Purba yang sudah semakin jauh.

__ADS_1


Fira menatap kepergian Purba dengan kesal, andai bukan bosnya, akan diberi pelajaran nanti.


Namun, saat ini yang terpenting adalah Rara. Rasa sosial pada sesama wanita membuat Fira merengkuh Rara, wanita yang terlihat sangat lemah sekali. Fira memberikan minum hangat pada Rara.


Dengan tangan bergetar, Rara meraih gelas yang Fira sodorkan. Rasanya plong, setelah tenggorokannya dialiri air hangat, dadanya terasa ringan saat air hangat mencairkan rasa sesaknya.


“Kamu sudah baikkan?” tanya Fira, yang kini memapah Rara untuk duduk di kursi.


Rara hanya mengangguk. Fira mengusap punggung Rara dan memberinya tisu, untuk membersihkan air mata yang tersisa.


Namun, Rara beranjak dari duduknya. Dia pergi ke kamar mandi, sepertinya untuk membasuh wajahnya yang lengket karena air mata.


“Kamu diapakan sama Pak Purba?” tanya Fira saat Rara sudah kembali dan duduk. Akan tetapi Rara hanya menggeleng.


Kemudian Fira menyentuh tangan Rara, mengusap punggung tangannya, menyalurkan dukungan agar Rara bisa lebih tenang.


“Ra, cerita sama aku. Baru kali ini loh ada karyawan yang dapat kemarahan Pak Purba, sebelumnya gak pernah ada. Semarahnya Purba, tidak akan sampai membuat orang menangis,” jelas Fira.


“Berarti emang aku yang salah, Fir. Aku sok tahu,” ucap Rara masih dengan nada lemas.


“Sok tahu kenapa? Apa sih yang jadi masalah, sungguh, aku belum paham. Yang aku tahu, Pak Purba kemari hanya untuk menanyakan tentang makanan yang kamu buat,” ucap Fira kembali.


“Ya itu masalahnya, aku sok tahu, kampungan.”


Fira menghela napas, “Ra ... plis deh, tidak usah merendahkan diri sendiri.”


Rara menoleh pada Fira, menatapnya sesaat. Tak disangka kemudian menghambur pada pelukan Fira dengan Isak tangis yang tak terhindar lagi.


“Eh, kenapa lagi?” Fira terkejut, tapi kemudian menyambut pelukan Rara.


Sambil menangis, Rara menceritakan perlakuan Purba padanya tadi. Dia juga merasa ingin menyerah saja, takutnya banyak kesalahan yang akan dialaminya besok besok hari.


“Sst ... sudah, sudah. Aku punya kabar gembira untukmu.” Fira menjauhkan bada Rara dari pelukannya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2