Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Mencuri Kemesraan


__ADS_3

Namun ada satu momen saat Mona ke toilet, Purba sempat mengecup Rara dan kebetulan itu hari sudah sore waktunya pulang.


“Mas, jangan terlalu lama, nanti Bu mana keluar,” ucap Rara.


Karena toilet yang digunakan bukan toilet umum untuk karyawan, tapi toilet yang masih ada di ruangan sana.


“Oke selamat pulang sayang, hati-hati di jalan,” bisik Purba kemudian kembali ke tempatnya.


Bizar yang menyimak kelakuan bosnya, dia seperti sebuah robot yang tidak peduli.


Meskipun dalam hatinya sekalipun, tidak ada sangkaan bahwa bosnya yang terlalu bucin, terlalu aneh karena melakukan perselingkuhan di depan orang lain. Tidak pula menyangka bosnya tidak punya rasa malu dan lain sebagainya. Itu Bizar tidak peduli.


 Karena Bizar juga harus berpikir, bahwa pasti ada alasan dibalik semua itu dan bukan urusannya, meskipun bosnya seperti itu yang penting dia bekerja sesuai kapasitasnya.


“Oke sayang, mari kita pulang.” Rara membalas singkat.


Setelah keluar dari toilet, Mona langsung merapikan meja Purba. Beberapa barang di ruangan itu benar-benar ia rapikan layaknya seorang sekretaris yang tidak ingin ruangan bosnya berantakan.


Kini giliran merapikan tempat kerjanya yaitu bersama Rara. Kemudian Mona berkata lirih.


“Ingat! Aku sudah jauh melangkah di depan kamu. Masih mau mencoba masuk dalam kehidupanku?” lirih Mona pada Rara sambil pura-pura merapikan meja kerjanya.


Rara hanya diam saja, karena kalau dia melayani tentu akan semakin panas dan membuat posisinya terancam lebih cepat.


Bedanya dengan dirinya diam, musuh tidak akan mengetahui strateginya. Cukup bersabar untuk menunggu waktu yang tepat untuk bom itu meledak. Itulah pandangan Rara.


Saat di dalam mobil menuju pulang, Mona termenung melihat jalanan yang cukup ramai dengan aktivitas orang-orang yang lalu lalang.  Ada yang sedang berkendara, baik yang sedang melakukan pekerjaan di luar gedung.


Ada rasa lelah pada diri Mona, kenapa dia tidak hamil-hamil juga, padahal untuk berhubungan intim hampir setiap hari.


Apalagi akhir-akhir ini aktivitas kantor dilaluinya setiap hari. Purba sempat memperingatinya untuk tidak terlalu menjadi beban berangkat ke kantor, ataupun paling tidak selagi menginginkan buah hati, Mona harus batasi untuk aktivitas seharian yang menurut porsinya terlalu berat.


“Tapi mas, kalau aku semakin lama tidak belajar untuk mengurus manajemen kantor, nanti aku semakin kaku dan takut tidak bisa lagi menahan godaan teman-temanku. Mereka masih selalu menghubungi.


Ya ... meski sebenarnya aku masih pengen main-main sama mereka.” Mona jujur pada Purba. Niatnya agar Purba menghargai usahanya untuk berubah menjadi istri yang baik.


“Di bawa santai aja, Ma. Mau main tinggal main, asal tau batasan.”


“Tapi, aku pengen punya anak dulu, Mas.”


“Ya udah, istirahatkan saja dirimu. Jangan terlalu capek, entah kurang apa lagi, kita hampir tiap hari melakukannya, bukan?”


“Ya, setidaknya kalau aku udah cukup menguasai pekerjaan di kantor, nanti aku istirahat deh, beberapa hari aku bisa melakukan kerjaan kantor di rumah. Dan kamu boleh memindahkan sekretarismu saat itu juga ya Mas?” bujuk Mona.


“Iya, baik. Terserah mama aja.”


“Kok tumben, Mas semudah itu mengiyakan.”

__ADS_1


“Maksudnya semudah itu bagaimana Ma?”


“Biasanya Mama kalau membahas tentang Rara, pasti ada pembelaan dari Papa, ada alasan yang panjang lebar, ada yang seakan tidak mau Papa jauh dari Rara.”


“Ah ... hsalah lagi, ya kalau memang udah harus seperti itu, ya gimana lagi? Mama pikir Rara itu siapanya Papa? Kalau memang kemarin-kemarin Papa ada alasan untuk Rara, ada pembelaan untuk Rara itu memang sesuatu yang tepat di situasi saat itu. Bukan karena hatiku ada apa, gimana sih, mulai aneh-aneh aja pikirannya.”


“Jadi bener nih? Kalau Mama udah bisa menghandle posisi sekretaris, Rara mau dipindah?”


“Iya ... gimana baiknya Mama aja. Mau dipindah divisi, mau dipindah perusahaan, terserah. Yang penting semuanya aman.”


“Yakin nih? Kok mama Jadi curiga, semudah itu?”


“Hah ... Masih aja dibahas, semudah itu, semudah itu. Udah deh mah, jangan banyak hal-hal aneh. Papah Ini lagi fokus untuk memikirkan event tiga hari lagi.”


“Oh, Iya ya, fashion show Nusantara itu tiga hari lagi kan? Baiklah, Mama juga akan mempersiapkan dari sekarang, harus tetap berpikir positif ya, Pah?” Mona mulai semringah lagi.


“Hem ....” Purba hanya berdeham.


Mona kemudian melingkarkan tangannya di lengan Purba, kepalanya bersandar di pundak Purba. Mona memejamkan mata menikmati sejuknya AC di dalam mobil dan merasakan nikmatnya bersandar di pundak sang suami selepas lelah kerja seharian.


 


**#


“Kok kusut?” tanya Retno, yang melihat Rara pulang dengan lesu.


“Beda loh, lesunya. Ada masalah ya?”


“Enggak, aku mau mandi ah,” ucap Rara langsung ngeloyor ke kamar mandi setelah menaruh tasnya.


Retno yang tahu betul karakter sahabat, yang tak mungkin sensitif kalau ditanya. Pasti ada apa-apa.


“Hem ... pasti tentang kekasih gelapnya. Bos yang malang, kini wanita kedua juga malang. Memang itulah risiko menjalin hubungan di atas hubungan. Sabar Ra ... sabar,” gumam Retno.


 


*##


“Ayah, Azky penen puyang,” rengek Azkya yang sedang makan bersama kakek neneknya, orang tua Gandi.


“Pulang ke mana? Ini kan rumah kita,” ucap Gandi.


“Tapi Azky penen ktemu Azka, nenek, bibi Lena.”


“Lupakan mereka, Azkya hanya punya Ayah, mba kakung dan Mbah Putri,” ucap Gandi yang sudah mulai dengan nada lebih tinggi.


“Hua ... tapi di sini Azky cedih. Gak ada temen, huaa... ayah jahat, Azky pengen puyang...,” Azkya turun dari tempat duduknya dan berlari ke depan..

__ADS_1


“Azkya tunggu!” Gandi berlari menyusul.


“Hem ... Gandi ... Gandi, merepotkan aja. Ngurus anak kecil, rewelnya minta ampun,” ucap ibu Gandi.


“Bapak juga heran, kenapa Gandi mengambil anak itu, kalau gak bisa ngurus. Kita lagi, nanti yang kudu sabar ngadepin anak kecil itu.”


Ibu dan bapaknya gandi, tidak terlalu benci pada Azkya, hanya saja mereka tidak ingin masa tuanya harus direpotkan lagi dengan merawat anak kecil.


**#


Azkya yang sudah sampai di halaman rumah, tertangkap oleh Gandi, meski dengan sang anak yang masih teriak – teriak ingin pulang ke rumah Nenek Sugeti.


“Azkya, kenapa Di?” tanya tetangga yang lewat.


“Entah Bu, dia gak mau makan,” ucap Gandi berbohong.


Si Ibu menghampiri Gandi, niatnya ingin membantu menenangkan Azkya.


“Cah bagus, ayo makan. Mau suapin sama ibu?” ibu itu menawarkan dengan tenang.


“Aku mau puyang, mau puyang ...,” teriak Azkya dengan masih diiringi tangisan.


“Lah ... dia mau pulang toh, Di. Anterin aja wes ... kasian toh,” jawab ibu itu, iba.


“Gak usah ikut campur!” ketus Gandi sambil membopong anaknya masuk ke rumah, padahal Azkya berontak.


Meski dengan susah payah, akhirnya Gandi bisa juga membuat Azkya diam. Sebenarnya Azkya diam bukan karena nurut Gandi, dia cape nangis terus. Dan nenek serta kakeknya juga baik padanya.


Kembali kita tahu, orang tua Gandi bukan benci Azkya, mereka masih punya hati, mereka hanya tidak ingin repot ada anak kecil. Jadi dengan terpaksa mereka juga harus baik pada Azkya. Karena Gandi, tidak ingin memulangkan ke keluarga ibunya.


**#


Event fashion show Nusantara pun akan tiba tiga hari lagi, Purba lebih sering mengingatkan Rara untuk rajin ke salon.


Purba merasa terinspirasi saat kemarin Rara berada di acara sosialita, dia akan menggunakan Rara sebagai model lokal, meskipun tubuhnya tidak menunjang sebagai model.


Akan tetapi parasnya yang bisa cocok menggunakan baju apa saja, Rara akan menjadi icon sebuah perusahaan bernama bonafit tekstil untuk contoh model kain tradisional.


 Hari yang ditunggu pun tiba, Rara akan berangkat dari rumah dijemput oleh sopir suruhan Purba. Karena beberapa hari ke belakang, Purba dan Rara benar-benar jaga jarak. Apa yang dilakukan Mona, semakin gencar untuk menjadi jarak di antara Purba dan Rara.


Meski Purba belum terbukti selingkuh dari Rara, tapi Mona tetap pada keyakinan instingnya, di antara suami dan sekretarisnya, pasti ada apa-apa.


Maka dari itu, Bizar pun tidak diperkenankan Mona untuk menuruti kemauan Purba, melayani Rara, salah satunya menjemput Rara.


Bukan Mona tidak peka atau tidak sadar, saat Bizar menyebut Rara dengan sebutan, Nona. Salah satu kecurigaan menemui satu tanda. Mengapa seorang sekretaris disebut Nona?


Bahkan, jika harus disandingkan, posisi Rara dan Bizar, lebih tinggi posisi Bizar sebagai asisten Purba dan bodyguard.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2