Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Asal Mula CEO


__ADS_3

Dulunya Pak Akbar adalah tukang kebun di rumah tuan Hartanto, di Jakarta. Sedangkan istrinya menjadi pelayan di rumahnya Tuhan Hartanto juga.


Mereka ikut keluarga Hartanto sejak dari mereka belum nikah, maka saat mereka sama-sama suka dan akan menikah, Pak Hartanto merasa mereka adalah keluarga, sehingga ikut membiayai pernikahan mereka juga.


Akan tetapi saat istri Pak Akbar mengandung bayi yang pertama, dia pulang kampung. Rasanya tidak enak jika harus segalanya dibantu oleh Tuan Hartanto.


Sebenarnya, Tuan Hartono menyediakan rumah bagi pegawainya yang sudah berumah tangga. Beda halnya para pelayan yang belum berumah tangga, tempat tinggal mereka seperti asrama, kamar kecil berjejer. Namun, bagi yang berumah tangga ada hunian kecil cukup untuk mereka berdua, ada kamar, ruang tamu dan dapur pribadi.


Setelah putra pertama pasangan Pak Akbar dan istrinya lahir yaitu yang diberi nama Purba, di usia 15 tahun, kemudian Purba ikut bersama ayahnya untuk menjadi pesuruh di rumah tuan Hartanto.


Namun, siapa sangka Purba yang di kampung hanya lulusan SMP memiliki otak yang cerdas dan kreatif.


Awalnya hanya mengikuti Tuan Hartanto kemana pun untuk membawakan tasnya. Terkadang Purba menyimak beberapa diskusi Tuan Hartanto dengan klien, jika sedang mengadakan meeting di luar.


Saat Pak Hartanto pulang dari meeting, terkadang ada beberapa hal yang ditanyakan oleh Purba dan itu membuat takjub Tuan Hartanto.


Masalah-masalah yang menurut Hartanto sulit, bisa mendapat pencerahan dari pernyataan-pernyataan yang Purba lontarkan.


Maka dari itu Tuan Hartanto bersedia memberikan beasiswa kepada Purba untuk melanjutkan sekolah. Bahkan hingga lulus SMA, prestasi Purba sangat membanggakan, hingga Tuan Hartanto bersedia untuk menguliahkan Purba.


Saat Purba sudah mengenyam S1 di universitas Indonesia, Hartanto memberikan kepercayaan pada Purba untuk menjadi pendampingnya di kantor selama satu tahun. Dua tahun berikutnya, Purba menganyam pendidikan S2 di luar negeri.


Dari sanalah kebanggaan Tuan Hartanto kepada purba semakin meningkat. Purba yang memiliki karakter santun pintar dan dapat dipercaya juga jujur, dia ingin agar bisa menjadi menantunya, dengan tujuan merubah Mona anak kedua Tuan Hartanto yang sering sekali pulang malam, dan terbiasa dengan pergaulan bebas.


Tuan Hartanto yakin, Purba sanggup merubah karakter Mona, secara dari penampilan Purba tidak kalah dengan pria-pria metropolitan lain, wajah yang tampan badan tinggi meskipun tidak terlalu kekar, karena Purba memang tidak suka ng-gym.


Jika Purba berusaha mendekati Mona, pasti Mona juga akan bisa dikendalikan olehnya dan jatuh cinta.


Beberapa kali juga tuan Hartanto melihat gelagat Mona yang sebenarnya tertarik pada Purba. Karena, saat Mona di antar oleh Purba ke mana pun, Mona selalu pulang tepat waktu.


Hal itu menurut Hartanto, karena Purba selalu mengingatkan Mona agar tidak lupa waktu kalau kumpul dengan teman-temannya.

__ADS_1


**#


Dari sanalah pertimbangan matang sangat alot dirundingkan antara Purba dengan keluarganya. Namun, karena dia mengingat hutang budi, meskipun Tuan Hartanto tidak meminta, Pak Akbar dan Purba menyepakati, meski dengan berat hati.


Semua dilakukan karena rasa berterima kasih Pak Akbar kepada Tuhan Hartanto.


Purba sempat jujur pada Tuhan Hartanto, bahwa dirinya tidak mencintai Mona, tapi Purba juga mengakui tidak ada kurang dalam diri Mona. Apalagi perihal fisik, Mona bisa dikatakan wanita sempurna.


Purba juga tidak membahas tentang karakter Mona yang masih suka pergi ke diskotik, pergaulan bebas dan susah diatur, ini hanya mengenai tentang perasaan. Purba takut tidak bisa menjadi suami yang baik.


Namun, Tuan Hartanto terus membujuk, suatu saat cinta itu pasti akan datang dan Purba akan menerima Mona apa adanya, begitu pun sejalan dengan Mona berubah menjadi wanita yang berperilaku semestinya.


Maka sebenarnya pernikahan Mona dan Purba bukan sebuah paksaan, bukan juga perjodohan. Namun, semua karena rasa tidak enak keluarga Pak Akbar yang sudah sangat banyak dibantu oleh keluarga Hartanto.


Purba juga di sini memberikan perjanjian pada Tuan Hartanto, bahwa dia tidak bisa melanjutkan pernikahannya jika dalam dua tahun atau tiga tahun pernikahan, Mona tidak kunjung berubah. Karena purba juga ingin memiliki keluarga yang normal harmonis dan bahagia.


Hartanto menyetujui penawaran Purba. Karena memang Tuan Hartanto ingin tujuannya untuk Purba bisa merubah Mona.


Kemudian saat rencana pernikahan Mona dan Purba disampaikan pada Mona, dia juga mengajukan syarat; jika sampai ketahuan Purba selingkuh atau memiliki yang lain Mona akan minta untuk bercerai.


Karena dia tidak ingin diduakan, meskipun Mona memang menganut pergaulan bebas, tapi kalau untuk hubungan serius, dia tidak akan main-main. Mona juga berjanji dia akan berubah.


Dari saat itulah pernikahan Mona dan Purba direncanakan dan perjanjian kedua belah pihak disetujui.


**#


Saat malam hari, Purba menelpon Rara. Dia meminta untuk Rara memakai baju yang ia beli kemarin. Sebenarnya ini permintaan konyol seorang bos menyuruh kepada sekretarisnya, untuk sekedar melihat dirinya menggunakan pakaian yang nanti juga akan terlihat ketika masuk kerja.


“Maaf Pak, apa Anda tidak berlebihan?” tanya Rara sambil mengerutkan kening.


“Yang dimaksud berlebihan? Saya kan, hanya ingin melihat model baju apa yang kamu pilih.”

__ADS_1


“Saya memilih sesuai arahan Mbak Sinta, katanya itu selera bapak.”


“Baiklah ... saya kan cuma mau lihat. Gampang aja, kamu tinggal ganti di kamar mandi atau matikan dulu kameranya.”


“Bagaimana kalau nanti saya fotokan aja Pak? Nanti saya akan pakai semua pakaian yang kemarin saya beli.”


“Hem ... Ok, jangan lupa ya! Oh ya, terus gimana kerja hari ini?”


“Alhamdulillah lancar Pak, tadi saat setelah istirahat, saya ditemani fira di dalam. Saya kurang nyaman juga berdua dengan Pak Yosef.”


“Kalau berduaan dengan saya?” celutuk Purba.


“Maksud bapak?”


“Kenapa sih kamu mendadak oon? Kayak gitu aja gak paham. Apa bedanya satu ruangan dengan Pak Yosef dan dengan saya?”


“Ya nggak ada bedanya sama-sama bos,” ucap Rara, pura-pura gak paham.


“Yakin?” ucap Purba dengan pertanyaan yang menjebak.


“Apaan sih Bapak? Udah dulu ya, nanti saya janji kirimin fotonya.”


Purba pun hanya tersenyum yang tidak bisa diartikan, dia mematikan ponselnya dan menanti kiriman foto dari Rara.


Sedangkan Rara memeluk ponselnya dengan senyum bahagia dan entah apa. Tentu asmara memang sulit diartikan. Bahagia dan takut menjadi satu.


**#


Mona ibunya dan Bu Akbar sedang berada di dapur, mereka merapikan bekas makan malam, makanya Purba leluasa untuk menelpon Rara.


Kemudian, Bu Akbar dan Nyonya Hartanto juga, menjadi banyak waktu untuk menasihati Mona, bagaimana menjadi istri yang semestinya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2