Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Mulai Menggoda


__ADS_3

“Kamu pernah nggak, dapat panggilan video dari Pak Purba?”


“Enggak tuh, kenapa?”


“Karyawan lain di sini, yang sempat dekat atau sekretarisnya yang dulu setahu kamu pernah nggak menerima panggilan video call dari Pak Purba?”


“Kayaknya enggak deh, soalnya sekretaris yang dulu juga lebih lamaan aku kerja di sini. Aku rasa gak pernah lihat deh. Kenapa emang?”


“Tapi ... kamu jangan bilang siapa-siapa ya..., kamu nggak bakal salah paham kan? Em ... Pak purba vc aku,” bisik Rara, mendekatkan dirinya pada Fira.


“Wah ... parah sih itu, kamu harus sembunyi. Nanti ada desas-desus lagi. Di sini bisa berabe nanti kamu nggak tenang kerjanya. Ke sana aja, pergi ke toilet,” saran Fira, merasa terkejut dengan ucapan Rara.


“Ya udah, aku tinggal dulu ya,” ucap Rara terus beranjak ke toilet.


Fira sebenarnya tahu gelagat Purba ke Rara, itu seperti ingin memilikinya.  Makanya Fira tidak ingin ikut campur bahkan untuk membenci Rara pun itu bukan hak Fira.


Terlebih fira pernah merasa kesal sama Mona dan dia juga tahu gimana keharmonisan rumah tangga bosnya dengan istrinya.  Makanya dia baik-baik aja kalau memang Rara dan Purba ada hubungan, tak masalah dan gak mau tahu.


Saat Rara sudah sampai toilet ternyata panggilan purba berhenti. Namun, Rara akan menunggunya beberapa saat siapa tahu kalau itu penting, mungkin Purba akan mengulangi panggilannya lagi.  Ternyata benar, saat panggilan yang pertama mulai diangkat oleh Rara.


“Iya Pak. Ada apa?” tanya Rara mengawali pembicaraan.


“Kamu, kenapa lama banget?” jawab Purba dari video call tersebut.


“Saya harus nyari tempat yang aman dulu Pak.”


“Yang aman? Ahaha, memang kamu sedang di mana? Lagi perang hahaha?”


‘Ih, Pak Purba bisa bercanda juga' batin Rara.


“Saya lagi istirahat Pak, lagi makan, banyak orang kalau saya nerima panggilan bapak di sana,” jawab Rara agak malah dengan Purba yang meledeknya. Tidak tahu situasi banget.


“Emangnya kenapa kalau orang tahu kamu menerima panggilan saya?”


“Nggak enak juga Pak, nanti orang mikirnya...?” ucapan Rara tergantung.


“Ya ... orang mikir apa-apa juga nggak apa-apa, kan? Gimana sih kamu, saya kan bos kamu, bebas dong?” ucap Purba. Bibirnya tak henti mengulas senyum. Terlihat roman bahagia sekali di wajah Purba.

__ADS_1


“Ya, terserah bapak aja deh, nanti ada isu-isu lagi, ibu Mona marah lagi, nanti saya kenal lagi.” Rara sedikit murung.


“Hehehe iya, iya ... aku cuma iseng kok, cuman bercanda. Gimana hari ini kerja dengan Yosef, aman?”


“Aman, Pak.”


“Cuman jawab gitu aja?”


“Ya, aman, lalu saya harus jawab apa lagi?” tanya Rara, dia kesal juga diledeki purba terus.


“Ahaha ... Ok Ok, oh ya, aku mau lihat pakaian yang kemarin kamu beli. Udah beli di butik, kan? Coba saya pengen lihat.”


Kemudian Rara mengangkat ponselnya agak ke atas, agar terlihat seluruh badan Rara dari atas sampai bawah.


“Coba kamu taruh ponselnya di situ ada meja atau apa?” perintah Purba.


Rara menurut apa kata Purba.


“Loh kok, sepertinya itu bukan dari butik deh, kamu belum belanja atau belum ada waktu? Atau uangnya buat apa? Kemarin kata Sinta udah sekalian sama sepatunya.”


“Iya Pak, udah. Tapi saat tahu bapak tidak masuk, saya tidak jadi pakai-pakaian yang dari butik itu.”


“Eh, bukan Pak, maksudnya kan bapak bilang Pak Yosef itu, ya... seperti itu karakternya. Saya jadi takut, makanya untuk mengantisipasi ya saya cari aman aja. Saya kan belum tahu banget Pak Yosef Seperti apa, jadi saya ada rasa ketakutan aja.”


“Oh... gitu, oke, baik-baik, kamu sekretaris yang baik dan patuh. Ya udah kalau kayak gitu, semangat kerjanya ya.” Purba mengepalkan tangan di hadapan kamera dengan senyuman hangatnya.


Sejenak Rara tertegun, baru kali ini Purba seperti sangat ceria begitu. Bahkan senyumannya sangat manis dan lepas. Biasanya meski tidak terlalu jutek, tapi jarang banget seceria ini.


‘Apa jangan-jangan ... karena sedang liburan sama istrinya? Lalu sikap perhatiannya selama ini ke aku, apa? Ah ... Aku ke geeran berarti,' batin Rara.


“Loh, kok malah bengong? Jangan natap aku lama gtu. Nanti malam kebawa mimpi lho,” ucap Purba, mulai meledek Rara lagi.


“Eh ... E-enggak Pak. Iya Pak baik terima kasih,” ucap Rara kemudian menutup panggilannya sepihak.


Purba tersenyum, dia senang dapat menggoda Rara jadi salah tingkah.


**#

__ADS_1


Purba lega karena Rara bisa ambil sikap dengan menjaga dirinya tidak menjadi bahan incaran Yosef.  Maksudnya, jika Yosep tahu bahwa ada daya tarik tersendiri seperti wanita kota umumnya, dia akan berpikir licik untuk mendekati Rara.  Dan tentunya bukan pendekatan yang tulus tapi hanya untuk memanfaatkan saja.


“Siapa Mas?” tanya Mona saat menemui Purba yang ada di halaman belakang.


“Eh, Mama... bukan siapa-siapa. Biasa ... menghubungi kantor.”


“Kamu kok repot banget kayak gitu sih? Kan udah ada Kakak di sana?” ucap Mona, agak tidak suka dengan sikap Purba. Seolah-olah tidak memercayai Yosef.


“Tidak puas aja, Ma ... kalau tidak mengetahui langsung.”


“Tapi, kenapa harus menghubungi orang kantor? Bizar saja, orang kepercayaan kamu ikut, laptop kamu pegang, kamu bisa melihat pertumbuhan kantor kan dari sini, lagian baru sehari, apa yang dikhawatirkan?” ketus Mona.


“Iya Ma ... maaf-maaf, kebiasaan sih.  Kebiasaan hari-hari kayak gini, kerja.  Jadi penasaran aja kalau tidak melihat suasana kantor,” elak Purba.


“Maksudnya aku tuh, melihat mas habis video call. Ama siapa? jarang loh ada atasan video call sama bawahan kecuali sama asisten dan asisten Mas itu Bizar, kan? Atau ada yang lain?”


“Aduh... maaf salah bicara tadi, Mama sih ngagetin.  Maksudnya melihat suasana itu, pengen tahu suasana kantor, tidak ada salahnya kan?”


“Iya emang tidak ada salahnya, cuman hati-hati ya Mas, biasanya salah bicara itu bukan sebuah kebetulan. Udah, jangan bikin saya overthinking deh. Mas, kalau kita lagu liburan, ya liburan aja. Paling besok atau lusa juga pulang.”


“Iya Ma .... maaf-maaf?” ucap Purba, kemudian memeluk Mona, membujuk agar tidak marah kelanjutan.


*##


Di lain sisi Nyonya dan Tuan Hartanto sedang berbincang dengan orang tua Purba.


Orang tua Purba meminta maaf atas keteledoran anaknya. Orang tua Purba juga menjelaskan bahwa Purba belum banyak pengalaman tentang rumah tangga. Sebenarnya Mona juga sama-sama masih butuh arahan. Mereka baru saja menikah makanya, harus tetap ada pendampingan orang tua.


“Jadi ... Pak Hartanto, harap maklum kalau nanti Purba masih saja membuat kesalahan, tapi saya lihat sekarang baik-baik saja,” ucap Pak Akbar, ayahnya Purba.


“Iya Pak Akbar. Saya itu seneng loh, lihat Purba sama Mona sekarang.  Romantis sekali,” jawab Nyonya Hartanto dengan senyum merekah.


“Yang sudah biarlah berlalu, cuman... saya menyampaikan ini, ya ... mungkin kalau kedepannya ada apa-apa lagi, tolong, kita sama-sama tegur anak kita. Memang anak kita ini masih dalam belajar untuk membangun rumah tangga yang harmonis,” ucap Tuan Hartanto.


Setelah mereka berbincang tentang anak-anak mereka yang masih butuh bimbingan, mereka juga berbincang tentang beberapa lahan yang dikelola Pak Akbar.


Tanah yang dikelola oleh Pak Akbar dan istrinya itu adalah semua milik Tuhan Hartanto.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2