
Bab 143
"Nak.... kamu di dalam?" tanya Bu Heti mengetuk pintu dan sedikit melongok di kaca.
Bu Heti terkejut melihat Azkia sedang duduk menunduk, tidak bergerak sama sekali, "Kenapa Anak itu?" batin Bu Heti.
Perlahan handle pintu ditekannya, bersyukur pintu tidak dikunci. Bu Heti masuk lalu menghampiri anak kecil tersebut.
"Nak. Kamu kenapa? Sakit?" tanya Bu Heti, ikut duduk di dekat Azkia.
Tangannya menyentuh tengkuk dan beberapa anggota tubuh Azkia, suhu tubuhnya normal. Bu Heti lalu mencoba meraih kepala Azkia agar terangkat.
"Astagfirullah .... Kenapa kamu Nak? tanya Bu Heti terkejut, dia melihat mata anak kecil ini yang sembab, seluruh wajahnya basah.
Bu Hetty melihat handuk yang tergantung, lalu diambilnya, kemudian diusapnya wajah Azkia.
__ADS_1
"Ada apa kamu? Disiksa lagi sama ayah?" tanya Bu Heti, iba.
Azkia menggeleng, lalu Bu Heti bertanya lagi. Sebenarnya Azkia kenapa. Kalau ada apa-apa, Bu Heti siap bantu. Namun, sepertinya Azkia tak ingin berbicara saat ini.
"Katakan pada ibu, biar kamu sedikit plong. Jangan memendam masalah, kamu masih kecil. Jangan memiliki sakit hati yang terlalu dalam, nggak baik.
"Dan, ibu juga nggak mungkin ninggalin kamu sendiri. Ayo! Kalau masih mau nangis, di tempat Ibu saja. Ibu tidak akan mengganggu, tapi kalau di sini tidak ada yang memantau. Orang nangis, dideketin setan nanti," bujuk Bu Heti.
Memang benar, bukan sekedar menakuti. Azkia masih kecil, mudah sekali pikirannya dimasuki hal-hal buruk, baik dari hal yang terlihat atau tidak. Terlebih ia masih polos.
Bu Heti diam sejenak, dia menunggu respon dari anak itu. Seorang anak kecil memang tidak bisa dipaksa, bahkan dinasehati pun tidak bisa seperti orang dewasa, akan mudah dicerna ucapan kita. Hal itu butuh waktu untuk sampai kepada hatinya.
Sementara itu di rumah Mona.
Mona sudah siap akan pergi ke kantor seperti biasa, gaya elegannya tak pernah lepas dari tubuh idealnya.
__ADS_1
"Sarapan udah siap Bu," ucap Mbak Idah menyambut majikannya saat datang ke dapur.
Mona tak merespons Mbak Idah. Dia sedang tidak ingin banyak bicara. Namun, jika Mbak Idah melihat Mona, dia akan menyaksikan senyum Mona untuk merespon sapaan Mbak Ida tadi. Sayangnya kini Mbak Idah sedang mencuci piring, jadi membelakangi Mona.
Mona menyantap hidangan seperti biasa, entah mengapa hatinya masih saja risau. Padahal dia tahu suaminya sedang ke tempat temannya dan jelas mereka sedang berada dalam keadaan darurat, tapi entah kenapa hatinya selalu cemas. Apakah hanya gara-gara pesannya tidak dibalas? Khawatir itu perasaannya. Seakan ada sesuatu yang hilang, keadaan ini sangat berbeda.
Mulut Mona tetap mengunyah. Namun tatapannya hanya entah ke mana.
"Bu, ini kemarin katanya minta salad, udah Mbak Idah buatin buat nanti makan siang, pasti segar," cap Mbak Idah sambil menyerahkan salad buah dan sayuran.
"Loh Bu. Ibu sakit?" tanya Mbak Idah terkejut melihat wajah Mona yang pucat. Padahal riasan wajahnya seperti biasa. Lengkap, dari lipstik, eyeliner blush on, pokoknya riasan wajah layaknya wanita yang pandai berdandan. Semuanya serba dipakai meski tetap kesannya natural. Lipstik pun bukan berwarna nude, tapi warna pink cerah senada dengan kulitnya yang putih bersih.
Bagaimana tidak keadaan gelisah terus, semalam ganti oli sendiri, perjuangan keras dengan tingkat stress lebih tinggi.
Purba... Purba... atau karma untuk Mona?
__ADS_1
Entahlah. Yang pasti jadi orang baik itu, sulit.
Bersambung....