
Apa sih yang kurang dari Mona? Secara fisik sangat menarik, malah mungkin laki-laki di luar sana pasti ingin mendapatkannya. Lah, ini malah Purba ingin membuangnya.
Hal itu didukung juga oleh Pak Kukuh. Dari sudut pandang laki-laki, Mona adalah sosok yang sempurna. Karena laki-laki biasanya memandang wanita dari fisik terlebih dahulu.
Bohong kalau pertama menilai dari karakternya, karena itu sulit. Pertama laki-laki ingin menyapa wanita karena apa? Pasti karena penampilannya menarik dan itu ada pada diri Mona.
Karakter bisa diketahui saat sudah cukup akrab dan terkadang karakter itu bisa dibuat drama. Berbohong, dibuat-buat.
"Ayah, Ibu, nggak tahu aja yang sebenarnya. Yang mengerti pasangan kita, ya kitanya sendiri, bukan orang lain. Semua itu tidak bisa dilihat hanya baru pertama kali bertemu. Apalagi aku kan sudah bilang, Mona memang sudah berubah," papar Purba.
"Iya... karena itu dia sudah berubah. Kenapa pikiranmu aneh? Mu menikah dengan wanita lain.
"Terlanjur," jawab Purba singkat.
"Apa Nak? Terlanjur? Jangan mempermainkan hati anak orang lain, jika kamu niat nikah sama Rara hanya karena keadaan rumah tanggamu yang kacau, lupakan! Lebih baik sekarang putuskan dia. Sebelum kalian benar-benar resmi."
Ayah Purba cukup terkejut. Mengapa anaknya saat ini menjadi sosok yang tidak bertanggung jawab? Hanya mengikuti nafsu, tanpa dipikir dengan matang.
Bu Purwanti hanya bisa diam. Dia terbengong. Tak percaya akan jalan pikir anaknya.
"Maksud aku bukan terlanjur aku memanfaatkannya. Tapi karena terlanjur aku mencintainya dan sulit untuk melepasnya, Yah. Kenyamanan itu tidak bisa direncanakan, juga tidak bisa diatur," ucap Purba.
"Oke! Baiklah. Ayah bisa memaklumi. Benar kata kamu, kenyamanan itu sulit direncanakan, juga tidak bisa dipaksakan. Tapi kamu harus memikirkan lagi dengan matang, pertimbangkan risikonya."
"Kami sudah siap, Yah. Bahkan sudah memiliki usaha yang dalam waktu dekat akan dibuka."
__ADS_1
Mereka terus berbincang sampai waktu hampir petang hingga pindah ke dalam ruangan lalu menikmati makan sore dan keseharian mereka dilakukan sewajarnya
Malam hari purba dan Mona peking sekitar pukul 08.00 sedangkan kedua orang tuanya beristirahat di kamarnya.
**#
"Akh! Sakit Yah...! Sakit!" teriak Azkia di tengah isaknya.
Azkia meringkuk di sudut ruangan, terduduk, dengan kedua tangan diletakkan di tengkuknya, dia menunduk menahan sabetan sapu lidi dari ayahnya yang kalap.
"Mau ngapain kamu, hah! Buka-buka HP Ayah. Kurang ajar! Sejak kapan kamu seperti itu? Siapa yang ngajarin? Makanya Ayah nggak kasih kamu kuota, biar gak nakal. Gak nonton YouTube, game, tetep aja bandel. Kaya gini, nih. Hasilnya jadi anaknya kurang aja!"
Gandi menghardik anaknya habis-habisan, dia tak sadar bahwa hang didepannya itu adalah anak kandungnya.
Sebelumnya Azkia ketahuan sedang memegang ponsel Gandi.
Azkia pikir ayahnya akan tidur seperti biasa dengan pulas, karena sudah mendengkur. Mungkin Azkia juga kurang hati-hati, terburu-buru saking menggebunya mencari nomor ponsel yang ia kenal di HP Gandi.
Namun, saat Gandi menggeser badannya mungkin merasa ada sesuatu gerakan yang mencurigakan, makanya mata Gandi terbuka lalu terbelalak saat melihat Azkia berada di depan meja dekat TV dan terlihat dengan jelas sedang memegang hp-nya.
Lalu Gandi bangun, langsung menjewer telinga Azkia. Ponsel pun terjatuh dua-duanya, karena Azkia memegang satu ponselnya untuk nanti kalau kunci layar hp sang ayah sudah terbuka, Azkia akan langsung mencatat nomor telepon itu.
Gandi langsung marah-marah kepada Azkia, tak peduli tetangga merasa terganggu karena teriakan Gandi. Namun, anak kecil itu belum sempat memberikan alasan, Gandi sudah meradang.
Beberapa kali Azkia berucap, terputus oleh suara Gandi yang keras.
__ADS_1
Gandi tak henti berteriak, kemudian langsung mengambil sapu lidi yang ada di luar. Sampai saat itu Gandi masih bisa mengontrol amarahnya, tidak menggunakan sapu ijuk. Sapu yang biasa digunakan untuk lantai, tak terbayang kalau menggunakan itu, karena pasti keras dari gagangnya. Tubuh Azkia bisa remuk.
Tangan Azkia sudah merah-merah kena sabetan sapu lidi. Kulitnya terasa perih, meski tidak terlihat darah, namun goresan itu membuat sekujur tubuh pegal dan ngilu.
"Hikz ... Yah.. sakit, yah ....sakit." hanya itu yang bisa diucapkan Azkia.
**
Bu Heti yang mendengar teriakan Azkia, merasa risau. Dia tidak bisa diam saja, lalu meminta pada suaminya untuk membantu anak kecil itu.
"Tapi Bu, kita nggak bisa ikut campur urusan orang lain. Nanti salah-salah kita kena masalah baru dan disalahkan juga." Suami Bu Heti tidak berani gegabah.
"Tapi itu anak kecil, Pak. Gak ngerti lagi ibu, dia diapain sama ayahnya, sampai bilang sakit-sakit gitu. Ayo Pak... Ayo!"
Bu Heti menarik-narik tangan suaminya, agar mau datang ke kamar Gandi.
"Berdoa aja, Bu. Semoga anak itu baik-baik aja," ucap suami Bu Heti.
"Iya berdoa sih, berdoa Pak. Tapi berdoa itu nggak seperti makan cabe, bisa langsung berasa pedasnya. Langsung tokcer dikabulin."
Bu Heti sudah tidak karuan perasaannya. Mendengar kegaduhan itu dari kamar Azkia.
Bu Heti nekat keluar rumah, suaminya menyusul, mencoba menghentikan istrinya yang berjalan cepat sambil menyicingkan gaun dasternya. Dia benar-benar ingin tahu keadaan Azkia. Takut terjadi di luar kendali.
Bersambung....
__ADS_1