Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Kesialan


__ADS_3

Bab131


Padahal orang-orang yang dari kamar lain pun tahu keributan di kamar Gandi, tapi mereka juga tak berani.


Namun, saat melihat Bu Heti keluar, mereka jadi terpancing ingin mengetahui apa yang terjadi. Sehingga saat Bu Heti yang menuju kamar Gandi ada beberapa warga yang ikut.


Namun, tidak berani dekat-dekat, mereka akan lihat dulu. Jika situasinya cukup hanya melihat, maka mereka tidak akan ikut campur, tapi jika lebih parah, mereka pasti akan membantu warga, yang menurut mereka berhak untuk melindungi tetangganya sendiri.


Jika ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi


Bu Heti langsung membuka pintu kamar Gandi, kebetulan pintunya sudah membuka sedikit, mungkin bekas Gandi mengambil sapu lidi tadi.


"Udah Bang! Hentikan! Kasihan anaknya!" tegur Bu Heti, dia ingin masuk tapi masih ragu. Jadi hanya berdiri di depan pintu


Gandi yang akan menyabetkan lagi lidinya pada Azkia, dia menoleh ke arah pintu dengan sudut mata yang tajam


"Mau apa ada ke sini? Jangan ikut campur urusan orang!" sergah Gandi, tidak suka.


"Tapi Bang, dia anak kecil. Kasihan menyiksanya seperti anak besar kayak gitu. gak punya hati lu Bang," lawan Heti dengan nada keras, tak gentar sedikit pun pada Gandi saat ini.


"Ini urusanku, dan ini udah biasa. Biar jangan jadi anak bandel dan manja!" ketus Gandi.


Bu Heti tidak mendengarkan Gandi, dia tidak ingin berdebat yang ujung-ujungnya akan emosi sendiri.


Bu Heti berteriak pada Azkia agar menghampirinya.


"Azka sini, Nak...! Sama ibu," ajak Bu Heti sambil menggapai-gapai pada Azkia.


Azkia bingung, dia ingin sekali berlari dan memeluk Bu Heti. Namun, sudut matanya melirik pada ayahnya karena di antara dia dan Bu Heti di tengahnya adalah ayahnya, Azkia jadi bingung harus bagaimana.


Gandi gemas karena Bu Heti tidak menggubris ucapannya, jadi langsung berjalan mendekati pintu untuk mengusir Bu Heti. Sesaat sempat terjadi dorong-dorongan pintu antara Gandi dan Bu Heti.

__ADS_1


Karena Bu Heti ingin jika Azkiya tidak disiksa lagi.


Suami Bu Heti yang sudah berada di dekatnya membujuk istrinya agar pulang saja. Sedangkan warga yang lain masih menjaga jarak melihat adegan itu.


Bu Heti tetap keukeuh ingin melindungi Azkia.


Namun, saat Bu Heti masih dorong-dorongan pintu dengan Gandi, jari Bu Heti terjepit pintu yang dipaksa ditutup oleh Gandi.


 "Akh!"


Teriakan Bu Heti membuat para warga menghampiri dan ikutan mendorong pintu itu hingga Gandi kalah jumlah. Gandi sempat kehilangan keseimbangannya, untuk tidak sampai jatuh.


"Eh Mas! Nggak boleh gitu don! Warga baru kasarnya minta ampun," ucap salah satu warga yang hanya mengenakan sarung.


Sebenarnya warga di sana memang tidak suka dengan kedatangan Gandi. Bahkan sempat dibandingkan oleh warga, bahwa lebih baik Daryanto daripada Gandi.


Tapi memang dilihat Daryanto dengan Gandi sangat berbeda. Meskipun Daryanto jarang bicara, tapi tidak pernah membuat kerusuhan di kontrakan tersebut.


Sedangkan Gandi arogannya minta ampun. Bahkan dia pernah egois menggeser jemuran warga yang ada pada tali jemuran, hanya karena dirinya akan menjemur pakaian, tapi tempatnya penuh penuh.


Saat warga ada yang memutar musik dangdut, POP, yang gandi tidak suka pokoknya, dia langsung memutar musik keras, jadi bersahutan dengan tetangga dan membuat telinga tidak nyaman. Alhasil tetangga yang mengalah.


Kemudian lagi, saat gandi ambil handuk di jemuran. Asal narik, hingga baju milik tetangganya terjatuh. Tidak ia hiraukan.


Yang mencuci pakaian memang seringkali Azkia. Kalau Gandi juga kadang nyuci untuk baju besar. Seperti celan Levis atau jaket. Lalu menyalakan motor dengan keras, jika mengecek olinya, atau memanasi mesin motor tiap pagi, tarik gas sampai geber.


Pokoknya kelakuan gandi sungguh mengganggu ketentraman warga.


Karena Bu Heti menjadi korban kelakuan Gandi, para warga akhirnya berani untuk rame-rame menekan Gandi, ada yang ngatain balik hingga ditunjuk-tunjuk bahwa sebenarnya warga udah geram dengan kelakuan dia di sana.


Saat warga sedang fokus meluapkan rasa kesalnya selama ini kepada Gandi. Bu Heti masuk lalu menggendong askia dibawa keluar tanpa sepengetahuan Gandi.

__ADS_1


"Ada apa ini?" tanya suara yang baru saja datang.


***


Kemudian di sisi lain Rara menerima pesan dari Purba yang mengatakan dia akan memperkenalkan dirinya pada orang tua Purba. Terbersit rasa penasaran ingin segera melakukan pendekatan pada orang tua Purba.


Tanpa berpikir panjang, refleks Rara langsung membalas pesan dari Purba. Mungkin saking senangnya hingga ia tak sadar masih marah dengan Purba.


"Kapan Mas? Emang orang tua mas ada di sini? Aku mau. Mau banget," ucap Mona dengan semringah.


Pesan terkirim, lalu Rara terbengong. Dia baru sadar bahwa masih marah. Matanya kemudian dipejamkan erat, lalu tangannya dipukul-pukul pada meja saking kesalnya pada kebodohan sendiri.


Saat ini Rara sedang berada di kamar, di depan meja rias sedang membersihkan wajahnya sebelum tidur.


"Argh ... sial, sial, ngapain juga aku terjebak pancingannya," gerutu Rara.


***


Di sisi lain, pada sebuah ruangan kerja. Purba membaca pesan Rara, dia tersenyum senang.


"Kena! Makanya jangan sok-sokan marah," gumam Purba dengan bibir tersenyum.


Purba menjawab apa yang Rara tanya dalam pesan tersebut.


***


Walau beneran masih menyesal dengan merespons chat Purba, tapi Rara penasaran saat pesan Purba masuk. Namun, dia membacanya lewat pemberitahuan di atas layar, jadi pesan Purba belum dibuka. Dan ... saat tahu isinya....


"Hah? Yang benar aja? Tak habis pikir, deh. Nekad banget?" gumam Rasa setelah membaca pesan mantan bosnya tersebut.


 

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2