
Bab 163
Akhirnya Azka dibujuk oleh Bu Gurunya untuk mengikuti kegiatan sekolah terlebih dahulu, untuk masalah Azkia nanti dibantu oleh kepala sekolah, untuk melakukan pendekatan. Meskipun dengan tidak semangat, Azka mengikuti arahan gurunya untuk ikut bersilaturahmi dengan murid sekolah yang sedang dikunjunginya.
***
Dari kunjungan sekolah murid-murid sudah bisa pulang,.tentunya Azka dijemput oleh sopir, sedangkan neneknya tidak ikut karena mendadak perut Rara mengalami kontraksi. Azka langsung ke rumah sakit, atas perintah Rara juga yang memberi pesan kepada sang sopir.
Tadi saat Rara masih berbelanja dengan Bu Sugeti, Purba pulang terlebih dahulu ke kantor. Karena takutnya lama mereka berbelanja, biarkan nanti saat pulang dijemput saja oleh sopir. Namun, saat sudah beberapa jam berbelanja baru kemudian perut Rara terasa melilit, tegang rasanya mengeras. Akhirnya Rara menggunakan taksi ke Rumah Sakit bersama bersama Bu Sugeti.
Azka sudah sampai di rumah sakit, dia turun dari mobil menunggu Pak Sopir, karena dia tidak tahu di mana ruangan ibunya. Azka sudah berniat akan mengatakan kejadian yang tadi ia alami di sekolah, ibunya pasti senang karena dirinya sudah tahu di mana Azkia.
Azka belum begitu paham saat pernah mendengar ibu dan neneknya membahas Azkia, beberapa waktu ke belakang. Yang Azka tahu ibunya seringkali mencari Azkia. Namun, selalu hilang. Mungkin maksud Azkia selalu menghindar.
Maka hari ini Azka akan memberikan kabar baik itu kepada sang ibu.
"Kamu yang tenang. Jangan memikirkan Azkia dulu. Percayalah, dia akan baik-baik saja, yang penting sekarang anakmu lahir dengan selamat."
"Iya Bu, ini sudah Rara usahakan. Makanya akhir-akhir ini sering banyak aktivitas biar tidak teringat Azkia, tapi bagaimana lagi, dalam kondisi seperti ini malah semakin teringat."
"Ibu ngerti perasaanmu, kuatkan dengan doa. Azkia akan luluh dan tidak terhasut omongan Gandi lagi."
"Kalau Azkia tahu dia punya adik lagi, apakah nggak makin sedih? Apakah dia nggak merasa benar-benar tergantikan? Mungkin dalam pikirannya aku sudah bahagia dengan adanya bayi yang baru lahir ini. Aku jadi bingung Bu, kasihan Kia."
"Sekarang kamu mau makan apa? Mungkin minuman apa? Atau apa saja yang bisa membuat kamu tidak memikirkan Azkia dulu. Kata dokter barusan sudah dua pembukaan, ayo rileks biar persalinannya lancar."
Rara menarik nafas, benar-benar kusut pikirannya.
Tak sengaja Azka mendengar percakapan ibu dan neneknya dari pintu yang hendak dia buka namun tak jadi masuk. Bahkan dia meminta Pak supir untuk jangan berisik, karena Azka mau menguping.
Azka merasa kasihan juga kepada ibunya. Kalau memberitahu bahwa dirinya bertemu Azkia. Lalu apakah Azkia mau diajak ke rumah sakit agar Ibunya bisa tenang?
Tapi kalau Azkia nggak mau gimana dan Azka terlanjur bilang sama ibunya. Anak kecil itu sudah mengerti penderitaan ibunya sejak ia kecil, jadi pemikirannya cukup peka akan kondisi sang Ibu.
__ADS_1
'Bagaimana kalau ibu malah maksa mau ketemu Azkia? Kan itu udah mau melahirkan. Masa mau mencari Azkia. Terus kalau aku kasih tahu nggak mungkin ibu akan biasa aja. Kalau aku kasih tahu ibu senang, tapi pasti ingin buru-buru ketemu, tapi adek bayi baru lahir.'
Azka terus berandai-andai dalam pikirannya.
Azka jadi ikut bingung memberitahukan atau tidak kabar baik itu mungkin kabar baiknya tidak sepenuhnya baik karena Azkia saja menghindar darinya.
"Assalamualaikum Ibu, Nenek, Azka pulang," ucap Azka yang membuka pintu ruangan kemudian bersalaman pada nenek serta ibunya, tak lupa mencium punggung tangan mereka.
"Anak Ibu udah pulang?" tanya Rara, saat kedatangan Azka air mukanya langsung berubah, tidak begitu sedih seperti sebelumnya saat membahas Azkia.
"Iya dong. Azka kan mau nemenin Ade lahir."
Azka langsung tiduran di samping ibunya sambil mengusap-ngusap perut sang ibu, yang sepertinya memang sebentar lagi keluar adek bayi dari sana.
"Cuci tangan dulu, Nak. Terus ganti baju, ibu sudah bawa baju ganti, kok. Biar nyaman dedeknya. Karena kalau dekat dedek bayi atau ibu hamil jangan banyak kotoran dari luar, kan debu," jelas Rara memberi pengertian pada putranya.
"Oh iya lupa." Azka terus turun dari tempat tidur lalu menarik tangan neneknya untuk membantu dirinya mengganti pakaian. Cuci kaki, cuci tangan, cuci muka di kamar mandi.
"Ibu, tadi Azka senang banget. Ternyata kue Ibu kurang," ucap Azka setelah keluar dari kamar mandi.
"Iya, temen-temen pada suka. Ternyata teman-teman banyak muridnya, terus Bu Guru juga makan. Kalau teman-teman dikasih langsung. Kalau Bu guru pakai piring, jadi kurang sebenarnya," ucap Azka yang memang belum pandai benar menata kata-kata. Namun, Rara paham maksud Azka.
"Oh... jadi barang yang Azka berikan untuk teman-teman, mereka bisa menerimanya dengan senang hati, seperti itu? Lalu malah ada yang tidak kebagian?"
"Iya, Bu. Kasihan deh jadinya."
Rara hanya tersenyum, jiwa sosial pada anaknya ini sudah tumbuh dengan baik.
Bu Sugeti memperhatikan anak dan cucunya bercerita, apa saja dibahas, sehingga Rara melupakan rasa rindunya pada Azkia. Dan Bu Sugeti ikut tenang, dan senang, rupanya Azka bisa membuat ibunya mengalihkan mood menjadi lebih baik.
***
Sementara itu bocah kecil yang sedang duduk di samping pos ronda, dia adalah Azkia semenjak tadi kabur dari sekolah dia tidak kembali lagi, bahkan tasnya pun masih ada di sana.
__ADS_1
Sepertinya matahari sudah tak terik lagi, menandakan waktu akan sore. A,kia turun dari bangku yang dia duduki, dia tidak peduli dengan sekolahnya, tasnya atau apapun itu. Untuk kembali ke gedung sekolah tak terpikirkan.
Azkia lalu pulang, dia berjalan dengan kepala sering menunduk, lalu dia merasa sayup mendengar suara seseorang, tapi bukan seseorang yang tidak ingin dia jumpai.
Ini seperti seseorang yang pernah dia kenal dan itu adalah...?
Seketika kepala Azkia langsung tegak, matanya berbinar, dia menoleh ke sekitar mencari orang yang memanggilnya di mana.
Akhirnya Kia menemukan seseorang itu lalu berlari langsung memeluknya.
"Ternyata kamu di sini Kia? Padahal dekat loh," ucap Bu Heti yang kini memeluk Azkia yang sudah hampir setahun ini kehilangan kontak.
Dulu waktu Gandi pertama pindah kontrakan, beberapa kali Kia sering ikut Gandi ke kontrakan lama, untuk bertemu dengan Daryanto. Itu juga karena rengekan Azkia pengen ikut. Namun, Azkia tidak bisa memberitahukan alamat kontrakan barunya pada Bu Heti. Karena dia tidak mengerti seluk beluk jalannya. Namanya juga jalan perkampungan.
Kontrakan kumuh, jalannya seperti belok-belok kadang ada cabang kemana-mana untuk. Untuk ukuran anak kecil seperti Azkia, tidak mudah memahami sekali hapal sebuah tempat.
Bu Heti dan suaminya sedang berada di sebuah warung, bisa dikatakan toko besar. Mereka sedang berbelanja, di sana Azkia juga sempat bersalaman dengan suaminya Bu Heti. Karena memang sudah seperti orang tuanya sendiri. Selagi suaminya meneruskan untuk belanja, Bu Heti berbincang dengan Azkia.
"Sekarang kamu mau ke mana? Kok masih pakai seragam?" tanya Bu Heti.
"Mau pulang, Bu," jawab Azkia singkat.
"Pulang dari mana?"
"Dari sekolah, Bu."
"Lalu tasnya?" Bu Heti banyak tanya karena memang bingung.
Kia mau pulang, tapi masih pakai seragam. Kalau pulang dari sekolah, tapi tidak bawa tas. Apakah sudah pulang sekolah atau izin nanti kembali lagi ke sekolah? Tapi kalau izin tidak mungkin, karena waktu udah hampir sore, pasti sudah pulang sekolah.
"Kebetulan hari ini tidak bawa tas, karena tidak ada pelajaran," ucap Azkia berbohong.
Jika tidak ada pelajaran memang benar, karena ada acara silaturahmi kunjungan dari sekolah lain. Tapi tas Azkia ada di sekolah, bukan gak bawa tas.
__ADS_1
"Ya udah, nanti setelah Bapak selesai belanja, Azkia ikut ibu ya. Kita pulang bareng. Sekalian Ibu pengen tahu tempat tinggal Azkia di mana. Jadi nanti kapan-kapan ibu bisa berkunjung."
Bersambung....