
(Maaf ya, kalau banyak typo, semoga gak parah banget) Gak sempet revisi, banyak kerja. :)
_________
Bizar turun, dia masuk ke halaman rumah Retno. Mona hanya melirik dengan sudut matanya, dia tak ingin memperhatikan jelas keadaan rumah itu, gengsi.
Rara sudah siap, bahkan sebelum Bizar mengetuk pintu, pintu ruang itu sudah terbuka dan Rara sudah siap berangkat.
Retno sempat melihat Purba dari balik pintu mobil yang dibuka. Dia tersenyum, karena kebetulan Purba juga sedikit keluar kepalanya untuk sekedar memberi salam perkenalan pada Retno.
Terlebih pada Bizar, Retno sangat kagum melihat wajah tegas dan gagah, sanga assiten merangkap bodyguard itu.
“Aku berangkat ya,” ucap Rara pada Retno, berpamitan.
Sebelum pergi, Bizar pun sempat memberikan senyum dan membungkukan badannya pada Retno.
“Pantensan, Rara sampai berani ambil risiko. CEO seganteng itu, bening kaya kristal, assitennya juga. Hem ... pasti yang turun itu assitennya, gak mungkin bos turun, katanya dengan nyonya bosnya? Beruntungnya Rara,” batin Retno yang masih menatap kepergian sahabatnya, yang terlihat masih persiapan di depan mobil.
“Kamu di mobil sebelah Ra, dan pegang kue ini,” ucap Mona.
Rara menurut dan diantar oleh Bizar ke mobil yang satunya. Namun, setelah di lihat mobil itu tidak memungkinkan untuk Rara duduk. Mungkin kalau hanya Rara bisa saja duduk, tapi kue yang ia bawa, bisa saja rusak, karena tempatnya terlalu sempit.
Takutnya lagi, saat mobil melalui jalan berlubang dan ada lonjakan, takut barang uang menumpuk itu menimpa kue.
Saat Bizar melihat ke depan, di sebelah supir ada ban serep yang terletak di bawah, akan sangat sulit untuk Rara duduk dengan nyaman juga, kecuali Rara tidak membawa apa-apa.
“Nyonya, kondisinya tidak memungkinkan untuk Non Rara duduk, kecuali Non Rara tidak membawa apa-apa. Yang dikhawatirkan kuenya rusak.” Laporan Bizar saat kembali setelah mengecek mobil satunya.
“Masa sih, gak bisa?” ketus Mona.
“Nyonya bisa lihat sendiri,” jawab Bizar singkat.
“Udah Ma, di sini saja. Bisa di depan sebelah Bizar.” Purba memberi saran.
“Nanti meleleh Pa, matahari sudah mulai muncul. Gak cantik lagi nanti kuenya,” ucap Mona.
Purba memilih diam, takut salah bicara. Sedang Mona sedang menimbang – nimbang, masa iya harus duduk bertiga dengan dirinya dan Purba.
“Kalau begitu seperti semula aja Nyonya. Saya bisa duduk di mobil belakang, kuenya saya kembalikan ke nyonya,” ucap Rara memberi saran.
“Enak aja, kamu main perintah – perintah,” ketus Mona dengan nada sudah semakin tegas.
__ADS_1
“Ma, nanti kita semakin siang. Ayo putuskan, atau Rara gak usah ikut, biar ke kantor aja.” Akhirnya Purba memberi saran.
“Ah ... ya udah, sini masuk,” ucap Mona, membuka pintunya. “Eh tunggu!” sergah Mona, dia seperti sedang berpikir.
Dalam pikiran Mona, dia bingung. Rara harus duduk di sisi mana? Jika Rara duduk di tengah, itu masalah banget, Purba akan sangat dekat dengan Rara.
Jika Purba yang di tengah, itu masih sama. Purba masih bisa duduk berdekatan dengan Rara.
“Apalagi Ma?” tanya Purba sudah sedikit kesal, Mona kebanyakan perhitungan gak jelas.
“Nggak ada, ayo masuk.” Mona tetap di tempat duduknya. Yang berarti dia yang duduk di tengah.
Tadinya dia juga gak mau duduk dekat-dekat Rara, gengsi dan malas mencium aroma wanita lain yang bukan kelasnya. Tapi bagaimana lagi, terpaksa.
Rara sudah masuk, Mona sedikit menggeser duduknya sangat dekat dengan Purba, bahkan kepalanya bersandar di pundak Purba, agar dirinya tidak begitu menempel pada Rara.
Sudah beberapa menit melaju mobilnya, Mona meminta berhenti kepada Bizar.
“Kenapa Ma,” tanya Purba.
“Kita tukeran tempat duduk, Pa. Kotak kuenya nyenggol -nyenggol paha mama terus, sakit,” rengek Mona.
“Ya gimana lagi daripada paha Mama sakit, Pa.”
“Hah... Mama, ada-ada aja, kan tadi Mama yang minta sendiri. Sekarang beda lagi. Gak sampe-sampe dong Ma.” Purba menarik napas.
“Ih ... Papa, tinggal geser aja nggak usah berdebat kayak gini.” Mona mulai kesal.
Bizar pun menghentikan mobilnya, kemudian Rara turun disusul Mona dan Purba.
Sekarang posisinya, Mona yang berada di sebelah dalam mobil, paling ujung, Purba di tengah dan Rara di samping pintu keluar.
“Papa duduknya jangan deket-deket kayak ggit, gimana sihm Kan bisa geser sebelah sini,” ucap Mona sambil dia juga ikut geser ke sebelah sisi mobil.
“Mama ... Papa duduknya segini udah ada jarak, loh. Kalau jaraknya harus jauhan ya nggak bisa, kita ini duduk kalau ke goyang-goyang mobil nanti badan kita jadi kembali duduk normal, seperti semula tidak bisa miring terus, pegel juga. Ini Papa udah nempel banget ke Mama.”
“Masih bisa, Pa ... geser lagi ke sini atau tas Mama simpan situ deh, buat pembatas.” Pikiran Mona sudah aneh-aneh.
“Ini pegel loh, Ma ... udah miring ke kanan terus. Nah, kalau tas Mama jadi pembatas, nanti lecet. Udah deh gini aja, biarkan Rara duduk di depan, tas Mama pindah lagi ke belakang,” ide Purba, sudah hampir menyerah menghadapi Mona.
“Ah... nggak, nggak. Nanti barang-barang Mama rusak lagi, udah biarin aja,” ketus Mona.
__ADS_1
Memang di bangku dekat Bizar banyak barang-barang Mona, seperti tas pribadinya, tas make up yang harus selalu terlihat mulus jangan terkena goresan sedikit pun karena itu tas mahal.
**#
Sampai di tempat acara sebuah gedung untuk berkumpulnya para sosialita, Rara yang membawa kue menjadi sorotan banyak pihak. Wajahnya yang tidak seperti orang kota, tapi nyaman dipandang.
Terlebih kemarin Rara sudah menyempatkan ke salon, sesuai arahan dari Purba. Sehingga kulit naturalnya ini semakin bersih, walau tidak putih.
Rara menaruh kue tersebut sesuai perintah dari ibu sosialita yang lainnya, Rara tidak tahu bahtlwa itu adalah sang ketua sosialita yang bernama Caroline.
Kemudian, saat Rara akan kembali lagi ke mobil, dicegah oleh Caroline, katanya Rara akan di make-up.
“Em, maaf Nyonya, tapi untuk apa ya? Biar saya paham aja tugasnya. Saya kan kerjanya juga hanya jadi asisten Bu Mona,” ucap Rara, gugup berhadapan dengan wanita cukup matang, tapi dari pakaian dan aksesorisnya terlihat jelas, bahwa itu orang kaya raya.
“Udah ... ayo ikut saya, tenang saja. Nanti saya yang bilang sama Mona,” Caroline menarik tangan Rara, diajaknya masuk lebih ke dalam.
Rara tidak tahu dibawa ke mana, karena ternyata jauh ke dalam gedung ada beberapa pintu yang seperti kamar. Dan Rara masuk ke salah satu pintu itu.
Di sana terdapat beberapa meja dengan kaca cukup besar yang sekelilingnya terdapat lampu – lampu kecil seperti tempat rias para artis.
Rara duduk sesuai arahan Caroline. Rara hanya diam saja, dia menunggu perintah dan tidak berani bertanya – tanya lagi.
Terlihat Caroline sedang menelpon seseorang. Yang Rara dengar dia menelepon Mona.
“Mona, jangan mencari assitenmu. Dia ada bersamaku,” ucap Caroline dari sambungan telepon.
“Tapi Bu, buat apa?”
Mona memanggil Caroline dengan sebutan Ibu, karena memang usia Caroline sudah jauh di atas Mona.
Namun, di usianya yang hampir menginjak 50 tahun, suami Caroline masihlah sangat muda, mungkin sebaya dengan Purba, sekitar berumah 30 tahunan.
Maka dari itu, Mona antusias sekali ingin mengajak Purba ke acaranya, karena dia ingin memamerkan suaminya yang masih muda dan bisa dibilang tak kalah bersaing dengan suami-suami blasteran mereka, tapi usianya sudah matang-matang.
Mona yang dua tahun lebih tua dari Purba, dia merasa bangga di hadapan para ibu sosialita lainnya.
“Udah ... kamu diam aja. Nanti lihat aja saat acara dimulai, pokoknya ini penting untuk tema kita, santunan dalam kemerdekaan Indonesia.” Caroline menjelaskan, setelah itu menutup teleponnya.
Bersambung
__ADS_1