
Bab 137
"Aku mau coba panggil Bizar aja ya," ucap Mona yang sejak tadi curhat tentang rasa gelisahnya pada Mbak Idah.
"Iya Bu, terserah Ibu aja. Mungkin Mas Bizar mau disuruh ke sini, meskipun tidak ada Bapak," respon Mbak Idah.
"Yah... sama-sama nggak aktif. Apa sudah tidur mungkin ya? Kecapean karena ngurus kerjaan, karena nggak ada Mas Purba."
"Memangnya, Mas Bizar hari ini mengontrol perusahaan mana Bu?" tanya Mbak Idah, karena setahu dia, Bizar tidak pernah jauh dari Purba.
Namun, Mona saat curhatnya tadi mengatakan di perusahaan pun Bizar tidak ada, mungkin sedang berada di perusahaan lain.
"Entah, aku lupa menanyakannya tadi siang. Aku hanya ada informasi dari Fira, bahwa Bizar sedang ada di perusahaan cabang."
"Ibu, sekarang yang tenang ya. Minum susu hangat biasanya lekas ngantuk. Insya Allah Bapak baik-baik aja. Mungkin ponselnya mati karena ingin fokus memberi support kepada temannya."
Entah mengapa Mbak Idah merasa kesal berbicara seperti itu. Iya kesal pada dirinya sendiri seakan membohongi diri apa yang diucapkannya tidak sejalan dengan hatinya.
__ADS_1
"Iya mungkin ya, semoga saja tidak ada apa-apa. Kalau ponsel tidak aktif itu jadi pikirannya kemana-mana.Takut ada celaka atau musibah lain," lirih Mona.
'Pemikiranmu sudah sangat berubah Bu, selalu berpikir positif. Semoga Bapak tidak memberikan kecewa kepada Ibu,' batin Mbak Idah sambil menatap majikannya yang masih fokus pada layar HP dengan mulut tak berhenti mengunyah camilan.
***
"Apa! Kamu mau nikah besok? Kenapa nggak ngabarin?" tanya Retno yang baru dapat kabar dari Rara keesokan harinya.
"Kemarin malam tepatnya menjelang pagi, Mas Purba datang. Singkatnya jadi tiba-tiba ngajak nikah. Mungkin untuk membuktikan bahwa dia memang serius, jadi nekat. Kamu tahu sendiri waktu itu aku lagi kesel-kesalnya."
"Kamu gimana sih? Mendadak kayak gini? Semoga aku bisa izin libur, nggak asik kan kalau kamu nikah aku nggak hadir."
"Nggak, nggak. Pokoknya aku harus hadi. Ya udah tutup dulu teleponnya, biar nggak terlalu kelamaan. Aku mau ngeberesin pekerjaan dulu, baru bilang sama Mas Hendra. Semoga bisa libur besok."
"Ya udah terserah, mau hadir atau enggak yang penting aku udah ngasih tahu kamu jangan sampai nanti kena tegur. Mana ini juga kesannya nikah diam-diam gitu."
"Tenang aja, semoga Mas Hendra ngerti. Kudoakan, semoga lancar ya," ucap Retno kemudian menutup panggilannya.
__ADS_1
Dia sebagai sahabat Rara juga bingung, mau mensupport sepenuhnya atau mencoba untuk mempertimbangkan kembali. Namun, ini sudah ada di tahap yang sebentar lagi akan sah. Ya sudah, gimana lagi. Hanya dukungan yang terbaik untuk sahabatnya, agar tetap semangat menjalani kehidupan baru dengan perasaan yang tenang.
Retno tahu tentang kebimbangan Rara yang awalnya di kampung mendapat predikat pelakor atau penggoda suami orang, tapi sekarang malah kejadian beneran dia menjadi perebut suami orang di Jakarta. Yang niatnya hanya bekerja. Sungguh merasa prihatin Rara kepada sahabatnya ini.
***
Malam ini Purba, Pak Kukuh dan Bizar menginap di hotel. Acara pernikahan sudah disepakati besok malam pukul 19:30.
Rara tidak bisa tidur, dia masih mempersiapkan persiapan besok dengan Lena dan ibunya.
Menghubungi catering, persiapan Snack dan memastikan beberapa persiapan lainnya.
"Nak, kemarin pernah Azka cerita ke ibu. Katanya mimpi Azkia sedang dikejar-kejar. Tadinya ibu gak bakal bilang. Takut jadi kepikiran kamu," cerita Bu Sugeti, saat sedang di ruang depan bersama Lena. Sedangkan Azka tidur di kursi, berbantal pangkuan Rara.
"Oh, iya Bu. Aku lupa cerita. Mas Gandi, memang di Jakarta. Aku melihatnya di perumahan tempat tinggalnya lagi. Berarti kemungkinan Azkia juga dibawa ke sana. Apa yang dirasakan saudara kembar gak pernah, meleset.
Nak ... sabar sayang." Tiba-tiba Rara memelas, sedih mengingat putra yang satunya. Apakah sedang kesusahan di sana?
__ADS_1
Bersambung....