Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Bahagia Serempak


__ADS_3

"Mau kemana Bu?" tanya mbak Idah saat Mona turun dari kamarnya dan berpapasan dengan Mbak Idah di ruang depan.


"Keluar Mbak, ada teman menjemput," ucap Mona tanpa berhenti dahulu, dia langsung keluar karena Mr.San sudah menjemput. Tentunya sang sopir ya mengendarai mobil Mr.San.


Saat di mobil, Mr. San banyak bicara mengenai kehidupan pribadi mona, diselingi dengan menanyakan beberapa wisata di indonesia. Kelak Mr.San ingin berkunjung ke sana, sebelum kerja sama dengan Mona berakhir.


"Boleh aku meminta sesuatu?" tanya Mr. San.


"Tentu saja boleh. Ada apa, Mr?"


"Aku ingin Nona tidak memanggilku Mr. San lagi. Sepertinya terlalu formal, tidak bisa menikmati suasana santai ini."


Mona mengkerutkan keningnya, dia tidak mengerti apa maksud Mr San.


Namun, kemudian Mr. San menjelaskan, bahwa dia memiliki nama Indonesia yang bagus. Itu dia temukan saat belanja makanan di pinggir jalan. Mr. San mendengar nama seorang pria yang penampilannya keren, senyumnya menawan, saat pelayan melayani dia sepertinya ramah sekali.


Entah imajinasi dari mana mengapa terinspirasi oleh orang asing yang tak dikenal. Saat Mr. San mendengar pelayan itu menyebut nama pria rupawan itu dengan, "Mas Waluyo."


Mona tiba-tiba tertawa ringan sekali tawanya setelah sekian lama entah terakhir kapan dia tertawa lepas seperti itu membayangkan mister sun Kenapa ingin disebut emas Waluyo


nama ciri khas orang Jawa namun memang terdengar dewasa dan berkharisma.


"Ahaha. Kenapa Mr. ingin disebut nama itu?" tanya Mona di sela tawanya.


Iya benar saja Mr sun ingin dipanggil Mas Waluyo karena kesannya punya wibawa namun sederhana Apalagi ditambah saat dia melihat pria itu.


Mungkin pria itu sudah langganan tempat makan tersebut, hingga pekerja di sana sudah dengan akrab memanggilnya dengan sebutan nama, bukan hanya sekedar Pak atau Mas.


"Baiklah Mas Waluyo. Jadi sekarang saya mulai memanggil nama itu." ucap Mona yang sebenarnya tawa Masih membekas di bibirnya.


Malam itu malam yang berkesan untuk Mona, maksudnya baru pertama kali keluar lagi bersama seorang teman. Walau hanya menikmati beberapa tempat hiburan di Jakarta. Namun, cukup membuat pikirannya rileks.


Kembali ke masa, di mana dia kalau bermain dengan teman-temannya yang berujung ke diskotik atau tempat hiburan terlarang. Memang menikmati, namun saat pulang entah mengapa menyisakan beban.


Sampai di tempat angkringan di salah satu daerah di Jakarta, banyak sekali menu yang dipesan oleh Mas Waluyo.


Tentunya tidak ia makan semua, maksudnya tidak dihabiskan. Mas Waluyo hanya memesan setengah porsi karena menyadari tidak akan habis. Namun, makanan-makanan itu membuatnya penasaran, hingga tak ingin hanya mencoba satu jenis saja.


"Mas Waluyo bisa juga makan makanan khas Indonesia?" tanya Mona merasa heran. Kenapa bisa langsung menyesuaikan lidahnya?

__ADS_1


"Entah mengapa rasanya enak sekali, lidah saya aman," ucap Mas Waluyo dengan anggukan kepala mantap, sambil melahap sisa makanan yang ada di depannya.


***


Sementara itu di tempat Rara, Purba sudah datang membawakan beberapa mainan baru buat Azka. Bocah itu sangat gembira karena keluarganya berkumpul semua, termasuk kakek nenek dari orang tua ayah angkatnya.


"Ibu, boleh kami berfoto bareng?" kata Azka meminta pada ibunya ingin mengabadikan kebersamaan ini bersama adik bayi, anggota baru keluarga mereka.


Tadinya Rara akan langsung mengiyakan, tapi dia ingat kepada Azkia dan berpikir kalau anak itu mengetahui tentang kebersamaan ini, pasti akan terluka lagi hatinya.


"Ayo Ibu, nggak apa-apa," paksa Azka, sebenarnya dia tahu apa yang dikhawatirkan oleh ibunya.


"Azkia nggak bakal tahu, kalau kita nggak ngasih tahu," ucap Azka lagi.


Hati Rara merasa terenyuh lagi, kenapa anaknya bisa tahu maksud hatinya. Memang dia sedang menjaga perasaan Azkia, agar mau berkumpul kembali. Juga, bahwa sebenarnya Rara sangat merindukan anak kembar yang terpisah itu.


"Tidak apa-apa sayang," ucap Purba menenangkan Rara.


Pada akhirnya mereka berfoto, beberapa pose dengan ponsel yang disimpan pada tripod kemudian menggunakan pewaktu, agar mereka semua terfoto.


Setelah selesai sesi berfoto, Azka langsung meminjam ponsel ibunya.


"Azka pengen main game aja Bu," ucap Azka dan langsung membawa lari.


Rara tidak bisa menolaknya, karena dirinya pun masih lemah di tempat tidur. Purba, nenek dan kakeknya Azka, pun tidak bisa melarang, biarkan anak kecil itu menikmati hiburannya.


"Azkia, kamu tahu tidak waktu aku meminta foto ini? Ibu diam dulu, kaya melamun gitu. Mungkin Ibu takut kamu terluka lagi, kalau kamu tahu poto ini. Ibu sangat menjaga perasaan kamu, tapi kan aku sudah berjanji akan mengirim foto-foto kalau sama adik bayi."


Azkia mengirim foto itu pada Instagram Azkia, tentunya melalui akun ibunya. Karena Azka tidak punya media sosial.


Beda halnya dengan Azkia. Dia memang anak mandiri, anak yang lebih luas pemikirannya dan karakter yang bebas. Karena memang berbeda, saat seorang anak dididik oleh ayah atau ibunya.


Maka Azkia lebih bisa menggunakan media sosial daripada Azka. Sehingga Azkia memiliki akun tersendiri, sedangkan Azka belum boleh menggunakan media sosial.


"Iya Azka, makasih ya. Oh, ya kamu langsung hapus aja pesan ini. Bar Ibu tidak tahu." Azkia menginginkan saudara kembarnya.


Kemudian Azka mencoba mencari tempat untuk caranya menghapus. Namun, tidak ditemukan. Ia lalu mengirim pesan lagi kepada Azkia dan Azkia kemudian memberitahu bagaimana cara menghapusnya.


Selesai sudah. Kedua anak kembar ini sudah mulai akrab kembali. Namun, ada tugas lain, yaitu hanya tinggal mencari waktu untuk Azkia bisa berkumpul dengan ibunya. Mungkin hanya sesekali, karena tidak mungkin juga langsung lepas dari Gandi..

__ADS_1


Azkia dan Azka masih asik berbalas pesan, menceritakan pengalamannya masing-masing tanpa diketahui oleh Rara. Karena yang Rara tahu, Azka sedang bermain game.


"Kamu menginap di sini Mas?" tanya Rara.


"Iya, aku masih kangen sama anak kita. Gak, mau jauh-jauh rasanya," ucap Purba yang kini sudah berbaring di samping anak pertamanya untuk dia dan anak ketiga untuk Rara.


"Bagaimana Mbak Mona?"


"Aku sudah mengirim pesan. Santai aja."


***


Sementara itu Azkia yang sudah menerima foto dari saudara kembarnya, dia tersenyum. Entah mengapa saat ini tidak ada rasa kesal seperti dulu, yang merasa dirinya tersisih.


Namun, kini hanya terbersit rasa kasihan kepada ayahnya. Justru saat ini tidak ingin meninggalkan ayahnya, karena seburuk apapun dia tetap orang tua Azkia.


Mungkin lagi-lagi karena keadaan, maka karakter dewasa Azkia tumbuh lebih cepat daripada anak-anak seusianya.


Malam ini Azkia tidur dengan tenang dan kedamaian, seakan baru mendapatkan kehidupan yang lebih indah dari sebelumnya.


***


"Oke Mas Waluyo, terima kasih ya sudah mengantar," ucap Mona saat turun dari mobil Mas Waluyo, yang sudah enak saja menyebutkan nama baru dari pada Mr.San.


Mas Waluyo ternyata turun juga dari mobil. Mona pikir tidak akan mengantarnya sampai teras, padahal mobilnya berhenti di depan gerbang.


"Silakan masuk nona, selamat beristirahat," ucap Mas Waluyo, saat berada di depan pintu rumah Mona.


"Eh, sebentar." Mas Waluyo memanggil lagi, seperti ada yang tertinggal.


Dia mendekat pada Mona, lalu mengeluarkan tangan untuk bersalaman, hanya untuk mengucapkan selamat malam. Namun, tak disangka lagi-lagi tangan Mona ditariknya untuk cipika cipika.


Mona sudah tidak lagi terkejut, karena mungkin sudah hal biasa karakter orang luar memang seperti itu, temasuk Mas Waluyo. Hingga Mona tidak sekaget sewaktu awal Mas Waluyo melakukan hal itu.


***


Malam ini sepertinya malam yang membahagiakan bagi beberapa keluarga, yaitu Azka, Azkia, Mona, Rasa serta Purba. Mereka sedang menikmati bahagianya dengan versi masing-masing.


Namun, tanpa mereka tahu ada seseorang di suatu tempat yang menyusun strategi untuk menghancurkan keluarga mereka.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2