
"Terima kasih Mbak Idah atas penjelasannya. Aku tidak standar itu kau pikirannya. Ya sudah, sekarang aku mau ke rumah besar," usah Purba, dia menghabiskan sisa minum yang sebelum pergi.
"Titip rumah ya Mbak," usia Purba setelah sampai di teras.
Mbak Ida menatap kepergian majikannya, ada rasa kelegaan di hatinya setelah mengatakan semuanya. Bukan niat Mbak Idah untuk tidak menjaga rahasia Mona.
Lagi pula sebenarnya itu bukan rahasia Mona yang minta dijaga oleh Mbak Idah, itu hanyalah sesuatu yang Mbak Idah lihat dan tidak boleh sembarangan disampaikan atau dibocorkan karena itu adalah aib. Namun, saat ini adalah situasinya berbeda.
Purba menyetir sendiri. Akhir-akhir ini dia memang selalu membawa mobilnya tanpa disupiri oleh Bizar, karena Bizar harus menggantikan dirinya di kantor.
Purba tidak begitu kaget dengan berita yang disampaikan oleh Mbak Idah. Dia tahu kelakuan istrinya, kalau hobinya memang di klub malam tentu tidak jauh dari hal seperti itu.
Mbak Idah menyampaikan semuanya namun tidak begitu detail, Mbak Idah masih menjaga privasi Mona agar tidak terlihat terlalu rendah di hadapan Purba. Bagaimanapun Mona adalah manusia biasa yang harus tetap dihormati, bagaimanapun perilakunya. Lebih Mona sudah berusaha menjadi istri yang baik.
Saat Purba sudah mengendarai mobilnya setengah perjalanan, hampir sampai ke rumah mertuanya. Sebuah pesan masuk, Purba tahu itu pasti dari peneror. Karena nada pesan dari peneror sudah Purba bedakan, agar dia tidak terganggu, mana pesan yang harus segera diabaikan atau di tindak langsung.
Ckiit...!
Brugh!
Mobil purba menghantam mobil yang di depannya, saja tidak terjadi kecelakaan besar. Memang ini kesalahan dia membuka pesan saat berada di jalan raya yang cukup padat.
Padahal Purba merasa dia mengendarai mobilnya perlahan, karena tahu jalanan sedang ramai. Namun, Purba tidak tahu bahwa di depannya tiba-tiba berhenti.
Bugh!
Bugh!
Seseorang menggedor-gedor kaca mobil, terlihat tangannya seolah memberi tanda untuk minggir.
Purba mengikuti arahan dari orang tersebut. Dia tidak mungkin akan melawan di tempat umum seperti itu.
Untungnya orang-orang tidak ramai berkerumun, karena mungkin mereka juga sibuk masing-masing dan ini bukan kecelakaan yang besar.
"Iya Pak," uca Purba setelah minggir lalu turun dari mobilnya.
***
"Nak, ibu sama ayah mungkin tidak bisa lama-lama di sini. Urusan di kampung masih banyak," ucap Bu Purwanti saat sedang menikmati siang yang santai di teras depan.
"Bagaimana kalau bapak aja yang pulang Bu? Ibu di sini ikut acara aqiqah Az-Zahro dulu. Tadinya sih Ibu pengennya gitu, tapi ya bagaimana lagi bapak nggak ada yang bantuin."
__ADS_1
"Lalu sekarang dititipkan sama siapa Bu, setiap hari harus ada yang mengawasi," tanya Rara sambil menemani Azka belajar.
"Memang ada sih orang kepercayaan, tapi rasanya nggak enak juga. Namanya juga dititipkan ke orang lain, saudara sendiri saja bisa berniat curang apalagi orang lain."
"Kalau begitu Rara terserah ibu dan papa saja, tapi alangkah baiknya kita bisa berkumpul saat syukuran nanti. Oh ya Ibu belum tahu adik, besok dia ke sini."
Di sela perbincangan itu tiba-tiba ada seseorang yang datang, dengan menarik koper dan tas jinjing cukup besar. Memasuki pekarangan halaman rumah Rara.
Rara langsung semringah, dia berdiri tanpa sadar dia baru saja melahirkan dan kini berjalan cepat menuju adiknya.
"Baru saja Kakak omongin, kamu datang. Panjang umur."
Iya, yang datang adalah Lena, adiknya Rara. Lena sengaja tidak memberi kabar pada Kakaknya. Karena memang sengaja ingin memberikan kejutan.
Lena sudah tahu alamatnya Rara, dari Bu Sugeti. Semenjak di kota Bu Sugeti bisa menggunakan smartphone. Di saat Lena sudah sampai Jakarta, Bu Sugeti bisa share lock pada Lena, lalu anak bungsunya itu datang menggunakan taksi.
"Bu ini lho adik saya, perkenalkan." Rara menggandeng tangan adiknya menghampiri Bu Purwanti.
Prang!
"Eh!" Bu Purwanti terkejut saat dia berdiri, tangannya menyenggol gelas tehnya.
"Udah Bu biar saja, nanti Mbak Yayuk yang beresin," ucap Rara, menarik tangan Ibu mertuanya yang hendak merapikan pecahan gelas tersebut.
"Kenapa ya jelasnya bisa tersenggol, Padahal ibu perasaan menyimpan gelasnya agak tengah loh. Dan dada Ibu deg-degan kayak gini," ucap Bu Purwanti, menyampaikan pada menantunya. Dengan tatapan mata cemas dan tangan memegang dadanya.
"Namanya juga kecelakaan Bu, itu hal yang biasa. Akan ada apa-apa, atau bisa jadi ibu kan sudah lanjut usia terkadang konsentrasi kita cepat menurun. Perasaan sudah benar tapi ternyata ada saja kesalahan."
Rara mencoba membuat Ibu mertuanya tenang. Karena memang tidak harus ada yang ditakutkan.
Bu Purwanti bisa menenangkan diri, yakin tidak akan ada apa-apa yang terjadi. Telah mendapat ketenangan dari menantunya, percaya itu memang hanya kecelakaan biasa saja. Dalam keseharian ada kesalahan dalam rumah tangga. Entah perabot, entah tangan teriris saat masak, kena wajan panas dan lainnya. Jadi tidak perlu dipandang berlebihan. Sehingga membuat diri semakin deg-degan. Lalu malah jadi sakit beneran karena pikiran buruk.
Bu Purwanti menyambut adik dari menantunya.
"Kamu seperti adiknya Purba, tapi dia sudah kuliah. Kamu akan tinggal di sini lama, Nak?" tanya Bu Purwanti.
Rena berbincang sambil berjalan menuju ke dalam. Disusul dengan Rara dan Azka yang merapikan bukunya meneruskan belajar di dalam rumah saja.
Lena memang sudah siap pindah ke Jakarta, karena sekolahnya sudah lulus. Dia akan menetap menemani Rara dan ibunya.
Saat di dalam rumah, Lena disambut oleh Bu sugetti yang tadi sedang sibuk di halaman belakang menata bunga-bunga. Sedangkan Pak Kukuh, dia sangat senang sekali berada di samping kolam ikan. Karena di kota jarang sekali ada kolam ikan. Jarang sekali ada tempat yang adem dan tenang seperti di kampung.
__ADS_1
Namun, rumah itu sengaja Purba buat, ada tempat untuk bersantai dengan suasana banyak pohon dan kolam ikan, untuk menemani istirahat melihat ikan-ikan yang ramai kalau diberi makan. Membuat bahagia tersendiri saat ikan-ikan saling berebutan. Di sanalah keseharian Pak Kukuh sambil menengok cucu barunya. Hitung-hitung beristirahat dari segala aktivitas perkebunan dan ternak di kampung.
***
Sementara itu Mona terjebak pada sebuah pintu yang tidak bisa dibuka. Dia heran, rumah ini tidak ada siapapun kecuali pria si peneror itu. Ataukah ada seseorang yang bersembunyi? Saat Mona masuk pintu tidak ada yang dikunci. Namun, sekarang?
"Sia!" umpat murah dia mengatakan kaki dan tangannya.
Saat akan berbalik dia ingin melampiaskan kembali marahnya pada si peneror itu. Karena tiba-tiba saja jalan untuk keluar ternyata sudah tidak bisa.
Namun, saat mana berbalik.
"Akh! Apa yang kau lakukan?"
Dia terkejut melihat peneror itu sudah berada tepat di belakangnya. Langsung Memeluk pinggang Mona dan melepas tas yang Mona tenteng begitu saja. Kejadiannya begitu cepat, nggak Mona tidak sempat melawan. Kan tas yang ditentengnya dengan mudah dirampas dan dibuang sembarangan.
Mona tidak ada tenaga untuk melawan, kakinya terdorong mundur karena desakan dari si penerus itu.
Dan kini laki-laki itu sudah melepas hoodinya. Mona tidak tahu siapa dia, yang pasti lebih tampan dari Bram.
"Jika kamu tidak dapat memilih dua pilihan itu, maka aku yang menentukan satu diantaranya," ucap peneror yang memiliki jambang itu, berkulit putih, tubuh yang kekar dan sangat harum.
suaranya yang berbisik tepat di telinga Mona, memancing hasrat wanita hiper itu yang sudah lama tak terlampiaskan pada suaminya.
Lelaki yang dihadapannya benar-benar tipe Mona. Dia memang tahu lelaki yang ada di depannya itu siapa. Akan tetapi Mona merasa familiar dengan wajah dan gestur tubuhnya.
Mona meyakini dia sama-sama pemain club, mungkin masih circle-nya Bram. Namun, Mona tidak begitu akrab dengan seluruh temannya.
Mona harus berpikir cepat, untuk lolos pun sepertinya dia tidak bisa. Tapi untuk berontak percuma. Bahkan kalau dia melaporkan kasus pemerkosaan lagi kepada pihak berwajib, sepertinya akan dianggap lelucon.
Karena berkali-kali kasus yang mana laporkan ternyata bukan pelecehan murni. Namun, asusila itu ada, tapi atas dasar suka sama suka dan jika pun pemaksaan itu hanya masalah pribadi. Bukan masalah besar tentang perampasan kehormatan.
Toh lelaki yang di hadapannya ini tidak buruk bahkan lebih tampan dari Bram.
Akhir-akhir ini hubungan Mona dan Purba memang tidak sehat, terbersit dalam benak Mona untuk kembali saja pada dunianya yang lama. Sebab saat menjadi Mona yang dulu, dia banyak diperhatikan oleh temannya. Terlebih oleh teman intim prianya.
Pikiran Mona saat ini kacau. Terlebih pria itu terus memancing Mona yang sudah lama tidak tersalurkan.
Apakah Mona harus melawan atau menikmatinya?
Bersambung....
__ADS_1