Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Calon Mantu Baru


__ADS_3

Purba mengangguk dan dia juga meminta pengertian dari ibunya bahwa Purba menemukan wanita itu seakan menemukan hidupnya kembali. Bukan lagi sebagai robot yang bisa diatur skenario oleh si pemilik kekuasaan. Meskipun sang penguasa itu orangnya baik, tapi karena baik itulah Purba menurut tetapi dengan terpaksa. Karena menolak pun akan disebut tidak tahu balas budi.


Anggap saja kedatangan wanita lain ini sebagai pelipur hati Purba yang sering berkorban untuk kepentingan orang lain.


"Siapa wanita itu? Ibu ingin tahu. Jangan sampai kamu mencintainya hanya karena nafsu."


Saat Purba sedang menceritakan tentang Rara, kemudian ayahnya Purba menghampiri mereka, dari jauh sudah terdengar sayup-sayup membicarakan tentang wanita lain. Maka Pak Kukuh meminta penjelasan kembali kepada Purba.


"Jadi anak kita ini mencintai wanita lain Pak...," ucap Purwanti.


"Maksud kamu Purba? Jangan seperti itu, jangan gegabah memiliki dua cinta dalam satu hati," tegur Pak Kukuh.


"Ayah tahu sendiri pernikahanku dengan Mona seperti apa? Ayah tahu sendiri rasanya menjadi pesuruh orang lain hidupnya selalu diatur seperti apa. Sampai sejauh ini aku masih bertanggung jawab, Yah." Purba mencoba mengutarakan keluhannya.


Selama ini Purba jarang sekali mengeluh pada kedua orang tuanya. Mungkin saat ini Purba sudah merasa mampu jika harus bertanggungjawab atas kesalahannya, jika keluarga Tuan Hartanto tidak menyalahkannya.


Kemudian Bu Purwanti membantu menjelaskan pada suaminya, tentang apa yang sudah diceritakan Purba tadi. Tentang hubungan Purba yang sudah membaik dengan Mona, tapi kehati-hatian Purba yang masih melihat perubahan serius dari istrinya.


"Hati-hati boleh, Nak. Tetapi pelampiasannya tidak harus pada wanita lain.. Membuat cinta di atas cinta," ucap Pak Kukuh.

__ADS_1


"Wanita itu datang sebelum Mona, Yah. Dan aku tidak membangun cinta di atas cinta. Ayah tahu sendiri, aku tidak mencintai Mona," papar Purba.


"Jadi kamu merasa saat dirimu sedang di ujung keputusasaan, ada bidadari yang menyelamatkan kehidupanmu. Seperti itu kan?" tanya Pak Kukuh kembali.


Purba membenarkan perumpamaan sang ayah. Saat itu dirinya hampir frustasi selalu berada di bawah tekanan Mona. Dia seorang suami, tapi seperti seorang istri juga yang mempersiapkan seluruh keperluan Mona. Sampai urusan pakaian dan makanan harus Purba hanga menyiapkan, tentunya hali itu sesuatu yang terbalik.


Bahkan setelah menikah pun, Purba hanya menjadi pesuruh. Padahal dalam hal ini, Mona yang mencintai Purba. Kenapa Purba yang seakan harus tunduk?


Namun, inilah takdir. Saat Purba bermain sandiwara dengan Rara, benih cinta tumbuh lalu berhubungan serius.


Saat Purbas terjebak cinta dengan Rara, malah Mona berubah menjadi baik. Sungguh sebuah takdir yang bukan kebetulan.


Seakan Tuhan menunjukkan hal ini, agar Purba bisa memilih dengan bijak. Apakah harus merawat kedua hati atau memilih salah satu hati yang sudah terlanjur berada dalam genggamannya?


"Yah ... gimana lagi kalau sudah begini. Ayah juga tidak bisa berkata banyak jika seperti itu ceritanya. Terkadang takdir memang seperti mempermainkan kita.


Namun, kalau dilihat dari sisi positifnya, takdir hanya meminta kita untuk menjalani ujiannya. Bukan mengeluh lalu menjauh. Ayah tidak bisa memberi saran apa-apa, kamu yang menjalani. Yang penting Ayah sudah tahu kehidupan kamu sekarang."


"Apakah kamu mau memperkenalkan wanita itu kepada ayah?" imbuh Pak Kukuh.

__ADS_1


"Iya, Nak. Kami ingin tahu siapa wanita itu yang berhasil membuat warna saat hidupmu merasa kelabu. Ibu, meskipun seorang wanita, yang merasakan sakitnya dimadu, tapi menyadari kok. Banyak lelaki di luar sana yang memiliki istri lebih dari satu dan mereka sanggup berlaku adil."


Saat pembicaraan Rara sedang dibahas kemudian Mbak Idah masuk membawa beberapa kudapan. Dia tak sengaja menguping obrolan tersebut.


Karena kedatangan Mbak Idah tidak diketahui langsung oleh Purba yang membelakangi pintu dari rumah ke taman. Begitu pun dengan Pak Kukuh dan Bu Purwanti fokus mengobrol dengan putranya. Sehingga melihat kedatangan Mbak Idah yang tiba-tiba sudah dekat dan menurut mereka mungkin tak masalah. Sebab Purba juga terlihat seperti enjoy saja saat asisten rumah tangganya datang.


Bu Purwanti dan Pak Kukuh juga mantan asisten rumah tangga dari Pak Hartanto, mereka jika mendengar sebuah permasalahan tuanya, tidak akan mudah menyebarkan informasi yang bukan urusan mereka. Seorang asisten rumah tangga yang profesional pasti tidak akan ikut campur urusan Tuannya.


Mbak Idah kembali dan sampai di dapur dia merenung, mengingat kembali apa yang dia dengar.


"Apakah benar. Tuan Purba mau menikah lagi dengan wanita lain? Kasihan Bu Mona. Bagaimanapun dia sudah berusaha untuk menjadi istri yang baik."


Terdengar pintu dibuka. Mbak Idah menghampiri sumber suara, ternyata Mona sudah datang.


"Ada siapa Mbak?" tanya Mona saat melihat beberapa alas kaki yang tidak dikenalnya berada di teras rumah.


"Itu, Bu. Ada orang tuanya Pak Purba datang," ucap Mbak Idah.


"Oh ya? Di mana?" Mona terlihat sangat senang, dia langsung menuju ke taman belakang mengikuti jari Mbak Idah yang tadi menunjuk mereka sedang di sana.

__ADS_1


'Aduh kenapa aku langsung nunjuk ada di taman belakang? Kalau Bu Mona mendengar percakapan mereka gimana? Aku saja tadi sempat terkejut' gumam Mbak Idah. Merasa khawatir sendiri.


Bersambung....


__ADS_2