Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Di Mana Pun Hajar


__ADS_3

Bab 154


"Langsung ke toko, ya!" Perintah Purba pada Bizar, saat sudah masuk di dalam mobil.


Tidak terlalu lama Purba sampai di toko Rara, sangat terang rupanya. Masih ada aktivitas di sana, karena waktu menunjukkan belum pukul tuju, masih cukup siang untuk ukuran malam.


Purba turun segera disambut oleh Rara, seperti biasa mereka selalu bersikap mesra terlebih sudah sah menikah.


"Aw- aw -aw- aw, Pak, Mbak Rara, kalau mau mesra-mesraan jangan di depan jomlo dong, jadi pengen nikah," ucap Vira bercanda, sambil menutup matanya dengan tangan.


"Hahaha, ya tinggal nikah aja. Banyak karyawan kan di kantor?" ucap Purba.


"Nggak mau, ah. Kalau senasib seperjuangan, repot. Aku mau cari yang kayak Bapak."


"Oh ... jadi mau jadi istri kedua?"


"Enggak - enggak, maksudnya dari ganteng dan kayanya sama."


"Makanya ucapan dijaga, takut jadi doa," imbuh Rara.


Vira merasa nyaman jika bercanda dengan Purba dan Rara, dibandingkan Purba dan Mona. Meskipun Mona sekarang sudah berubah. Namun, Vira nelum berani untuk hanya sekedar basa-basi kalau tidak didahului oleh Mona.


Tentang istri kedua pun sudah bukan jadi rahasia lagi untuk Vira, makanya mereka membahas hal itu. Tidak ada maksud meremehkan atau merendahkan status istri kedua, atau mempermainkan hubungan. Karena memang Rara adalah istri kedua, meskipun nikah siri. Jadi saat mereka bercanda, sudah tak akan ada rasa tersinggung.


Purba mau ngecek beberapa etalase, meja kasir dan beberapa kursi untuk pengunjung.


"Ini tinggal ditempel beberapa hiasan dinding, ya ?" tanya Purba mengontrol beberapa sudut ruangan.


"Iya, nanti akan aku pikirkan hiasan apa yang tepat dan pastinya beberapa menu kue beserta gambar yang menarik. Untuk menggugah selera konsumen yang baru saja masuk, hingga tertarik untuk memilih menu sesuai yang digambar terutama."


Purba manggut-manggut, kagum dengan cara marketing rata, biasanya orang akan masuk ke sebuah toko baru memang melihat sekitar.


Saat ada beberapa gambar yang menggugah selera, otomatis dia akan mencarinya di etalase, gambar mana yang serupa.


Sedangkan di etalase itu banyak jenis kue lain yang bisa dipilih, hingga akan tertarik lagi dengan bentuk warna dan toping yang membuat penasaran ingin mencicipi semuanya.


Rara juga menceritakan tentang beberapa karyawan yang diminta pada Fira, untuk dicarikan sesuai dengan posisi yang Rara butuhkan.


Selagi Purba dan Rara melihat sudut-sudut ruangan dan memperbincangkan rencana – rencana kedepannya, Vira dan Purba malah asik mengobrol sambil memakan beberapa camilan yang dibeli Vira tadi saat di antar Bizar ke tokok.


"Jadi kalian yang menata semua ini?" tanya Purba setelah banyak berbincang dengan Rara.

__ADS_1


"Iya Pak, cuman saya sama Mbak Rara aja. Ya... meskipun etalase yang berat-berat tadi sama Pak sopir dan kernetnya. Hanya penataan kursi dan barang ringan yang kaya gini gini-gini ya kita atur," ucap Vira sambil menunjuk beberapa barang yang dimaksud.


"Oke, makasih ya! Jangan khawatir, akan ada bonus atas loyalitas kamu," ucap Purba sambil menepuk pundak Vira.


Purba lanjut ke lantai dua, dia hanya tahu dari pemilik toko sebelumnya bahwa bangunan itu ada dua lantai dan ada kamar toilet di atas serta dapur juga. Jadi, di atas adalah bisa sebagai hunian. Dan Rara juga naik ke lantai dua, mengekor Purba.


"Cukup nyaman juga, jadi aku tidak khawatir saat meninggalkanmu di sini," ucap Purba.


"Iya Mas, cukup nyaman kok. Malah lebih dari cukup, hanya bedanya di lantai satu kan kalau malam tidak ada yang menempati, jadi takut aja kalau benar-benar sendiri."


Purba manggut-manggut merespon ucapan Rara.


"Hanya saja, di sini nanti harus diberi AC. Rasanya gerah, tapi kalau harus buka jendela malam-malam nggak baik." Purba masih berkeliling melihat lantai dua.


Kemudian Purba melonggarkan dasinya, lalu menaruh jasnya di sandaran kursi yang ada di sana.


Sambil terus berkeliling mengitari ruangan Purba melonggarkan kancing tangan kemejanya.


"Oh ya, lupa Mas. Aku belum bikinkan Mas minum."


Rara segera beranjak menuju kitchen set di sana. Lalu membuatkan Purba teh hangat, saat sudah selesai, saat Rara akan berbalik tiba-tiba ...


"Aw!"


"Maaf Mas, ...," Rara yang baru saja mengatakan minta maaf langsung di bungkam oleh Purba dengan bibirnya.


Rara gelagapan mendapat serangan tiba-tiba dan Purba tidak peduli, Rara yang masih memegang cangkir teh dengan perlahan oleh Purba diambil lalu ditaruhnya pada meja kitchen set di belakang Rara, sambil terus bibirnya aktif.


Rara masih panik, dia belum bisa menyesuaikan pernapasannya. Purba melepasnya sebentar, tapi saat Rara mau bicara Purba langsung menyantapnya lagi. Purba pikir, memberi kesempatan Rara agar bisa mengatur nafas sesaat. Namun, sepertinya ingin mengomel jadi dihentikan lagi oleh serangan ciuman.


Bukan Purba namanya kalau serangan itu hanya di satu tempat, sepertinya Purba memang orang yang rajin dan teliti. Sebagaimana dia mengatur perusahaannya secara detail, begitu juga dia secara detail menyusuri tubuh Rara secara teratur, tidak langsung menuju tempat lain secara acak.


Berurut dari bibir ke leher dengan waktu yang konsisten, juga bukan Purba namanya kalau tidak bisa aktif dan kreatif sejak tadi tangannya sudah berhasil melepas beberapa poin kancing pada pakaian Rara.


Deru kendaraan di pinggir jalan dan panasnya suhu di ruangan lantai dua sudah kalah dengan deru nafas mereka berdua yang sedang dimabuk cinta dan suhu tubuh mereka yang seperti berada di ruangan tanpa fentilasi.


Rara yang beberapa kali mencoba menolak karena tempatnya tidak memungkinkan, dia takut tiba-tiba Vira naik ke atas, tapi Purba tak peduli dengan bibir Rara yang terus meracau.


Ucapan Rara ingin menghentikan, namun bercampur dengan suara-suara kenikmatan sehingga tidak Purba gubris.


Purba mebopong tubuh Rara yang sudah terasa semakin lunglai, tak sanggup lagi melakukannya secara berdiri.

__ADS_1


Ditaruhnya tubuh Rara di atas ranjang dengan perlahan, seakan menaruh bayi yang hendak tidur, begitu lembut beserta kecupan di sana-sini, layaknya orang tua yang gemas terhadap bayinya.


Purba beranjak sedikit ke tombol lampu di dekat pintu, agar mereka bisa lebih bebas bermain.


"Mas. Kenapa main di sini?" tanya Rara di sela Purba melangkah setelah mematikan lampu.


"Tempat ini, baru dan harus kita rayakan terlebih dahulu." Purba langsung melancarkan lagi aksinya lagi, dengan waktu singkat kain penutup tubuh mereka berserakan di mana-mana.


Sedangkan di lantai bawah Vira masih asik mengobrol dengan Purba.


"Mas bizar, kok Pak Purba lama ya di atas? Ini nggak kemaleman apa? Udah jam delapan. Ah, biar aku tengok aja," ucap Vira sudah berdiri dari duduknya.


Namun, bizar dengan sikap menghentikan Vira. Bizar paham, jika Purba lama dengan Rara berarti mereka tidak ingin diganggu untuk sementara.


"Takutnya kemaleman aja," ucap Vira lagi.


"Lagian apa urusan kita? Bos kemalaman atau enggak itu urusan dia kan?"


"Hehe, ya juga sih." Fira nyengir kuda.


"Ya udah deh," akhirnya Fira kembali duduk dan menikmati camilannya, meskipun dia udah ngantuk pengen buru-buru tidur.


"Oh iya, lupa." Tiba-tiba Vira seperti mengingat sesuatu.


"Kenapa?" tanya Bizar.


"Sini - sini." Vira meminta Bizar untuk lebih dekat padanya, seperti Vira akan membisikkan sesuatu.


"Apa mungkin Pak Purba dan Mba Rara, berbulan madu di atas?" bisik Vira dengan mata melotot, seakan itu adalah penemuan yang istimewa, berita yang berharga untuk diinformasikan pada Bizar.


Bizar mencolek hidung Vira dengan telunjuknya, "Kirain apa," ucap Bizar."


Untuk Bizar tidak heran dengan penemuan Vira, karena sudah biasa, sudah hafal betul gerak-gerik tuannya kalau sedang bersama pasangannya dan itu lama, pasti sedang ada apa-apa masalah kebutuhan rohani.


Bersambung....


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2