Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Rara Action


__ADS_3

Purba bangun seperti biasa, pukul lima pagi. Walau dia sudah menjadi orang kaya, disiplin waktu tak pernah lalai.


Diabaikannya Mona yang masih terlihat nyenyak tidur.


Purba jarang sekali sarapan di rumah. Tak selera rasanya, sudah punya istri seakan sama saja seperti lajang. Tak ada yang melayani kecuali ART.


Purba pun berangkat kerja tanpa pamitan pada Mona. Bizar sudah siap di dalam mobil, di depan rumah Purba.


**#


Sesampainya di kantor, Purba langsung diskusi serius bersama Rara, tenang ide dari Pak Gunawan.


“Bisa saya coba Pak. Kebetulan saya biasa membuat makanan tradisional waktu di kampung, untuk dijual ke pasar,” ucap Rara.


“Bagus, kalau bagitu kamu bisa coba besok sajikan saat rapat kantor. Di sana akan hadir beberapa klien dari perwakilan sponsor,” ucap Purba, senang sudah dapat jalan keluar meski belum seluruhnya.


“Tapi, Pak. Kenapa bapak tidak pesan saja? Bukankah banyak toko kue yang bisa menyajikan jajanan tradisional?” sara Rara.


“Aku sudah berpikir seperti itu, tapi aku akan study banding rasa terlebih dahulu. Mengapa perusahaan ini ada bagian konsumsi, itu karena tidak ingin mengandalkan makanan siap saji dari luar. Kita tidak tahu kebersihan dapur mereka. Nah, dalam hal ini juga, kalau bisa dari dapur kita yang membuat,” jelas Purba.


Rara mengangguk, dia ikut saja apa kata bosnya.


“Bapak belum sarapan ya?” tanya Rara.


“Kamu kok tahu?” tanya Purba.


“Hehe, tahu dong,” Rara menjawab dengan dengan tawa lirih. “Biar aku buatkan sarapan ya, Pak? Em ... Mas Bizar sekalian, mau?” lanjut Rara.

__ADS_1


“Eh, tidak usah. Biar Bizar pesan sama Sari saja. Kamu boleh bikin sarapan buatku,” Purba segera menjawab, sebelum Bizar mengiyakan.


Purba tidak ingin Rara habis waktu hanya untuk melayani orang lain.


Purba terus melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Rara pergi ke ruang konsumsi.


*#*


“Sari, tolong buatkan sarapan Buat Mas Bizar ya,” ucap Rara saat sudah berada di ruang konsumsi.


“Mbak Rara mau buat apa?” tanya Sari balik.


“Em ... apa ya? Pak Bizar biasanya kalau sarapan apa? Dia sering makan di sini, kan?” tanya Rara.


“Kalau Pak Purba bebas, setau saya. Kalau Mas Bizar makanannya jangan goreng-gorengan,” jelas Sari.


“Kalau gitu, kita bikin nasgor dan perkedel jagung. Buat Mas Bizar juga, sekali kali harus makanan enak. Jangan sayur dan buah-buahan terus, kasihan,” ucap Rara dengan tawa lirih.


**#


“Tara ... fried rice with corn cakes, siap di santap,” tutur Rara tiba-tiba, saat baru masuk ke ruangan Purba. Dengan menyebutkan menu makanan ala-ala master chef yang tayang di TV.


Purba merasakan aroma masakan yang sangat menggugah selera. Sudah lama rasanya dia tidak merasakan masakan rumah. ART di rumah seringnya membuat makanan modern. Nasi goreng pun pakai sosis, dagin sapi. Sarapan seringnya roti. Makan malam kadang-kadang, pokoknya Purba lebih sering makan di luar dari pada di rumah.


“Itu buat Bizar?” tanya Purba


“Iya, Mas Bizar sekali-kali harus makan ini. Biar ada gairah hidup. Jangan datara terus, hihihi,” Rara meledek Bizar.

__ADS_1


Bizar hanya diam saja. Mau keadaan apa pun, Bizar cenderung tak memiliki reaksi lebih. Paling kalau marah, waktunya beresin penjahat, wajah sangarnya makin terlihat.


“Kamu yang buatkan? Kan, sudah aku bilang, jangan buatkan untuk Bizar,” protes Purba.


“Tidak, kalau Mas Bizar, Sari yang buat.” Rara berucap bohong. Padahal dimasak sekaligus di wajan yang sama. Masa masak satu-satu, kan repot.


Purba sangat menikmati masakan Rara. Lahap sekali, satu porsi habis. Biasanya Purba kalau makan sedikit sekali.


“Oh ya, Ra. Kamu tahu dari mana, aku belum sarapan?” tanya Purba, setelah nenyantap suapan terakhirnya.


“Em ... tapi Bapak jangan marah ya?” Purba mengangguk, lalu Rara melanjutkan. “Aku tahu dari bau mulut Bapak, hehe ... biasanya kalau pagi-pagi orang bau mulut karena perut masih kosong. Walaupun sudah sikat gigi, apalagi kalau belum,” terang Rara.


Purba langsung terdiam, dia sedikit malu. Ternyata Rara sepeka itu saat dekat dengan dirinya. Apakah pada orang lain juga Rara seperhatian itu?


Sepertinya Purba selesai mengunyah, dia tinggal menghabiskan satu suap lagi perkedel jagungnya.


Saat Rara hendak pergi mengambil tisu yang ada di meja tempatnya bekerja, dia melihat Mona berjalan menuju ke ruangan Purba.


Rara tersenyum, dia akan melakukan sesuatu agar Mona salah paham lagi. Syukur-syukur marah beneran, agar tugasnya selesai menjadi pacar pura-pura purba.


Rara tidak jadi mengambil tisu, dia kembali lagi ke dekat Purba, dengan sengaja Rara mengambil minum, diminumkannya gelas sampai ke mulut Purba, padahal Purba bisa memegang gelasnya sendiri.


Sambil minum, Purba melirik ke arah Rara sambil menaikkan alisnya, tanda tanya. Kenapa Rara sangat memanjakan dirinya? Bahkan posisi Rara berdiri sangat dekat di samping Purba yang duduk di kursi kebesarannya.


Krek ...!


Pintu terbuka, benar saja, dia adalah Mona yang sejak tadi ditunggu kedatangannya oleh Rara.

__ADS_1


Mona melihat dengan jelas adegan di depannya itu. Mona terdiam menatap pemandangan yang ada di hadapannya.


Bersambung....


__ADS_2