
Bab103
Bu Warung tersebut langsung menghampiri Azkia, dia duduk di samping anak kecil itu kemudian mengusap punggungnya dan memegang keningnya. Bersyukur dia masih sehat, hanya sedikit dingin, mungkin karena udara.
"Kamu mau ke toilet Nak?" tanya Bu warung dengan lembut.
Azkia hanya mengangguk. Untung saja Azkia menggunakan sendal, bukan sepatu, jadi tidak repot kalau mau ke toilet. Sendalnya juga sendal dari karet, jadi tidak apa kalau terkena basah. Ibu warung dengan senang hati membawa Azkia ke kamar mandi.
Azkia mengikuti Ibu warung tersebut masuk ke warung, ada pintu yang ternyata ke belakang cukup luas, bukan hanya sekedar dapur.
"Tapi Azkia mau BAB, Bu. Takut nggak bersih ceboknya," ucap Azkia sebelum masuk ke toilet.
"Tapi kamu udah bisa cebok sendiri?"
Azkia mengangguk.
"Udah nggak papa, nanti kalau nggak bersih biar ibu yang bersihin. Tuh sabunnya di sana, biar harum ya...."
Azkia mengangguk lagi, pintu kamar mandi pun ditutup. Ibu warung kemudian ke depan menemui suaminya lagi.
Maksud Azkia adalah, dia takut bab nya belepotan, toiletnya jadi tidak bersih.
**#
"Pak, belanjanya nanti aja kalau anak itu sudah tidak ada, nggak tega Ibu melihatnya." Bu warung merasa iba pada Azkia.
"Iya, tenang aja. Barang-barang masih cukup kok," sahut suami pemilik warung.
**#
__ADS_1
Saat Gandi mencari WC umum dia kebetulan melintas pada sebuah kumpulan laki-laki tapi beda-beda generasi. Mereka tidak bisa disebut remaja atau pun bapak-bapak, karena sepertinya campuran ada yang sudah tua ada yang masih muda.
Tidak sengaja Gandi mendengarkan tentang perjudian, arisan tante-tante. Telinga dia tajam kalau untuk mendapatkan uang dengan cara mudah.
Gandi memiliki akal, dia pura-pura bertanya kepada sekelompok laki-laki tersebut.
"Maaf Mas, Pak, saya mau tanya. Toilet umum di mana ya?"
Akhirnya Gandi menanyakan sesuatu yang dicari pada salah satu laki-laki di sana, sementara laki-laki lainnya tetap berbincang membahas apa yang menjadi kebiasaan mereka.
"Kalau dekat sini nggak ada Mas, paling ke sana tuh di terminal," jawab laki-laki tersebut.
Jika ke terminal, tentu harus balik lagi seperti semalam. Jaraknya cukup jauh. Rasanya nggak ingin lagi Gandi untuk kembali jauh lagi ke sana.
"Oh iya, kalau begitu makasih. Eh tapi saya dengar-dengar sedang ada yang membutuhkan bronis?" tanya Gandi dengan mata dan alis yang bergerak naik turun, mengarah kepada laki-laki yang masih berbincang terlihat serius.
Laki-laki yang ditanya oleh Gandi mengamati sosok Gandi dari atas sampai bawah. Dia berpikir sudah tidak layak Gandi disebut bronis. Namun, jika untuk mainan bagi istri sultan yang kesepian bolehlah, Gandi cukup memiliki penampilan yang menarik. Hanya saja mungkin karena saat ini dia belum mandi, jadi seperti kusut dan tidak menarik.
"Kalau untuk hal seperti itu tidak, tapi saya terbiasa bermain," ucap Gandi, mereka paham hanya dengan kata bermain.
"Baiklah akan aku pertemukan kamu dengan wanita itu."
Alhasil Gandi mendapatkan lumbung uangnya, daripada menemukan toilet yang ia cari.
Tentunya untuk menambah bekalnya selama di kota, dia tidak mungkin mengandalkan uang yang diberikan orang tuanya dari kampung. Biaya di kota tidak cukup dengan uang sedikit. Meskipun menurut hitungan, uang yang dibawa Gandi untuk tinggal di kampung itu banyak sekali.
Karena Gandi tidak ingin hidup susah di Kota. Apa pun akan dia kerjakan, asal tidak kerja kasar.
"Nanti kita janjian sore pukul 04.00 dan kamu harus memperbaiki penampilan, jangan seperti ini."
__ADS_1
"Siap bro," ucap Gandi sudah mulai merasa akrab.
Gandi kembali ke tempat Bu warung yang tadi, dia melihat Azkia sudah berganti pakaian. Di depannya sudah ada air teh hangat. Akan tetapi Gandi tidak tahu kalau itu adalah teh manis yang diberikan secara cuma-cuma oleh pemilik warung khusus untuk Azkia.
Azkia juga sebenarnya sudah makan dengan nasi hangat m, sayur ayam dan beberapa gorengan sesuai yang diinginkan oleh Azkia.
Beruntung Azkia bisa diajak kompromi oleh ibu warung. Ibu warung meminta jika Azkia ditanya Sudah makan belum oleh ayahnya, Azkia harus mengatakan belum. Karena Ibu warung yakin, jika Gandi hanya akan memberikan makanan ala kadarnya kepada anaknya itu.
Tentu jika Azkia mau makan lagi dari pemberian ayahnya, itu tak masalah, karena tidak akan membuat perutnya kekenyangan. Soalnya hanya sedikit makanan yang Gandi kasih.
Jadi lebih baik berbohong saja. Jika Azkia tidak mendapat makan sampai siang pun sepertinya tak masalah, karena dari pagi sudah cukup kenyang dari makanan yang ibu warung berikan.
"Kamu udah ganti baju? Berantakan nggak tasnya?" tanya Gandi pada Azkia.
Azkia menggelengkan kepalanya.
"Cuciannya ditaruh di mana?"
"Di kresek, yah. Udah kia pisahin."
"Bagus, sekarang kamu mau makan apa?"
Azkia melirik kepada etalase lauk pauk. Melihat tatapan anaknya pada ayam goreng, perkedel, telur balado dan tentu Gandi tidak akan memberikan hal itu, karena mahal.
"Nggak usah banyak memilih, nanti setelah di rumah sendiri, Ayah yang akan masak. Kalau beli jadi mahal. Udah sama gorengan lagi aja dan nasi satu juga cukup. Perut kamu masih kecil," ucap Gandi sambil membawa nasi timbel yang sudah tersedia pada tumpukan di atas piring.
"Nih makan," perintah Gandi dengan satu biji gorengan bakwan.
Sementara Gandi membawa nasi timbel 2 dan gorengan beberapa biji.
__ADS_1
"Kamu tidak usah memperhitungkan apa yang Ayah makan. Ayah ini orang besar, butuh banyak makan, butuh banyak tenaga," ucap Gandi karena melihat tatapan Azkia Yang sepertinya ingin berkata tidak adil, pada ayahnya itu.
bersambung....