
... Cinta mungkin tidak buta, karena terkadang harus memilih, pada siapa hati kita berlabuh. Namun, cinta seringkali tidak memiliki perasaan. Sudah sakit masih sanggup bertahan. Dengan dalih kesetiaan. ...
Bab 120
Keesokan harinya Azkia seperti biasa membantu Bu Heti untuk menggulung gulung adonan pentol, tapi dia sekalian curhat tentang permasalahannya yang ingin mencari ibunya.
Waktu tiga bulan sudah cukup membuat Azkia merasa dekat dengan Bu Heti.
"Kamu tidak tahu sama sekali alamat ibumu? Atau menanyakan ke nenek mu, di kampung?" tanya Bu Heti.
"Azkia tidak tahu telepon tante Lena, Bu. Alamat Ibu di Jakarta juga nggak tahu, mau pulang ke kampung juga nggak tahu alamatnya," ucap Azkia sambil tangannya tetap aktif menggulung-gulung adonan.
"Sayang sekali ya, kalau alamatnya tahu, Ibu pasti bisa bantu. Nanti ibu antara cari alamatnya."
"Tapi mungkin di HP ayah ada, tapi Kia nggak bisa ngebuka, HP ayah dikunci."
Bu Eti manggut-manggut, dia juga memutar otak untuk membantu anak kecil itu. Kasihan sekali meskipun dari luar terlihat sabar, tegar, hatinya tetaplah seorang anak yang merindukan belaian seorang ibu. Masih membutuhkan kasih sayang, masa bermain, bukan berjuang dan hidup susah seperti ini.
"Tapi, kamu ada rencana apa? Mungkin saja siapa tahu Ibu bisa bantu," tanya Bu Heti
Azkia kemudian menyampaikan apa yang ada di benaknya, yaitu ingin membuka kunci layar milik ayahnya. Azkia bisa mencari tahu di YouTube, kata orang-orang kalau YouTube itu bisa mencari apa pun, tapi Azkia tidak tahu apakah ponselnya ada kuota atau tidak.
Kata orang juga YouTube pakai kuota besar.
Azkia tidak tahu kalau Gandi memberi dirinya ponsel hanya untuk hiburan semata. Hati nuraninya masih ada rasa peduli, ada dipikirnya bahwa Kia akan kesepian sendiri di rumah, nanti kalau Azkia rewel, Gandi sendiri yang repot, itu pikirannya.
Gandi juga sengaja tidak memberikan kuota atau pulsa untuk ponsel Azkia, karena percuma. Biar saja anteng di rumah dengan game dan video yang sudah diunduhnya oleh Gandi, jadi bisa ditonton offline.
"Kalau gitu nanti Ibu periksa dulu HP kamu, kalau tidak ada kuota, akan Ibu isiin. Nanti kamu bisa nonton apa yang kamu butuhkan di YouTube," ujar Bu Heti. Nanti setelah menyelesaikan adonan.
"Tapi mahal banget nggak, Bu?pakai uang Kia cukup kan?"
Anak polos yang belum tau banyak tentang penggunaan ponsel, tapi punya niat besar untuk lepas dari ayahnya, bagaimana pun caranya.
"Cukup, cukup banget. Malah kamu bisa nonton YouTube sepuasnya," ucap Bu Heti.
"Beneran Bu? Kalau begitu terima kasih banyak, nanti Kia nontonnya saat udah pulang dari sini," ucap Azkia, tersirat kegembiraan di wajahnya.
Bu Heti manggut-manggut dengan senyum kagum pada anak kecil di depannya ini, masih tetap bertanggung jawab kepada tugasnya. Dia tidak akan mengganggu pekerjaannya hanya untuk menonton youtube, meskipun itu tujuannya penting.
***
__ADS_1
"Mas Bizar, besok aku mau mulai membeli peralatan toko, bisa tolong antar?" pesan Rara kepada Bizar.
"Baik Nona," ucap Bizar singkat, melalui telepon genggamnya.
Saat ini Rara masih berada di kantor, tapi dia tidak akan mengambil jam istirahat. Waktu istirahatnya akan digunakan untuk membuat desain toko kue yang bisa menarik pelanggan, tentunya harus nyaman, kalau bisa dibuat unik dan lain dari yang lain.
"Beneran gak istirahat nih?" tanya Khadijah menghampiri Rara, karena tadi Khodijah tahu dari Doni katanya Rara memang tidak akan istirahat.
Namun, Khodijah memastikan lagi, takutnya Doni bohong. Dia kan, laki-laki kang gosip, apa yang dikatakannya belum tentu benar semua.
"Iya Dijah, aku sedang kejar tugas. Jadi maaf ya, untuk saat ini nggak bisa ikut istirahat bareng."
"Oh, ya udah. Sukses ya, lancar usahanya," ucap Khadijah ikut mendukung rencana temannya, kemudian dia berlalu.
Sebelum kembali fokus kepada kerjaannya Rara membeli makanan dulu di kantin, salat zuhur, kemudian kembali ke meja kerjanya. Dia makan sambil menyelesaikan tugasnya.
Sepertinya memang butuh beberapa orang untuk membantu. Lelah banget rasanya harus ngurusin kantor, ngurusin persiapan toko kue juga, belum urusan rumah tangannya yang selesai, selesai.
Tiba-tiba perasaannya sedih kembali. Rasa begi amat nasib Rara, jadi terbesar memang lebih baik sendiri, deh. Jadi percuma memang ada seseorang yang bisa mendampinginya, tapi melakukan segala sesuatu tetap sendiri.
Sudah saatnya Rara merasakan inilah menjalin cinta dalam gelap, harus banyak sabar dan pandai mengolah hati agar tetap baik-baik saja.
**#
Semakin lelah saja RaRa rasanya. Dulu dia merasa tertolong, kehadiran Purba seakan pengobat dahaga untuk dirinya yang haus dukungan dan butuh pertolongan saat masa-masa sangat sulit. Siapa merendahkannya.
Saat ada Purba, merasa ada malaikat penolong sekaligus pengobat hatinya, yang selalu dianggap barang tak berharga oleh Gandi.
Namun, semakin lama dirasakan beginilah posisi yang kedua. Si tuan bebas memutuskan sesuatu yang sudah disepakati, lalu dirubah rencana secara mendadak, oleh si pemilik kekuasaan. Di sini si pemilik kekuasaan adalah Purba.
Rara sudah gerah rasanya. Dia menelepon Purba ingin meluapkan rasa kesalnya.
Dert!
Dert!
Kebetulan ponsel Purba ada di atas meja di tengah-tengah Mona yang masih mengerjakan tugasnya, beserta Purba pun ada di meja yang sama.
Jadi, Mona saat ini sedang tidak duduk di meja sekretarisnya, dia mengerjakan pekerjaan di meja Purba, berdampingan.
Otomatis Mona melihat nama yang tertera di layar panggilan adalah Rara.
__ADS_1
Purba juga melirik, dalam hatinya dia merutuki diri sendiri. Kenapa sampai lupa mengganti nama Rara. Purba juga sungguh tak menyangka, dia pikir Rara tidak akan gegabah meneleponnya sembarangan, padahal sudah dikatakan kalau ada darurat apa pun menghubungi Bizar terlebih dahulu.
Mona melirik pada Purba. Kenapa diabaikan telepon itu?
Hingga panggilan Rara berhenti, Purba tetap fokus kepada pekerjaannya, meskipun hatinya penuh tanya.
Ada apa sebenarnya? Tumben sekali Rara menelpon. Padahal dia tahu jam segini adalah masih jam kerja yang kemungkinan besar Mona masih di dekat Purba.
Kemudian ponsel berbunyi lagi dan itu tertera nama Rara lagi.
Mona yang sedang mengetik merasa terganggu, kenapa bunyi lagi dan Purba tetap mengabaikannya.
"Mas. Kenapa nggak diangkat?" tanya Mona.
"Biarlah, tidak begitu penting," ucap Purba datar. Dia tetap fokus pada layar laptop.
"Yakin tidak ada yang penting? Menelepon sampai dua kali seperti itu." ucap Mona.
Jawaban yang dilayangkan Mona, antara memancing lebih jelas reaksi Purba atau memang mengingatkan Purba, siapa tahu penting membahas tentang pekerjaan.
"Ya Ma, kalau penting juga dia akan kirim pesan."
"Justru dengan menelepon lebih penting, Mas. Dia merasa darurat jadi nelepon, biar mendapat respons cepat, Papa...." Mona merasa gemas sendiri dengan pemikiran suaminya .
Mereka berdebat hanya gara-gara panggilan Rara yang masuk, sehingga panggilan Rara berhenti kembali.
Purba masih saja diam tidak menggubris pernyataan dari Mona.
Tak lama panggilan Rara masuk lagi.
"Tuh, kan Pa? Sudah sampai tiga kali. Ini bukan penting lagi, tapi urgent! Sangat penting. Kalau Papa nggak angkat biar mama yang angkat deh." Ada sedikit ancaman dari nada Mona.
Lama-lama Mona kesal juga. Kalau tidak ada apa-apa, kalau kenapa tidak diangkat? Kita tahu itu penting tidak penting, bisa diputuskan saat mendengar apa keperluan orang yang menelepon. Pikiran mana seperti itu.
"Ya udah, biar Papa aja," ucap Purba, dia meraih ponselnya yang berada di atas meja, kemudian menggeser icon telepon warna hijau ke atas.
Sembari membuka percakapan, Purba beranjak dari duduknya. Kemudian dia sedikit menjauh dari meja
Mona melihat gelagat Purba dalam menerima telepon dari Rara.
Huft .... terima telepon saja harus beranjak dulu, kan bisa sambil duduk kalau emang gak ada apa-apa. Mona membatin di dalam hatinya sendiri.
__ADS_1
"Ya. Ada apa?" tanya Purba berusaha bersikap biasa saja.
bersambung....