
“Lalu? Emang harus gimana? Harus cantik kayak model gitu? Aku kan pendek dan kulitku emang sawo matang seperti ini. Terus gimana lagi?”
“Ya... setidaknya lebih cerah kek. Udah deh, pokoknya kamu harus ke salon. Waktu seminggu itu bukan waktu yang lama, setidaknya kamu udah tiga kali lah, ke salon dalam seminggu itu. Lumayan.”
Rara pun kemudian mengucapkan terima kasih atas informasi yang diberikan oleh Sari. Meskipun Sari memastikan pada Rara bahwa itu bisa terjadi dan bisa tidak jug.
Soalnya tahun-tahun sebelumnya tergantung sekretarisnya juga, mau menerima tawaran itu atau enggak. Biasanya sih yang sudah-sudah dilihat dari fisik yang memungkinkan, tapi sesuai tahun-tahun sebelumnya juga, biasanya sekretaris yang menjadi wakil untuk memamerkan hasil kualitas kain dari perusahaan.
Istirahat telah usai, Rara masuk ke ruangan kerjanya. Namun, belum ada siapa pun di sana, dia kemudian mengerjakan tugasnya seperti biasa.
Sepuluh menit kemudian, Purba Mona dan Bizar masuk ke ruangan, mereka tidak saling sapa. Mereka langsung sibuk pada tugasnya masing-masing.
Hanya ada beberapa percakapan itu pun tentang urusan kerja. Mona pun sedang tidak ada bahan bahasan untuk memberi tekanan pada Rara. Dia sedang ingin berada di sisi purba dengan nyaman.
Waktu pulang pun tiba. Kali ini Mona tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, dia selalu berada di samping Purba dengan mengalengkan tangannya di lengan Purba.
Lift sudah diperbaiki, kebetulan Rara juga tidak ingin satu lift dengan Mona Purba dan Bizar, dia pulang belakangan dengan alasan merapikan dulu ruangan.
Sudah sampai di luar lift, Purba tiba-tiba teringat ada sesuatu yang ketinggalan, ponselnya.
“Aduh Papa, gitu aja sampai ketinggalan. Udah, biar Bizar aja yang ambil,” rengek Mona.
“Tidak bisa Ma. Bizar kan, menyiapkan mobil. Nanti makin lama lagi pulangnya. Mama tunggu aja di depan gedung, kalau mobilnya ada, Mama tinggal naik aja dulu. Nanti Papa nyusul,” ucap Purba tanpa menunggu persetujuan dari Mona, dia langsung pergi.
Saat sudah dekat di ruangannya terlihat Rara sedang mengunci pintu ruangan tersebut. Purba segera berjalan cepat dan menghentikan tangan Rara yang memutar kunci.
Rara kaget. Kenapa tiba-tiba ada seseorang di belakangnya? Rara menoleh dan itu ternyata Purba. Tangannya terhenti. Rara sedikit gugup. Purba sedekat Itu dengan dirinya, bahkan wajahnya pun hampir tak ada jarak di antaranya. Rara sungguh bingung, tubuhnya seketika merasa lunglai.
“Bapak? Kok kembali lagi?” tanya Rara.
“Kita hanya berdua loh,” ucap Purba dengan lembut, berbisik di telinga Rara.
“Eh, I-iya Mas. Kenapa kembali lagi?”
__ADS_1
Purba hanya tersenyum, dia tidak menjawab. Tangannya yang bertumpu di atas tangan Rara yang masih memegang kunci, dan masih berada di lubang kunci tersebut, diputar kembali oleh Purba.
Rara terkejut kenapa purba memutar kembali anak kuncinya?
Kunci terbuka, Purba mendorong pintu dengan tangannya yang masih bertumpu dengan tangan Rara.
Tubuh Rara pun terdorong otomatis dengan langkah Purba yang maju, masuk ke ruangan tersebut.
Rara kaget ada apa ini tiba-tiba bosnya bertindak seperti ini?
Pintu pun ditutup, lalu purba menggiring Rara hingga bersandar pada dinding dekat pintu. Rara gemetar. Apa yang akan dilakukan bosnya? Tidak mungkin akan sejauh ini. Batin Rara berkecamuk, antara takut dan merasa terbuai.
"Mas mau apa? Jangan kayak gini,” lirih Rara, gugup. Malah hampir suaranya tidak terdengar, tubuhnya benar-benar lunglai berada dalam kukungan Purba.
“Kenapa? Tidak boleh? Aku tidak tahan jika sehari saja belum menyentuhmu.” Tatapan mata Purba sungguh tajam, lurus menghujam tepat pada bola mata Rara.
Rara, tiba-tiba terperanjat. Kata-kata menyentuh membuat Rara berpikir ke mana-mana.
Perlahan tangan Purba menyentuh Rara. Dengan perlahan Rara pun memejamkan matanya.
‘Tidak... tidak. Aku harus sadar, jangan berlebihan,' batin Rara.
Rara menyentuh tangan Purba yang ada di pipinya, berusaha untuk disingkirkan dari sana. Namun, tangan itu susah sekali dilepaskan.
“Kenapa? Aku hanya ingin seperti ini,” ucap Purba.
“Tapi Pak, eh ... maksudnya Mas. Bukankah ibu Mona sedang menunggu di bawah?” ucap Rara.
“Itu terserah aku. Kenapa? Bukankah kita harusnya saling mendukung, saling membela rasa masing-masing? Kenapa harus memikirkan orang lain?”
Rara tak mampu menyela lagi ucapan Purba. Apa yang dikatakannya, ada benarnya.
“I-Iya, terserah Mas, tapi ini terlalu cepat.”
__ADS_1
“Apanya yang terlalu cepat? Aku hanya ingin seperti ini saja. Aku rindu sayang ...,” ucap Purba, kali ini dia mengecup kening Rara perlahan.
Tanpa terasa Rara memejamkan matanya. Begitu hangat kecupan itu, semakin lama tubuhnya semakin lemah, tangan Rara memegang erat lengan Purba, tangan yang satu memegang rok di samping pahanya.
Rara menahan diri agar tidak terjatuh dalam buaian yang Purba lakukan.
“Terima kasih, sudah mau menerimaku apa adanya, terima kasih mau sama-sama gila dengan hubungan ini,” ucap Purba setelah melepas kecupannya.
Rara hanya mengangguk, dia sungguh tak bisa berkata-kata. Hari kemarin dia mendapat kecupan di pipi dari Purba dan sekarang dapat kecupan di kening. Apakah besok mendapat lagi di tempat lain? Sesuatu hal yang menakutkan bagi Rara.
Rara tidak munafik, bukannya tidak mau, tapi juga dia tidak ingin terkena masalah lebih besar. Biarkanlah hubungan mereka berjalan seperti layaknya orang dewasa, yang saling mengerti keadaan masing-masing.
“Selamat sore, selamat pulang dan selamat istirahat. Nanti kalau ada kesempatan, aku menghubungimu,” ucap Purba berbisik di telinga Rara.
Kemudian tangan Purba menggapai pinggang Rara, ditariknya pinggang itu lebih dekat ke tubuhnya, kemudian dipeluknya tubuh mungil sekretarisnya itu.
Rara menghela nafas di dalam pelukan Purba, tangannya yang masih kaku perlahan menjalar ke belakang tubuh Purba. Dipeluknya tubuh sang bos itu dengan rasa sayang dan nyaman.
Purba menarik nafas dalam, kemudian mengembuskannya, “Semoga kesulitan ini lekas berlalu, mari kita pulang,” ucap Purba menggenggam tangan Rara.
Rara pun melihat genggaman itu, dia terharu. Karena baru pertama kali tangannya bersentuhan dengan tangan pria secara romantis seperti ini.
Memang, meskipun Rara sudah mendapat beberapa kecupan dari Purba, akan tetapi tangan mereka baru saling pegang hari ini. Ada rasa bahagia dan perlindungan pada diri Rara.
Tangan kekar dan hangat yang belum pernah ia rasakan, bahkan semenjak menikah dengan Gandi pun.
Saat dengan Gandi, dia tidak pernah romantis sama sekali. Kalau berhubungan intim, itu bukan romantis, karena Gandi layaknya seperti hewan yang selalu kelaparan.
Selalu saja langsung menerkam Rara tanpa penjajakan, ataupun pemanasan terlebih dahulu.
Bahkan hari-hari biasa dilakukan seperti layaknya suami istri yang tidak pernah pacaran. Biasanya Rara, masak, beres-beres rumah kerja sampingan, hanya seperti itu saja.
__ADS_1
Bersambung....