Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Rindu Mama


__ADS_3

Bab 105


Rara meraba liontin yang kini menempel di lehernya dengan senyum bahagia, netranya berbinar sambil mengatakan terima kasih kepada Purba, yang kini sudah duduk di depannya kembali.


"Kamu suka?" tanya Purba.


Rara mengangguk kembali, serta senyum yang tak putus. Sungguh tak bisa digambarkan rasa bahagianya.


"Dan... Ini satu lagi," ucap Purba menyodorkan sebuah map di depannya.


Rara meraih map itu dengan perlahan, dari luar sepertinya map Itu polos tidak ada tulisan apa pun. Namun, saat dibuka, perlahan terlihat sampul depan bertuliskan Pengadilan Agama.


Rara menatap Purba sejenak, seakan bertanya apa ini? Karena Rara memang tidak paham.


Purba mengendikkan bahunya, lalu mengulurkan tangan sebagai tanda buka saja.


Rara membukanya dengan sangat hati-hati, kata perkata dia baca saat menemukan namanya di sana. Kini dia paham, itu adalah akta cerai yang sudah diterbitkan dari Pengadilan Agama dari kampungnya.


"Secepat ini?" tanya Rara.


"Iya," ucap Purba dengan anggukan.


Rara sekali lagi menyimak akta cerai tersebut. Dibacanya dengan teliti. Namun, bukan isi bacaan yang dia cari, tapi menyalurkan sukacita dan rasa haru. Tak menyangka secepat ini, akhirnya Rara bisa terlepas dari statusnya yang tidak diinginkan bersama Gandi.


Bulir bening sudah menggenang di matanya, tak bisa tertahan rasa haru sekaligus bahagia. Senyumnya seperti tangis Namun, hatinya sudah tak lagi teriris bebas lepas plong rasanya.


"Sudah ..., satu persatu kita selesaikan masalah," ucap Purba menyentuh tangan Rara.


Lalu mengusap punggung tangannya untuk memberi ketenangan.


"Kalau sudah, aku mau memberikan satu lagi," ucap Purba.


"Sebentar, Mas," ucap Rara dengan suara parau, dia masih belum menstabilkan rasa bahagianya.


Purba tersenyum ikut merasakan bahagia melihat wanita yang ada di depannya. Yang sepertinya sedang berusaha menstabilkan perasaannya yang campur aduk.


Mungkin saat dulu bersama Gandi perasaan campur aduk seperti itu antara sedih, sakit, ingin lepas, tapi tak bisa.


Namun, sekarang perasaan campur aduk itu bahagia, terharu dan tidak tahu harus berterima kasih seperti apa lagi. Purba sudah banyak berkorban pada dirinya.


Makanan datang, Purba memasukkan kembali kotak perhiasan berwarna biru di atas meja karena akan ditempati dengan beberapa hidangan.


"Kalau gitu makan dulu. Supaya lebih tenang," ucap Purba.


Hari itu Rara benar-benar tidak bisa berkata-kata. Dia seakan hanya menuruti komando dari mantan bosnya itu. Seperti saat ini Purba mengajak Rara untuk makan dan langsung menurut saja.

__ADS_1


Purba mengerti dengan suasana hati Rara. Dia tidak ingin memaksa untuk memberikan kejutan yang bertubi-tubi, Purba paham sejatinya Rara tidak ingin merepotkan siapapun. Maka Purba mengajak untuk menikmati makanan terlebih dahulu, agar rileks suasana hatinya.


**#


Sementara itu Gandi dan Daryanto sudah berada di sebuah kontrakan petak yang berada di salah satu sudut Kota Jakarta.


Setelah dilihat-lihat, lumayanlah, cukup untuk dua orang. Tak perlu besar, yang penting bisa untuk tidur.


"Di sini orang-orangnya gimana, Mas?" tanya Gandi kepada Daryanto.


"Sejauh ini mereka baik-baik, cukup kekeluargaan karena mereka juga kebanyakan perantauan, pasti saling menghargai. Apalagi kita ini sama-sama orang butuh di Jakarta, pasti saling bantu."


Gandi mangut-mangut, sepertinya dia cocok dengan tempat ini.


"Kalau gitu saya di sini juga Mas." Gandi berkata lagi


"Baik, kalau sepakat nanti aku pertemukan sama yang menjaga kontrakan ini," ucap Daryanto.


Sebuah kontrakan petak yang berjajar sekitar ada 20 kamar yang saling berhadapan. Dengan kamar mandi 3 buah di luar ruangan. Jadi kamar mandi atau MCK itu dipergunakan bersama.


Daryanto menghubungi orang yang dipercayakan untuk menjaga kontrakan tersebut. Kemudian setelah bertemu, menyerahkan kunci kamar yang akan disewa oleh Gandi.


Antara Gandi dan Daryanto berbincang sebentar, mereka sama-sama persiapan untuk nanti sore bertemu seorang nyonya yang membutuhkan teman.


Meskipun tidak ada lemari, tapi itu lebih baik daripada baju tersimpan di dalam tas, cepat kusut karena bertumpukan. Jadi lebih baik dikeluarkan saja.


Gandi menyapu dan mengepel, sedangkan Zaskia merendam cuciannya sendiri.


"Nak ... kamu orang baru?" tanya salah satu ibu yang sedang mencuci piring di tempat MCK.


Azkia hanya mengangguk. Dia seorang anak kecil belum genap lima tahun, tidak bisa berkomunikasi baik dengan orang dewasa.


"Kamu mau nyuci baju?" tanya Ibu itu kembali.


Askia mengangguk.


"Nih, Ibu pinjemin ember. Lebih baik rendam aja dulu. Kalau bajunya tidak terlalu kotor, tidak perlu disikat."


Azkia mengangguk, dia menurut saja apa kata ibu tersebut.


Ini memang bukan pengalaman Azkia pertama kali untuk mencuci baju, dia sering disuruh mencuci bajunya sendiri saat masih di kampung. Namun, saat Gandi tidak ada, neneknya Azkia mengambil alih pekerjaan tersebut.


Sebagaimana pun tidak suka kepada ibunya, orang tua Gandi tetap punya hati untuk seorang anak kecil. Walaupun mencuci mungkin untuk mendidik Azkia agar mandiri, yang penting Azkia sudah tahu caranya mencuci, tidak terus-terusan disuruh meskipun bajunya sendiri..


Orang tuanya Gandi hanya tidak ingin Azkia terlalu tertekan dengan keadaannya. Jika kenapa-napa dengan mentalnya, maka mereka sendiri yang kerepotan..

__ADS_1


"Nah, kalau udah direndam seperti itu nanti dikucek aja, kalau kamu tidak main kotor-kotoran. Hanya bagian yang kena keringat yang penting baunya hilang," ucap si Ibu menjelaskan.


Azkia lagi-lagi hanya mengangguk-ngangguk saat ibu tersebut berbicara. Setelahnya tak lupa Azkia mengucapkan terima kasih.


Azkia masih ingat pelajaran saat di TK. Bu Guru memberitahu tentang adab untuk sopan santun kepada orang lain, sehingga dia paham mengucapkan terima kasih kepada orang lain saat dibantu.


Azkia kembali ke kamarnya dengan kaki basah, dia langsung saja masuk.


Azkia tidak tahu bahwa ayahnya belum selesai menyapu, debu yang masih berada di dekat pintu jadi menempel di kaki basah Azkia.


"Ya ampun...! Kan tahu ayah lagi nyapu. Matanya ke mana, sih? Sana balik lagi, jangan masuk sebelum ayah selesai!” bentak Gandi.


Azkia tentu saja ketakutan dapat omelan dari ayahnya. Dia mundur ke luar lagi.


“Eh, tunggu!” tegur Gandi. Dia mengambil sesuatu. “Nih, gak sulit kan?” ucap Gandi sambil melempar pakaian pada Azkia dan mengenai mukanya.


“Satukan sama cucian kamu,” ucap Gandi lagi.


Azkia menurut saja Apa perintah ayahnya, dia memungut pakaian ayahnya yang terjatuh karena tidak sempat ditangkapnya.


Daripada Azkia menunggu tanpa ada kegiatan, akhirnya dia langsung mengucek pakaiannya. Sedangkan ibu yang tadi belum selesai mencuci, sehingga Azkia ada teman.


"Langsung dicuci aja, Nak?" tanya ibu tersebut.


Azkia melihat pada Ibu tersebut, kemudian tersenyum sambil mengangguk.


"Kamu hanya dengan ayahmu saja?" tanya Ibu itu lagi.


Azkia selalu memberikan jawaban dengan anggukan, karena Ibu tersebut memang bertanya, bukan meminta penjelasan. Lagi pula Azkia masih kecil tidak pandai untuk merespon pertanyaan orang tua selayaknya orang dewasa.


Tempat MCK tersebut hampir berada tepat lurus di depan kontrakan Gandi, karena kontrakan Gandi posisinya keempat dari kamar pertama. Sedangkan letak MCK ada di tengah area kontrakan tersebut.


Ibu yang sedang menyuci itu bernama Heti, dia memperkenalkan dirinya kepada Azkia. Kemudian Azkia juga menyebutkan namanya, karena dipinta oleh Bu Heti supaya nyaman kalau mereka nanti bertemu kembali, bisa saling sapa.


"Ibumu tidak ikut?" tanya Bu Heti.


Azkia yang sedang mengucek langsung terdiam seketika, dia rindu ibu jadinya.


Hari-hari kemarin bukan berarti tidak rindu. Hanya saja karena keadaannya Azkia yang memprihatinkan, seakan bisa melupakan bahwa dia masih memiliki seorang ibu. Azkia sibuk dengan bertahan, daripada mengingat ibunya jadi menambah kesedihan.


Namun, saat ada seseorang mengingatkannya tentu kesedihan itu muncul, bahkan deritanya bersama sang ayah sangat terasa. Hingga pemikirannya berandai-andai, coba saja kalau dia ikut bersama ibunya atau paling tidak bersama neneknya, Nek Sugeti.


Tak terasa mata Azkia memerah, bulir bening sudah menggenang. Bu Heti heran, kenapa Azkia seperti itu? Padahal dia hanya menanyakan tentang ibunya. Apakah sudah meninggal sehingga menjadi sedih?


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2