Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Rara Menghindar


__ADS_3

178


Daryanto baru tahu justru kisahnya anak dari Gandhi. Selama ini ganti tidak pernah bercerita apapun tentang keluarganya, begitulah memang pria terkadang seringkali tidak begitu mementingkan tentang keluarga. Ngakunya sih memang peduli tapi kenyataannya yang diurusnya cuman mencari uang, terkadang mencari uang pun sesampainya saja tidak maksimal sesuai kebutuhan. Namun, capek sudah dibaca terlebih dahulu, pusing dan repot.


Karena Daryanto tidak mengerti apapun tentang keluarganya Gandhi, maka dia menyerahkan hal itu kepada Bu Heti saja.


Akhirnya Bu Hetty dan suaminya mengajak Azkia untuk makan di luar, meskipun bukan di tempat yang mewah akan tetapi cukup nyaman untuk berkumpul.


"Kita mau ke mana Bu?" 5anya Azkia.


"Ayo ikut saja, ada hal yang mau Ibu bicarakan," jawab Bu Hetty sambil menggandeng tangan Azkia menaiki motor bersama suaminya.


Azkia merasa senang diajak bermotor bersama Bu Hetty dan suami, seakan memiliki keluarga yang utuh. Dia seringkali melihat orang-orang naik motor jalan sore ataupun pagi, ingin sekali merasakannya namun tidak pernah seperti itu dengan ayahnya. Meskipun ayahnya memiliki motor tapi tidak pernah membawa dirinya untuk jalan-jalan. Dan juga Azkia tidak pernah memintanya, karena takut. Ayahnya selalu memiliki alasan sibuk bekerja, dan saat pulang capek.


"Nah sudah sampai," seru Bu Heti yang turun terlebih dahulu, kemudian Azkia.


Bu Hetty mengajak Azkia untuk segera mengikutinya karena anak kecil itu masih menoleh kanan kiri melihat suasana yang belum pernah dia kunjungi. Sebuah tempat makan sederhana, warung bambu dan belakangnya adalah pesawahan serta kolam-kolam ikan.


Seperti tempat makan mahal yang dibutuhkan orang-orang kota saat melepas penat di sana, padahal harganya cenderung murah karena sawahnya bukan khusus diadakan untuk fasilitas rumah makan, namun sawah asli yang digarap penduduk.


Terkecuali kolam ikan yang memang sengaja diadakan kalau pengunjung ingin memancing sendiri ikan yang akan disantapnya.


"Ayo Azkia Mau pesan apa,?" tanya Bu Hetty sambil menyodorkan buku menu.


Azkia bingung mau memilih apa, takut harganya mahal. Selain itu juga dia takut salah pilih meskipun gambarnya jelas, ada goreng ikan, goreng ayam, bakar dan banyak lagi, Tapi tetap saja takut salah nanti malah milih yang mahal.


Azkia mengatakan memesan makanan yang sama saja dengan Bu Hetty dan suami, tadinya Bu Hetty menyarankan untuk milih sendiri sesuai selera. Akan tetapi Azkia kelihatan bingung, Bu Heti bisa merasakan kebingungan anak kecil yang serba salah padahal secara jujur dipersilakan untuk memilih, bebas.


Bu Hetty membuat Azkia menikmati makanannya dulu, baru nanti setelah makan dia akan mengatakan rencana kepulangan ayahnya dan nasib dirinya di Jakarta seperti apa.


***


Purba bangun pukul 08.00 lewat, dia melihat ke sekitar matahari sudah menyorot masuk ke dalam kamar melalui jendela yang dibuka.

__ADS_1


"Aduh aku kok bisa kesiangan begini," gumam Purba dia masih menyipitkan matanya karena masih terkejut dengan sinar matahari yang menusuk penglihatannya.


"Kenapa Rara tidak membangunkanku," gumam Purba lagi.


Dia kemudian ke kamar mandi langsung menyambar handuk, niatnya memang mau ke kantor. Dia bukan lupa tentang permasalahannya pada si peneror itu, yang harusnya dia menemui Mona saat ini entah ke rumah atau ke kantor. Namun, karena bangun siang sehingga fokusnya hanya Ke kantor saja untuk bekerja.


Setelah selesai mandi dia mengenakan pakaian sambil meminum teh hangat yang sudah disediakan serta camilan yang ada di sana.


"Ke mana Rara," bisa purba pada dirinya sendiri.


Purba berpikir dari tadi dia tidak melihat Rara, atau pun selama di kamar mandi tidak terdengar pergerakan di kamar.


Saat ini dia memakai pakaian pun tidak disiapkan oleh Rara, semakin aneh saja rasanya. Kembali berpikir pada kejadian semalam, apakah kemarahan semalam masih mengganggu istrinya? Purba tak habis pikir hanya karena keceplosan hingga merembet sejauh ini.


"Hah ... dasar masalah ada aja, yang satu belum beres muncul lagi yang satunya." Purba merasa kesal dengan masalahnya sendiri, seakan saat ini ujian datang lagi.


Beberapa waktu kemarin cukup bisa terkendali, masalah-masalah kecil sudah diabaikan. Masalah akan tetap ada memang, tapi sepertinya saat ini masalah besar harus kembali Purba hadapi.


Purba mencari Ibu mertuanya dan kedua orang tua yang masih berada di sana, kedua orang tuanya rencana pulang besok.


"Bu aku berangkat ya, Ayah aku berangkat," pamit purba pada orang tuanya, salim dengan mengecup punggung tangan mereka masing-masing.


"Em... Rara ke mana ya Bu? Kok aku tidak lihat dari tadi," tanya Purba, dia bertanya bukan pada Bu Sugeti aja, tetapi pada orang-orang yang ada di sana....


Bu sugede menyampaikan kepada Purba bahwa Rara sudah ke tokonya tadi pagi.


"Kenapa Ibu, biarkan? Nanti kalau ada apa-apa bagaimana?" Purba merasa cemas.


"Tidak apa-apa nak kalau yang menjalaninya merasa kuat berarti akan baik-baik saja," imbuh Bu Purwanti, ikut nimbrung untuk menjelaskan pada Putranya itu, yang terlihat sekali gurat ke khawatiran pada istrinya.


Namun, walau sudah dijelaskan, tetap saja Purba merasa khawatir. Malah intonasi yang terdengar kini seakan bernada marah. Biasalah, perhatian seorang pria terkadang kalau berlebihan seperti bernada kemarahan. Padahal, itu ada karena perhatian dan tak habis pikir.


"Nak, tenang saja. Wanita habis melahirkan akan baik-baik saja, selama mereka tidak mengangkat beban yang berat."

__ADS_1


Bu Purwanti berusaha menjelaskan kembali pada Purba, memang sebaiknya wanita setelah melahirkan harus memulihkan kondisinya kurang lebih 40 hari di rumah. sama halnya seperti bayi yang baru dilahirkan tidak boleh kemanapun sebelum 40 hari apalagi keluar rumah jauh.


Namun, dengan seiring perkembangan modern hal itu sudah dikesampingkan. meskipun Bu Sugeti dan Bu Purwanti adalah orang tua generasi zaman dulu, yang masih kental dengan budaya penuh dengan kata pamali, tapi mereka menyesuaikan dengan keadaan masa kini. jika memang anaknya siap.


Saat zaman dulu jika dilarang bayi keluar jauh setelah dilahirkan, karena hal-hal mistis masih kental dan masih jarang lampu untuk penerangan. Kemudian alat transportasi masih terbatas, sehingga dikhawatirkan bayi tidak nyaman terlalu lama di luar atau di perjalanan.


Semuanya memang untuk kesehatan si bayi dan ibunya, bukan semata-mata nanti akan ada kejadian yang di luar nalar kita atau berdosa karena tidak mengikuti aturan padahal itu hanya budaya kepercayaan masing-masing daerah.


"Ya sudah kalau begitu, tapi aku akan tetap ke toko dulu untuk melihat keadaan Rara," ucapan kemudian pamit dan berangkat.


***


Jalanan sudah cukup lengang karena waktu sudah pukul 09.00 lewat, sehingga orang-orang yang melakukan aktivitas perjalanan ke kantor ataupun ke sekolah, sudah berkurang. Sehingga tidak macet.


Tidak membutuhkan waktu lama Purba sudah sampai di toko kue AZ milik istrinya. langsung mencari Mayang, kebetulan orang yang Purbasari ada di depan sedang briefing bersama karyawan lain.


"Ibu di atas?" tanya purba langsung pada intinya.


"Tidak Pak, tadi ibu pergi mengantarkan," jawab Mayang.


Tadinya purba ingin mengomel, tapi percuma saja kalau mengeluarkan rasa kesalnya kepada karyawan. karena dia tidak akan mengerti apa-apa.


Purba tidak berniat mencari ke lantai dua, meskipun toko itu adalah haknya juga tapi Purba tidak ingin menyelonong seperti itu. Selain menyikat waktu, karena di sana ada orang sehingga alangkah baiknya purba bertanya bukan langsung ke lantai dua yang kemungkinan Rara pasti ada di atas.


Namun mobil yang biasa untuk kantor Rara juga tidak ada di parkiran, Purba percaya bahwa Rara memang sedang keluar.


Kini Purba meninggalkan toko kue tersebut, tapi tidak ke kantor, dia ke kantornya Mona.


Tiba-tiba dia teringat memang harus menyelesaikan masalah teror terlebih dahulu, tadinya Purba akan mengikuti alur saja, saat ini akan bekerja seperti biasa di kantor. Lalu nanti membahas masalah teror di rumah saat sudah pulang. Namun, sepertinya hal itu tidak bisa dibiarkan terlalu lama.


Jika sudah berbicara dengan Mona maka langkah selanjutnya supaya jelas harus seperti apa. Bahkan chat yang semalam saja kepada si peneror belum ada respon.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2