
Bab113
Sementara itu di rumah Rara. Dia sedang menelepon ibunya menanyakan tentang kabar kebenaran. Apakah Gandi pergi ke Jakarta.
Namun, sayangnya Bu Sugeti tidak mengetahui berita itu. Biasanya jika ada kabar yang bisa dikatakan penting suka ada yang memberitahu, bahkan ibunya Retno pun tidak memberikan informasi apa-apa kepada Bu Sugeti. Ataukah mungkin belum? Karena belum ada waktu.
Soalnya dari rumah Rara ke rumah Retno cukup jauh, jika saat itu Bu Sugeti mendapat kunjungan ibunya Retno, karena memang penting untuk mengundang menjadi bagian dari acara pernikahan Retno.
Bu Sugeti juga merasakan was-was setelah mendengar kabar itu. Dia meminta Rara untuk lebih hati-hati, bila perlu meminta pengawalan dari orang suruhan Purba. Bu Sugeti percaya bahwa Purba bisa menjaga putrinya dengan baik.
"Tidak semudah itu memintanya Bu," ucap Rara.
"Kamu belum mencobanya, jujur saja katakan kabar apa yang kamu terima," saran Bu Sugeti.
Rara berpikir kembali setelah mendapat saran dari ibunya. Mungkin memang dia harus menerima lamaran Purba agar Rara tidak sungkan untuk melakukan haknya, yaitu salah satunya meminta apa yang diinginkan secara bebas, terutama memperjuangkan anak-anaknya.
"Ya udah Bu, tolong nanti kalau ada kabar kasih tahu Rara ya," pesan Rara sebelum mengakhiri panggilan.
Bu sugesti mengiyakan permintaan Rara, pasti dia akan mencari tahu. Jika ibunya Retno tidak datang, maka Bu Sugeti sendiri yang akan ke sana menanyakan kepastiannya, bahkan bila perlu akan mengunjungi rumah orang tua Gandi supaya jelas pasti.
Rara menutup ponselnya, dia yang sedang duduk di ruang tamu tiba-tiba menjadi berpikir berlebihan, dilangkahkan kakinya menuju pintu, dicek kunci ganda selain dari lubang kunci yang udah dipastikan aman, Rara juga menggunakan slot ada dua di pintu itu.
Kemudian beranjak mengecek jendela, takutnya lupa untuk dikunci. Begitu pun dengan jendela kamar, Rara jadi tidak bisa tidur malam ini.
__ADS_1
Bukan hanya was-was, dirinya seakan harus tetap terjaga takut ada suara-suara yang mencurigakan atau kecolongan. Siapa tahu memang Gandi akan tiba-tiba datang.
Setelah selesai dengan urusan pengecekan Kunci, lalu dibukanya ponsel dan melihat galeri. Rara sangat rindu dengan anak-anaknya. Terutama Azkia yang sudah lama tidak dilihatnya.
Air mata Rara tiba-tiba menetes. Entah mengapa pandangannya terhadap wajah Azkia di foto itu berbeda dengan Azka.
Azkia terlihat seperti pucat, anak kembar identik tapi kenapa saat ini terlihat berbeda. Entah naluri seorang ibu yang tajam hingga kepedihan Azkia dirasakan oleh Rara.
Akhirnya Rara tertidur di kursi, masih sambil memegang ponsel dan berada di sampingnya, dengan galeri yang masih terbuka menunjukkan foto Azkia dan Azka.
**#
Sementara itu di rumah Mona menantikan kejutan dari Purba, ini sudah hampir pukul sembilan malam. Kapan Purba memberikan kejutan itu?
Tapi dalam pikirannya, kemarin malam saja Purba sudah mengatakan akan ada oleh-oleh untuknya dari Singapura. Tapi apa?
Mona turun ke lantai bawah menuju Mbak Idah yang sedang beres-beres di dapur. Sedangkan Purba masih berada di ruang kerjanya.
"Sudah selesai mbak? Biar aku bantu," tanya Mona.
"Nggak usah Bu, tumben Ibu turun?" tanya Mbak Idah, yang sudah hampir selesai pekerjaannya.
Biasanya Mona tidak pernah turun setelah pukul delapan. Dia akan tetap di kamar sibuk dengan majalahnya, ponselnya, nonton tayangan kesukaannya atau bahkan memang sudah tertidur. Kecuali dia menanti permainan dengan Purba, maka akan menunggu suaminya selesai dari ruang kerja.
"Nggak tahu Mbak, tiba-tiba gelisah aja."
__ADS_1
"Kenapa Bu?" Mbak Idah, merasa khawatir.
Kemudian Mona menceritakan tentang kejutan dari Purba yang sempat diceritakan kepada Mbak Idah beberapa hari yang lalu.
Saat ini Mona belum mendapatkannya. Apakah Mona salah karena tahu lebih dahulu? Jadi seakan menantikan dengan tidak sabar.
"Bisa jadi perasaan seperti itu Bu. Kita tahu bahwa bapak akan ngasih kejutan, jadi kita hanya menanti seakan nggak waktu terasa lama," ungkap Mba Idah, memprediksikan.
"Tapi semalam Mas Purba bilang ada oleh-oleh buat aku, masa lupa mau ngasihnya kapan."
Mbak Idah menenangkan Mona, mungkin Purba benar-benar lupa karena saking sibuknya urusan pekerjaan.
"Soalnya aku lihat kalung itu bagus banget Mbak. Jadi nggak sabar ingin makainya dan yang bikin aku senang, Mas Purba pandai sekali memilih barang. Meskipun aku nggak pernah menggunakan perhiasan, tapi untuk yang itu aku suka banget," curhat Mona kepada asisten rumah tangganya.
Tanpa Mona dan Mbak Idah sadari, Purba menguping obrolan mereka.
Awalnya saat Purba hendak mengisi air minumnya, dia sempat ke kamar dulu. Mona tidak ada dan guci air di kamarnya pun kosong, sehingga Purba turun ke bawah untuk mengisinya.
Saat sampai pintu dapur mendengar istrinya dan Mbak Idah membahas tentang hadiah kejutan. Purba jadi berhenti ingin tahu kejutan dari siapa yang mereka bahas, ternyata Mona menantikan oleh-oleh darinya.
Purba seketika berpikir, berarti Mona tahu tentang kalung itu. Purba terus memutar otaknya. Bagaimana caranya untuk memberikan alasan kepada Mona bahwa kalung itu bukan untuknya? Dan semoga oleh-oleh yang dibawanya untuk Mona bisa mengobati antusias istrinya kepada kalung tersebut.
Bersambung...
__ADS_1