Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Hasutan


__ADS_3

Bab142


Ya, itulah Gandi yang menerima kabar bahwa pernikahan Rara dengan Purba telah berlangsung. Dia memutar otak saat ini, belum saja membalas sakit hatinya kepada Rara, sudah ditambah lagi berita buruk baginya.


Azkia yang baru datang dari kamar mandi terkejut, melihat ayahnya dengan bermuka merah. Wajah Gandi bergetar, urat-urat di keningnya kelihatan. Tadinya Azkia mau bertanya tapi takut.


Bola mata Gandi diarahkan pada anaknya, yang masih berdiri mematung di dekat pintu. Tatapan Gandi sungguh tajam. Azkia semakin takut.


"Kamu masih mau bertemu ibumu?" tanya Gandi tiba-tiba.


Mata Azkia berbinar dia mengangguk dengan antusias tanpa berpikir ada yang aneh dalam pertanyaan Ayahnya. Anak kecil tidak tahu hal drama seperti itu, apa yang didengarnya itulah yang sebenarnya.


Gandi tarik napas cukup dalam. Dia ingat apa kata Daryanto, jika ingin mengambil hati anak, jangan terlalu keras pada anak sendiri.


Karena saat tidak bisa membalaskan rasa sakit hati kepada Rara, dengan tidak memberikan Azkia pada ibunya, itu adalah sebuah luka untuk seorang Rara. Hati ibu mana yang akan baik-baik saja jika dijauhkan dari anaknya? Meskipun ada anak yang lain, tetap terbayang terus setiap saat, dengan anak yang tidak ada.


Walau Rara terlihat baik-baik saja, karena dia memilih untuk terus menjalani hidupnya. Daripada terpuruk memikirkan yang belum pasti. Dia serahkan keselamatan Azkia dan pertumbuhannya kepada sang Kuasa. Meskipun Rara sangat khawatir, bagaimana jadinya jika Azkia ada di samping ayahnya yang memiliki pergaulan bebas, mabuk-mabukan, berjudi dan bermain wanita.


"Lihatlah!" ucap Gandi menyerahkan ponselnya pada Azkia.


Perlahan kaki mungil tersebut melangkah menghampiri sang Ayah lebih dekat, tangan kecilnya menjulur meraih ponsel dengan layar sudah pada menu galeri foto.


Azkia mengamati siapa saja yang ada di dalam foto itu, bukan karena lupa wajah ibunya, tapi memang di foto itu cukup ramai. Ada beberapa orang, terlebih mereka semua pakai riasan, jadi tidak mudah dikenali. Cukup lama untuk Azkia meneliti siapa saja orang-orang itu.


Namun, saat tertuju pada anak kecil yang serupa dengan dirinya, dia paham itu adalah Azka, saudara kembarnya. Lalu sang nenek yang tidak begitu memakai riasan jadi sangat mudah dikenali, tiba-tiba air mata Azkia mulai menggenang di bola matanya. Ada rasa luka di hatinya.


Bukan tidak senang ibunya menikah lagi, tetapi Azkia tidak berada di sana, seakan orang-orang tidak tidak menginginkannya lagi, seakan nenek, tantenya dan Azka lupa pada Azkia.

__ADS_1


"Ayah. Apa ini ibu?" tanya Azkia dengan suara yang bergetar.


"Iya itu ibumu. Dia berbahagia tanpamu bukan? Kenapa kamu terus mencarinya? Percuma kamu usaha buat bertemu, belum tentu dia senang kau berada di sampingnya."


"Tapi, Ibu tidak gitu," lirih Azkiya.


"Kalau ibumu tidak begitu. Ngapain dia menikah dengan orang lain? Lihat saja betapa bahagianya kan? Kalau memang dia menyayangimu, merasa berat hidupnya saat kamu tidak ada, pasti akan menunggu kamu untuk datang. Bukan malah menikah lagi."


Gandi berusaha memanasi Azkia, dengan memberikan statement untuk mencuci otak anak kecil itu. Agar anak itu membenci ibunya. Sehingga Gandi tidak akan direpotkan lagi seorang anak yang merengek ingin mencari ibunya.


Azkia menaruh ponselnya di atas meja, dia cukup sekali saja melihat foto itu. Jelas wajah mereka yang tersenyum, Azka yang berada di antara ibu dan ayah barunya, nenek dan tante Lena yang juga terlihat bahagia dalam pernikahan itu.


Beta pun kuat hati seorang anak yang terikat batin dengan ibunya, jika masih polos seperti itu dia mudah terhasut juga. Merasa dirinya memang tidak diinginkan, karena ada dan tidak ada Azkia Itu tak masalah. Seorang Azka saja sudah cukup di tengah mereka. Itulah pemikiran Azkia, mulai muncul rasa iri pada saudara kembarnya.


"Sudah nggak usah dipikirkan. Banyak aktivitas biar tidak merasa sedih dan juga kenapa harus sedih jika orang sudah tidak menginginkan kita ya sudah. Kita bisa hidup tanpa mereka. Jangan jadi cengeng. Kamu anak laki-laki," ucap Gandi.


Gandi meraih jaketnya, tak lupa ponsel yang berada di atas meja, kemudian ke luar.


Azkia yang belum berhasil membuka ponsel ayahnya, untuk mencari kontak orang yang dia kenal rasanya percuma. Tak perlu lagi berusaha payah Azkia mencari orang-orang yang dicintainya.


Kia berjalan dengan gontai, duduk di pojokan. Kedua kakinya ditekuk lalu dipeluknya, dagu mungilnya berada di atas lutut, pandangan lurus ke depan entah pikirannya berada di mana.


Pundak anak kecil itu mulai bergerak tak teratur, tak lama terdengar Isakan lirih.


'Ibu... kenapa nggak nunggu Kia pulang kalau mau punya ayah baru, kia mau tahu ayah barunya seperti apa. Kia mau dengar saat Ayah baru mencintai ibu, hikz. Nanti kalau seperti ayah yang sekarang ibu sakit lagi.


Hiks... hiks, kia sayang ibu, tapi kenapa ibu bisa bahagia tanpa Kia. Maafin kalau Kia nakal, maafin Kia sering banyak jajan, maafin Kia sering merepotkan hingga Ibu sepertinya tidak ingat Kia lagi. Karena Kia anak yang sering menyusahkan ibu ...

__ADS_1


Ibu ... Kia tidak benci ibu, kata Pak Ustad kalau benci ibu itu dosa, tapi Kia kesel aja, Kia ingin marah kenapa Ibu nggak nungguin Kia. Memangnya ibu mau punya bayi baru lagi?


Hingga buru-buru menikah? Kia sebentar lagi punya cara untuk bertemu ibu, Kia sedang berusaha untuk bertemu ibu.'


Bibir anak kecil tersebut meracau tidak jelas, apa yang diucapkan kata-katanya campur aduk entah ke mana, sesuai apa isi hati dan pemikirannya. Entah itu salah atau benar, perkataannya muncul dari hati yang kesal dan kecewa.


Air mata tak terelakkan lagi untuk menetes, kakinya basah terkena air yang tak sanggup di bendung lagi dari bola mata yang kini sudah memerah, sakit hatinya tak bisa terhindarkan lagi.


Sementara itu Bu Heti merasa khawatir, tumben sekali sudah pukul sembilan, mengapa Azkia belum datang ke tempatnya. Kemudian Bu Heti buru-buru menuju ke kamar kontrakan Gandi.


Bersambung....


Jreng jreng ... dan inilah pemenang give away .


Readers terajin support.


πŸ’•ANISA


πŸ’•mrs.ade cahya


πŸ’•H A P P Y fang...


Walau hadiahnya hanya pulsa, semoga berkenan ya. πŸ™ Ini hanya hadiah hiburan, seru-seruan aja.


Untuk tiga nama yang saya sebutkan, kirim nomor ponsel yang akan dikirim pulsa ya... DM ke IG saya aja.


Terima kasih sudah sering mampir, semoga karya saya selalu bisa menghibur. πŸŽ‰

__ADS_1


__ADS_2