Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Saatnya


__ADS_3

Bab 138


Hari Yang dinanti tiba, keesokan harinya tepatnya pukul 19.30 setelah para warga melakukan salat isya berjamaah di masjid langsung berduyun ke rumah Bu Sugeti.


Di sana sudah ada Purba dengan jas hitam dan peci didampingi oleh Pak Kukuh, beserta Bizar dan Hendra, karena Retno kemarin saat dihubungi oleh Rara langsung meluncur ke Sugihayu.


Sementara Rara berada di dalam kamar bersama Retno, meskipun riasan sederhana tetapi Rara tetap menggunakan kebaya khas pengantin.


"Aku deg-degan Ret. Apakah memang kayak gini ya? Deg-degan kalau nikah?" tanya Rara.


"Memangnya kamu gimana? Dulu sama Mas Gandi," kecap Reno malah balik bertanya.


"Nggak gini, dulu malah pengennya ada yang ngebatalin atau ada musibah apa kek, biar nikahnya batal. Nggak deg-degan. Yang pasti deg-degan karena takut waktu itu, tapi sekarang entah apa."


"Ya, mungkin itu wajar. Karena kamu mau menikah dengan seseorang yang kamu sukai juga."


"Bukan karena takut ya?"


"Takut apa lagi?"


"Mas Purba kan, udah punya...,"


"Udah, gak usah dibahas. Kalau emang iya kamu pelakor, mana ada pelakor seperti kamu yang mikirin istri sah. Di mana-mana pelakor tuh nggak peduli orang lain. Kalau kamu masih mikirin istri sah, berarti emang takdir kamu menjadi istri kedua. Menjadi bagian dari cerita suami-suami yang berpoligami."

__ADS_1


"Semoga gitu ya. Soalnya sesakit hatinya aku kalau Mas Purba dengan Bu Mona, nggak jadi masalah. Meskipun kalau kesel tetep ada, hehe."


"Ya, itu wajar. Asal jangan sampai Purba pusing nanti. Apalagi sekarang kamu sudah mau jadi istrinya. Kalau di rumah Mona sedang ada masala, bagian kamu yang nenangin. Jangan ditambah- tambahin."


Retno terus menenangkan Rara yang sepertinya ketakutannya campur aduk. Sekaligus memberikan pengertian. Walau Rara terlebih dahulu pernah berumah tangga, tapi kondisinya berbeda. Sehingga Retno memberikan beberapa arahan dan saran. Terlebih mengingatkan posisi Rara sebagai istri kedua.


Sementara itu di luar, sesepuh warga sudah membuka acara, lalu menyampaikan niat Purba yang sengaja datang dari Jakarta untuk melamar Derara, putri dari Ibu segeti.


Para tamu menyimak dengan seksama, cukup tentram tidak ada obrolan-obrolan miring. Mungkin mereka berpikir itu lebih baik daripada Rara single dan akan memungkinkan mengganggu suami orang lagi.


Ijab kabul pun dimulai oleh Pak penghulu dan disaksikan beberapa pemuka Agama juga.


Setelah Purba mengucapkan ikrar pernikahan di depan penghulu, serta menyebutkan Mas kawinnya, para warga mengucap 'SAH!' dan alhamdulillah...


Kemudian Bu Sugeti ke kamar untuk memanggil Rara.


Saat semua sudah bersalaman, Purba yang duduk berdampingan dengan Rara memegang tangan wanita ayu idamannya, yang saat ini sudah sah menjadi istrinya.


"Gimana? Lega?" tanya Purba, dengan berbisik ke telinga Rara.


Rara hanya mengangguk.


"Ayo, senyum dong. Aku tidak ingin hari bahagia ini kamu berpikir macam-macam. Tak masalah yang ke satu atau yang kedua, yang penting di hatiku, kamu menempati posisi pertama."

__ADS_1


Purba terus meyakinkan Rara dengan ucapan yang kesannya buaya sekali. Mungkin karena bilang Rara yang selalu ada di hatinya, belum tentu ke Mona juga mengatakan hal yang sama.


Akan tetapi nyatanya Purba memang menempatkan Rara yang pertama di hatinya. Bukan sekedar omongan buaya. Rara hanya saja salah waktu, Mona yang pertama datang terlebih dahulu.


"Ayo senyum. Kalau tidak, berarti kamu tidak menginginkan pernikahan ini," gerutu Purba.


Enggak Mas. Iya, aku semangat. Seneng banget hari ini," ucap rara, dengan wajah tersenyum selebar mungkin.


"Ah, kepaksa ngomongnya. Kaya yang masih belum ikhlas gitu."


"Beneran Mas...," ucap Rara.


Karena ada warga yang masuk untuk bersalaman dengan mereka, Purba dan Rara pun berdiri untuk bersalaman menyambut kedatangan tamu undangan.


Yang berdatangan ternyata cukup banyak juga, karena para warga tahu Purba adalah orang kota. Mereka ingin penasaran mencicipi makanan enak yang jarang sekali mereka temukan, kecuali kalau ada acara hajat besar saja.


Selain itu juga setelah prasmanan mereka masih dapat bingkisan, itu yang mereka sengaja datang. Bahkan jika suami istri yangq datang dan bingkisan itu berlaku untuk setiap jiwa bukan satu keluarga satu.


Purba tak permasalahkan apakah para warga memberi uang hajat atau yang disebut biasanya amplop atau enggak. Dia murni mengadakan acara syukuran pernikahannya dengan Rara untuk merayakan hari bahagia mereka.


Sekitar pukul 21.00 warga sudah mulai surut. Meskipun acara nikah siri, tapi dirayakan dengan cukup terbuka, seluruh kampung Sugih ayu mengetahui kabar itu.


"Aku mau ganti pakaian dulu Mas," ucap Rara pada Purba.

__ADS_1


"Hem."


Purba hanya berdeham. Tumben sekali. Rara melirik pada Purba. kemudian menggeleng dengan senyuman. Tak Habis pikir dengan tingkah suaminya


__ADS_2