
Bab158
"Udah sayang, mending kita pulang dulu aja. Lain kali ke sini lagi, yang penting sudah tahu alamatnya," saran Purba pada istrinya.
"Iya Bu, lebih baik seperti itu. Nanti kalau Azkia pulang, saya akan menyampaikan bahwa ibunya mencari."
Akhirnya tumpah juga air mata Rasa, sudah dibayangkan akan bertemu anaknya malah tidak sesuai apa yang diimpikan.
Rara dan Purba pun beranjak dia duduknya dan pamit kepada buah Heti. Namun, Bu Heti sengaja mengantar Rara sampai ke mobil, karena dia tidak tega melihat seorang ibu yang merindukan anaknya. Namun, terhalang untuk bertemu
"Maaf Bu sebentar, saya harus berbohong," ucap Bu Heti saat Rara dan Purba akan masuk mobil.
"Maksudnya gimana Bu?" Rara telah membuka pintu mobil, dia kembali menoleh kepada Bu Heti.
"Sebenarnya Azkia...."
"Yang bener Bu? Kenapa Ibu berbohong?" Rara menyentuh tangan Bu Heti lalu menggoyangkan saking merasa bahagia.
Bu Heti langsung meminta Rara untuk tidak histeris, meskipun teriakan Rara nggak bakal kedengaran ke rumah Bu Heti. Namun, takut reaksi yang Rara tunjukkan terlihat oleh Azkia, takutnya anak itu mengintip dari rumah.
Bu heti kemudian menceritakan saat Rara baru datang, Azkia sebenarnya tahu. Lalu berlari dan bersembunyi di ruangan itu, memang ruangan itu tidak ada sekat atau ruangan lain. Hanya bersembunyi di balik kasur yang digulung, makanya Bu Heti tidak berani bicara jujur saat di rumah, dia takut membuat sedih anak itu dan malah berontak.
"Nanti akan saya nasihati baik-baik Bu. Ibu tenang aja, saya akan jaga Azkia dengan baik, akan saya kasih pengertian."
"Terima kasih ya Bu, saya terima kasih banget sungguh. Iya benar kata Ibu, jika dipaksa belum tentu nanti saat ikut akan bisa menerima."
"Iya Bu tenang saja. Ya, mungkin itu karena pengaruh informasi yang salah diterima oleh Azkia, sehingga tidak bisa menerima keadaan ibu yang sekarang."
Rara paham maksud buah Heti, mungkin Gandi menghasut Azka dengan berita-berita yang salah, sehingga menempel di memori anak bahwa ibunya tidak peduli padanya. Dengan kata lain jahat, sehingga anak kecil itu membenci sang ibu dan tak ingin bertemu.
Azkia melampiaskan kemarahannya untuk tidak ingin menemui keluarganya, karena merasa dari dulu juga ditelantarkan.
Padahal kejadian yang sebenarnya, keluarganya sulit menemui Azkia karena dihalangi oleh ayahnya sendiri.
Sebelum pergi, Rara memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu lalu diselipkan ke tangan Bu Heti. Tadinya Bu Heti akan menolak. Namun Rara terus memaksa untuk kebutuhan Azkia.
"Kebetulan, Azkia anaknya sangat baik Bu. Dia membantu saya membuat makanan untuk jualan, maaf Bu jika saya mempekerjakan Azkia dan upahnya pun tidak seberapa." Bu Heti merasa tak enak hati.
"Tidak apa Bu. Mungkin takdir Azkia memang harus seperti ini, menjadi mandiri sejak dini. Tentunya saya tidak ingin menyalahkan siapa pun, tapi kalau dilihat di sini ayahnya yang harus bertanggung jawab. Mungkin karena kurang perhatian dan bimbingan, buktinya sekarang ayahnya...,"
Ucapan Rara menggantung. Dia takut salah bicara.
Rara menoleh kepada Purba, apakah harus diceritakan yang sebenarnya atau tidak? Purba mengangguk. Biar terserah Bu Heti nanti menyampaikan kepada Azkia atau tidak, disesuaikan saja dengan kesiapan Azkia.
"Saya harus jujur Bu, sebenarnya ayahnya Kia sekarang dipenjara karena ada beberapa kasus yang dilakukannya."
__ADS_1
"Apa! Yang benar Bu? Pantesan semalam Pak Daryanto mengatakan kepada saya bahwa Pak Gandi tidak akan pulang, katanya ada urusan. Ternyata dipenjara Bu?"
"Iya, makanya saya tahu alamat sini karena polisi yang meminta kepada Mas Gandi dan saya juga ceritakan, bagaimana status saya dan permasalahan saya tentang anak."
"Saya semakin paham kalau begitu. Baiklah mungkin kalau saya terlalu lama juga nanti anaknya takut curiga. Saya permisi duluan ya Bu."
Bu Heti kemudian pamit, diangguki oleh Rara sebelumnya mereka sempat bersalaman dan Rara kembali menitipkan Azkia kepada Bu Heti.
***
"Sudah sayang, kamu harus kuat, harus tegar, harus yakin juga. Karena saat kamu kuat dan yakin, energinya akan sampai pada anak juga. Kia pasti yakin pada rasa rindu ibunya, bukan pada cerita yang salah," ucap Purba menenangkan Rara saat sudah duduk di mobil.
"Gandi sungguh keterlaluan, Mas," keluh Rara.
"Kita sedang memberikannya pelajaran. Maka jangan khawatir, pengacara tidak akan membiarkan Gandi bebas, meskipun dia juga menggunakan pengacara sehebat apa pun, fakta yang berbicara."
Rara merebahkan kepalanya pada pundak Purba, dia mencari ketenangan di sana sambil sesekali mengusap air matanya.
Pukul tiga sore Rara baru sampai ke toko. Karena perjalanan ke kontrakan Gandi cukup memakan waktu di belum tadi mengobrol dengan Bu Heti.
"Kamu yakin udah bisa ditinggal sendiri? Sebentar lagi Vira datang." Purba meyakinkan Rara, sebelum di kembali ke kantor.
"Iya Mas, silakan aja kembali ke kantor," ucap Rara sudah sedikit tenang.
"Ya udah, jaga diri baik-baik ya. Kalau ada apa-apa langsung kabari Bizar."
***
Purba kembali ke kantor. Namun, saat sampai kantor dia tidak mendapati Mona di sana. Lalu menanyakan pada Fira.
"Tadi bu mana sepertinya pulang Pak. Setelah Pak sopir masuk ke ruangan Bapak, terus Tak lama Bu Mona pergi." Vira memberi tahukan apa yang ia lihat. Karena Mona juga tidak mengatakan apa pun padanya.
"Baiklah. Mungkin dia memang pulang. Makasih Vira."
"Oh ya. Gimana? Sudah menemukan karyawan untuk toko kue?" tanya Bizar kembali, saat dia mengurungkan untuk pergi.
"Sudah Pak, tapi belum semua."
"Syukurlah, semoga segera lengkap sesuai yang dibutuhkan oleh Rara."
Vira mengangguk.
Purba berada di kantor sesuai jadwalnya yaitu sampai pukul lima sore, dia pulang ke rumah mendapati suasana yang berbeda.
Biasanya Mona memberikan air minum saat dia pulang, tapi kali ini tidak. Purba langsung naik, tidak mendapati Mona di kamarnya juga, heran. Ke mana istrinya? Sedangkan mobil yang biasanya dipakai masih ada.
__ADS_1
Setelah mandi,.Purba turun ke bawah menemui Mbak Idah lalu menanyakan keberadaan Mona.
"Tadi Ibu memang sudah pulang Pak, cuma dijemput oleh temannya."
"Oh .... Siapa? Temannya yang lama?" tanya Purba.
"Iya Pak, teman yang dulu sempat ke sini juga."
"Nggak bilang ke mana?"
"Tidak Pak."
"Ya sudah, makasih Mbak."
Mbak Idah mengangguk, dia melihat kepergian majikannya lalu bergumam...
"Hubungan yang aneh, saat istrinya sudah membaik malah suaminya terlalu sibuk. Ini yang ditakutkan, di mana Mona kembali pada dunia yang dahulu. Karena kurang perhatian dari suaminya dan satu yang masih menjadi penasaran, apakah Pak Purba menikah lagi?"
Mbak Idah juga capek menyimak pasangan ini, saat sedang romantis-romantisnya malah ada saja masalah, hingga salah satu kalah untuk bertahan.
Purba sibuk di ruang kerjanya, sedangkan Mona ada bersama Rena di rumahnya. Dia tidak kembali ke diskotik, sementara dia bisa menahan untuk menjaga kepercayaan Purba.
Mona sudah banyak curhat pada Rena, tentang dirinya selama ini yang bertahan untuk tidak banyak bergaul dengan teman-teman diskotiknya.
"Tapi Lo hebat Mona, bisa langsung tiba-tiba menjauhi dunia malam. Aku aja susah banget, pengen tobat tapi jenuh juga, ada aja godaannya," ucap Renah, sambil mengepulkan asa rokok yang disesapnya.
"Mungkin kamu harus nikah dulu, biar ada tujuan jadi baik untuk apa."
"Iya juga sih, tapi Mon, ada cowok yang mau sama gue, eh... ujung-ujungnya sama-sama amburadul. Ya udahlah mending hidup bebas kayak gini."
Mendengar pernyataan dari Rena, Mona merasa tergugah kembali. Dia juga kalau mendapati Purba dingin kembali seperti dulu, sering mengabaikannya, buat apa menyiksa diri bertahan di sisi orang yang tidak mempedulikan. Lebih baik menikmati hidup.
"Dan sekarang lo nunggu suami lo nyariin? Nelepon gitu atau kirim pesan WA, di mana?" tanya Rena dengan agak ketus.
Rena bukan ketus kepada Mona, dia merasa tidak percaya aja sama cowok yang memang pada dasarnya tidak menyukai kita, lalu kita berharap dicariin sama dia, hal itu sudah tidak mungkin.
"Ya, kali aja seperti itu. Tapi kalau nggak dicari juga nggak apa-apa. Udah biasa," sahut Mona. Dia sebenarnya berkali-kali menelan ludah. Ingin merokoknya kembali. Melihat Rena yang begitu santai memainkan asap rokok.
"Yakin udah biasa? Dan ternyata hati lo nggak bisa biasa. Tetap nangis kan? Nyesek kan?" Rena seakan meledek.
Ucapan Rena membuat Mona semakin marah dengan keadaan.
Mona pergi ke tempat orang yang salah, di mana Rena memegang video jebakan yang diamanatkan oleh Bram. Yang suatu saat video itu akan menjadi bumerang buat Mona.
Bersambung....
__ADS_1