
180
Purba tetap saja melanjutkan sampai ke kantor. Biar dia mencari informasi pada sekretarisnya keberadaan Mona di mana. Siapa tahu juga mana berbohong, mengatakan sedang di jalan padahal tidak.
Entah mengapa Purba akhir-akhir ini jadi overthinking, dia tidak akan mempercayai sebelum membuktikan sendiri. Dan kalaupun bertanya pada Mona dia sedang di mana, apakah akan langsung dijawabnya? Tadi saja untuk menunggu balasan pesan cukup lama.
Purba sudah turun dari mobilnya, langsung masuk ke kantor dan menuju ruangan Mona. Tapi dia sengaja tidak langsung ke ruangan tersebut, sebab beberapa karyawan juga menyapa Purba mereka pikir sedang ada audit atau pengontrolan yang lainnya. Karena Purba yang mereka tahu adalah pemimpin perusahaan dari kantor pusat.
Namun, dari beberapa kali purba berbincang dengan karyawan, diam mendapat informasi juga kalau Mona memang akan ada acara di luar untuk project barunya.
Sampailah di depan ruangan Mona bertemu dengan sekretarisnya.
"Mbak Ibu di mana?" tanya Purba.
"Tadi ibu pergi namun tidak bersama sopir," ucap sang sekretaris dengan posisinya yang berdiri dari tempat duduknya, menyesuaikan Purba yang berbicara di hadapannya.
"Bilang pergi ke mana tidak?" tanya Purba.
"Tidak bilang ke mana-mananya, api katanya mau keluar kota."
Purba mengangguk-angguk Dia sedikit mengerutkan keningnya. Lalu pamit kepada sekretaris sang istri.
Purba tidak menuju ruang manapun lagi, karena dia tidak berniat untuk mengontrol kantor cabang. Purba langsung menuju kantornya kembali.
"Ma, kamu ada tugas luar kota? di mana?" pesan Purba pada ponsel Mona.
'Apa aku bilang lama kan? Cuma, setidaknya kalau udah ke kantor langsung jadi tahu informasi yang lain. Coba kalau tadi bertanya melalui pesan saja belum tentu sekarang Mona sudah mau balas." Purba berkata dalam hatinya.
***
Ya sudah kalau kamu tidak ingin ikut ke kampung dan juga belum siap untuk ke rumah ibumu nggak papa kok ikut Ibu aja. Ucap Bu Heti karena menunggu jawaban dari Azkia lama.
__ADS_1
Bu Hetty mencoba memahami kalau anak kecil memang sulit untuk memutuskan dengan cepat. Anak kecil cenderung lebih memahami terlebih dahulu kemudian menimbang baru memutuskan.
Bu Hetty menggandeng tangan Azkia cara mereka akan pulang. Namun, saat hendak menaiki motor askia berhenti sejenak menahan tangan Bu Heti.
"Ada apa?" tanya Bu Hetty bingung.
Askia menatap mata Bu hati dan kemudian menunduk, "Maafkan Azkia sudah merepotkan," lirihnya.
Seketika Bu Hetty menjadi terharu, dia memandang pada suaminya yang sudah siap memegang stang kemudi. Suaminya mengangguk dan tersenyum, meskipun bukan sebuah tanda apapun tapi suaminya merespon dengan baik seorang askia yang butuh tempat singgah.
Bu Hetty sangat iba melihat kondisi Azkia, walaupun begitu dia sebagai anak kecil pandai berterima kasih dan menempatkan diri. Sehingga Bu Hetty tidak tega jika harus tegas pada Azkia untuk memutuskan ikut ayahnya atau ibunya.
Seketika Bu Hetty memeluk Azkia, dia berjongkok menyesuaikan tinggi tubuh bocah yang kini masih menunduk di hadapannya.
Bu Hetty dan suaminya serta Azkia kini pulang ke kontrakan. Mereka seakan mendapat pengalaman baru. Yaitu sebuah anggota keluarga yang akan meramaikan hari-hari mereka yang biasanya hanya berdua.
***
Namun, Rara tidak boleh lemah, dia harus memberi ketegasan kepada suaminya agar masalahnya tidak berlarut dan mengganggu kegiatan pokoknya.
Rara tidak begitu lama mengurusi pekerjaannya, Dia segera pulang karena takut bayinya menangis. Azzahra masih mengkonsumsi ASI, dan Rara tidak menyimpan stok. Sebab dipikirnya dia bukan wanita yang terlalu sibuk. Bahkan untuk ke toko saja Az-Zahro masih bisa dibawa sebenarnya. Hanya karena hari ini darurat, sekedar untuk bersandiwara bahwa dirinya sibuk, agar Purba tidak berlama-lama, maka Rara menghindar agar tidak kentara dia menjauh dulu dari Purba, maka azzahra ditinggal.
"Mayang buat besok ada pesanan tidak?" tanya Rara sebelum meninggalkan toko.
"Ada Mbak, tapi kami masih bisa handle kok. Sebenarnya ada beberapa tanggal yang sudah di drop untuk paket sanck beberapa pelanggan. Maka, kami sudah mempersiapkan jauh hari, agar saat hari H tidak keteter." Mayang menjelaskan, sekalian dengan laporan.
"Oh baiklah, kamu memang dapat dipercaya. Terima kasih ya, sudah bekerja dengan baik. Jangan khawatir nanti saat syukuran Az-Zahro sekalian insya Allah akan ada bonus buat kalian."
Rara menepuk lengan Mayang sebelum dia pergi, orang kepercayaan Rara pun sangat senang mendengar hal itu dari majikanya, dia juga tak lupa mengucapkan terima kasih.
Itulah kondisi toko Rara. Dia sangat berterima kasih kepada Vira saat itu mencarikan karyawan. Ternyata orang yang Vira rekomendasikan sangat bisa dipercaya, rajin dan bisa kerja tim dengan baik. Sehingga Rana tidak perlu khawatir di masa seperti ini saat dia sedang tidak bisa sering ke toko.
__ADS_1
Saat darah rendah keluar tiba-tiba Aska turun dari mobil, sepertinya dia sudah pulang sekolah. Sekarang hampir lupa bawa ini sudah siang waktunya sang anak pulang sekolah. Andai dia ingat lebih cepat mungkin bisa menjemput, karena pekerjaannya pun santai. Malah sudah selesai dari tadi. Hanya saja Rara pelupa, jadi dia berlama-lama di depan komputernya untuk mengecek ulang pekerjaannya.
"Ibu ....! teriak Azka yang berlari dengan berisik sekali. Bunyi tempat pensil dan gantungan tas yang banyak, membuat langkah Azka berirama.
Rara menyambut anaknya dia berjongkok Lalu merentangkan tangan, bersiap untuk memeluk.
"Ibu, tadi Azka dapat nilai 90, ini menggambar loh," ucap Azka dengan riang dan mata berbinar. Tanpa diperintah dia langsung menurunkan tas gendongnya untuk membawa lukisan yang ia buat tadi.
Azka sangat senang karena dia tahu kalau pelajaran menggambar jarang sekali yang mendapatkan nilai besar. Apalagi kalau nilai 100. Kata teman-temannya kalau menggambar nilai 100 berarti sempurna. Sedangkan kalau menggambar adalah bohongan, kalau nilai 100 berarti sama persis dengan aslinya. Makanya menurut Aska nilai 90 itu ibarat sudah sempurna untuk pelajaran menggambar.
"Mana coba Ibu liha3?"t tanya Rara. Dia juga tak sabar, seistimewa lukisan putranya ini sehingga sangat antusias.
Azka menyerahkan buku gambarnya, langsung dibukanya pada halaman yang tadi dia gambar di sekolahnya.
Rara melihat sebuah gambar keluarga. Dia juga melihat sebuah tulisan yang judulnya Keluarga Bahagia.
Namun, ada sesuatu yang menarik perhatian Rara. Dia melihat itu adalah keluarganya. Ada dua orang anak lelaki yang tingginya sama, kalau dari pakaian yang digambar oleh Azka dengan warna yang sama, berarti ini anak kembar. Namun yang membedakan yang satu dibuat agak gemuk yang satu kurus.
Kalau gambar yang lainnya tidak perlu dilihat secara detail, karena sudah jelas ayahnya yang Aska maksud pasti berubah. Karena pria tinggi yang sedang memeluk wanita dia menggunakan jas lengkap dengan dasinya. Kalau ganti tidak mungkin karena tidak pernah menggunakan setelan seperti itu.
Lalu Rara sendiri yang digambar menggendong bayi. Dan tubuh Rara yang tingginya di bawah pundak laki-laki yang memeluk di sebelahnya. Berarti benar itu adalah keluarga mereka.
"Azka bukankah ini kita?" tanya Rara.
Azka mengangguk masih dengan senyum manisnya.
"Lalu yang ini siapa?" Rara menunjuk anak kembar yang diaduga adalah Azkia.
Rara cuma heran, menanyakan kalau memang Azkia kenapa dibuat agak kurus. Rara merasa takut jangan-jangan Azka menyangka karena saudara kembarnya itu terpisah, lalu berimajinasi tidak terurus. Biasanya pemikiran anak kecil terlalu detail seadanya. Kadang imajinasinya tidak bisa ditebak. Namun, itulah kenyataan yang sesungguhnya menurut nalar yang murni.
"Ibu tidak mengenalinya? Berarti gambarku jelek, dong. Sampai Ibu tidak bisa menebak?" tanya Azka wajahnya sedikit cemberut.
__ADS_1
Bersambung....