
Rombongan Rara dan purba sudah sampai di Jakarta.
“Untuk beberapa hari ini kamu bertahan dulu di sini, nanti kalau sudah menerima kunci rumahnya, kamu bisa langsung pindah,” jelas Purba pada Rara.
Purba tidak lama berada di rumah Retno. Dia langsung pamit, tak lupa mengecup kening Rara, begitu pun Rara mengecup punggung tangan Purba.
Di perjalanan Purba membahas kepada pengacaranya, jadwal untuk sidang perceraian Rara.
“Jangan lupa harus selalu update.” Purba mengingatkan sang pengacara.
Jjadi nanti yang akan menghadiri persidangan adalah pengacara dari Purba, pokoknya Rara tahu beres.
Begitu pun kepada Bizar, meskipun asistennya itu pasti tidak akan banyak bicara kepada Mona, namun Purba perlu juga untuk mengingatkan bahwa status dirinya saat ini anggap saja memiliki istri 2, mau tidak mau itu harus dijalani.
*##
Mona berlari dari kamarnya ke teras, saat mendengar suara mobil masuk ke halaman rumahnya. Dia mengenakan baju daster ala orang rumah biasa. Bukan pakaian seksi-seksi lagi. Di tangannya sudah ada teh hangat untuk menyambut kedatangan Purba.
Purba cukup terenyuh hatinya melihat perubahan Mona, yang menurutnya serius untuk menjadi istri yang baik.
Purba mengecup kening Mona dan mengambil teh tersebut, sementara Mona mengambil tas yang ada pada Purba.
Bizar jarang sekali mampir jika tidak diminta oleh Purba, dia langsung pulang ke apartemennya.
“Capek ya, Pa? Mau aku pijitin?” ucap Mona.
“Boleh, tapi tidak sekarang. Aku mau mandi dulu,” ucap Purba.
“Baiklah, sekarang aku siapin makanan dulu.”
“Tidak perlu Ma, ini sudah malam. Sepertinya aku langsung tidur saja.”
Mona menurut apa kata suaminya, dia mengerti kalau suaminya belum bergairah malam ini. Meskipun Mona mungkin sudah sangat merindukan permainannya dengan Purba.
__ADS_1
Mona menyimpan tas Purba di ruang kerja, karena memang di situlah tempatnya. Walaupun biasanya Purba pulang langsung ke kamarnya, tetap saja setelah dirinya selesai membersihkan badan, tasnya selalu diboyong ke tempat kerja.
Ada rasa tertarik untuk mengecek tas kerja Purba. Mona ragu untuk membuka tas tersebut, beberapa saat dipandangi tas itu sambil berpikir dibuka atau tidak.
Namun, karena rasa penasaran yang besar akhirnya Mona membukanya. Beberapa file dicek dan kertas-kertas yang Mona belum tahu seluruhnya itu kertas apa saja.
Tidak ada yang mencurigakan. Namun, Mona tertarik pada tanggal berkas-berkas itu.
Kenapa kalau Purba memang baru melakukan pekerjaan, tapi di dalam tasnya tidak ada tanda-tanda sebuah pekerjaan yang dikerjakan tiga hari lalu.
Maksudnya, jika pun ada perjanjian atau berita acara atau membahas apa pun, pasti tertera di kertas itu paling tidak terakhir tanggal sekarang. Atau kemarin, tapi tanggal di berkas-berkas itu terakhir tiga hari yang lalu. Apakah purba sebenarnya tidak ada meeting?
‘Ke mana Mas Purba? Kemarin benar meeting? Tapi tasnya seperti tidak ada perubahan pekerjaan,’atin Mona.
Mona kembali mengecek sudut-sudut tas yang kecil, tidak ada yang mencurigakan. Apakah itu karcis tol, struk belanjaan atau apa pun. Pikiran Mona jadi kemana-mana, termasuk menyangka Purba selingkuh, tapi tidak ada bukti dalam tas itu.
Mona merapikan tas itu kembali, kemudian kembali ke kamar.
Ternyata Purba belum selesai mandi, dia tertarik juga mengecek ponselnya, tapi sayang sayangi.
‘Nanti aku akan minta Mas Purba jangan dikunci ponselnya. Kira-kira marah nggak ya?” gumam Mona.
Mana terkejut, ternyata Purba selesai mandi. Mona kemudian menjawab dengan tergugup.
“E-enggak Pa, cuman... em, boleh nggak, Mama pengen lihat ponsel Papa.”
“Ya, itu kan udah lihat. Tinggal lihat aja,” ucap Purba, jawaban yang menyebalkan memang.
“Bukan gitu Pa. Sebagai istri, boleh kan tahu isi ponsel suaminya? Apalagi tiga hari keluar kota. Mama tidak berlebihan kan, Pa? Itu tandanya Mama ingin menjaga rumah tangga kita tetap baik.”
“Jadi, kamu masih mencurigaiku?” jawab Purba.
“Bukan gitu. Ya, kalau Papa nggak ada apa-apa, nggak bakal keberatan kalau Mama pengen tahu isi ponselnya.” Mona berbicara masih dengan nada biasa.
“Tapi kalau nggak bisa juga nggak apa-apa,” imbuh Mona, sebelum perdebatan terjadi, kali ini dia lagi-lagi mengalah.
“Ya udah, Mama tidur duluan ya, Pa,” ucap Mona lagi, dia menghampiri Purba mengecup pipinya kemudian memeluknya sebentar, “Selamat tidur,” bisik Mona.
__ADS_1
Mona beranjak ke tempat tidurnya, selimutnya ditarik sampai leher. Yang terlihat hanya ujung kepalanya saja. Mona sengaja sedikit menyembunyikan wajahnya, dia menahan sakit di hatinya.
Sakit bukan karena Purba tidak terbuka saja, tetapi menjadi seorang istri yang sabar itu memang sangat sulit. Terlebih Mona awalnya adalah seorang wanita yang memiliki budaya pergaulan bebas, tidak pernah suka diperintah, keras kepala. Akantetapi sekarang dia harus tunduk dan menyadari posisinya sebagai istri.
Air mata Mona perlahan jatuh, gerakan sedikit gerakan tangannya menyeka kedua pipinya. Isakan tangis ditahannya, dia tidak ingin Purba menyimak dirinya selemah itu.
Karena akan semakin sakit, ketika Mona menunjukkan bahwa dirinya sedang menangis dan Purba tidak peduli. Itu lebih membuatnya sakit, maka Mona memilih untuk pura-pura tegar. Karena percuma saja, sebab Purba belum sepenuhnya menerima perubahan Mona yang sudah menyesuaikan menjadi istri. Banyak mengalah dan memaklumi keadaan suaminya.
“Sepertinya dia menangis. Kenapa?” batin Purba, sudut matanya melihat pada tubuh Mona yang membelakangi dirinya.
Sehebat apa pun wanita menyembunyikan kesedihannya, apalagi sampai menangis, akan terlihat juga tubuhnya sedikit bergetar, walau sudah ditahannya.
Sebenarnya Purba bukan tidak peduli kepada Mona, cuman dia bingung karena tidak ada rasa dalam hatinya. Jadi canggung untuk berbuat peduli, lebih peka atau perhatian.
Purba sudah mengenakan piamanya, dimatikannya lampu kamar. Dilirik sebentar Mona, dia langsung tidur.
Apakah dia benar-benar menangis atau tidak? Batin Purba.
**#
Keesokan paginya Purba bangun sudah tidak melihat Mona di sampingnya, dia mengerutkan kening, tumben sekali. Meskipun akhir-akhir ini memang dia tahu, Mona sering sekali sudah berada di dapur saat dia baru bangun.
Namun, Purba pikir Mona hanya akan bertahan beberapa hari saja sebagai istri yang sesungguhnya. Makanya saat ini Purba termenung sesaat, sungguh sekeras itu perjuangan Mona untuk menjadi istri yang baik.
**#
“Mbak Idah, waktu suami Mbak Idah masih ada, pernah nggak Mbak Idah sering nangis atau marah? Tapi nggak bisa diungkapin,” tanya Mona kepada asisten rumah tangganya, sambil memasak untuk sarapan.
“Kalau itu, tentu saja pernah dong Bu. Rata-rata semua istri itu pernah mengalami, dia ingin marah tapi berpikir beberapa kali. Meskipun katanya perempuan itu sering menggunakan perasaan, tapi kalau untuk dikit-dikit marah ke suaminya, dia pakai pikiran juga kok.”
“Jadi, rata-rata seorang Istri mendapatkan sakit hati ya, mbak ? Meskipun bukan karena wanita lain?”
“Iya Bu, wanita itu sering sekali menahan perasaannya, meskipun dia bisa untuk mengungkapkan rasa tidak suka, melampiaskan amarahnya.”
“Tapi menurut Mbak Idah, lebih baik mana menahan saja atau dilampiaskan?”
__ADS_1
Bersambung...