Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Memaksakan Nikah


__ADS_3

Bab 132


 


...Sebelum membaca bab ini, persiapkan oksigen dengan baik. Sediakan benda-benda apapun yang bisa digigit, dipukul, dicengkram, jika merasa gemas menyimak seorang Purba. ...


...Jangan marah sama otor, ya. Otor gak tahu apa-apa. Karakter Purba emang gitu. Nanti juga bakal tahu alasannya. ...


...Begitulah cinta emang seringkali membuat orang buta hilang akal serta nekat. ...


***


Dalam pesan itu Purba meminang Rara untuk menikah saat dirinya berada di Bali. Karena dalam agama diperbolehkan menikah walau kedua pengantin berjauhan, asal keduanya sama-sama ikhlas.


Rara tidak menjawab pesan Purba, untuk apa direspon seperti itu. Mereka sedang tidak dalam keadaan darurat, menikah minggu depan, bulan depan pun tak masalah.


Baru saja beberapa jam Rara bisa bersikap biasa saja pada Purba, dengan melupakan sakit hatinya. Eh Purba berbuat ulah lagi.


Pukul 02.00 malam, Purba gelisah. Kenapa tidak ada balasan dari Rara? Meskipun beberapa jam lalu sudah berkomunikasi, tapi rasanya kemarahan Rara di hari-hari sebelumnya seakan masih mengganggu pikiran Purba, dia sungguh tak bisa tidur.


Kenapa cinta segila itu? Bahkan ada sesuatu yang berharga di sampingnya, bahkan di mata orang lain itu lebih indah. Namun, pandangan orang lain tidak sama dengan pandangan diri sendiri. Bagi Purba, Rara yang mampu memberikan getaran, dari pada Mona yang hanya sebagai pelengkap.


Iya, Mona hanyalah pelengkap. Saat seorang pria di usia yang cukup untuk menikah, lalu Mona ditakdirkan untuk menjadi pendamping hidupnya, seakan tingkatan kehidupan telah dilalui oleh Purba. Dari lahir, anak kecil, remaja, sekolah, bekerja lalu menikah. Lengkap sudah hidupnya, tinggal memiliki anak.


Bisa saja hidupnya lengkap, tapi kebahagiaannya tidak didapat. Itulah mengapa Purba ambisius untuk serius membina kehidupan baru dengan Rara.


Purba keluar mengendap, sebelum menuju apa yang terbersit di isi kepalanya dia mengunci pintu kerjanya terlebih dahulu, lalu keluar membawa motornya.


Sepeda motor yang jarang sekali digunakan karena sibuk bekerja, motor besar untuk touring bersama komunitasnya

__ADS_1


Tempat siapa yang dituju? Rumah Rara tentunya.


Cinta Memang membuat gila, tak peduli sekitar udara dingin, jalanan tidak begitu terang, bahkan suara hewan malam yang bersahutan menjadi teman perjalanan. Tak ada niat sedikit pun untuk urung menuju apa yang menjadi tujuannya


"Aku di depan," ucap Purba dalam kiriman pesan.


Masih beruntung pesannya ceklis dua. Coba kalau tidak aktif ponsel Rara? Bisa-bisa Purba akan menggedor gerbang rumah Rara.


Belum dibalas juga, Purba menelepon. Sekitar empat kali, baru Rara menyadari ada panggilan. Jelas saja tidak cepat respons, jam segini adalah waktu nyenyak untuk tidur.


"Jam segini menelpon?" Gumam Rara sambil melihat ponselnya.


"Keluar atau aku membuat keributan," tulis pesan Purba lagi.


"Nekat banget sih," desis Rara. Sambil turun dari ranjang dengan rasa malas.


Rara membuka pintu pagar dengan perlahan, agar tidak menimbulkan bunyi terlalu keras. Tanpa menunggu Purba menyapanya atau mengatakan apa pun, Rara langsung masuk kembali. Sudah tentu mereka tidak akan mengobrol di luar, meskipun Rara tidak suka atas tindakan nekat Purba datang ke rumah tiba-tiba di waktu yang tidak wajar.


Rara tidak bisa bernegosiasi di luar, hanya untuk menolak Purba dan meminta pergi. Karena itu sudah dipastikan Purba tidak mungkin menuruti perintah Rara.


Jika mereka bicara di luar, orang-orang yang melihat akan lebih curiga. Siapa tahu ada kelompok ronda yang lewat atau orang yang sudah mulai ke pasar. Karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul 03.00, sudah cukup orang-orang untuk terbangun memulai aktivitas.


Tanpa membunyikan motornya, Purba memasukkan kendaraan tersebut untuk diparkirkan di teras rumah Rara.


Setelah pintu gerbang ditutup,.Purba masuk. Ada minuman hangat yang sudah tersedia di atas meja.


Walaupun Rara tidak suka dengan nekatnya Purba, dia tetap berperilaku sebagaimana mestinya kebiasaan saat menjadi seorang istri. Rara selalu memberikan minum kepada Gandi saat dia dari luar. Apalagi malam hari, entah baru pulang bekerja atau hanya sekedar hiburan.


"Ada apa sih Mas? Malam-malam ke sini." Rara memulai percakapan.

__ADS_1


Purba yang belum duduk Sudah ditodong dengan pertanyaan yang Purba tidak suka.


"Masih nanya kenapa? Beberapa hari kamu mengacuhkan aku. Kamu pikir aku baik-baik saja? Lalu saat aku kemari masih ditanya ada apa? Lalu saat aku kesal harus datang ke siapa?" kesal Purba tapi masih mode aman. bukan marah.


"Iya, udah udah. Nggak usah sewot kayak gitu. Tinggal bilang mau apa? Semuanya baik-baik saja. Aku hanya ingin diam dulu sambil fokus mengurus toko kueku," jawab Rara.


"Tapi kan, kamu bisa bicara seperti itu lewat pesan. Biar aku tidak kepikiran," respons Purba.


"Dan Mas juga bisa kan kalau apapun tentang istri mas tidak perlu disampaikan padaku?" Rara balik mengultimatum Purba.


"Itu Bukan mauku. Aku pikir Bizar tidak akan menyampaikannya dan kamu juga mengerti kan dengan keadaanku? Dari dulu kamu tak pernah bermasalah, bahkan pernah melihat aku dan Mona bermesraan di depanmu."


"Lain dulu Lain Sekarang Mas, dulu aku benar-benar tidak ada ikatan apapun. Tidak ada hakku untuk kesal cemburu, tapi ekarang beda lagi."


"Oke maaf. Iya, aku yang kurang hati-hati. Aku yang kurang teliti, harusnya aku yang bisa bersikap adil menjaga hatimu sesuai janjiku. Makanya aku ingin mengajakmu menikah hari ini juga."


Rara terhenyak. Netranya membulat, saat mendengar keputusan konyol, Purba.


"Apa mas tidak mengerti maksud aku? Tidak membalas pesan Mas karena itu keinginan yang konyol."


"Tidak ini adalah pengorbanan, bukan kekonyolan, maka rencananya dirubah. Aku memutuskan untuk kita pergi ke Sugih Ayu sekarang juga. Kita menikah di sana."


"Bukankah hari ini Mas akan ke Bali? Bersama Bu Mona?" tanya Rara memastikan.


"Memang, tapi aku bisa membatalkannya. Hal ini sangat penting untuk menunjukkan, bahwa kamu lebih prioritas


Tapi....


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2