Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Satu Tahun Berlalu


__ADS_3

Bab 160


Purba sudah bisa mengkondisikan urusannya dengan Rara, bahkan toko kuenya sudah dibuka dua hari lalu. Sehingga Purba sudah bisa tenang saat mengurangi kapasitas bertemu dengan Rara. Sebab Rara juga akan sibuk dengan toko kuenya dan sebentar lagi Azka dan Neneknya akan pindah ke Jakarta.


Maka dari itu Purba sudah berunding dengan Rara, dia akan fokus dengan Mona terlebih dahulu. Rara pun tidak masalah.


Rara cukup bijak menyikapi hal ini, karena beberapa minggu kemarin Purba sudah fokus tentang urusannya, berikut membantunya untuk menemukan Azkia.


Selama dua minggu itu juga Rara tidak henti komunikasi dengan Bu Heti. Rara sudah ke kontrakan Bu Heti tiga kali selama dua Minggu itu, tapi belum ada perubahan baik dari Azkia. Sehingga Rara cukup memantau dari jauh terlebih dahulu.


***


Siang ini purba akan pergi ke kantor cabang, di mana Mona memimpin di sana. Purba tahu kabar Mona meminta satu perusahaan untuk dikelolanya dari mertuanya.


Dua minggu lalu saat Mona setelah berunding dengan Pak Hartanto, kemudian mertuanya itu meminta Purba datang untuk mendiskusikan permintaan Mona.


Purba tak masalah jika Mona mau mandiri berkarir, justru itu yang diharapkan oleh Purba. Agar saat dia benar-benar pergi, Mona tidak merasa kehilangan atau berat. Karena Mona sudah terbiasa dengan kesibukan positif, tidak kembali pada dunia malamnya seperti dahulu.


Jadi pemikiran Mona dan Purba ini sebenarnya sejalan. Mona yang berusaha meringankan bebannya tidak terlalu terikat perasaan dengan Purba dan Purba juga tidak ingin memberatkan Mona ketergantungan padanya. Sehingga mendukung jika Mona banyak kesibukan.


Purba menyetir sendiri ke perusahaan yang dipimpin oleh Mona, dia sengaja tidak mengikutsertakan Bizar. Selain Bizar harus menggantikan dirinya di kantor, Purba juga ingin membuat waktu yang berkualitas dengan sang istri.


Meskipun Purba hanya seorang menantu, tapi di seluruh kantor milik Tuan Hartanto mereka tahu siapa Purba.


Seperti halnya hari ini, saat Purba memasuki gedung kantor, para karyawan menyambutnya dengan sapaan hangat dan berdiri saat Purba melewati mereka.


Purba langsung masuk ke ruangan Mona, dilihat Mona sedang menelpon seseorang. Saat pintu dibuka, Mona langsung terhenyak. Tumben Purba menghampiri?


"Sudah dulu ya, ada orang penting datang," ucap Mona saat akan mengakhiri teleponnya.


Mona menata Purba tanpa menyapa, dengan santai menunggu Purba berkata duluan.


Purba menghampiri Mona lalu mengecup keningnya. Mona tidak bereaksi, dia diam saja saat Purba bersikap manis. Menolak pun tidak.


"Kita istirahat bareng, Ma," ajak Purba.


"Tumben," respons Mona, dengan tak acuh.


"Jadi Mama maunya saat pekerjaanku sudah tidak begitu padat, tetap cuek? Oke, nggak masalah. Yang penting aku sudah coba untuk berbuat baik," ucap Purba, dia hendak pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Mana langsung berdiri lalu berjalan dengan cepat menyusul Purba, kemudian menghadangnya. Mona berdiri tepat di depan Purba.


"Yakin udah santai? Apakah bisa menjelaskan ke mana saja dua minggu kemarin?" tekan Mona, dengan tatapan membenci. Walau nyatanya dia tak pernah sanggup membenci suaminya sendiri.


"Daripada menjelaskan hal yang sudah tahu jawabannya, bagaimana kalau kita melakukan yang sempat gagal?"


"Maksudnya?" tanya Mona, sungguh tak bisa menebak maksud sang suami.


Purba kemudian mengeluarkan dua tiket yang dulu sempat urung untuk dipergunakan.


"Ke Bali? Bulan madu?" tanya Mona semringah, dia begitu antusias.


"Ya. Menurut Mama itu apa?" dingin Purba, meskipun dia sekarang ingin membuat hubungan baik dengan Mona, tapi dia tidak akan selemah kemarin.

__ADS_1


Purba tetap akan memberi jarak pada Mona. Namun, dia tidak ingin terlihat serba menurut seperti kemarin, tapi dia juga tidak ingin perpisahan buruk yang akan membuat masalah besar. Purba ingin saat berpisah dengan jalur baik.


"Baiklah. Kapan kita berangkat?" Mona sangat senang, dia melupakan rasa penasarannya tentang dua minggu kemarin kesibukan Purba.


"Sore ini," singkat Purba. Seakan menantang kesiapan Mona. Karena dia lagi semangat-semangat mengurus perusahaan baru.


"Siapa takut," ucap Mona dia menggandeng lengan Purba untuk pergi istirahat dan makan siang bersama.


***


Akhirnya sore ini Purba dan Mona memutuskan untuk pergi berbulan madu ke Bali. Mereka tidak perlu menyiapkan segala sesuatunya dengan kerepotan dan makan waktu. Karena mereka hanya berdua.


Cukup membawa beberapa pakaian ganti, tidak perlu repot membawa persiapan lainnya.


Tiket penerbangan sudah diurus oleh Bizar, mereka tinggal berangkat nanti sekitar pukul tujuh malam. Maka setelah istirahat kantor, mereka lanjut pulang untuk persiapan.


 ***


Di rumah. Beberapa saat sebelum terbang ke Bali, Mona berada di dapur untuk memberi pesan dahulu pada Mbak Idah.


"Jadi Bapak dan Ibu mau berangkat ke Bali malam ini?" tanya Mbak Idah yang tadinya menanyakan menu untuk makan malam, tapi nyatanya majikannya itu akan berangkat.


"Iya Mbak, tolong jaga rumah baik-baik ya. Mungkin kami berangkat sekitar 4 hari, tergantung nanti kondisi di sana saja."


"Ya, Bu. Hati-hati di jalan, semoga dari sana bawa oleh-oleh," ucap Mbak Idah yang membuat Mon heran. Oleh-oleh apa?


"Maunya dibawain apa? Tumben minta oleh-oleh," tanya Mona dengan heran.


"Maksudnya oleh-oleh yang akan memeriahkan rumah ini, hihihi," ucap Mbak Idah diakhiri tertawa kecil.


"Oke Ma, aku sudah siap," ucap Purba yang baru turun dari kamarnya, langsung menyusul Mona ke dapur.


Mereka pun pamitan kepada Mbak Idah dan menitip pesan kepada security yang sedang bertugas, untuk selalu berhati-hati di rumah.


Bizar mengantar Purba ke bandara, akhirnya mereka berangkat juga meskipun acara dadakan, tapi akhirnya jadi juga.


Orang tua Purba sudah pulang seminggu yang lalu l, sehingga di rumah saat ini hanya pelayan dan security saja.


Memang waktu tidak bisa diprediksi sesuai rencana, tadinya Bu Purwanti akan tetap tinggal di rumah bersama Purba. Namun, suaminya akan kerepotan mengurus lahan dan beberapa ternak di kampung sendiri.


***


"Mbak Rara tahu, Pak Purba pergi ke Bali bersama Bu Mona?" tanya Vira saat mereka hendak pergi tidur.


"Tahu. Memangnya kenapa?" tanya Rara yang sebenarnya sudah memejamkan mata, hanya saja belum terlelap..


Vira dan Rara memang tidur satu ranjang, karena di toko itu memang hanya ada satu ruangan untuk beristirahat.


"Boleh tanya sesuatu nggak?" ucap Vira kembali.


"Tanya apa?" jawab Rara.


"Tapi jangan marah ya. Aku penasaran ingin mengetahui satu hal, tapi pertanyaan ini sensitif makanya izin dulu, hehe."

__ADS_1


"Iya, apa?"


"Em ... Mbak kan sebagai istri kedua. Nah, pernah terbayang nggak saat suami sedang berada di istri pertama. Apalagi sekarang bulan madu. Pernah kebayang nggak sampai... E... ya gitu," pertanyaan Vira menggantung, dia agak bingung juga ngobrolnya.


"Maksudmu saat suami kita sedang berhubungan dengan wanita lain? Istri yang lain?"


"Iya gitu maksudku, hehe."


"Sempet ada sih pikiran seperti itu, tapi ya... kalau bagian nggak ketemu, kita tenang aja. Sadar diri, kan yang kedua harus lebih memahami."


"Tapi ada loh mbak yang istri kedua tapi kayak yang nggak sabaran gitu. Marah kalau suaminya pergi terlalu lama di istri pertama."


"Beda-beda orang, beda kesiapan Vira. Ya udah, ayo tidur. Besok aku ada pesanan."


"Wah ... Mbak Rara udah mulai ada pesanan nih. Gimana karyawan baru? Mereka cekatan nggak?"


"Cukup baik sejauh ini. Mudah-mudahan selamanya memang seperti itu. Rajinnya jangan hanya saat toko baru buka saja."


Vira ikut senang mendengar perkembangan toko kue Rara yang perlahan ada kemajuan.


Toko kue yang diberi nama AZ Cake itu diambil dari kedua nama anaknya yaitu Azkia dan Azka.


***


Satu tahun waktu berselang, perjalanan waktu yang tidak singkat untuk menyesuaikan semua permasalahan agar tetap bisa dihadapi dengan jalan keluar yang aman.


Kini Rara sudah pindah di rumah baru, yang dulu saat pindah ke toko rumah tersebut masih direnovasi. Karena Purba mendapatkan rumah tersebut dari orang yang menjualnya karena membutuhkan dana cepat. Sehingga harga rumah tersebut cukup murah. Namun, harus melakukan perbaikan.


Tentu saja Gandi sudah bebas dari penjara, karena bantuan sugar Momma yang bisa mengurangi hukuman ganti, seharusnya empat tahun, menjadi satu tahun.


Pengacara Purba berhasil mematahkan pengacara Gandi waktu itu, hingga Gandi tetap dihukum, tidak bisa memakai uang tebusan.


Namun, seiring berjalannya waktu, melalui bantuan Daryanto, akhirnya Gandi bisa dibebaskan oleh pengacara lain, tentunya karena uang yang kuat dari sugar Momma.


Gandi semakin menguasai Azkia, terutama dalam mempengaruhi pemikirannya tentang Rara yang tidak menyayanginya.


Gandi belum sekalipun pulang kampung, dia terlalu senang berada di Jakarta, karena mudah mencari uang. Azkia juga sudah sekolah, di sekolah negeri dengan biaya yang cukup ringan.


Namun, kontrakan Gandi sekarang pindah walau tidak terlalu jauh dari kontrakan yang lama. Namun, Azkia tidak tahu daerah mana, karena dia masih kecil. Belum tahu seluk beluk tempat tersebut.


Gandi sengaja pindah kontrakan karena dia tidak ingin Rara mencari Azkia, tapi dia juga tidak berniat pindah jauh, karena masih terus berhubungan dengan Daryanto.


Meskipun mencari uang menurut Gandi sangat mudah, tapi dia juga punya pemikiran, saat tidak ada yang membutuhkan jasanya untuk memuaskan nafsu mereka para istri orang kaya kesepian, jadi Gandi tetap harus mengontrol pengeluarannya. Makanya tidak berani mencari kontrakan jauh dari dari Yanto atau yang lebih layak. Karena harganya akan lebih mahal.


Dan saat ini adalah bulan ke-9 Rara mengandung, hasil buah cinta dengan Purba.


Azka senang sekali dia akan memiliki adik dan pagi ini Rara akan mengontrol kandungannya bersama Purba ke dokter spesialis kandungan, yang sudah biasa memeriksa kandungan Rara sejak kehamilan bulan pertama.


 Bersambung....


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2