Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Apa Salahku


__ADS_3

...Bagaimana pun tidak sukanya terhadap seseorang, kebersamaan yang lama memudarkan risi jadi menghargai, kemudian menikmati ....


Rara langsung bekerja di bilik sekretaris. Tempat kerjanya sedikit berbeda saat bersama Purba. Rara bekerja di luar ruangan direktur. Namun, bersebelahan dengan pintu masuk direktur untuk memudahkan keperluannya mengatur dan mendampingi saat dirinya dibutuhkan tiba-tiba.


“Eh Ra, nanti istirahat bareng gue, ya,” ajak Doni seorang karyawan yang bertubuh cukup kurus untuk ukuran pria. Mungkin usianya masih 23 tahun, sepertinya dia karyawan magang karena masih menggunakan pakaian hitam putih tanpa dasi.


Rata-rata karyawan bonafit tekstil harus menggunakan dasi, baik itu hanya karyawan biasa, bukan staf.


“Gimana nanti aja, ya,” ucap Rara dengan sedikit mengulas senyum. Dia tidak enak sebenarnya, hari pertama bekerja yang akrab malah dengan seorang pria.


“Yah... jangan gitu dong, ketimbang makan doang,” keluh Doni, merasa kecewa.


“Tapi, jangan berdua. Masa iya berdua aja, nggak enak. Aku kan baru di sini, soalnya.”


“Enggak kok, nanti kita rame-rame. Kamu belum tahu aja, nanti ada Dewi, Riri, Khodijah, banyak pokoknya,” ucap Doni.


“Kalau gitu, baiklah. Terserah nanti aja, aku kan belum kenal mereka semua, jadi nanti samperin aja ke sini. Kantinnya aja aku gak tahu,” papar Rara.


“Oke siap, nyonya,” ucap Doni, bercanda dengan memanggil Rara sebutan Nyonya.


Doni juga meletakkan tangannya di kening seperti orang hormat lalu kembali ke tempat kerjanya.


Rara tertawa lirih, melihat kelakuan Doni. Kocak juga.


Kayanya Rara bakal betah di tempat baru. Meski perusahaan yang sama tapi ternyata karakter orang-orangnya berbeda. Di perusahaan yang ini, sepertinya orang-orangnya ramah dan lebih peduli.


Namun, Rara jadi lupa. Bahwa dia bekerja juga hanya beberapa bulan saja. Soalnya dia haru segera mempersiapkan toko kue nya.


 


**#


Bonafit Tekstil Pusat


Istirahat pun tiba.


“Ayo Ma, istirahat dulu,” ajak Purba menghampiri meja Mona.


“Aku nggak selera,” ucap Mona.


“Tapi, tadi pagi Mama belum makan. Masa sekarang nggak makan lagi.”

__ADS_1


“Papa tahu kan kalau Mama nggak semangat? Yang dibutuhkan Mama itu apa?” ucap Mona memberanikan diri. Hampir 5 hari dengan hari ini dia belum mendapat sentuhan Purba.


“Papa pura-pura nggak tahu?” tanya Mona.


Kalau masalah hubungan intim, Mona tidak pernah ragu untuk memulainya dahulu. Karena, jika menanti Purba yang memulai, itu memang sangat sulit.


Mona beranjak dari duduknya, dengan gemulai mendekat pada Purba. Diraih tangannya lalu diletakkan di kedua pinggang Mona.


“Sayang ... kau lebih mengerti kan apa yang aku inginkan?” Mona memancing supaya Purba melakukannya tanpa dikomando.


Purba menatap Mona lekat, dia sedang menyelami wajah cantik di depannya. Dia harus memiliki hati kepada istrinya yang sudah berubah menjadi baik.


Purba harus merasa bersyukur istrinya yang bisa dikatakan sempurna, meskipun karakternya pernah mengecewakan, meskipun hubungan mereka bukan yang diinginkan.


Purba terus bergelut dengan pikirannya. Dia harus bisa mencintai Mona, tak ada yang buruk pada diri istrinya itu, hanya hati yang belum bisa menerima.


Perlahan tangan Purba beranjak dari pinggang Mona, disentuhnya wajah cantik kekinian itu, diusap wajah Mona, ditelusurinya setiap sudut kecantikan yang tersaji di depannya.


Terbersit wajah ayu Rara di benak Purba. Namun, segera berusaha menepiskan.


Purba terus meyakinkan diri sendiri, jika dia sanggup untuk memiliki dua wanita sekaligus, dia harus bersikap adil.


Sudah saatnya Purba bersikap gentel, berani ambil risiko untuk mempertanggungjawabkan dua hati yang harus dijaga.


Purba beruntung memiliki dua wanita yang saling melengkapi, yang satu wanita modern yang satu wanita daerah.


Purba langsung saja menikmati keindahan sosok yang ada di depannya. Tangannya begitu aktif, seiring dengan suara-suara manja yang keluar dari bibir Mona.


Tirai yang masih terbuka, terabaikan oleh api asmara yang baru saja membara. Suhu AC yang dingin mulai menghangat untuk mereka berdua.


Dalam deru napas yang berisik, Purba masih sadar berada di mana mereka. Purba kemudian membopong Mona, ke ruangan tempatnya istirahat jika di kantor. Sama seperti kamar.


Mona tidak ingin membuang kesempatan sedikit pun, pagutan bibir mereka tidak lepas meski Purba berjalan terengah mengatur ritme napas dengan tenaga menahan berat badan Mona.


Purba melemparkan Mona pada singgasana empuk tempat sejoli beradu kasih. Mona suka dengan perlakuan itu, dia lebih menikmati sensasinya daripada gerak lambat dari pasangannya.


Dengan agresif, tangan Mona begitu aktif melepas setiap titik kain pembungkus tubuh suaminya.


Selanjutnya mereka bermain dengan bebas di ruang penuh privasi itu. Tak peduli file-file yang menumpuk, terlupakan rasa lapar di perut. Nafsu makan kalah dengan nafsu syahwat yang menuntut.


Bizar yang tadi kebetulan sedang ada di luar, saat dia masuk melihat beberapa file dan tempat bolpoin berserak di lantai dekat meja kerja Mona.

__ADS_1


Bizar paham bosnya sedang bercinta bersama istrinya. Sesaat sebelum mereka masuk ke ruang peraduan, benda-benda tak berdosa di atas meja, menjadi korban keganasan sejoli lupa tempat karena lepas kendali.


Bizar merapikan barang-barang itu kembali ke tempatnya.


“Huft ... untung otakku tidak mudah panas. Masih aman, tidak terkontaminasi bayangan fantasi cinta karena membereskan barang-barang ini. Tak terbayang bagaimana ganasnya mereka,” gumam Bizar.


Perasaan Bizar mangkinkah sudah hampa? Sering kali melihat adegan syur bosnya, menyimak tanda-tanda pertempuran syahwat, tapi dia biasa saja. Tak pernah terbersit apa pun hal-hal kotor.


Tak lupa Bizar menutup tirai ruangan, kemudian dia keluar ruangan dan menunggu di depan pintu. Mengawasi kalau sampai suara menggelikan dari majikannya terdengar keluar, maka Bizar yang akan mengondisikannya.


**#


 


“Dor!.” Serempak genk riweuh mengagetkan Rara yang masih berkutat di depan laptopnya.


“Astaghfirullah, kalian,” seru Rara mengusap dadanya.


Tatapan Rara terlihat panik melihat mereka dengan wajah kecut seperti mengintimidasi.


Kurang lebih lima orang. Dua pria dan tiga wanita, berkumpul di depan meja Rara dengan tatapan tajam, kedua tangan mereka kompak bersedekap. Dagu mereka pun sedikit diangkat.


Rara bingung? Seakan mereka semua mau menerkam.


“Ma-maaf, ada apa ya?” lirih Rara campur gugup.


Salah satu dari merek melepaskan tangannya yang bersedekap, pindah jadi bertolak pinggang. Kemudian menghampiri Rara dengan gaya jalan angkuh, tatapan masih tajam.


Rara tak bisa menyembunyikan rasa takutnya. Trauma akan penganiayaan, perundungan, masih belum sembuh.


Meski Rara ketakutan dia mengikuti setiap gerak salah satu karyawan dengan tatapan gemetar.


Karyawan itu sampai di samping Rara. Dia membungkukkan badannya, masih dengan tatapan tajam dan mendekat pada wajah Rara.


Rara sudah gemetar dengan keringat dingin, bahkan tangannya pun basah karena keringat ketakutan.


Bersambung...


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2