
Bab91
“Minumlah, dulu. Mungkin dengan kau minum, pikiranmu akan jernih. Karena kamu tidak bisa berbuat apa pun sekarang. Melaporkanku sama aja dengan bohong.
Terbukti kemarin bukan? Kita sama-sama saling cinta, polisi pun akan merasa terbodohi jika mau memenjarakan aku karena kasus pelecehan. Tidak ada orang yang sama-sama suka merasa dilecehkan, mereka yang ada sering menikmati bukan?”
“Terserah apa maumu, selama ini aku sudah memenuhi keinginanmu, anggap saja itu sebagai ganti rugi. Pokoknya aku tetap meminta jauhi aku karena kita sudah putus sejak lama.”
“Tapi itu kamu yang memutuskan dan aku tidak ingin.”
“Itu namanya pemaksaan. Bram!”
“Iya, aku memaksamu karena tidak rela kehilanganmu.”
“Dan itu tindakan pidana!”
“Jangan bahas-bahas masalah hukum di sini, yang pasti kita sama-sama suka dan kau sedang lupa saja tentang kebersamaan kita, makanya kau menolak.”
“Aku hanya wanita yang ingin memperbaiki diri Bram, hargai keputusanku. Atau kau minta berapa pun dan tinggalkan negara ini.
Aku biaya hidupmu, sebulan sekali aku transfer, tapi jauhi aku jangan ganggu rumah tanggaku apalagi suamiku!”
Mona pura-pura membuka ponselnya untuk menyiapkan transaksi pada Bram. Padahal dia mematikan rekamannya karena menurutnya sudah cukup bukti untuk diserahkan ke polisi bahwa Bram memang memaksa dirinya dengan ancaman.
__ADS_1
“Katakan jumlahnya!” pinta Mona.
“Minumlah dulu! Mungkin aku juga bisa berubah pikiran sambil aku menghitung biaya hidupku sebulan di luar negeri. Dan ini, ambillah,” ucap Bram sambil memberikan minuman itu pada Mona.
Mona meneguk minuman yang berikan. Karena dia pikir itu hanya air mineral biasa, yang dituangkan dari teko tadi dia melihat sendiri. Mona tidak tahu bahwa Bram sudah memprediksi sebelumnya.
Bram tahu kesungguhan Mona ingin berubah sehingga pastinya Mona akan menolak kalau Bram memberikannya minuman. Sehingga Bram menaruh obat di air yang masih berada dalam teko supaya tidak mencurigakan jika airnya sudah tersedia di gelas.
Mona merasakan hal yang aneh setelah minum air mineral itu ia teguk.
Kemudian Mona buru-buru mengirim pesan pada Yosef namun sayangnya kepalanya sudah terlanjur pusing, tetapannya buram. Bersyukur Mona masih sempat memijit tombol tanda telepon. Dengan gerakan cepat jari Mona meraba layar ponsel sebisanya hingga logo telepon itu tersentuh olehnya.
Bram yang sudah terlanjur senang Mona masuk perangkatnya, langsung membopong tubuh itu ke ranjang, tanpa memedulikan ponsel Mona yang jatuh. Bram tidak tahu sambungan telepon sedang terjadi pada Yosef.
Bram pun lupa akan pintu yang tidak dikunci karena tadi terburu-buru mengeksekusi saat Mona baru datang
Mona yang masih belum sepenuhnya hilang kesadaran, dia berusaha melawan, menggeliat dan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan lemah. Hal itu tidak membuat Bram Iba. Malah membuat Bram semakin terpancing naf-sunya.
Bram menaruh kedua tangan Mona di pundaknya, saat posisi Bram berada di atas mana. Itu juga bukan tanpa alasan, karena Bram tahu orang terbius tak akan punya tenaga untuk menerima rangsangan darinya. Hingga Bram sengaja menaruh tangan Mona melingkar di lehernya, supaya seakan-akan Mona juga menikmati pergumulan itu.
Bram akan membuat percintaan dirinya dan Mona seperti nyata, bukan paksaan saat Mona sedang lemah. Karena adegan mereka sedang direkam dengan kamera tersembunyi. Itulah rencana Bram yang nanti untuk memeras Purba.
Namun, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Sebelum Mona benar-benar pergi darinya, Bram harus menikmati tubuh indah itu untuk terakhir kalinya.
__ADS_1
Dengan beringas Bram menyusuri setiap sudut tubuh Mena tanpa terkecuali. Fantasinya benar-benar liar, dia puas-puaskan untuk yang terakhir kalinya. Tidak peduli tubuh Mona yang terdapat warna merah tanda kepemilikan yang dibuat oleh Bram.
Bahkan kali ini lebih dahsyat dari sebelumnya yang pernah dilakukannya pada Mona dahulu.
Bram sudah tidak peduli lagi jika Mona kesakitan atau merasa ada yang luka. Yang pasti menurut fantasinya ini adalah kenikmatan, bukan penyiksaan.
Bram mengeksekusinya dengan cepat, semakin Mona mengerang kesakitan semakin dahsyat Bram bermain. Mona tidak sepenuhnya tak sadar total. Karena dosis yang diberikan Bram tidak banyak.
Hal itu juga sengaja Bram lakukan, dengan dosis obat yang sedikit, agar Mona dapat merasakan bagaimana kenangan terakhir bersamanya. Atau, bisa juga Mona berubah pikiran, saat tubuhnya menyatu dengan Bram, Mona kembali menikmati seperti saat dulu.
Sepertinya Bram sudah hampir sampai pada puncaknya, terlihat saat dirinya semakin berisik dan ganas.
Namun, saat Bram sudah mencapai puncak tiba-tiba pintu terbuka.
Bram!
Bram yang masih dalam posisi menikmati puncak, seketika menoleh ke arah pintu. Rasanya sungguh kesal, pelepasannya hanya setengah karena terganggu oleh Yosef yang masuk kamar. Keterkejutan membuat kenikmatan yang akan keluar terputus seketika. Dan itu membuat Bram dongkol setengah mati. Fantasinya terpatahkan.
“Mau apa kau kemari!” bentak Bram langsung melepas kan diri dari Mona.
Dipakainya pakaian piyamanya, lalu menghampiri Yosef yang sudah menantangnya.
“Ba-ji-ngan kau!” Yosef, langsung menyerang Bram.
__ADS_1
Sopir yang datang bersama Yosef diminta untuk menutupi tubuh Mona dengan selimut.
Bersambung...