
Bab151
"Iya, aku tidak bisa memprediksi waktu kapan masalahnya selesai. Yang penting aku sudah kembali kan? Udah lah, Ma," ucap Purba, sedikit risi.
"Ya udah, iya. Terus kita mau langsung makan siang atau...?" tanya Mona menawarkan.
"Sebentar, lagi pula jam makan siang masih beberapa saat lagi. Ada beberapa hal yang harus aku cek terlebih dahulu."
"Oke," ucap Mona, dia beranjak dari kursinya, akan membawakan minum untuk Purba.
Saat Mona berbalik untuk menyerahkan gelas minum pada Purba, ada yang aneh pada penampilan suaminya.
"Mas? Di luar tidak hujan kan? Dan juga pakai mobil, tapi kenapa ...?"
"Kenapa, bagaimana Ma?" Purba menatap Mona yang awalnya fokus pada layar laptop.
Mona menepuk-nepuk jas Purba bagian dadanya, lalu diciumnya. Kalau dari aroma tidak bisa membedakan itu cairan apa, terlebih Purba menggunakan parfum kwalitas bagus. Tentu yang menempel di tangan adalah parfum pakaiannya.
Purba menunduk ke arah dada yang ditepuk-tepuk, dia baru sadar air mata Rara membekas di sana. Bagaimana bisa air mata begitu awet menempel di baju.
Tentu saja karena Rara menangis tidak berhenti saat di perjalanan dan Purba langsung pulang ke kantor, tanpa mengecek dengan detail, apakah ada tanda tanda yang berkaitan dengan istri keduanya atau tidak.
"Oh, ini. Tadi aku habis dari toilet."
"Kamu seperti anak kecil saja, Mas. Kalau tangan basah ada hand dryer atau tisu kan? Ngapain lap ke baju?"
"Iya Ma, tapi dalam kenyataannya alat-alat seperti itu sering kita lupakan saat kita terburu-buru.x
"Terus kenapa sampai basahnya sampai dada? Biasanya orang mengelap tangan ke pakaian bawah atau cuman di tap-tap, ini sepertinya jadi gosok-gosok, hingga airnya nempel terus," Mona menjelaskan secara rinci.
"Udahlah Ma, bahas apaan sih? Katanya kita mau makan siang, aku mau mengerjakan dulu beberapa biar gak terlalu numpuk. Supaya nati kita makan siangnya tenang."
__ADS_1
"Aku hanya ingin tahu saja Mas. Wajar kan?"
"Ya, wajar. Hanya saja wanita terlalu ingin detail, tidak bisa menyederhanakan pemikirannya. Aku baru saja dari luar, merasa tidak nyaman dengan segala interogasi ini, nanti serba dihubungkan dengan sudah-sudah, ujungnya," kesal Purba.
Mona kali ini percaya lagi hal yang menurutnya janggal, tapi bisa dijelaskan oleh Purba meskipun sedikit aneh penjelasannya.
Akan tetapi Mona sudahi saja, daripada berdebat panjang dan lama. Bukankah segala hal kemungkinan terjadi bisa saja dari pikiran kita? Bisa jadi Purba memang setelah cuci tangan menepuk-nepuk pundaknya, benar-benar merapikan pakaian padahal dia ke sana kemarin menggunakan mobil, tidak mungkin pakaiannya begitu berdebu, tapi ya sudahlah Mona tak ingin membahas lagi. Percuma.
**#
Sementara itu di rumah.
Pak Kukuh dan Bu Purwanti sedang berbincang di dapur bersama Mbak Idah, kedua orang tua Purba ingin tahu pengalaman anaknya saat dulu pertama menikah.
Mbak Idah tahu bahwa kedua orang tua Purba tidak pernah datang setelah acara pernikahan tersebut. Mba Idah juga tahu alasannya. Maka dari itu kenapa Pak Kukuh dan Bu Purwanti ingin memastikan. Apakah benar selama ini yang ia ketahui bahwa rumah tangga putranya tidak harmonis?
Akan tetapi Mbak Idah juga menceritakan perubahan-perubahan Mona sekarang ini, bahkan seringkali Purba pulang malam atau menginap keluar kota, Mona lalu terlihat kasihan menunggunya tanpa kabar, karena sering sekali ponsel milik Purba tidak aktif, jadi tidak bisa dihubungi.
Jika dulu Mona ditinggal Purba berapa lama pun tak jadi masalah, karena dia masih bisa main bersama teman-temannya atau teman-temannya yang datang.
"Lalu, kasus pria yang masuk ke sini itu bagaimana?" tanya Bu Purwanti.
"Kalau itu saya kurang tahu Bu, sama Mas Yusuf diberesinnya, tapi kelihatannya Bu Mona anteng-anteng aja. Mungkin sudah ditangani pihak berwajib," ucap Mbak Idah.
"Syukurlah ikut senang dengarnya, seseorang yang ingin berubah memang berat ujiannya," ucap Bu Purwanti.
"Iya Bu benar, makanya anak kita mau nik... em, maksudnya anak kita nikmati aja, seadanya ikuti takdir aja," ucap Pak Kukuh hampir keceplosan.
Tadinya Pak Kukuh mau mengatakan sampai godaan itu bisa jadi datang ke Purba, yang rencana nikah lagi. Siapa tahu itu hanya ujian rumah tangga.
__ADS_1
Namun, karena memang sudah terlanjur, ya sudah. Hanya saja Pak Kukuh membahas ujian itu bisa datang dari mana saja, di antara kedua pasangan itu bahkan nanti saat anak lahir bisa jadi anak adalah ujian. Entah dari akhlaknya, entah dari pergaulannya.
Tapi Mbak Idah sebenarnya tahu Pak Kukuh mau bilang apa, dia memiliki firasat. Karena sejak dia mendengar obrolan tentang Purba dan kedua orang tuanya di taman belakang, selalu terngiang-ngiang oleh Mbak Idah. Apakah benar majikannya akan menikah lagi?
"Oh ya Pak. Kapan kita ke rumah Pak Hartanto?" tanya Bu Purwanti, sudah hampir seminggu di sana tapi belum berkunjung ke rumah besan.
"Oh... hampir sama lupa. Ya ampun... baru ingat. Kenapa melupakan Besan ya? Saking banyaknya cerita di sini, hahaha." Pak Kukuh malah tertawa karena kelalaiannya tidak ingat waktu.
Ya udah Bu kita berangkat sekarang aja mumpung masih ada waktu, takutnya besok-besok kita kembali ke kampung, nggak bisa kelamaan juga kan liburannya," ajak Pak Kukuh.
Bu Purwanti menyetujui ajakan Pak Kukuh, kemudian mereka bersiap setelah pamit pada Mbak Idah takutnya mereka pulang malam dan Purba tidak mengetahui.
Mbak Idah kembali lagi pegang perkejaannya, tapi saat dia sedang mencuci piring, sambil melamun teringat sesuatu.
"Astaghfirullah.... Kenapa tadi aku cerita tentang Mas Bram dan kejadian itu? Ya ampun.... kalau sampai ke telinga Pak Purba gimana?" Mbah udah jadi balas sendiri.
***
"Mbak aku kan baru kelas 11, setahun lagi aku sekolah di sini," ucap Lena dari sambungan telepon yang dihubungi oleh Rara.
"Ya ampun... aku kok sampai lupa kamu baru kelas 11 ya. Em ... Bagaimana kalau pindah aja sekolahnya?" tiba-tiba Rara memberi saran yang cukup mengagetkan Lena.
"Apa Mbak? Pindah sekolah? Kayaknya berat deh."
"Kok berat. Kenapa? Sekolah kan sama aja pelajarannya, gitu-gitu aja."
Lena pun menjelaskan, bukan perihal pelajaran. meskipun ada sih terbersit takut tidak bisa mengimbangi pelajaran di kota besar, Lena berpikir orang kota itu aktif-aktif, lebih berat pelajarannya. Sekolah yang lebih ternama daripada di kampung, persaingannya juga mungkin lebih ketat. Terus teman-teman yang sudah akrab di kampung, berat sekali untuk meninggalkan.
"Itu hanya sementara waktu Lena, perasaan itu nanti juga akan hilang saat udah lama di sini. Bantu mbak lah kalau sendirian terus Mbak takut terjadi kaya kemarin lagi, terus itu toko baru. Kan mba belum terbiasa, tiba-tiba harus tinggal sendiri di sana."
"Bagaimana kalau Ibu aja sama Azka yang ke Jakarta? Dia kan masih TK, nggak jadi masalah keluar duluan. Lagian tinggal nunggu wisuda," Lena malah balik memberi saran.
__ADS_1
Bersambung....