Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Pengakuan Cinta


__ADS_3

"Nah, itu salah satunya kebahagiaan orang lain aku tidak menghancurkannya," ucap Rara.


"Maksudnya, kan aku bilang kalau sampai kamu menghancurkan demi orang lain, kalau tidak ya udah." Retno menimpali.


"Iya, karena Pak Purba dan Bu Mona itu tidak bahagia, aku tahu cerita ini dari Fira. Bahkan sekali aku pernah bertanya, bahwa mereka itu menikah bukan atas suka sama suka. Meskipun untuk alasan lebihnya aku belum tahu, cuman singkatnya seperti itu.


Aku sering kok, melihat Pak purba seperti selalu memasang wajah kusut ketika ke kantor, beberapa kali di kantor bertengkar dengan istrinya," ucap Rara menjelaskan.


"Ya oke - oke, meskipun untuk pribadi diriku sendiri, ya mereka sedang tidak baik-baik saja kemudian kita masuk kehidupannya tambah hancur, dong? Tapi ... ya sudahlah, aku tidak mau terlalu direpotkan dengan masalah ini.


Semoga kamu tidak terbelit masalah yang lebih besar itu aja. Paling aku mendoakannya semoga masalah-masalahmu di kampung dengan anakmu dan mantan suamimu segera selesai," ucap Retno memungkas obrolan malam itu.


Retno sebenarnya kecewa dengan jalan pintas sahabatnya. Tapi bagaimana lagi, Dia akan cari tahu tentang kehidupan rumah tangga purba dan istrinya, dia penasaran.


Setidaknya dia ingin tahu dari dua sisi. Apakah penjelasan Rara ada kebohongan atau hanya alasan saja, bahwa dengan keadaan rumah tangga mereka tidak baik-baik saja, Rara hanya akan menjadi seseorang yang bisa membahagiakan Purba.


**#


Dua hari berlalu Purba beserta keluarga Hartanto pulang dari Gedong Jngger keesokan harinya pun Purba berangkat ke kantor, seperti biasa.


Begitu pun dengan Rara, pagi ini ia berangkat ke kantor dengan penampilan lebih rapi dari hari-hari sebelumnya. Lebih elegan dengan rambut digulung dengan jepit, ala pramugari.


Pakaian ala sekretaris yang lebih berkelas dengan make up yang lebih lengkap.


Tentunya Rara menyimak beberapa tutorial make up dari postingan creator make up, dia tidak ingin terlalu norak atau malah sering orang menyebutnya menor atau berlebihan.


 Purba pun berangkat sangat pagi. Saat ini dia sudah terbiasa untuk pamit kepada Mona, meskipun dia sedang tidur menyempatkan untuk mengecup kening istrinya itu.


Mona juga merasakan Purba benar-benar berubah. Dalam hatinya sudah tidak curiga lagi, bahwa Purba akan memiliki yang lain. Ya... mungkin kecurigaan masih ada, cuman tidak sebesar dulu. Sekarang dia masih bisa tenang bersantai-santai di rumah, tidak terburu-buru ingin ke kantor untuk menguntit apakah ada apa-apa dengan sekretaris dan suaminya?


 


**#


Saat di kantor, Purba tidak melihat Rara di dalam ruangan. Dia seperti biasa menuju mejanya kemudian membuka laptopnya.


Yosef sudah diberitahu bahwa hari ini Purba akan masuk, dia juga tidak akan ke kantor sebenarnya. Yosef sebenarnya malas untuk meneruskan perusahaan papanya, kalau tidak dengan terpaksa, karena dia juga butuh uang.

__ADS_1


Saat Rara masuk ke ruangan, dia membawa secangkir kopi untuknya sendiri. Dia sedikit terkejut, karena Purba sudah ada di dalam ruangan. Rara tersenyum dan menyapa Purba dengan anggukan kepala.


“Eh, Bapak. Selamat pagi,” ucap Rara dengan masih menggunakan bahasa formal.


Purba melihat penampilan Rara, ditelisik dari ujung rambut sampai ujung kaki, benar-benar menggoda dirinya.


Meskipun pakaian Rara tidak seksi dan kalau dikatakan menggoda pun tidak begitu, tapi kenapa tubuh kecil dan ramping itu sangat menggemaskan di mata Purba.


Terlebih Rara terlihat lebih bercahaya daripada hari-hari kemarin, saat ini dia sudah seperti wanita kota, meski wajahnya tetap ayu dan natural. Dengan kulit masih alami, tidak kebanyakan skincare.


“Rara kemari!” ucap Purba.


Rara yang sudah duduk bersiap di depan laptopnya tanpa ragu beranjak menuju di mana purba duduk.


Saat Rara berjalan ke arahnya, Purba pun berdiri dia menghampiri Rara juga. Sehingga mereka sama-sama bertemu di tengah, di satu titik setelah mereka berjalan dan berhenti.


Rara menatap Purba yang tepat berdiri di hadapannya, begitu pun Purba menatap Rara yang agak menunduk, karena Purba memang jauh lebih tinggi dari Rara.


Purba tiba-tiba memeluk Rara. Dia meminta maaf atas kesalahannya saat itu. Padahal dalam hatinya, terasa ada rindu yang terlepas kan. Rindu yang semenjak beberapa hati tertahan, kini lega rasanya.


Rara terpaku dia bingung harus melakukan apa. Apakah harus menyambut pelukan Purba atau harus menolaknya? Tapi ini tidak mungkin, bahkan dia juga sangat nyaman berada dalam pelukan Purba.


“Em ... tapi Pak, minta maaf untuk apa?” tanya Rara, berusaha mencairkan kebisuan.


Purba melepaskan pelukannya, dia menatap Rara kemudian meraih kedua tangannya, digenggamnya tangan itu kemudian Purba berkata.


“Untuk semuanya.”


“Maksudnya?”


“Aku sudah salah paham padamu dan memarahi habis-habisan, kemudian beberapa hal yang dilakukan atas istriku, pokoknya banyak lagi. Kesalahanku yang malah membuat aku sendiri yang merasa sakti, akhirnya.”


“Tapi, saya sudah melupakannya Pak. Justru saya yang berterima kasih,” balas Rara.


“Untuk?”


“Ya untuk semuanya.”

__ADS_1


Purba tiba-tiba tertawa dan itu juga membuat Rara kaget, barusan sangat romantis. Suasana yang melankolis dan kini tertawa, meskipun masih tahap wajar bukan tertawa yang terbahak-bahak.


“Bapak kenapa?” tanya Rara.


“Tidak ... tidak, ini hanya lucu saja. Tapi ...  ya, kita nikmati saja,” lirih Purba dengan tatapan syahdu.


Kemudian Purba mengecup punggung tangan Rara yang sejak tadi masih dipegangnya.


Sekali lagi Rara terkejut. Apa maksudnya ini? Dan lagi-lagi Rara kaku, tidak bisa menolak. Rara suka dengan perlakuan Purba saat ini.


Kini giliran Rara yang terbengong di hadapan Purba. Purba masih memegang kedua tangan itu. Purba pun membalas tatapan Rara, mungkin mereka sama-sama menyelami perasaan masing-masing. Mereka sama-sama ragu atau sama-sama takut untuk saling jujur pada perasaannya.


Pada akhirnya Rara melepaskan tangan Purba dan seketika memeluk Purba dengan erat.


 Rara memberanikan hal ini, karena dia ingin mencoba, apakah Purba menolak pelukannya? Jika pun menolaknya itu tak masalah berani menanggung resiko malu, tapi jika Purba tidak menolaknya itu adalah jawaban untuk keragu-raguan Rara.  Bahwa dia mendapat dukungan tentang perasaannya terhadap Purba selama ini.


Dan sungguh ini dugaan yang Rara harapkan, Purba pun awalnya diam saja. Akan tetapi, dia langsung menyambut pelukan Rara. Mereka saling memeluk memejamkan mata menikmati detak jantung masing-masing yang bertalu.


 Bahagia, seperti meriahnya perasaan mereka yang seperti terbang ke angkasa.


Mereka saling beradu nafas dalam pejaman mata, dengan imajinasi masing-masing. Pelukan yang semakin erat, usapan tangan masing-masing kepada punggung masing-masing. Kenikmatan suasana yang tidak mereka sia-siakan.


Bizar memasuki ruangan, dia ternyata melihat bos dan sekretarisnya seperti itu. Dia buru-buru menutup pintu perlahan kemudian menutup tirai ruangan dengan perlahan juga.


Bizar tidak ingin mengganggu suasana romantis bos dan sekretarisnya itu, kemudian Bizar keluar ruangan setelahnya.


Purba melepas pelukannya dari Rara, begitu pun Rara meregangkan kepalanya yang sebelumnya bersandar di dada bidang Purba.  


Kemudian Purba berbisik, “Semoga rasaku dan rasamu sama, tidak ada yang salah dalam cinta. Hanya kejujuran yang ada.”


Rara hanya menggangguk seakan terhipnotis oleh ucapan Purba. Dia sudah lupa rasa takut dan rasa salahnya dalam mencintai bosnya, yang dengan sadar dia tahu bahwa bosnya itu adalah suami orang.


“Jika di antara kita ada yang merasa bersalah, yang pasti itu bukan kamu tapi aku yang tidak bisa menolak kehadiranmu di waktu yang tepat. Saat aku lelah dengan semua keterpaksaan,” bisik Purba kembali.


Lagi-lagi Rara hanya menggangguk dia tersenyum.


“Apa hanya aku saja yang mampu mengungkapkan ini? Meskipun aku tahu apa jawabanmu?” ucap Purba kembali.

__ADS_1


Rara terdiam sejenak, dia menatap lekat sorotan mata Purba yang teduh dan tersirat kejujuran di dalamnya.


Bersambung...


__ADS_2