Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Teror Berujung Perselisihan.


__ADS_3

Baru saja satu kalimat yang disampaikan oleh Purba, Rara langsung terkejut. Apalagi mendengar kata-kata teror, bukan lagi sesuatu hal yang baik dipandang dari sudut manapun. Hal itu mengerikan, pantas saja Purba merasa gelisah, terlihat tidak tenang.


"Teror Seperti apa Mas?" tanya Rara walau ada rasa takut, tapi penasaran juga.


"Dia, Mengancam dengan sebuah foto. Ya, aku pikir itu foto. Meski tidak jelas dan mereka meminta uang tebusan."


Rara mengerutkan dahinya. Foto? Dia merasa deg-degan. Foto apa? Apakah foto syur seperti artis-artis di TV? Kenapa Purba yang diteror? Ataukah foto wajah Purba yang sedang melakukan tindakan tidak senonoh atau foto dirinya? Segala kemungkinan dalam pikiran Rara terbersit.


Purba terus menyelami wajah Rara, seakan melihat reaksi istrinya itu. Rara yang dipandangi terus oleh Purba merasa gugup seakan sedang mengintrogasinya.


"Kenapa Mas memandangiku seperti itu?" Rara merasa risi juga.


Purba belum bisa berterus terang, tangannya yang menggenggam tangan Rara diusap-usap dengan jari yang sedang menggenggamnya. Mencoba mencari celah untuk bertanya langsung kepada intinya. Namun, takut jika Rara malah tersinggung.


"Apa Mas? Katakan saja. Apakah foto itu tindakan asusila?" Rara Tak sabar lagi menunggu purba bicara makanya dia menebak langsung pada.


Meskipun tebakan Rara itu benar-benar tebakan, dia tidak tahu foto apa itu. Dia bisa nembak karena memang biasanya kalau teror sebuah foto ya sesuatu hal yang tidak pantas dilihat, tentang kehormatan  dan privasi orang.


Perahan Purba mengangguk, lagi-lagi rasa terkejut menghinggapi diri. Terlanjur mereka berbicara serius, Rara terus mendesak Purba untuk mengatakan selengkapnya tanpa diputus-putus atau tanpa sungkan sedikitpun. Mau itu tentang asusila yang Purba lakukan ataupun tentang Rara sendiri, dia siap.


Meskipun Rara yakin dia tidak pernah melakukan hal yang di luar norma, kecuali mungkin kalau dirinya dengan Gandi saat itu, berhubungan bada dan ternyata Gandi merekam. Jika hal itu masuk akal, tapi itu kan hanya masa lalu bersama suaminya. Kenapa harus ada teror-meneror?


Akhirnya Purba menjelaskan bahwa foto itu dibuat buram oleh si pengirim. Namun, ada bagian pundak yang tidak di blur dan jelas itu dua pundak laki-laki dan perempuan yang sedang bersetubuh. Cukup terlihat jelas dari pundak dan sedikit ke bawah bagian tangan, jelas mereka sedang melakukan hal yang tidak pantas untuk dilihat oleh khalayak umum.


"Lalu ancamannya apa Mas? Biasanya peneror ada ancamannya," tanya Rara


Purba kembali menjelaskan, untuk ancaman belum jelas apakah sebahaya itu, hanya saja mereka meminta sejumlah uang agar video itu tidak disebar. Namun, Purba juga harus cari tahu dulu video apa, belum tentu itu mengenai keluarganya. Bisa saja tubuh orang tidak dikenal, buktinya diblur. Hanya untuk penipuan pemerasan.


Namun, meskipun itu belum jelas, tapi tetap harus dipikirkan seksama. Jangan dianggap spele. Bagaimana kalau memang ada fitnah dan sudah terlanjur tersebar foto tersebut. Karena Purba pribadi tidak pernah melakukan hal yang seperti itu dengan orang lain yang bukan istrinya.


"Kenapa Mas tidak tanya saja ke peneror itu, minta foto yang bersih biar kita tahu pastinya. Jangan mau dibodohi, benar kata Mas, siapa tahu foto itu adalah orang lain."

__ADS_1


Rara memberi dukungan pada Purba untuk mengecek lebih lanjut foto tersebut. Ya, bisa jadi itu hanya penipuan, tidak ada hubungannya dengan kita tapi meminta uangnya pada kita.


"Ponselnya juga aku matiin, kesal rasanya sedang bekerja diganggu hal seperti itu


"Coba sekarang hidupkan ponselnya, Mas. ada aku di sini, kita hadapi bersama-sama," ucap Rara.


Purba menuruti apa kata Rara. Dia menghidupkan ponselnya, ada beberapa pesan yang masuk serta panggilan tak terjawab. Jelas saja akan banyak pesan-pesan masuk, mungkin dari klien, tapi selebihnya dikesampingkan. Purba hanya mencari dari peneror itu.


"Mas sebentar. Mbak Mona, nih" tunjuk Rara menghentikan Purba yang scroll kontak masuk.


"Sudah, biarkan saja. Paling cuman menanyakan aku di mana."


Rara hanya memandang Purba, sebenarnya dia merasa bersalah. Bagaimanapun Mona masih tetap istri Purba. Tapi sepertinya suaminya itu sudah benar-benar malas dengan rumah tangga pertamanya.


Purba menemukan pesan dari peneror itu, tidak banyak yang masuk. Hanya respon Purba yang tadi saat terakhir chat di kantor, tentang uang jaminan.


Saat mereka nego karena peneror tidak ingin uangnya ditransfer karena data bank mereka bisa dilacak.


Namun, Purba ingin berpikir lebih matang lagi. Meskipun gertakkan dari peneror itu tidak boleh menelepon polis,i akan tetapi kita tidak bisa bergerak kalau tanpa polisi. Maksudnya kita akan dibodohi mentah-mentah, tapi kalau dengan bantuan polisi pasti mereka sudah ahli dalam strategi seperti ini, setidaknya jangan terlalu mau diatur oleh penjahat.


Polisi pasti tahu bagaimana menghadapi pemeras seperti ini, merek juga tidak akan gegabah langsung terburu-buru melacak. Pihak berwajib pasti akan mengikuti terlebih dahulu permainan mereka.


"Ya, lalu gimana Mas? Kita langsung lapor polisi sekarang?"


"Kita konsultasi saja sama polisi yang kemarin ngurusin kasus kamu, sayang," usul Purba.


"Eh bentar Mas. Ini nomor siapa?" tanya Rara ada lagi pesan masuk, tapi tidak ada nama kontaknya.


Purba membaca pesan masuk dari nomor baru itu, lagi-lagi dari si peneror.


Peneror itu mengatakan bahwa nomor yang akan terhubung tidak akan selalu sama, jadi percuma kalau Purba banyak nego, lebih baik langsung turutin saja kemauan peneror.

__ADS_1


"Gimana Mas? Kita mau menanyakan ke nomor yang mana? Kalau nomor mereka satu kali pakai langsung hangus." Rara sudah terlihat semakin panik dan cemas.


"Ya sudah, kita chat semuanya saja. Siapa tahu ada yang masih aktif." Purba langsung mengirim pesan ke seluruh nomor peneror yang sudah masuk ke ponsel Purba.


"Iya Mas, yang pasti kita minta kejelasan dulu," ucap Rara.


Isi pesan pada peneror, hanya meminta gambar full dan jelas. Baru bisa dipikirkan kembali perihal uang tebusan dan bisa nego.


"Tapi maaf sayang, aku minta kamu jujur padaku. Kamu tidak melakukan sesuatu yang menghianati di belakangku kan? Kalau itu tentangmu dan Gandi, aku tak masalah, aku menerima masa lalumu karena aku pun punya masa lalu yang buruk, masa lalu yang tak di inginkan.


Aku hanya tidak ingin jika dalam hubungan kita yang sekarang ada penghianatan, itu yang akan membuatku tidak bisa menerima." Purba secara pelan bertanya pada Rara, dengan terus menggenggam tangan istrinya, secara lembut.


"Mas... aku bersumpah demi apapun tidak pernah aku menghianati kamu. Aku tidak bisa membuktikan lebih dari ini, karena tidak tahu harus seperti apa, tapi jika Mas minta pembuktian lain, maka akan aku lakukan agar Mas percaya bahwa aku jujur. Apa yang Mas inginkan untuk membuktikan bahwa aku tidak berbohong?"


Rara menjelaskan masih dengan intonasi perlahan dan lembut. Dia tahu, Purba hanya bertanya. Walau suasana tegang, tapi Rara masih bisa mengendalikan pikiran. Bisa membedakan mana pertanyaan atau tuduhan.


"Ya, okke-oke. Baiklah, aku percaya padamu sayang. Maafkan aku bertanya seperti ini. Aku hanya ingin memastikan saja. Jika begitu ini hanya tentangku dan Mona. Karena si peneror ini jelas mengatakan tentang istri, kalau bukan kamu berarti Mona."


"Silakan mas jika mau fokus pada masalah ini, mau menyelesaikan dengan mbak Mona. Jangan memikirkan keluarga yang di sini terlebih dahulu. Aku tidak akan mengganggu Mas, yang penting masalah Mas selesai." Mona memberikan support, sebagai istri yang harus bisa meringankan beban suami.


Purba mengangguk, dia menghargai saran istrinya. Dan memang benar, jika masalah ini ingin cepat selesai, memang harus segera diselesaikan. Apa pun dampaknya, pasti akan ada. Tidak usah ragu dan cemas lagi kalua masalah makin lebar pada masalah keluarga. Toh, sekarang Purba sudah bisa usaha mandir. Apalagi dibantu Rara yang punya toko kue maju pesat.


"Baiklah, segera aku selesaikan dengan Mona. Em... tapi beneran kan kamu tidak melakukan hal yang akan menodai hubungan kita?" sekali lagi Purba bertanya.


Rara tiba-tiba menatap tajam pada Purba, air mukanya berubah. Ditariknya nafas dalam.


"Mas! Kenapa sih Mas tidak percaya sama aku? Tadi man aku sudah bilang, jika mas meminta pembuktian agar Mas lebih percaya, silakan. Kenapa masih meragukan, yang jelas-jelas aku sendiri bingung kalau harus membuktikan. Bila perlu pakai agen rahasia, buat menyelidiki."


Rara kali ini tidak bisa menahan rasa kesalnya. Mungkin hanya pertanyaan sederhana bagi orang-orang yang menyimak saja Namun, bagi Rara yang mengalami pertanyaan seolah ditekan dan menyudutkan. Terlebih dalam keadaan dia baru melahirkan, ditanya seperti itu, sudah dijelaskan dan ditanya lagi masih tidak percaya. Jelas saja merasa kesal.


Terlebih fitnah-fitnah yang belakangan ini menuduh dirinya, juga tidak terbukti dan kali ini suaminya sendiri masih meragukan, jelas saja Rara merasa tidak enak hati.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2