
Waktu sudah menunjukkan pukul tuju malam, Purba sudah selesai meeting dengan Pak Gunawan. Saat Purba hendak pulang, Mona menghubunginya.
“Iya Ma,” tanya Purba, lewat sambungan telepon.
“Sayang ... akun mau dibelikan yang seger-seger,” rengeknya manja.
“Yang seger-seger apa? Yang jelas dong,” jawab Purba.
“Duren deh, aku lagi pengen itu. Oh ya, dan sate kambing.”
“Ok,” balas Purba singkat.
“Makasih sayang... muach.” Mona mengakhiri panggilannya dengan kecupan online.
“Hah ... mulai lagi,” gumam Purba.
“Nyonya pesan apa Tuan? Saya harus ke mana dahulu?” tanya Bizar.
“Ke supermarket, setelah itu beli sate di tempat biasa,”jawab Purba.
“Sate kambing seperti biasa Tuan?” tanya Bizar kembali.
“Hem ...,” jawab Purba malas.
Bukan malas keran Bizar banyak tanya, tapi karena Mona sudah mulai liar lagi. Mona tidak tahu, dirinya baru keguguran. Walau tiga hari yang lalu sudah dikuret, Purba rasa, Mona masih butuh masa istirahat.
Sayangnya, Mona belum tahu bahwa dia keguguran. Belum saat diberi tahu, takut depresi lagi. Tapi jika Mona sudah mulai agresif lagi, sepertinya malam ini waktu yang tepat untuk memberitahukannya.
**#
__ADS_1
Mona termasuk wanita yang hyper, terlebih setelah menikah dengan Purba, seakan mendapat mainan kesukaannya. Secara, Purba adalah Pria dengan wajah tegas, lugu dan lembut. Walau tubuhnya tidak begitu kekar, tak masalah buat Mona
Dengan postur tidak terlalu besar, Mona malah suka dengan tubuh Purba yang sederhana, lucu menggemaskan, ada sensasi tersendiri, daripada yang sering Mona lakukan dengan pria-pria gym.
Mobil Purba memasuki gerbang rumah yang halamannya cukup luas. Itu adalah rumah hadiah pernikahan dari mertuanya, memang tak sebagus rumah orang tuanya Mona yang sangat besar. Yang terpenting Mona mau tinggal di sana, tidak masalah rumah sebesar apa pun buat Purba yang terbiasa hidup sederhana.
“Ma... aku pulang!” seru Purba yang membuka pintu kamarnya.
Terlihat Mona sudah memakai lingerie berwarna kulit. Dengan bergaya wanita penghibur, Mona berpose sensual di atas tempat tidur.
‘Benar, kan? Drama dimulai,' batin Purba yang akan pura-pura menikmati permainan istrinya.
‘Dia wanita yang tahan banting, tak apa mungkin belum genap seminggu sudah berhubungan badan,' batin Purba lagi.
Mona adalah wanita sempurna secara fisik, rupa bak artis ibukota, kulit licin bening, tubuh tinggi semampai bak model. Namun, itu semua tak mampu menaikkan gairah Purba secara maksimal. Jika ada getaran sedikit, wajar, namanya juga kucing ketemu ikan. Bau amisnya tetap menggoda.
Purba menghampiri Mona, dengan makanan yang dipesan Mona.
“Harusnya kamu tidak makan-makanan seperti ini dulu, Ma,” nasihat purba sambil membuka bungkusan makanan. Dia sudah membawa tempat, tadi saat akan naik ke atas. Ke dapur terlebih dahulu membawa piring.
Sambil bicara, Mona bersender di lengan Purba, sambil tangannya aktif membuka tiap kancing baju suaminya. Tak hentinya Mona menghirup aroma tubuh suaminya, dengan badan masih menggeliat seperti ular dan tangannya bermain ke mana-mana yang ia sukai.
“Iya sayang, tapi aku udah puasa terlalu lama. Gak kuat kalau puasa lagi. Gak bakal banyak kok, cuma biar aku agak panas dikit. Hihi ...,” lirih Mona di telinga Purba, tak ketinggalan suara mendayunya. Badannya tak pernah henti menggeliat.
“Aku mau mandi dulu, gerah,” ucap Purba beranjak dari duduknya. Namun, Mona turun dengan sigap, menahan kepergian suaminya.
“Sebentar sayang ... aku ingin...,” mohon Mona, manja.
“Tapi tubuhku kotor, dari luar. Berkeringat,”
__ADS_1
“Tidak apa, aku suka,” balas Mona dengan senyum menggoda. Jarinya bermain di dada bidang Purba.
“Makan aja dulu tuh, nanti keburu dingin gak enak.”
“Eng ... sekali saja. Atau ... kiss,” pinta Mona.
Purba menyerah, tidak bisa berbuat apa-apa jika Mona sudah kebakar hasratnya sendiri. Dia tidak perlu obat perangsang, malah sepertinya hal itu menjadi hobinya. Tak kenal waku, tempat dan situasi.
Purba menikmati sejenak keinginan istrinya, walaupun Mona adalah wanita keras kepala, egois, tapi dia cukup bisa untuk menepati janji. Dia hanya menikmati bibir suaminya, setelah itu membiarkan Purba mandi. Sedangkan dirinya menikmati makanan yang Purba bawa.
Mona, anak bungsu dari pemilik perusahaan Bonafit Tekstil, dengan kehidupan glamor, pergaulan jelas atas, wajar kalau dia sering dimanja oleh oleh keluarganya. Apa pun dituruti karena banyak uang.
Selesai mandi Purba pamit ke ruang kerjanya, pada Mona. “Ma, aku masih banyak pekerjaan.” Lalu dikecupnya kening Mona.
Mona yang masih menikmati makanannya di tempat tidur, meletakkannya di nakas samping. Kemudian menarik Purba yang berdiri, hingga membungkuk di sebelahnya. Kedua tangan Mona, menggelayut di leher Purba.
“Tidak, kamu kan janji setelah mandi. Nanti baby-nya murung loh, dia pengen ditengok papanya,” manja Mona, yang kini sebelah tali lingerie sudah melorot, bagian bawahnya tersingkap jelas, karena Mona duduk sembarangan.
“Tapi, aku kan baru mandi, masa mand ... argh!” Purba memekik lirih, karena tubuhnya dipaksa jatuh ke tempat tidur.
Dengan ganas, Mona mengeksekusi Purba.
Bukan sekali dua kali, Purba merutuki dalam hatinya tentang kejadian ini. Gak habis pikir juga, kalau tentang s e x , Mona semangat sekali. Purba pikir kondisinya masih lemah, karena baru saja keguruan.
#**
Purba pun tertidur setelah melakukan permainan panas dengan istrinya. Meski Mona yang lebih mendominasi permainan. Purba tetap saja kelelahan mengimbangi permainan Mona.
Bersambung...
__ADS_1